Cerpen

Kunang – Kunang di Tondano

Angin datang seakan menderu – deru mengibaskan langit yang kala itu memancarkan cahaya sinar yang hampir kelam. Seolah harum cahaya yang bening keemasan dapat ku hirup dan tercecap di setiap

warok saimun

Warok Saimun

Saimun terlihat berjalan tergesa-gesa. Ia tak memedulikan kanan atau kirinya dan jalanan batu yang berdebu. Yang ia pikirkan hanya segera berada di rumah. Beristirahat sejenak lalu mempersiapkan sesuatu. Tak banyak

kirana

Kematian Kirana

Kirana tergeletak di halaman belakang rumahnya. Di antara rerumputan berembun dan aroma nasi yang ditanak tetangganya, ia tertidur. Sungguh, bagi siapa saja yang melihatnya pasti akan merasakan suasana damai sekaligus

Lelaki yang Bersepeda Melintasi Waktu

“Nder, aku datang dari masa depan,” bisiknya ketika kopi panas tersaji di meja kami. Ya, itu kalimat pertama yang diucapkannya padaku setelah sebulan lebih tak bersua. Bukankah seharusnya ia menanyakan

Pingsan

Pingsan

“Sial! Aku tetap harus ikut menolong!” batinku mengumpat. Kalau saja aku kenal tentu sudah kuingatkan dia mengenai perilakunya itu. Permasalahannya adalah, jangankan kenal, melihat saja belum pernah. Sehingga aku tidak

Antara Kemarau dan Awan

Masih terlalu dini bagimu untuk memaknai hidup dengan segala kerisauanmu saat ini, Awan. Bukan terutama lantaran usiamu. Sedikit betul itu pengaruhnya bila dibanding dengan Rahasia Langit. Ah, memang kini sedang

Perempuan-Perempuan yang Ditinggal Lelakinya

Semenjak lahir aku sudah karib dengan jalanan tandus berdebu di Padalarang. Maka ketika aku melewati wilayah Gunung Kidul aku serasa akrab dengan kondisi jalannya. Perjalananku dari Kota Yogyakarta menuju ujung

Tulisan Terbaru