Puisi

Setiap Kamis, Ia Mencukur Kumis oleh Dwi Rahariyoso

Sol Sepatu Ia menjahit kakiku yang aus oleh gang-gang sempit kota di mana ribuan saudaraku tergerus dalam labirin nasibnya tiap hari bersama cahaya-cahaya yang menyerbuki mimpi dan menelan sisa nafas

Tulisan Awal Juni oleh Polanco Surya Achri

TULISAN AWAL JUNI Azan berkumadang! : mengapa harus kulewati rumahnya untuk menuju rumah-Mu?   Tuhan, kini sandalku rusak!   (2016)     NEON Seekor kumbang terbalik di pelataran masjid, tiga

Basudewa oleh Innezdhe Ayang Marhaeni

Edelweis   Kepada puisiku malam ini, adinda Yundamu akan mengecilkan suara radio Meredupkan damar Dan mengucilkan dunia beserta permainannya   Kepada jiwa yang belum temu cangkang ini, adinda Malam ini

Fatamorgana oleh Mokhamad Malikul Alam

Fatamorgana Saujana yang merah, dan senyum bibir yang fatamorgana. Desah angin dan lengking camar mencipta lagu semesta. Tersembunyi pesan tentang sunyi dan hal-hal yang menumbuhkan ingatan yang kenang.   Aku

Mengingat Kembali Wajahmu oleh Arie A. Nasution

Mengingat Kembali Wajahmu     :Setiawati Mengingat kembali wajahmu seperti mengupas bawang di depan mata sedikit terbayang paras sayu selebihnya samar dalam air mata   mengingat kembali wajahmu seperti menumpuk kayu-kayu

Dialog Air Mata oleh Daffa Randai

Berita Duka Dan hujan pun larut dalam secangkir dukamu Meluruhkan iba pada daun-daun kamboja Karangan bunga─ukiran nama Juga istana merupa tanah yang bagimu itu jatah: Batas persimpuhan buat pamit pada

Gondolayu oleh Faruk HT

GONDOLAYU Cangkir kaleng berkarat segelas kopi dan sejumput bunga yang manakah jalan ke sorga atau kau tak pergi ke mana-mana terus menungguku di pojok kamar itu setelah mengambil sebatang rokok

ladang

Cinta pada Sebuah Ladang oleh Neng Lilis Suryani

Cinta pada Sebuah Ladang (1) Setelah jejak Hati kita patuh pada alam Menunduk pada getar romansa huma Ladang-ladang penduduk dimainkan angin Kupu-kupu dan kepak burung   Di sebuah bukit Aku,

Tulisan Terbaru