Puisi

Ruang dan Waktu oleh Irwan Apriansyah

PENEGASAN Ia terbangun Dengan seribu kecemasan Di matanya Kegelapan merambat di wajah langit Gemintang seolah redup Bulan tak lagi tembaga Dunia kehilangan warna Kata-kata menjauh dari lidah Sang kekasih bangkit,

Di Bangku Bus Malam oleh Remon Sulaiman

DI BANGKU BUS MALAM   Sebuah tanda pesan membuat gemetar dada telepon genggamnya Sejenak dering memecah di udara Juli yang kering   Tidakkah kau akan pulang malam ini, tualang Kemana

Obituari Jiwa oleh Nugroho Adi

OBITUARI JIWA Gusti, aku khawatir lelahku menggigil di kulkas artis-artis yang mendadak jualan kue khas.   Gusti, aku cengang   jalan dan jembatan membekam luka tapi di langit sana justru

Setiap Kamis, Ia Mencukur Kumis oleh Dwi Rahariyoso

Sol Sepatu Ia menjahit kakiku yang aus oleh gang-gang sempit kota di mana ribuan saudaraku tergerus dalam labirin nasibnya tiap hari bersama cahaya-cahaya yang menyerbuki mimpi dan menelan sisa nafas

Tulisan Awal Juni oleh Polanco Surya Achri

TULISAN AWAL JUNI Azan berkumadang! : mengapa harus kulewati rumahnya untuk menuju rumah-Mu?   Tuhan, kini sandalku rusak!   (2016)     NEON Seekor kumbang terbalik di pelataran masjid, tiga

Basudewa oleh Innezdhe Ayang Marhaeni

Edelweis   Kepada puisiku malam ini, adinda Yundamu akan mengecilkan suara radio Meredupkan damar Dan mengucilkan dunia beserta permainannya   Kepada jiwa yang belum temu cangkang ini, adinda Malam ini

Fatamorgana oleh Mokhamad Malikul Alam

Fatamorgana Saujana yang merah, dan senyum bibir yang fatamorgana. Desah angin dan lengking camar mencipta lagu semesta. Tersembunyi pesan tentang sunyi dan hal-hal yang menumbuhkan ingatan yang kenang.   Aku

Tulisan Terbaru