Cerpen

Hamsa Tamura

Pada acara sastra ke-66 yang ia ikuti di kotanya, Hamsa Tamura memboyong sebuah novel tebal berbahasa Inggris dengan kedua tangannya. 2666 karya Roberto Bolano. Itu bukan miliknya pribadi, tentu saja.

Alleen Voor Inlander

Frasa itu tertera di sebuah tulisan ketikan, bagian dari semacam surat kabar. Kertasnya telah menguning kecoklatan disepuh waktu. Rijke (dibaca Riyke) iseng memesan sebuah judul dan menemu arsip tersebut. Tak

Alisa Bagalawa

Lalat-lalat berterbangan di atas meja, tapi kau tak peduli sama sekali. Kau malah asyik menyeruput kopi, mengudud rokok dan mencoba membuat pikiranmu tenang. Sore ini, kau akan bertemu seseorang dan

Orang Gila yang Sesekali Memikirkan Kenangan

Barangkali, seperti itulah ketika kita melihat orang-orang gila yang setengah kehidupan mereka yang membuat kita bertanya-tanya: apakah tetap hidup dalam keadaan gila dengan putusnya kepala yang berakal, atau mati bunuh

Siasat Klasik Merampok Buku di Masa Depan

Udah, tinggal aja. Kamu belum hidup di masa manusia terpikir untuk mencuri buku,  ok. Begitu pesan yang kukirim pada Ina. Ina ragu dan meminta pendapatku perihal meninggalkan novel War and

Kepala Tiga

Goffar menghisap sebatang Marlboro di depan minimarket sambil mengamati kendaraan yang lalu lalang. Pada embusan ketiga ponselnya bergetar. Beberapa pesan Whatsapp masuk. Kebanyakan pesan dari grup Whatsapp kantor yang memberikan

Sebuah Taktik Perang, Bersifat Pribadi

Bebekel apa sampai kau begitu bebal dengan segala keinginanmu? Kau tidak pernah mengalami peperangan di desamu. Setahuku, perang tidak pernah dilangsungkan di pedesaan. Setidaknya, orang tuamu selalu mengatakan bahwa daun

Hubungan Baik antara Budaya, Bahasa, dan Kognisi Manusia

SEMENJAK kematian Nzaat dalam suatu perburuan, Urf-lah yang kemudian dipilih oleh kelompoknya untuk menjadi pemimpin yang baru. Secara fisik ia memang telah memenuhi beberapa syarat untuk dijadikan sebagai pemimpin. Badannya

Tulisan Terbaru