Category: opini

  • Kehidupan Perempuan: Sebuah Perbandingan antara Indonesia dan India

    author = Batari Oja

    Sekitar setengah dari gadis remaja (usia 18 tahun) di India tidak menyelesaikan SMP. Angka tersebut lebih tinggi di kalangan perempuan dewasa (di atas 18 tahun). Perempuan India rata-rata pernah menempuh bangku sekolah kurang dari empat tahun saja. Hanya satu dari empat perempuan (usia produktif) yang mampu bekerja pada sektor industri dan jasa di negara ini. Hal ini berimplikasi bagi perkembangan sosial dan ekonomi India sebagaimana yang telah dijelaskan pada esai sebelumnya.

    Bagaimanapun, kehidupan perempuan di Indonesia lebih baik daripada di India. Angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan partisipasi kerja perempuan Indonesia dua kali lebih aktif daripada perempuan India. Sebagaimana yang kita ketahui, Indonesia bukanlah negara maju. Agama yang menjadi mayoritas di sana, yakni Islam, dikenal sebagai agama yang tidak memperbolehkan pendidikan dan pekerjaan bagi perempuan (sebagaimana kasus di negara-negara Timur Tengah)[1]tambahan penerjemah. Tetapi, Indonesia berbeda. Lantas, apa yang membuat kehidupan perempuan di Indonesia berbeda dari kehidupan perempuan di India[2]Diambil dari jurnal yang lebih panjang dari V.. Santhakumar: What Works Against the Schooling and Work Participation of Girls in India: An assessment through a comparison with Indonesia?

    Adat mahar kepada laki-laki tidak berkembang luas di Indonesia, sebaliknya, pihak keluarga mempelai laki-laki lah yang harus membayar sejumlah uang (emas kawin) kepada pihak mempelai perempuan. Tampaknya bangsa yang memiliki adat-istiadat ini (memberi mahar kepada pihak perempuan) cenderung memperhatikan pendidikan perempuan mereka[3]Ashraf, N. Bau, N., Nunn, N. and Voena, A.  (2014) Bride Price and the Returns to Education for Women∗, http://www.people.hbs.edu/nashraf/BridePrice_Nov2014.pdf. Karenanya perempuan dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung mendapat mahar yang tinggi pula.

    Tempat tinggal perempuan setelah menikah juga merupakan hal penting. Perempuan di Indonesia mungkin tidak akan tinggal bersama dengan keluarga suaminya setelah menikah. Mereka masih boleh tinggal dengan orang tuanya sendiri (juga bersama suaminya) atau di rumah sendiri hanya bersama suaminya. Hal ini juga membantu pendidikan perempuan[4]Bau, Natalie, `Cultural Norms, Strategic Behaviour, and Human Capital Investment,” 2014.Mimeo, Harvard University.. Karena, para orang tua mungkin tidak berpikir bahwa mendidik anak perempuan (itu tidak sia-sia dan [5]tambahan penerjemah )  bukan hanya menjadi keuntungan keluarga suami saja, (karena perempuan masih milik orangtuanya setelah menikah [6]tambahan penerjemah ). Pola tempat tinggal seperti ini turut membantu partisipasi kerja mereka setelah menikah, karena dengan begitu ibu dari perempuan bisa membantu menjaga anak-anak, sementara perempuan pergi bekerja. Oleh karena itu, perempuan Indonesia cenderung membantu secara finansial dan tetap mengurus orang tuanya bahkan setelah menikah.

    Tidak ada ketakutan di antara para orang tua jika anak perempuan mereka yang belum menikah bekerja jauh dari rumah, kemudian bertemu dengan seseorang. Ketika saya mengunjungi beberapa orang tua (kelas menengah bawah) di berbagai bagian di Indonesia, mereka mengatakan dengan bebas tentang putri-putri mereka yang bekerja di luar kota dan memiliki hubungan asmara yang putus-nyambung. Hampir tidak ada perjodohan. Para orang tua tidak enggan mengirim putri mereka ke tempat yang jauh untuk bekerja. Karena itu pula, berjuta-juta perempuan Indonesia pergi ke Singapura, Malaysia, dan negara-negara Asia Barat untuk banyak jenis pekerjaan. Perempuan dari perdesaan pergi mencari kerja ke kota setelah tamat SMP. Di lokasi industri, buruh laki-laki dan perempuan tinggal di kamar yang berdekatan sehingga mereka bisa berinteraksi dengan bebas. Tingkat mobilitas perempuan yang tinggi juga membuat ruang gerak yang relatif aman bagi mereka. Sangat umum melihat perempuan pulang ke rumahnya di pinggiran kota dengan berkendara motor sendirian pada jam 11 atau 12 malam.

    Perempuan yang sudah menikah di Indonesia relatif memiliki tingkat finansial yang lebih tinggi. Mereka kadang memiliki tanah warisan, menjalankan bisnis kecil-kecilan termasuk berdagang, dan punya aset yang terpisah dari aset suami mereka. Bahkan, ketika mereka cuti dari tempat kerja untuk melahirkan dan pascapersalinan misalnya, mereka tetap kembali untuk bekerja dan menjalankan bisnis. Perempuan yang belajar di universitas, para orang tua dari kelas menengah, dan hampir semua orang Indonesia berpikir pentingnya pekerjaan bagi perempuan. Saya bisa melihat bagaimana perempuan kelas menengah mendorong putrinya untuk pergi dan tinggal di luar kota dan bekerja, dan di situlah kemudian dia menemukan pasangan hidup.

    Singkatnya, perempuan Indonesia menyelesaikan pendidikan sekolah dan berpartispasi dalam pekerjaan (berpenghasilan) di mana pun pekerjaan itu tersedia. Ini tidak dipengaruhi oleh usaha mempopulerkan nilai-nilai Islam yang digalakkan pemerintahan Soeharto dan kelompok-kelompok agama. Meski ada masalah di tempat kerja (gaji yang rendah, kerja kasar, dan kondisi tempat tinggal yang tidak begitu baik di beberapa kota), perempuan-perempuan ini tetap memilih untuk bekerja di sektor industri/jasa daripada menjadi petani, buruh tani, atau ibu rumah tangga.

    Tidak jarang terlihat istri bekerja di kota sementara suaminya tetap bertani di desa. Seorang akademisi Indonesia mengatakan pada saya: “Ada pencairan peran gender di Indonesia. Baik laki-laki maupun perempuan, keduanya bisa menjadi pemenang, dan jika perempuan memiliki pekerjaan yang lebih baik, perempuan yang akan bekerja di luar, sementara laki-laki mungkin akan bekerja di rumah/sawah.” Perkembangan industri melalui kebijakan ekonomi bebas telah menciptakan pekerjaan untuk perempuan di Indonesia. Hal ini juga telah mengubah pola pikir orang tua tentang peran pendidikan tinggi bagi anak-anak mereka. Meski dulu pernah ada diskriminasi terhadap perempuan untuk bekerja, namun kini hal itu telah berubah dengan sangat drastis. Tren yang berkembang saat ini adalah mendidik anak yang pandai dalam belajar. Pada beberapa kasus, para orang tua lebih memilih mengirim “anak perempuan yang pintar” daripada “anak laki-laki yang malas” ke universitas. Pada intinya, tidak ada hal yang melarang perempuan Indonesia untuk bersekolah.

    Hal ini bukan berarti tidak ada isu diskriminasi gender di Indoensia. Sebagai contoh, ada keharusan untuk membuat ‘surat tidak keberatan’ dari orang tua atau suami untuk perempuan yang ingin bekerja di luar negeri, dan para akademisi menganggap ini sebagai sebuah refleksi tentang diskriminasi gender. Ada juga beberapa komunitas yang memberikan mahar kepada mempelai perempuan dan setelah menikah perempuan harus pindah sepenuhnya ke rumah laki-laki. Dalam kasus ini, posisi perempuan bisa jadi sulit karena mertuanya merasa telah membelinya dengan sejumlah uang dan oleh karena itu banyak pekerjaan akan diberikan kepadanya. Terlepas dari posisi perempuan yang relatif lebih baik di Indonesia, kendali laki-laki tetap berlaku dalam banyak hal dan ruang.

     

    India dibandingkan dengan Indonesia

    Sebagian besar orang di India memberikan mahar kepada pihak laki-laki, dan bukan kepada pihak perempuan. Bisa dikatakan bahwa praktik mahar kepada laki-laki ini tidak menghalangi perempuan India untuk mengenyam pendidikan, karena perempuan dari kasta tinggi dan kalangan masyarakat yang keadaannya lebih baik-yang juga memberikan mahar kepada pihak laki-laki-juga mendapatkan pendidikan. Kendati begitu, ada juga orang yang lebih memilih untuk menikahkan putrinya sedini mungkin tanpa memberikan mereka pendidikan tinggi karena mereka takut tingkat pendidikan yang tinggi akan menunda pernikahannya dan/atau membuat biaya mahar yang akan diberikan ke pihak laki-laki semakin tinggi. Ada dua tren yang berkembang di India saat ini. Orang-orang kelas menengah lebih suka memiliki menantu perempuan yang berpendidikan karena mereka bisa menjadi istri dan ibu yang “pandai”, dan oleh karena itu para orang tua dari kalangan ini memikirkan pendidikan terhadap perempuan. Meski begitu, preferensi pendidikan perempuan seperti itu tidak ada di kalangan kelas bawah, dan mereka lebih memilih menikahkan putri mereka tanpa terlebih dahulu memberikan mereka pendidikan yang cukup.

    Di beberapa kalangan, perempuan pindah ke rumah suaminya setelah menikah. Walau hal itu tidak menghalanginya untuk mengenyam pendidikan, tetapi tetap akan menghalanginya untuk bekerja di luar. Ketakutan adanya bahaya yang mungkin terjadi (termasuk kemungkinan akan adanya hubungan asmara) cukup menghalangi mobilitas perempuan yang belum menikah jika pekerjaan mereka di lokasi yang jauh dari rumah. Oleh karena itu, mayoritas perempuan pergi/pindah ke dalam maupun ke luar India bersama dengan suami atau keluarganya.

    Bahkan ketika perempuan pergi ke belahan dunia yang lain (seperti kasus perawat-perawat dari Kerala) keluarga akan tetap memiliki kendali atas ‘subjektivitas moral’ mereka seperti yang dikatakan oleh Walton-Roberts (2015) [7]Femininity, Mobility, and Family Fears: India International Student Migration and Transnational Parental Control, Journal of Cultural Geography, 32, 1, 68-82. Tekanan dari norma sosial pada perempuan-perempuan ini mungkin menciptakan ketegangan dan konflik. Ketika perempuan yang telah menikah tetap bekerja, mereka harus mempertahankan, apa yang Radhakrishnan (2011) [8]Appropriately Indian: gender and culture in a new transnational class. Durham, NC: Duke University Press (as quoted in Walton-Roberts (2015: 5) sebut sebagai, dedikasi emosional dan material kepada pasangan dan tanggung jawab domestik mereka. Meskipun ada ketakutan akan seksualitas perempuan di berbagai masyarakat yang sedang berkembang, tetapi hubungan seksual/pernikahan antarkasta lah yang menjadi faktor ketakutan paling besar di India. Seksualitas perempuan dikontrol (dengan tidak diperbolehkannya hubungan dengan laki-laki dari kasta dan kalangan sosial yang berbeda) demi kehormatan keluarga [9]Jones, G. (2010) Changing marriage Practices in Asia, Asian Research Institute Working Paper, 131, National University of Singapore.

    Ada beberapa daerah di India, di mana perempuan bekerja setelah bersekolah (sebagai contoh di pabrik garmen). Tiruppur di Tamilnadu adalah sebuah contoh di mana pekerjaan industri tersedia untuk perempuan. Pernikahan berimbas terhadap pekerjaan dalam dua cara. Kalangan perempuan yang belum menikah bekerja di pabrik (dan tinggal di hostel yang berdinding tinggi dan didampingi jika keluar) untuk mengumpulkan uang untuk mahar. Kebanyakan dari mereka berhenti bekerja setelah menikah. Dalam wawancara kami dengan para perempuan yang berhenti bekerja, mereka menyebutkan ‘kecurigaan’ suami dan beban tugas rumah tangga sebagai alasan tidak melanjutkan pekerjaannya sebagai buruh. Sementara itu, ‘kelaki-lakian’ buruh laki-laki membuat mereka tidak membiarkan istri mereka bekerja pekerjaan industri. Ketika keluarga mereka mengalami kesulitan finansial, perempuan akan menjadi buruh tani. Sampai taraf tertentu, hal ini juga dapat dilihat di Kerala. Banyak perempuan menantikan pernikahan setelah bersekolah dan/atau setelah pendidikan tinggi, dan bergantung pada penghasilan suami setelah menikah. Ketika keluarga inti mereka mengalami kesulitan finansial, mereka akan mencari pekerjaan tetapi pekerjaan itu bisa jadi pekerjaan yang sangat tidak menguntungkan. Intinya, kurangnya dorongan kepada perempuan untuk bekerja berimbas negatif  terhadap kesejahteraan mereka dan kesejahteraan seluruh masyarakat di India.

    Dari sini, mungkin tersirat kesan bahwa situasi yang memungkinkan bagi perempuan Indonesia untuk bekerja dikarenakan oleh ‘budaya’ mereka dan oleh karena itu tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah di India. Bagian yang terakhir itu tidak benar. Tiongkok dan Korea Selatan dahulu seperti India dalam hal hubungan antargender. Namun negara-negara ini telah mengambil langkah tegas (yang satu di bawah sosialisme dan yang satu lagi dengan kapitalisme) dengan menyekolahkan perempuan. Kedua negara tersebut juga telah mendorong perempuan untuk pergi merantau dan ikut berpartisipasi dalam kerja industri. Hal inilah yang telah mengubah situasi secara signifikan sehingga kebiasaan memberikan mahar kepada pihak perempuan semakin meningkat di Tiongkok (kebijakan tentang pengendalian-pertumbuhan-penduduk juga telah berkontribusi terhadap perubahan ini). Pemerintah Tiongkok juga memberikan insentif untuk mencegah perempuan tinggal di rumah keluarga suaminya karena tempat tinggal yang seperti itu menciptakan bias gender terhadap perempuan. Ketika Korea Selatan mengimplementasikan program keamanan-masyarakat nasionalnya, ketergantungan para orang tua kepada anak laki-lakinya menjadi berkurang. Hal ini membuat para pengantin baru bisa tinggal di rumah mereka sendiri. Juga, semua hal ini telah memungkinkan transformasi sosial di negara-negara tersebut ke arah yang diinginkan.

    Sementara itu, India belum mengambil langkah efektif untuk pendidikan dan pekerjaan terhadap perempuan-perempuannya.

     

    Judul Asli “Life of Girls: India Versus Indonesia”, Penulis: V. Santhakumar

    V Santhakumar, Profesor di Azim Premji University, Bangalore, India, menulis tentang isu-isu kontemporer dunia menggunakan kacamata ekonomi atau ilmu sosial. Mengajar ekonomi untuk praktisi pembangunan di universitas, dan melakukan penelitian tentang isu-isu pendidikan dan pembangunan.

    *Gambar adalah lukisan Amrita Sher-Gil, Bride’s Toilet, 1937

     

    Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

    Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

    References

    References
    1, 5, 6 tambahan penerjemah
    2 Diambil dari jurnal yang lebih panjang dari V.. Santhakumar: What Works Against the Schooling and Work Participation of Girls in India: An assessment through a comparison with Indonesia
    3 Ashraf, N. Bau, N., Nunn, N. and Voena, A.  (2014) Bride Price and the Returns to Education for Women∗, http://www.people.hbs.edu/nashraf/BridePrice_Nov2014.pdf
    4 Bau, Natalie, `Cultural Norms, Strategic Behaviour, and Human Capital Investment,” 2014.Mimeo, Harvard University.
    7 Femininity, Mobility, and Family Fears: India International Student Migration and Transnational Parental Control, Journal of Cultural Geography, 32, 1, 68-82
    8 Appropriately Indian: gender and culture in a new transnational class. Durham, NC: Duke University Press (as quoted in Walton-Roberts (2015: 5
    9 Jones, G. (2010) Changing marriage Practices in Asia, Asian Research Institute Working Paper, 131, National University of Singapore

  • Kegelisahan dalam Lanskap dan Cinta; Membaca Puisi-puisi Neng Lilis Suryani

    author = Fuad Cahyadiputra

    Membaca puisi-puisi Neng Lilis Suryani (selanjutnya Neng Lilis), keadaan saya kurang sehat. Akibat pergantian musim dari musim penghujan ke musim kemarau, tubuh saya terkena flu dan demam. Saat dikirimi naskah puisi Neng Lilis oleh Drajat Teguh Jatmiko, saya sedang terbaring di tempat tidur dengan badan yang lemas dan rasa pusing di kepala. Tetapi karena Drajat meminta untuk segera membaca naskah itu dan membuat materi diskusi, saya memaksakan diri untuk membacanya pelan-pelan. Pembacaan pertama saya kepada puisi-puisi Neng Lilis memberi saya sebuah kesan tentang puisi-puisi lanskap dan cinta. Sebuah tema puisi yang sudah sering digunakan banyak penyair lawas dalam khazanah perpuisian Indonesia ataupun dunia. Apalagi tema cinta yang merupakan tema yang bisa saya katakan tema paling kuno sekaligus abadi dalam sejarah peradaban manusia.

    Setalah pembacaan pertama puisi-puisi Neng Lilis, saya mencoba untuk tidur karena tubuh saya terasa semakin lemas. Pagi harinya keadaan tubuh saya mulai membaik, saya mulai membaca kembali puisi-puisi Neng Lilis di sela-sela rutinitas. Diksi demi diksi, larik demi larik, dan bait demi bait saya baca ulang beberapa kali. Saya mencoba mencari hal yang perlu dan baik untuk saya bahas dalam materi diskusi ini. Hingga akhirnya, dalam puisi-puisi Neng Lilis saya menemukan sebuah tema yang luput dalam pembacaan pertama saya. Tema itu tersembunyi dalam citraan lanskap alam dan cinta. Ia begitu intim, tetapi rapuh karena tertutupi lanskap alam dan cinta yang begitu kuat, tema itu adalah kegelisahan. Kegelisahan dalam puisi-puisi Neng Lilis mencakup banyak hal, mulai dari kegelisahan dalam diri, hingga kegelisahan dari luar dirinya.

    Jadilah saya menulis judul Kegelisahan dalam Lanskap dan Cinta; Membaca Puisi-puisi Neng Lilis Suryani untuk materi diskusi Dikunyah#13 Ngopinyastro x Kibul.in. Saya mencoba memaknai secara subjektif puisi-puisi Lilis sehingga pemaknaan ini bukan bersifat mengekang pemaknaan pembaca lain, tetapi sebagai bahan untuk saling memberi pemaknaan lain terhadap puisi Neng Lilis.

    Puisi pertama adalah Cinta pada Sebuah Ladang (1) (CSL1). Dalam puisi CSL1 saya menemukan beberapa lanskap yang terbentuk dari citraan penglihatan yang dipakai oleh Neng Lilis seperti, “alam”, “huma”, “ladang-ladang”, “bukit”, “ngarai”, “bintang”, “atap”. Lanskap yang dimaksud dalam tulisan ini merupakan sesuatu yang digunakan untuk membentuk pemandangan alam. Dari diksi yang membentuk citraan penglihatan itu saya dihadapkan kepada imaji pemandangan alam.

    Cinta pada Sebuah Ladang (1)

    Setelah jejak
    Hati kita patuh pada alam
    Menunduk pada getar romansa huma
    Ladang-ladang penduduk dimainkan angin
    Kupu-kupu dan kepak burung

    Di sebuah bukit
    Aku, kau, pada pejam yang gaib itu
    Menghayati tetumbuhan dengan
    Mata ke arah ngarai
    Lalu kau berkata tentang atap
    Yang dibikin dari jerami,
    Bintang yang berumah di tanah,
    Dan cemara pada tunduk yang jauh
    Menafsirkan hati kita
    Dengan citra langit dan wajah bumi

    Setelah itu kau tak berkata apa-apa
    Hanya cinta

    Selain penyajian lanskap, dalam puisi CSL1 saya menemukan tema cinta yang terdapat dalam bait terakhir puisi, “Setelah itu kau tak berkata apa-apa/ Hanya cinta”. Lilis membawa saya pada klimaks yang romantis setelah pada bait-bait sebelumnya disuguhi sebuah pemandangan alam. Dari keseluruhan puisi CSL1 saya akhirnya menemukan tema kegelisahan yang ingin disampaikan oleh Lilis sebagai penulis puisi. Kegelisahan itu tersirat dalam lanskap pada bait pertama dan kedua. Kegelisahan itu berasal dari dalam dirinya tentang masa lalu dengan menggunakan frasa “setelah jejak” pada awal puisi. Kegelisahan itu menceritakan tentang “kita” yang dipakai untuk menggambarkan lanskap. Si “kita” melalui perjalanan dan perenungan tentang alam disekitar hingga pada akhir puisi menyublim menjadi “hanya cinta”.

    Puisi kedua berjudul Cinta pada Sebuah Ladang (2) (CSL2). Dalam puisi ini juga terdapat banyak lanskap yang dibangun, diksi seperti “bukit”, “jajaran ilalang”, “kebun-kebun”, dan “batang-batang kayu” memberikan citraan penglihatan kepada pembaca terhadap pemandangan alam.

    Cinta pada Sebuah Ladang (2)

    Lalu kita baca lagi badai dan bukit dalam sebuah sajak
    Menuliskan riwayat banjir yang mengairi sebagian permukaan bumi
    Meluap pada sejarah yang terus menerus ditata dengan hati sebara matahari

    Lalu kita pergi lagi
    Setelah cerita tentang orang-orang yang lewat setiap pagi
    Di jajaran ilalang, pada sepi yang merangkai tubuhnya

    “Di sini, pada riwayat kebun-kebun
    tersimpan cerita mengenai orang-orang yang diperkosa
    dan pencuri-pencuri yang ditelikung kemiskinan.
    Lihatlah batang-batang kayu yang ditebang
    menyimpan birokrasi dan kebencian.

    Berbeda dengan puisi CSL1, dalam puisi CSL2 tidak ditemukan tema cinta yang terlalu kuat. Hanya karena penggunaan diksi “kita” dalam puisi tersebut penulis ingin membuat penggambaran yang romantis untuk mengantarkan pembaca pada makna tersirat. Makna tersirat yang saya maksud di sini adalah kegelisahan. Kegelisahan dalam puisi CSL2 juga berbeda dengan puisi CSL1. Jika dalam puisi sebelumnya penulis lebih menekankan pada kegelisahan yang ada dalam dirinya, dalam puisi CSL2 penulis ingin mengungkapkan kegelisahan dari luar dirinya. Kegelisahan tersebut tergambar dengan frasa seperti “riwayat banjir”, “hati sebara matahari”, “orang-orang yang diperkosa”, “kemiskinan”, “kayu yang ditebang” dan “birokrasi dan kebencian”. Dari frasa-frasa tersebut terbentuk sebuah pemaknaan tentang kegelisahan terhadap keadaan alam dan manusia zaman sekarang yang mempunyai “hati sebara matahari” dan terkungkung oleh “birokrasi dan kebencian”.

    Berdirilah

    Berdirilah di altar benua,

    Dan hiasilah dirimu dengan bunga nilam dan adenia
    Akan kupersembahkan bagimu tujuh sayat pelangi
    Dan kuntum-kuntum rindu

    Berdirilah di altar laut,

    Dan hiasilah dirimu dengan warna kerang dan ganggang
    Akan kupersembahkan bagimu sembilan puluh sembilan
    mutiara yang diperam gelombang

    Berdirilah di altar waktu,

    Dan hiasilah dirimu dengan nyanyian serangga dan burung-burung
    Akan kupersembahkan bagimu paragraf-paragraf doa yang paling sunyi

    Berdirilah di altar musism,

    Dan hiasilah dirimu dengan barisan hujan, pepohonan, dan matahari
    Akan kupersembahkan bagimu gugusan cinta dari kesunyianku yang terdalam

    Dalam puisi di atas, saya dihadapkan pada repetisi “berdirilah di altar” sebagai pembuka pada setiap bait. Repetisi itu dilengkapi dengan memasukan diksi “benua”, “laut”, “waktu” dan “musim” (yang typo). Selain itu dalam puisi Berdirilah juga terdapat repetisi “Dan hiasialah dirimu dengan” dilengkapi dengan lanskap seperti “bunga nilam dan adenia”, “warna kerang dan ganggang”, “nyanyian serangga dan burung”, “barisan hujan, pepohonan dan matahari” pada baris pertama. Di baris selanjutnya dalam setiap bait terdapat pula repetisi “akan kupersembahkan bagimu” yang dilengkapi dengan lanskap “tujuh sayat pelangi/ dan kuntum-kuntum rindu”, “sembilan puluh sembilan/ mutiara yang diperam gelombang”, “paragraf-paragraf doa yang paling sunyi” dan “gugusan cinta dari kesunyianku yang terdalam”.

    Dari repetisi-repetisi dan lanskap di atas saya menemukan pemaknaan tentang tema cinta. Cinta dalam puisi tersebut merupakan pengungkapan timbal balik dalam sebuah hubungan. Seperti “beri aku sebotol vodka dan aku akan memberi sebuah kehangatan”. Tetapi bukan hanya itu yang ingin disampaikan penulis melalui puisi Berdirilah. Terdapat makna tersirat lain yang dalam awal pembahasan saya sebut sebagai kegelisahan. Dalam setiap repetisi “akan aku persembahkan bagimu” terdapat lanskap yang ironi dalam setiap lanskap yang melengkapinya. Contoh dalam baris “akan aku persembahkan bagimu gugusan cinta dari kesunyianku yang terdalam”. Dalam baris tersebut terdapat diksi “cinta” tetapi juga terdapat diksi “kesunyianku” yang merupakan ironi yang ingin disampaikan. Bukan hanya cinta yang klise yang ingin diberikan, tetapi cinta dari kesunyian. Hal itu juga terdapat dalam bait-bait yang lain.

    Puisi selanjutnya yang ingin saya bahas adalah puisi berjudul De. Puisi ini memiliki karakteristik yang berbeda dari puisi-puisi Neng Lilis dalam Buku Antologi Cerpen dan Puisi Pilihan Kibul 2017. Sekaligus merupakan puisi yang paling saya suka. Puisi ini tidak terlalu banyak lanskap yang dihadirkan dan tidak menyuguhkan tema cinta yang klise. Tetapi Neng Lilis tetap menyampaikan kegelisahan dengan subtil.

    De

    De mencari rindu
    Malam ini ia pergi ke jauh malam
    Lalu pada bayang-bayang kota
    Dengan seluruh letih tubuh
    Ia tersungkur di tepi jalan

    De mencari rumah
    Setelah hujan tak juga reda di tepi subuh
    Ia menjorok ke sudut pasar
    Bersama kucing ia tidur memanggil bidadari

    Lalu sebelum subuh
    De menemukan dirinya ditindih dingin
    Dibangunkan jam sibuk sebelum mimpi usai

    De pada pagi kembali menggelandang kota
    Mencari ibunya
    Mencari rumahnya
    Usianya 13 tahun
    Tetapi di tubuhnya mengendap rahim waktu
    Berabad-abad kemiskinan manusia

    Sebenarnya ada enam puisi yang diberikan kepada saya, tetapi saya hanya membahas empat puisi karena menurut saya empat puisi tersebut sudah mewakili karakteristik enam puisi karya Neng Lilis Suryani.

     

    Kegelisahan Saya Terhadap Puisi Neng Lilis Suryani

    Seperti Neng Lilis yang mempunyai kegelisahan dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya, izinkan saya juga mengutarakan sedikit kegelisahan saya terhadap puisi-puisi Neng Lilis. Semoga kegelisahan saya ini dapat diterima Neng Lilis sekaligus pembaca untuk didiskusikan kebenaran dan keperluannya.

    Kegelisahan saya terhadap puisi-puisi Neng Lilis yang pertama adalah tentang typo, atau salah penulisan dalam kata. Mungkin kegelisahan ini bisa menjadi evaluasi juga kepada pihak editor buku karena memang mengedit sebuah puisi lebih sulit daripada mengedit cerpen apalagi artikel. Terlebih lagi kepada Neng Lilis yang merupakan penulis sekaligus pembaca pertama karyanya sendiri. Editing sebuah karya memang terkadang menjadi sulit, bisa dikarenakan takut terbawa suasana yang terbangun dalam puisi atau kadang penyakit kemalasan yang menyerang. Tetapi menurut saya pembacaan ulang sebuah karya sangat perlu dilakukan dengan tujuan: 1) menghargai karya sendiri; 2) untuk menghindari typo itu sendiri.

    Kegelisahan saya yang kedua adalah tentang repetisi. Rahmat Djoko Pradopo dalam buku Pengkajian Puisi mengatakan bahwa repetisi memiliki tujuan untuk menguatkan makna yang ingin disampaikan. Tetapi menurut saya, repetisi riskan berubah memicu kebosanan pembaca melihat kata atau kalimat yang diulang-ulang. Dalam puisi-puisi Neng Lilis memang ada repetisi yang berhasil menguatkan makna, tetapi ada juga repetisi yang menjadi mubazir bahkan cenderung mengganggu pembacaan.

    Selanjutnya adalah soal lanskap atau citraan yang berhubungan dengan alam. Puisi-puisi lanskap sering kita jumpai pada penyair seperti Sapardi Djoko Damono, Iman Budhi Santosa, Subagio Sastrowardoyo, dan lain-lain. Dalam menuliskan puisi lanskap penyair-penyair tersebut tetap menyelipkan permainan makna yang dalam di balik lanskap-lanskap yang mereka bangun. Sebut saja puisi Aku Ingin yang terkenal sejagat raya itu, atau Manusia Pertama di Angkasa Luar karya Subagio Sastrowardoyo. Menurut saya puisi dan lukisan sama, puisi lanskap tanpa disertai makna yang dalam hanya akan seperti lukisan pemandangan.

    Demikianlah kegelisahan saya setelah membaca puisi-puisi Lilis. Semoga kegelisahan saya ini tidak terkesan menghakimi atau menggurui, karena kegelisahan yang dipendam hanya akan menjadi penyakit. Mari belajar bersama.

  • Kegiatan Bima Selama Korona

    author = Wildan Habibi

    Sebelum Bima berangkat memenuhi perintah gurunya, Resi Dorna, untuk mencari Banyu Perwitasari, korona telah mewabah. Negeri Astina dan Amarta tiba-tiba Lockdown. Tidak boleh ada orang masuk, tidak boleh ada orang keluar. Aturan ini diberlakukan setelah banyak penduduk di kedua negara itu mati. Virus Covid-19, yang katanya adalah penyebab korona, memang membinasakan. Korbannya tidak memandang pangkat dan kesaktian. Selain membuat binasa, jahannamnya, virus itu sendiri pintar membiak diri. 

    “Gada Rujakpala-mu mungkin dengan mudah menghancurkan Gunung Semeru. Tapi yakinlah, terhadap Covid-19, ia tak akan berguna,” kata Yudistira, menakut-nakuti adiknya.

    Tapi Bima tidak peduli korona. Malam itu ia tetap akan berangkat. Baginya, lebih baik tidak dilahirkan sama sekali daripada hidup tapi tak mematuhi guru. Lagi pula, Banyu Perwitasari adalah air kehidupan, air yang bisa membuat seorang hamba yang meminumnya menjadi sempurna. Kata Resi Dorna, jika telah meminum air itu, Bima akan mencapai puncak dari segala tangga tahapan laku spiritual seorang hamba. 

    “Ini perjalanan suci. Jika mati di tengah jalan, kamu adalah syahid,” sabda sang guru. 

    Mati

    Malam itu kebetulan purnama. Bima sudah bergegas untuk berangkat. Semua perbekalan telah dimasukkan dalam tas. Sebelum berangkat, ia memikirkan kata-kata gurunya. Ada kata “mati”. Bima jadi teringat sahabatnya yang punya nama sama, si Mati. Mereka bersahabat sejak Bima kecil. Kisah pertemanan mereka dimulai saat Pandu pernah menyerah untuk menasihati Bima kecil saking bandel dan bebalnya. Sang ramanda akhirnya memutuskan menangkap Mati. Ia lantas mengikat Mati dan memasukkannya ke dalam kain hitam persegi untuk kemudian dijadikan bandulan kalung yang dipakai oleh Bima, hingga sekarang. Saking karibnya dengan Mati, Bima selalu bersama Mati ke mana-mana: saat sedang pergi, bersatu tubuh dengan sang istri, bahkan saat menggosok gigi.

    Meski keduanya akrab, bukan berarti Bima tidak takut terhadap Mati. Ia memang tidak peduli dengan segala rahasia tentang Mati. Yang ia tahu, hidupnya akan selesai ketika Mati merasuki tubuhnya. Yang terus mengusik pikirannya, sehingga ia takut kepada Mati, adalah rahasia kapan si Mati merasuki tubuhnya. Dalam setiap langkah, detik, ia selalu membayangkan Mati lepas dari kalungnya, terbang ke angkasa, dan menjelma menjadi pistol raksasa yang mengarahkan moncong tepat ke arah ubun-ubunnya. “Mati bisa menembak nafasku dan mengambil alih tubuhku sewaktu-waktu. Mati bisa menjadi aku kapanpun dia mau,” pikir Bima, selalu.

    Itulah yang membuat Bima takut. Ia merasa rapuh. Tapi, anehnya, perasaan itu justru menghasilkan sesuatu yang terbalik. Sebab Mati hidup Bima jadi menjadi hidup yang sehidup-hidupnya. Semakin ia takut Mati akan merasuk dalam tubuhnya, semakin ia “bergairah” untuk segera melakukan apapun yang ia mau. Berbekal gairah itu, ia bisa menjadi kesatria seperti yang banyak diceritakan: tidak takut kepada apapun, tidak pernah ragu-ragu, tidak pernah memikirkan tetek bengek norma yang menurutnya penuh kepalsuan dan basa basi. Bukankah ketika berbicara dengan ibunya ia menggunakan bahasa Jawa ngoko? Yang dia pegang hanya satu, kebenaran, tepatnya yang “menurut” dia benar.

    Korona memang membuat banyak orang mati. Tapi, matinya orang-orang (jamak, kerumunan) lain tidaklah memberi kesan bagi Bima selain dalam tingkat perasaan. Hal itu berbeda dengan ketika ia berpikir tentang Mati-nya sendiri. “Kematian orang lain hanya membawa perasaan sedih, kematian sendiri mendatangkan gairah.” Begitulah keyakinan Bima. Itu adalah hasil olahan otaknya terhadap kata-kata Kierkegaard (w. 1855) dalam bukunya Three Discourses on Imagined Occasions yang suatu hari pernah dikutip Kunti, sang ibunda, saat menasihati Bima, “The earnestness is not to die but to think oneself dying, since another’s dying provides only mood. The concept of earnestness is really illuminated here.”

    Karena Mati bisa datang kapan saja, gairah Bima yang selalu membuncah ia wujudkan di “sini dan sekarang”. Cara Bima menyikapi waktu itu juga ia pelajari dari bagaimana para sufi menyikapi waktu. Yang namanya waktu bagi mereka juga “di sini dan sekarang”. Terlalu sibuk memikirkan akan kemarin akan membahayakan perasaan rida atau rela, dan berandai akan masa depan sama dengan berani mengutak-atik akan takdir. Bima ingat betul, sebuah syair Jalaluddin Rumi (w. 1273) yang dibaca setelah mengetik kata kunci “10 puisi romantis para sufi” di Google, 

    Hai kawan, seorang sufi adalah anak zamannya. 

    Dan bukanlah termasuk aturan mereka untuk berkata “besok”.

    Begitulah Bima. Mewabahnya korona justru membuat Bima merasa Mati kian kuat dan dekat. Dan semakin dekat dengan mati, gairah Bima semakin menggeliat untuk bergiat. Tekadnya telah bulat untuk berangkat sekarang juga, tanpa ditunda-tunda. “Sekarang! Mumpung nafasku belum dicuri oleh Mati,” batinnya.

    Jalan-jalan

    Bima bergegas angkat kaki. Ketika ia sudah di belakang pintu, suatu kejadian agung menimpanya. Seperti cerita para penulis amatir yang penuh dengan tiba-tiba, tiba-tiba saja kupingnya gatal. Kemudian, dengan diiringi rasa geli yang tak bisa diungkapkan dengan bahasa, seonggok makhluk memaksa keluar dari lubang kuping Bima. Keluarnya begitu cepat, sepersekian detik. Makhluk itu memang kecil, namun kemudian membesar hingga tingginya lebih kurang satu kilan. Tidak ada yang aneh dari bentuk makhluk itu. Ia tidak bercahaya, pun tidak menyeramkan. Satu-satunya yang agak ganjil hanyalah dia mirip sekali dengan Bima. Ia kemudian berdiri di tengah meja ruang tamu, dan berkata,

    “Aku Dewaruci. Aku datang menasehatimu agar tidak usah berangkat. Resi Dorna hanya ingin kau binasa. Ia penipu. Banyu Perwitasari itu tidak nyata. Lebih baik, kamu jalan-jalan saja dalam tubuhku.”

    “Omong Kosong! Kubunuh kamu.”

    Bima menikamkan kuku Pancanaka-nya tepat ke arah ubun-ubun Dewaruci. Untung makhluk itu segera melangkah ke samping. Langkahnya ternyata lebar! Bima terus mengejar, Dewaruci selalu menghindar.

    “Jangan sombong, Bima. Aku ini adalah kamu. Kamu adalah aku. Ayo, masuk sini lewat kuping kiriku.”

    “Mana mungkin. Kamu saja keluar dari kupingku, masak aku harus masuk ke kupingmu.” 

    “Bima, tubuhku memang kecil, tapi dalam tubuhku ada alam semesta.”

    Bima terus mengejar, namun akhirnya juga lelah. Ia berpikir lagi. Siapa dia? Apa mungkin aku masuk ke tubuhnya? Kalau aku masuk bagaimana caranya? Ketika hati Bima tak sengaja berkata “boleh juga untuk dicoba”, seketika itu juga ia tiba-tiba sudah di lubang kuping Dewaruci. Ada motor Vario 125 di sana. Warnanya putih, dan terlihat belum pernah dipakai. Naluri Bima mengatakan ia harus menaiki motor itu. Setelah memencet tombol stater, masuklah Bima ke dalam tubuh Dewaruci. Ternyata benar. Di dalamnya ada alam semesta. Benar cerita orang-orang tua, ada alam besar (jagad gedhe) di dalam alam kecil (jagad cilik)!

    Dalam tubuh itu, banyak hal-hal aneh yang tak bisa Bima paham. Ia melihat pohon besar yang ribuan buahnya berbentuk kepala Gatotkaca, melihat anak kecil tidak pakai celana yang setelah ia tanya siapa ternyata adalah datuk Bima sendiri, serta melihat hal lain dan sebagainya. Yang dia dengar di sana adalah keramaian yang riuh. Yang ia rasakan hanyalah cahaya yang terangnya tak bisa diungkapkan kata-kata. Temuan-temuan itu menimbulkan banyak nian pertanyaan di benak Bima. Dari sekian pertanyaan itu, semua berakhir dengan satu pertanyaan mendasar, “Apa sebenarnya aku ini?” 

    Bima terus maju. Tengok sana, tengok sini, berharap menemukan jawaban dari pertanyaannya. Sayang sungguh sayang, alih-alih mendapat jawaban dari pertanyaan awalnya, Bima justru menemukan pertanyaan-pertanyaan turunan. “Apa aku benar ada? Apa yang selain aku itu benar ada?” dan seterusnya. Pertanyaan pertama yang ia duga menjadi pertanyaan akhir, ternyata justru menjadi pertanyaan awal. Ia jadi bingung. Namun Bima terus maju. Semakin bingung semakin ia ngegas, bahkan ngebut. Mungkin ia percaya pada tokoh sufi kesayangannya, Abu Bakr al-Syibli (w. 946), yang berkeyakinan bahwa puncak perjalanan spiritual seorang hamba adalah ketika ia selalu bingung (dawam al-hairoh) terhadap “polah” Tuhan (kaifiyatullah).

    Akhirnya Bima capai. Ternyata ia juga manusia. Meski masih terus ingin bingung, kantung matanya sudah berteriak ingin tidur. Mungkin karena kasihan pada anggota badan yang paling genit itu, Bima memilih untuk berhenti maju. Ia lantas memutar haluan dan menuju arah pulang. Setelah kembali, ia melihat Dewaruci masih duduk di pinggir meja. 

    “Melelahkan.”

    “Aku tahu. Tapi, mengasyikkan, bukan?”

    “Ya. Tapi, entah, besok aku mau lagi atau enggan.”

    “Tidak apa-apa. Kalau ingin lagi jalan-jalan, kamu hanya perlu merasa bosan, atau penasaran. Ingat, aku adalah kamu, kamu adalah aku.”

    Bima tidak menambah tanggap, hanya mengambil nafas panjang sambil terpejam dan mengarahkan wajahnya ke atap. Saat membuka mata, Dewaruci telah lenyap. Bima sedikit pun tidak peduli si kecil itu pergi ke mana. Tindakan yang Bima lakukan hanyalah menaruh kembali tasnya, dan kembali ke kamar. Ia lantas mematikan saklar lampu kamar, dan tanpa berganti pakaian langsung naik ke atas ranjang. Ia menenggelamkan diri di balik selimut. Ternyata, tidak butuh lama bagi tidur untuk membuatnya hanyut. 

    Malam itu Bima tidak bermimpi.

  • Kebakaran Jenggot Rumah Cimanggis

    author = Tyassanti Kusumo

    Sebuah kota hidup dan terus melaju pada lini sejarahnya dari berbagai tinggalan yang masih tampak di tiap sudut ruas jalanannya. Kita boleh saja mengingat di sudut sebelah sana pernah ada bioskop ramai yang kini bubar, atau eks-halte yang sekarang tidak terpakai lagi karena kehabisan armada dan penumpang. Dari situ bisa kita asumsikan bahwa hiburan masyarakat beralih ke sesuatu yang lebih ekonomis, TV misalnya, atau bus kota yang posisinya terganti oleh aneka moda transportasi umum yang lebih canggih. Semua ini menunjukkan geliat perkembangan dan identitas kota. Inilah yang menjadi dasar keresahan masyarakat yang tergabung dalam Depok Heritage Community (DHC). Terlebih ketika salah satu bangunan tua di kota tersebut akan dirobohkan untuk dibangun gedung Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Bangunan yang terletak di Kelurahan Cisalak, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok itu dahulunya milik Ny. Adriana Johanna Bake (1743-1781), istri kedua Petrus Albertus van der Parra, Gubernur Jenderal Vereenidge Oost-Indische Compagnie (VOC) ke-29.

    Rumah milik Adriana Johanna Bake, atau yang akrab disebut Rumah Cimanggis oleh  masyarakat sekitarnya itu dibangun pada tahun 1775. Pendirinya pun masih simpang siur. Dari beberapa berita yang penulis baca, ada dua pendapat yang bisa jadi rujukan. Pertama, di harian Kompas (15 Januari 2018) menyebut bahwa rumah ini didirikan oleh keponakan Johanna, David Smith yang merupakan anggota Dewan Hindia Belanda. Kedua, dari laman change.org yang menyebut bahwa rumah ini dibangun oleh Gubernur Jenderal van der Parra.

    Dibangun di atas tanah seluas 200 hektar di kompleks pemancar RRI, Jalan Raya Bogor,  rumah berukuran 1.000 meter persegi ini tampak tak terurus. Atap yang semula menjadi penaung rumah kini telah hilang, begitu pula beberapa daun jendela dan pintu. Empat sumur yang ada (dua di depan, dua di belakang) pun telah tertutup semak dan perdu. Kemegahan yang tersisa hanya tampak dari delapan pilar bulat di depan rumah, atau pada hiasan kuntum bunga di lubang angin. Pemandangan sisanya hanya akan membuat kita semakin mengelus dada.

    Sungguh ironis mengingat rumah ini punya setidaknya dua nilai penting yang cukup signifikan. Pertama, rumah ini menjadi penanda adanya hubungan antara Depok dan Batavia (setelah 1619 saat Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen memindahkan pusat kekuasaan VOC dari Ambon ke Batavia). Otomatis landhuis (rumah peristirahatan) ini menjadi saksi adanya interaksi dan mobilisasi dari dua tempat tersebut. Kedua, bahwa di masa lalu sebelum Rumah Cimanggis dibangun, daerah ini sangat sepi hanya berupa lahan dengan semak belukar. Baru sekitar tahun 1775, daerah tersebut ramai karena dibukanya perkebunan karet yang menyerap banyak tenaga kerja dan memicu aktivitas sosial dan ekonomi. Pasar Cimanggis pun muncul setelah adanya Rumah Cimanggis dan perkebunannya. Pascakemerdekaan, Rumah Cimanggis pernah menjadi rumah transit Presiden Soekarno sebelum berkunjung ke Istana Cipanas atau Istana Bogor. Di tahun-tahun setelahnya, rumah ini dijadikan mes pegawai RRI.

    Arsitektur Rumah Cimanggis merupakan perpaduan gaya Eropa-Jawa (Indis) dengan sentuhan gaya dari masa Louis XV. Bahkan menurut Adolf Heuken (pakar sejarah Batavia), Rumah Cimanggis adalah contoh terbaik dan satu-satunya landhuis yang tersisa di kawasan pinggiran Batavia. Lebih lanjut tentang Johanna dan bangunan Rumah Cimanggis bisa diakses di www.geni.com dan buku-buku karya Adolf Heuken, SJ.

    Permasalahan yang muncul sekarang adalah rencana pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) di kawasan ini, seluas kurang lebih  143 hektar, yang tentunya akan menggusur bangunan Rumah Cimanggis. Dilansir dari website Pikiran Rakyat, pembangunan UIII mendapat gelontoran dana sebesar Rp. 400 Miliar dari APBN. Melihat angka yang fantastis ini, sepertinya tidak mungkin jika pembangunannya ditunda atau dibatalkan begitu saja karena adanya Rumah Cimanggis di area ini. Pada Senin lalu, Wapres Jusuf Kalla sempat melontarkan ucapan yang memicu kebakaran jenggot para pemerhati sejarah dan perkembangan kota.

    Rumah itu, rumah istri kedua dari penjajah yang korup. Masa situs itu harus ditonjolkan terus. Jadi rumah istri kedua gubernur yang korup. Masa mau menjadi situs masa lalu. Yang mau kita bikin di situ situs masa depan. Suka mana? Situs masa depan

    Kita melihat masa depan, bagaimana kita membikin Islam yang moderat, wasatiyah di Indonesia yang mempunyai pengaruh luas. Jangan terpengaruh dengan isu rumah istri kedua orang Belanda yang korup. Apa yang musti dibanggain?

    Tentu saja ucapan ini menuai banyak tanggapan, salah satunya sejarawan J.J. Rizal. Ia mengatakan bahwa pemerintah bukan saja buta sejarah, tetapi juga buta hukum. Pemerintah disebut tidak mempedulikan UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Tanggapan juga muncul dari beberapa aktivis lain di Kota Depok yang bergerak di bidang sejarah dan tatakota. Menurut mereka, pembangunan UIII akan mengubah tatanan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Depok. Aliansi ini kemudian membuat petisi di laman Change.org yang akan dikirim kepada Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Agama Lukman H. Syaifuddin, dan Walikota Idris A. Shomad untuk menyelamatkan dan memperbaiki area situs bersejarah Rumah Cimanggis sehingga dapat menjadikannya sebagai museum pertama di Depok. Juga memperkuat statusnya sebagai kawasan Hijau Resapan Air. Sejak dirilis empat minggu lalu, petisi ini sudah ditandatangani oleh 3.440 orang (dan akan mencapai 5.000 orang).

    Proyek pembangunan yang berseberangan dengan pelestarian kawasan ataupun bangunan bersejarah sepertinya menjadi langganan konflik di negeri ini. Tak perlu disebutkan, mesin pencari bisa menunjukkan pada kita. Hal-hal seperti ini kerap muncul karena pihak yang bersangkutan masih berpikir bahwa artefak tersebut kurang memiliki arti penting bagi kemajuan bangsa, atau berpikir bahwa pembangunan sesuatu yang baru di tempat tersebut akan lebih bermanfaat dan mendatangkan nilai lebih daripada bangunan yang sudah ada. Hal ini yang rupanya terjadi pada Rumah Cimanggis. Keberadaannya yang dianggap sebagai keunikan dan identitas Kota Depok masih menjadi anggapan beberapa orang saja. Status ‘Cagar Budaya’ (CB) pun sampai sekarang belum disandangnya, wajar jika pihak panitia pembangun menyangsikan fungsi dan arti pentingnya, karena secara legal belum ada kajian resmi yang membuat bangunan ini ditetapkan sebagai CB. Lantas ini jadi pekerjaan rumah siapa?

    Kompas (15 Januari 2018) yang memuat tulisan tentang Rumah Cimanggis sepintas menyebut bangunan ini sebagai Cagar Budaya, padahal jika kita mau memeriksa di situs pencatatan cagar budaya Indonesia pada laman berikut, status Rumah Cimanggis masih ‘dalam proses verifikasi dinas daerah’ dengan RRI sebagai pemilik resminya. Pendaftaran pun tercatat tanggal 9 Januari 2018, sedangkan menurut laman petisi, Rumah Cimanggis sudah terdaftar di Badan Pelestari Cagar Budaya Banten sejak 2011 dengan No. 009.02.24.04.11, dan rekomendasi sudah dikirim ke Pemerintah Kota Depok namun belum ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Depok sebagai Cagar Budaya resmi. Jadi boleh dikatakan, secara legal bangunan ini memang belum resmi menjadi Cagar Budaya, yang berarti ia bisa saja dirobohkan karena tidak masuk dalam Kategori Perlindungan.  Namun demikian, UU CB 11/2010, Pasal 31, Ayat 5, dapat menjadi tameng kuat untuk memberhentikan sementara proses pembangunan karena status Rumah Cimanggis yang ‘masih dalam verifikasi’.

    “Selama proses pengkajian, benda, bangunan, struktur, atau lokasi hasil penemuan atau yang didaftarkan, dilindungi dan diperlakukan sebagai Cagar Budaya.” (UU CB 11/2010, Pasal 31, Ayat 5)

    Status Cagar Budaya bisa kita tinjau lebih jelas dalam Bab VII tentang Pelestarian Cagar Budaya. Pasal tersebut mencantumkan tindakan-tindakan yang bisa diberlakukan pada Cagar Budaya, yakni Pemanfaatan, Perlindungan, dan Pengembangan. Rumah Cimanggis yang masih dalam status verifikasi patut pula mendapat perlakuan tersebut. Meski ketika kembali ke pertanyaan sebelumnya, ‘Pekerjaan rumah milik siapa?’ Saya pikir ini berakar dari kelalaian bersama yang masih sangat tidak peduli pada tinggalan-tinggalan bersejarah di sekitar kita. Pihak RRI sebagai pemilik dan Pemerintah Kota Depok tidak pernah secara serius berusaha mengembangkan bangunan ini. Padahal jika Rumah Cimanggis segera diurus statusnya dan direstorasi, ia bisa dikembangkan menjadi situs yang bisa dinikmati oleh masyarakat Kota Depok. Misal saja sebagai museum atau kafe bernuansa sejarah, sehingga di kemudian hari, kemasygulan atas nilai bangunan ini pun tidak akan bermunculan. Sayangnya tindakan ini belum dilakukan sampai akhirnya muncul sengketa pembangunan.

    Tidak adanya tindakan nyata dari pemerintah maupun pemilik lahan bisa dimaklumi karena minimnya pengetahuan mengenai informasi Cagar Budaya terkait. Ditambah pula fakta bahwa Kota Depok belum memiliki Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang secara khusus menangani tentang pengkajian dan penetapan Cagar Budaya. Betapa mirisnya. Namun, mengingat di daerah-daerah lain juga masih banyak yang belum memiliki TACB, sepertinya hal ini masih belum menjadi alarm. Sudah seharusnya kita bersiap, apalagi untuk daerah-daerah yang memiliki potensi Cagar Budaya. Bila terus-menerus dibiarkan, akhirnya kita yang kebakaran jenggot. Kebingungan di detik-detik yang vital. Semoga saja ke depannya tidak ada jenggot yang terbakar lagi. Mari peduli dan terus menelisik identitas daerah kita, termasuk tinggalan budaya yang ada.

     

     

    Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

    Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

  • Kabar Baik dan Ajakan untuk Mengerti

    author = Alangga Dwi Kusuma

    Teman-teman saya bertanya,
    “Baik-baik di sana?”
    “Apa kabar?”
    “Aman?”
    Well, terima kasih sudah bertanya. Itu sangat berarti. Sepertinya salah satu kebahagiaan sebagai seorang perantau adalah mendapatkan pertanyaan mengenai kabar yang datang dari orang-orang di kampung halaman, mungkin keluarga, teman, atau pujaan di masa silam. Melonjak girang hati ini 

    Saya sedang baik dan berbahagia, Teman.
    Segala macam hiruk pikuk yang menyangkut pulau tempat saya tinggal saat ini, tidak mengancam saya sama sekali. Saya masih mengajar anak-anak, seperti biasa. Saya masih berkawan dengan teman-teman di sini, tidak ada bedanya. Saya masih ke pasar, belanja, menggandulkan noken di kepala, berbalas salam selamat pagi, masuk ke gereja, jabat tangan dan mengucapkan “selamat hari Minggu” atau “wa wa wa”, salam khas di pegunungan tengah Papua. Seakan tidak ada yang berubah, sama.

    Akan tetapi, ada juga yang mengusik pikiran saya. Meskipun jaringan internet masih sangat terbatas, berita tentang Papua yang sempat menjadi trending topic di twitter Indonesia sampai juga Wamena. Saya melihat beberapa teman mulai bereaksi di media sosial. Kabar-kabar mengenai gejolak yang muncul akibat berita itu juga mulai terdengar. Jarak dua-tiga jam naik mobil dari Wamena tentu bukan penghalang bagi berita macam begitu masuk ke Bokondini. Sampai akhirnya tersiar kabar terbaru mengenai suasana mencekam di Jayapura akibat aksi massa yang ricuh.

    Meski demikian, seperti sudah saya bilang sebelumnya, tidak ada yang berbeda. Anak-anak remaja di sekolah tetap menerima saya dan pelajaran yang saya bawa, Bahasa Indonesia.

    Teman, sepertinya hanya memberi kabar bahwa “saya dalam keadaan baik” saja tidak cukup bagi saya, maka seperti “Sebuah Berita Kepada Kawan”, saya sampaikan tulisan ini.

    Setelah satu tahun melihat Papua dari pegunungan tengahnya, mata saya semakin terbuka bahwa dalam hati mereka yang sedang menggelar aksi massa, dalam kemarahan mereka yang terungkapkan melalui kata-kata dan status di social media, dan bahkan dalam kehidupan sehari-hari orang Papua yang terlihat “tanpa suara”, saya melihat tidak ada hati untuk Indonesia.

    Teman,
    Kamu bisa jadi akan tersinggung berat kalau saya ceritakan beberapa hal mengenai apa yang orang Papua pikir tentang Indonesia. Akan tetapi tunggu sebentar, saya akan bercerita sedikit tentang apa yang saya pikir tentang orang Papua. Dulu.

    Sebelum saya mengenal istilah rasisme, kesukuan, dan teman-temannya, saya menganggap mentertawakan orang-orang Papua dari jauh lalu merasa waspada ketika harus dekat dengan mereka adalah hal yang wajar. Apa yang saya mengerti tentang orang Papua waktu itu—saat masih kanak sampai remaja—adalah berbeda, terbelakang, berkulit gelap, dan berbahaya. Pengertian semacam ini tentu saya dapat dari lingkungan terdekat saya. Lalu setelah saya kuliah dan bertemu banyak orang Papua yang kuliah di Yogyakarta, saya mulai mengenal apa itu rasisme, tapi tidak sungguh paham. Saya sudah tahu bahwa tidak semestinya saya menganggap mereka sebagai “alien”, tapi tetap saja, di beberapa kesempatan, saya mentertawakan orang Papua.

    Sampai akhirnya ketika saya memutuskan untuk bekerja di Papua, banyak yang berpesan “hati-hati” yang kesannya berbeda sekali dengan “hati-hati” yang pernah saya dapat sebelumnya. Ada juga yang berpesan, “jangan sampai dapat jodoh orang sana”. Ada yang bilang, “Wah, kamu pasti akan jadi yang paling putih di sana,” atau “Kamu pasti akan jadi yang paling ganteng di sana” dan masih ada beberapa lainnya. Semua itu datang dari keluarga dan teman-teman saya sendiri. Sampai sekarang.

    Pernah kamu melakukan itu? Atau kamu tahu berapa banyak orang di sekitarmu melakukan hal yang sama?

    Pernah ada teman yang bertanya, “Bagaimana sebenarnya keadaan di sana (Papua)?”

    Sepertinya saya sudah enam bulan lebih tinggal di Papua waktu itu dan saya ceritakan apa yang sudah saya lihat dan saya singgung tentang keinginan orang Papua untuk merdeka. Teman saya membalas, “Wah sayang lah kalau merdeka, Papua kan sangat menguntungkan.”

    Seketika hati langsung bergejolak, ingin marah, membalas pesannya dengan huruf kapital, “KENAPA KAMU HANYA PIKIRKAN TANAHNYA YANG MENGUNTUNGKAN, TIDAK PIKIRKAN ORANG-ORANGNYA? ITU KENAPA MEREKA MAU MERDEKA!!!”
    Itu sebelum saya menyadari bahwa mungkin jika saya mendapatkan pertanyaan, “Bagaimana kalau Papua merdeka?” enam bulan sebelumnya, saya juga akan mengatakan hal yang sama dengan apa yang teman saya katakan. Sekaligus saya sadar pada saat itu, bahwa pandangan saya terhadap Papua sudah berubah. Enam bulan setelah saya tinggal di Papua.

    Beberapa bulan lalu, saya mendapat teman baru di Bokondini, orang Jawa. Suatu hari, dengan terang-terangan dia mengatakan “Anak-anak ini bodohnya kebangetan,” sambil menunjukkan berlembar-lembar kertas ujian nasional anak SMA negeri yang kacau dalam penulisan identitasnya, “masa mengisi identitas saja tidak bisa.” Dia terus saja bersungut-sungut mengatakan bahwa mimpi menyelenggarakan pendidikan ideal di Bokondini adalah sia-sia, karena anak-anak Papua itu bodoh. Waktu itu saya berpikir bahwa sepertinya sia-sia juga kalau saya mengatakan kepadanya, “Teman, anak-anak di sekolah saya bisa kok. Anak-anak Bokondini juga, masih SMP, kerja sendiri lagi, tanpa kunci jawaban.”

    Sekitar dua bulan lalu, teman dari teman saya, seorang perwira, mentraktir kopi di Wamena sambil berbagai cerita. Saya menaruh hormat pada si perwira muda yang tampak berwibawa dan berkharisma ini sampai ia menanyakan tantangan-tantangan yang saya hadapi sebagai guru di pedalaman. Saya ceritakan dengan semangat bagaimana saya berada di sekolah dengan visi yang sangat jelas yang berusaha memberikan pendidikan terbaik dan tetap tinggal di kampung dengan harapan dapat memberi pengaruh kepada lingkungan di sekitarnya. Saya ceritakan juga bagaimana beberapa orang berjuang bertahun-tahun membantu anak-anak Papua mendapatkan masa depan lebih baik melalui pendidikan yang benar, meskipun harus sering menghadapi banyak halangan yang datang justru dari lingkungan anak-anak itu sendiri. Memotong cerita bersemangat saya, sang perwira berkata, “Kalau memang mereka tidak mau dibantu, ya sudah, kita manfaatkan saja, begitu kan?”

    Sedikit mangap, saya tak mampu menjawab. Seketika itu, runtuhlah hormat dan sa pusemangat. Beruntung sekitar lima menit kemudian kami pulang.

    ***

    Mengutip lirik lagu Sherina yang berjudul “Lihatlah Lebih Dekat”

    “…lihat segalanya lebih dekat, dan kau bisa menilai lebih bijaksana,
    lihat segalanya lebih dekat, dan kau bisa mengerti.”

    Teman, saya ingin mengajakmu untuk “menilai lebih bijaksana” dan “mengerti” mengapa ada orang Papua yang ingin merdeka. Bukan sekadar “ada” tapi buanyak orang Papua yang ingin merdeka, seperti saya pernah tulis sebelumnya, bahwa bukan hanya mereka yang bersenjata saja yang ingin merdeka, bahkan dalam diam seorang mama-mama yang membawa ubi, tergambar bintang kejora di nokennya, dalam semangat anak-anak sekolah kami yang menjaga guru-gurunya seperti menjaga telur agar tidak pecah, terungkap kata merdeka. Indonesia adalah penjajah bangsa Papua. Saya bahkan menemukan gambar-gambar “tentara pembebasan Papua” yang terselip dalam lembar-lembar buku tugas anak-anak.

    Pada awalnya, ketika saya mendengar banyak hal tentang impian merdeka dari lingkungan sekitar, jiwa nasonalis saya bergejolak dan berpikir, “bodoh sekali orang-orang ini kalau mau merdeka. Mereka merdeka memangnya mau buat apa? Mereka belum siap dan Indonesia tidak menjajah Papua. Papua adalah Indonesia.”

    Perlu satu tahun bagi saya, waktu yang sebenarnya masih terlalu singkat, untuk lebih mengerti bahwa memang tidak ada hati untuk Indonesia bagi banyak orang Papua. Sementara itu, Indonesia “hadir” di tempat ini dalam bentuk yang mengerikan: sekolah-sekolah negeri tidak jalan, fasilitas-fasilitas umum yang macet, desa-desa terpelosok dengan akses sangat terbatas pada apapun, pemerintahan yang jadi lahan korupsi, PNS yang lebih sibuk dengan bisnisnya daripada tugas yang seharusnya, hukum nasional yang tidak berfungsi meski aparatnya terus digaji, dana desa dibagi-bagi secara tunai, dan angka kematian akibat HIV yang terbilang tinggi. Apakah ini karena orang-orang Papua sendiri? Pelaku-pelakunya mungkin orang Papua, tapi siapa di balik semua ini? Kenapa ketidakberesan yang mengerikan ini dibiarkan terus terjadi? Saya lantas singkirkan dulu jiwa nasionalis saya. Saya coba buka mata, buka hati, pasang telinga. Saya ingin mencoba untuk mengerti.

    Saya mengingat bagaimana cara saya memandang orang Papua satu tahun sebelumnya dan saya bayangkan pastinya masih banyak orang-orang di Indonesia yang memandang orang Papua dengan cara pandang lama saya. Teman pasti juga sudah melihat perlakuan-perlakuan yang berbeda kepada orang-orang Papua di tempat Teman berada. Saya bahkan melihat sendiri di Papua, yang salah satunya adalah pelayanan rumah sakit dan Puskesmas yang sangat galak kepada orang Papua tapi lembut dan penuh perhatian kepada orang pendatang. Saya pernah pernah berobat untuk bisul sebesar kacang ijo dan dimanja-manja, sementara seorang mama yang mengobatkan anaknya yang terkena infeksi saluran pernafasan akibat terlalu banyak mengisap asap honai mendapat bentakan, “Makanya mama juga harus tahu urus anak, bukan hanya tahu bikinnya saja!”

    Itu yang terlihat. Ada lagi yang tidak terlihat, tapi terasa sangat kuat menjadi alasan orang-orang Papua ingin merdeka.

    Dendam.

    Dendam yang diturunkan dari generasi ke generasi, diobrolkan dari honai ke honai, dikhotbahkan dari gereja ke gereja dan sekarang disebarluaskan melalui berbagai media di dunia maya. Bersama dengan dendam itu, pesan kemerdekaan disampaikan.
    Dendam apa? Di Bokondini, orang-orang menyebut “Peristiwa tahun ‘77”, di Biak orang menyebut “Biak Berdarah”, di media sosial orang-orang menyebut “Kekejaman TNI-POLRI”, dan sepertinya masih banyak peristiwa tak berjudul yang meninggalkan dendam mendalam. Kata-kata semacam pembantaian, penganiayaan, pembunuhan, pelanggaran HAM dan sebagainya sepertinya cukup menggambarkan dendam seperti apa yang dimaksud di sini. Teman bisa mencari referensi terpercaya untuk ini, salah satunya yang saya rekomendasikan adalah buku Seakan Kitorang Setengah Binatang, yang isinya adalah wawancara kepada Filep Karma, tokoh penting dalam perjuangan Papua. Dari dia juga lah saya mendapatkan istilah “tidak ada Indonesia di hati orang Papua”. Teman juga bisa menjadikan tulisan saya ini sebagai pengantar untuk memahami Papua lebih dekat.

    Papua memandang Indonesia sebagai penjajah yang diperparah dengan tanda kehadiran Indonesia di Papua: kebobrokan. Otsus dan dana besar yang menyertainya, membuat keadaan di Papua semakin mengerikan. Itu datangnya dari Indonesia.

    Teman, saya cinta Indonesia, tapi ketika melihat dan mengalami “Indonesia” dari sisi Papua,
    sungguh . . .
    Saya jadi mengerti mengapa dari mulut anak kecil yang belum puber pun muncul kata “MERDEKA”. Teman, kamu boleh tidak setuju kalau Papua merdeka, tapi cobalah untuk mengerti mengapa orang Papua ingin merdeka, lalu kamu akan tahu apa yang sebaiknya kamu lakukan.

    ***

    Beberapa hari lalu, saya sempat melihat beberapa kiriman di media sosial tentang kekejaman Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) OPM kepada orang pendatang di Papua dengan caption kira-kira “Hentikan kekejaman gerakan separatis. Basmi mereka. NKRI harga mati” sambil menyebut beberapa akun media sosial lembaga keamanan RI.
    Hal seperti ini hanya akan menambah kebencian di hati orang Papua.
    Kalau kamu pernah melakukan ini, Teman, jangan lakukan lagi. Kalau kamu mengetahui temanmu melakukan ini, tolong beri tahu dia, atau beri dia tulisan ini, karena di sisi lain, tersebar pula beberapa kiriman yang menunjukkan kekejaman TNI-POLRI kepada orang Papua dilengkapi caption panjang mengenai HAM dan kemerdekaan. Mari kita buat keadaan ini lebih mendamaikan.

    Teman, saya merasa senang tinggal di sini. Apalagi dengan sifat saya yang senang belajar, saya menjadi mengerti banyak hal. Sifat ini pulalah yang telah membawa saya kembali kepada Tuhan dan oleh karena Tuhanlah, saya masih ada di sini dan menulis ini kepadamu.

    Kalau Teman seorang nasionalis yang peduli dan ingin Papua tetap bersama RI, Teman bisa mendukung dan mendoakan saya dan rekan-rekan di sini, sebagai perwakilan Indonesia dalam usaha memperbaiki hubungan dengan Papua.

    Kalau teman seorang yang pro-kemerdekaan Papua, Teman bisa mendoakan kami di sini sebagai perwakilanmu yang mempersiapkan kemerdekaan yang baik melalui pendidikan yang benar.

    Kami akan sangat senang mendapatkan dukungan dan doa darimu, tapi mohon maaf kalau kami tidak peduli dengan merdeka atau ikut RI, karena kami di sini bekerja untuk Tuhan. Kami percaya Tuhan mempunyai tujuan yang baik. Kami di sini untuk melaksanakan kehendak-Nya. Kami di sini, di Ob Anggen, sedang mengerjakan bagian yang sudah Ia percayakan kepada kami.

    salam hangat, peluk erat

    Alangga Dwi Kusuma

    diterbitkan pertama kali di blog milik penulis, woanderwhy.

  • Jangan Mewajarkan Maut a la Nancy Scheper-Hughes

    author = Gusti Nur Asla Shabia

    1.

    Seberapa dekatkah kita
    dengan kematian?

    Saat
    saya tinggal di rumah indekos yang terletak di samping mushalla, kematian
    terdengar begitu dekat. Sebab, kabar
    akan dirinya disiarkan melalui toa.
    Kencang sekali suaranya. Selain melalui toa, saya juga kerap ‘menjumpai’ kematian lewat simbol bendera (kuning di Jakarta dan putih kalau di Jogja) yang dipasang
    di mulut gang, tepi jalan, atau depan rumah kerabat
    yang berduka. Namun, sepanjang hidup saya, belum pernah saya mendengar kabar
    kematian lewat toa yang disiarkan berkali-kali dalam sehari, atau bendera putih
    yang terpasang di setiap gang yang saya lalui. Tentunya, kalau saya menjumpai
    ini, saya akan dilanda kengerian; karena bukankah kita sadar
    sedang terjadi banyak kematian dalam suatu ruang?

    Kematian dalam jumlah banyak, dan begitu dekat, tak pernah menjadi sesuatu yang nyaman untuk kita yang masih hidup. Lalu mengapa, sekarang, kita bisa duduk-duduk di hunian kita yang nyaman, mendengarkan kabar terbaru tentang kematian akibat COVID-19 yang sudah mencapai 280 jiwa (per 9 April 2020), dan merasa tidak seterganggu itu? Bukankah tiap sore, setelah Achmad Yurianto—sang juru warta atas hidup dan mati di Indonesia—mengumumkan data ter-update tentang COVID-19, kita akan kembali lanjutkan rutinitas kita yang sempat tertunda tanpa merasa ngeri? Apakah kita kini mulai mewajarkan kematian?

    2. 

    Semasa
    saya kuliah, ada satu artikel yang masih membekas di benak saya karena kisahnya
    yang begitu banal. Artikel tersebut adalah etnografi karya Nancy
    Scheper-Hughes, berjudul Death Without Weeping (1993). Sebagaimana
    judulnya, “Kematian Tanpa Isakan”, Nancy membawa kita ke sebuah kota kumuh di
    Brazil bernama Alto do Cruzeiro, sebuah kota yang memiliki tingkat kemiskinan dan
    angka kematian bayi yang begitu tinggi. Sepanjang tahun 1965, sebanyak 350 bayi
    dari total populasi 5000 jiwa telah meninggal. Di kota ini pula, kematian bayi
    jadi dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

    Sebagai outsider, Nancy merasa ngeri ketika mendengar dentang lonceng gereja berbunyi setiap harinya. Tiap dentang lonceng menandakan sebuah kematian, paling sering kematian bayi. Namun, tidak
    seperti Nancy, ibu-ibu di Alto menanggapi dentang
    lonceng—sekaligus kematian di baliknya—dengan reaksi yang acuh
    dan kasual. Jangankan menanggapi dentang bel dengan emosi yang dingin. Ditulis
    Nancy dalam karyanya, “Perempuan Alto melihat kematian bayi sebagai sesuatu
    yang “sudah ditakdirkan” dan “tidak terhindarkan”. Sejak melahirkan dan
    bayinya, mereka sudah menentukan bayi yang menunjukkan tanda-tanda kematian
    secara kronis: yang pucat, tidak lahap menyusui, dan jarang menangis”, dan
    biasanya tak ada usaha aktif dari orangtua untuk mengobati atau merawat sang
    bayi. Sementara, yang tanda-tanda kematiannya sudah akut, seperti
    kejang-kejang, mulut berbusa, tercekik, hanya “… digeletakkan di lantai ruang
    belakang, hingga ajal menjemputnya dalam kesendirian”.

    Begitu
    wajar, lumrah, dan seram.

    Situasi
    ini lah yang jadi mengingatkan saya terhadap apa yang kita alami sekarang, saat
    kita mulai terbiasa menghadapi angka kematian yang semakin tinggi setiap
    harinya. Betapa angka-angka kematian COVID-19 yang kita dengar setiap harinya
    begitu berjarak. Sebagai audiens, kita mungkin tak pernah benar-benar
    menyadari, tiap angka mewakilkan satu jiwa yang punya identitas dan kisah
    sendiri, yang benang kehidupannya terputus pada hari itu. Kita dilindungi dari
    pengetahuan tentang siapakah yang menderita di balik angka tersebut; apakah
    yang mati punya kesempatan untuk melihat wajah keluarganya pada saat terakhir? Apakah
    semua tanggungjawabnya di dunia telah usai, apakah ia tidak sedang berada di
    tengah-tengah usaha merintis karier dan mimpi? Bagaimana dengan yang
    ditinggalkan, apakah mereka pernah menduga takkan diberi kesempatan untuk
    mengecup jenazah orang yang dikasihinya? Apakah yang hidup harus berhenti
    melanjutkan usaha yang tadinya dikerjakan bersama dengan yang pergi?  

    Tidak seperti kita, mereka yang menjadi bagian dari penambahan angka tersebut mungkin sangat berat  melanjutkan kehidupan, lantaran menghadapi kehilangan yang tak terperi. Belum lagi, bayang-bayang ketidaklegaan berpotensi melingkupi keluarga dan sanak ketika menjumpai proses penguburan yang harus sesuai dengan Protap Corona. Seperti yang kita tahu, ritus kematian dalam setiap kepercayaan, punya proses dan tata cara untuk memperlakukan jenazah. Hampir semuanya melibatkan proses yang memiliki tindakan-tindakan yang berinteraksi dengan jenazah, sebuah cara yang disebut  Bloch (1971, dalam Engelke, 2019) sebagai “mengingat untuk melupakan”, yakni sebuah tindakan mendekat ke jenazah untuk memberikan penghormatan terakhir, yang akan turut menandai jarak dan keterpisahan dari jenazah. Karena dimakamkan sesuai prosedur yang menjaga dari kerentanan penularan virus, tak ada aksi simbolis bagi keluarga dan sanak untuk melepas mereka yang dikasihi. Kematian bukan hanya mulai dianggap wajar, tapi mulai muncul gelombang orang-orang yang anti-kematian. Masyarakat di Gowa, Banyumas, Cianjur, beberapa daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan daerah-daerah lain menolak jenazah positif COVID-19 dimakamkan di area mereka. Mereka pikir, jenazah yang dikuburkan akan menyebarkan pandemi itu kepada masyarakat sekitarnya. Bagi saya, ini bukan hanya kesalahpahaman, tapi merupakan kombinasi dari stigma, serta kurangnya empati dan rasa aman yang bisa membuat masyarakat berpikir jernih. Seperti mereka yang mewajarkan kematian, mereka yang menolak kematian juga tidak berusaha mendudukkan diri dalam posisi “yang mati” dan “yang ditinggalkan”, yang pasti memimpikan tempat pembaringan terakhir penuh kedamaian. 

    3.

    Namun,
    yang mewajarkan kematian, dan yang menunjukkan emosi-emosi penolakan pada
    kematian, bukan oknum yang bisa disalahkan sepenuhnya—begitulah yang diajarkan
    Nancy dalam tulisannya.

    Saya
    teringat tulisan Nancy  bukan tanpa alasan. Setelah membawa kita pada
    perasaan bahwa ibu-ibu Alto adalah kumpulan orang-orang barbar yang tak punya
    hati, Nancy—dengan tugasnya sebagai seorang antropolog—mulai menjabarkan
    keadaan di balik kebekuan hati para ibu akan kematian anaknya: mereka jugalah korban,
    dari sistem yang lebih besar. Apa yang dimaksud Nancy adalah kondisi ekonomi di
    Alto yang memaksa para ibu untuk bekerja dalam sebuah lingkungan yang tidak
    memberikan ruang untuk merawat anak dengan penuh. Selain itu, terdapat kegagalan
    institusi-institusi untuk melindungi kesejahteraan ibu dan anak; mulai dari
    pemerintah, petugas kesehatan, hingga gereja setempat. Jika seorang bayi mati
    dan akan diregistrasikan ke pemerintah, proses dokumentasi atas kematian
    tersebut akan berlangsung tak sampai lima menit, tanpa saksi, dan kolom
    penyebab kematian kerap dikosongkan—seakan pemerintah tak mau menjadikan kasus
    kematian sebagai perbaikan kebijakan ke depannya. Di klinik-klinik gratis, bayi
    yang sakit biasanya hanya diberikan vitamin atau tonik oleh dokter, padahal
    mereka menderita malnutrisi yang membutuhkan perawatan khusus. Kadang, bayi
    yang rewel diberikan pil tidur untuk “menenangkan” tangisannya. Institusi agama
    seperti Gereja, yang harusnya memberikan ketenangan bagi keluarga yang
    ditinggalkan, menolak memberikan pelayanan dan penghormatan terakhir pada bayi,
    yang dulunya berupa dentang bel di Gereja dan prosesi kematian yang dipimpin
    pastur.

    Oleh
    karena itu, menurut Nancy, pengabaian (indifference) adalah praktik yang
    diproduksi secara sosial dan merupakan refleksi dari pengabaian institusi yang
    lebih besar, yakni institusi resmi seperti gereja dan negara terhadap para
    perempuan dan anak-anak yang terlilit kemiskinan.  

    Maka
    bisakah kita, dengan logika yang sama, menganggap pewajaran, apati, dan
    antipati masyarakat terhadap kematian sebagai refleksi dari pewajaran, apati,
    dan antipati pemerintah serta institusi tertentu terhadap mereka yang rentan
    terjangkit COVID-19? Saya rasa bisa, karena kita masih dihantui kabar tentang
    tingginya kematian pasien COVID-19 di Indonesia, di mana banyak yang meninggal
    merupakan tenaga medis serta orang-orang yang masih berada
    dalam status PDP (Pasien Dalam Pengawasan). APD yang tidak memadai, rasa
    kelelahan akibat kelimpungan mengatasi pasien yang membludak, penolakan rumah
    sakit rujukan pada mereka yang ingin diopname, kurangnya ventilator, dan hasil
    tes swab yang keluar begitu lama, telah membuat banyak orang berpacu dengan
    masa kritis yang tak bisa diajak kompromi dan akhirnya mengantarkan mereka pada
    kematian. Sistem kesehatan kita—mirip halnya dengan yang terjadi di Alto—masih
    bermain-main dengan kematian karena belum optimal dalam penanganan virus Corona.
    Bila ditakar, hanya 36 dari setiap satu juta orang di Indonesia yang dites untuk mendeteksi virus Corona. Korea Selatan, sebagai pembanding, memberikan tes untuk 8.996 dari setiap
    satu juta orang
    .

    Pada
    masa kritis ini, pemerintah juga masih bermain-main dengan kematian. Bisa-bisanya
    Jokowi dan Luhut dengan mencla-mencle berkata mudik tidak dilarang,
    tetapi diimbau untuk “tidak dilakukan”. Terawan, sebelum dua hari yang lalu, masih
    mengenakan birokrasi berbelit-belit pada PSBB yang diajukan Anies, sehingga
    banyak warga terlanjur bermigrasi dan berpotensi menyebarkan virus. Baru-baru
    ini, warganet juga digemparkan dengan pernyataan Anies Baswedan yang berkata mungkin
    saja ada data kematian akibat Corona yang tidak terdeteksi, menilik ada 4.400 kematian yang dilaporkan Dinas Pertamanan dan Pemakaman Jakarta. Beberapa hari berselang, seorang warganet menunjukkan kejanggalan data pasien COVID-19 yang
    berbeda datanya dari tanggal 3 April ke 4 April. Tirto, tanggal 6 April lalu,
    mengabarkan bahwa data dari Kemenkes tidak transparan dan dipertanyakan validitasnya. Dari sini, kita mampu melihat pemerintah jelas tidak tegas dan belum
    mengambil langkah ekstrem untuk menekan laju kematian.

    Sebagai
    akibatnya, “wajar” bagi kita untuk mulai mewajarkan kematian, karena bukan
    hanya kita mengalami keberjarakan epistemis (jarak yang menghalangi kita untuk
    memahami keseluruhan kejadian karena kompleksitas relasi dan keterbatasan pengetahuan [Carolan, 2020]) dari
    kisah-kisah kematian orang-orang, kita pun juga menghadapi informasi kematian
    COVID-19 yang dirutinisasi: ada setiap hari, dalam jumlah besar dan meningkat, pula.
    Jangankan kisah personal, informasi resmi soal kematian yang valid, benar, dan
    transparan tidak dapat sepenuhnya kita peroleh karena carut-marutnya data dari
    pusat.

    Kita
    memang belum separah Ekuador, yang kini mulai menggeletakkan
    jenazahnya begitu saja di tepi jalan. Pemerintah kita juga belum seburuk Donald
    Trump yang dengan enteng berkata,  “we all together have
    done a very good job
    karena kematian di
    Amerika Serikat, menurutnya, hanya berjumlah 100 ribu, bukan dua milyar.
    Tapi ini tidak menjadi legitimasi bagi diri kita untuk mulai terbiasa dengan
    kematian. Bila Nancy, dalam penutup tulisannya, mengatakan pewajaran akan
    kematian adalah strategi bertahan masyarakat Alto untuk move on dalam
    ketidakberdayaan terhadap institusi-institusi sosial dan kepemerintahan mereka,
    saya perlu berkata bahwa pewajaran akan kematian di Indonesia tidak diperlukan:
    karena kita malah sedang tidak perlu banyak move on ke mana-mana, dan
    kita harus terus mengawal pemerintah kita yang pahpoh.

    Pergilah ke medsos, cari kisah personal orang lain yang memberitakan kepergian yang dikasihi karena COVID-19. Tetaplah menganggap kematian sebagai sesuatu yang tidak wajar dan memroduksi rasa miris, karena rasa itu lah yang membuat kita tergerak untuk menolong, berempati, dan yang terpenting: bebas dari sebuah sistem yang membuat kita kehilangan kemanusiaan serta solidaritas untuk menyelamatkan sebanyak-banyaknya orang hidup.

    Referensi

    Carolan, Michael S. 2007. Introducing the
    concept of tactile space: Creating lasting social and environmental
    commitments. Geoforum 38: 1264-1275

    Engelke, Matthew. 2019.
    The Anthropology of Death Revisited. Annual Review of Anthropology 48:
    29-44. DOI:  https://doi.org/10.1146/annurev-anthro-102218-011420

    Scheper-Hughes,
    Nancy. 1989. Death Without Weeping: Has poverty ravaged mother love in the
    shantytowns of Brazil?. Natural History: 8-16. Diakses dari http://public.gettysburg.edu/~dperry/Class%20Readings%20Scanned%20Documents/Intro/Scheperhuges.pdf

  • Jangan Dibuat Terlalu Masuk Akal, Kita Suka Cerita Mistis

    author = Apri Damai Sagita Krissandi

    Sebuah diskusi sederhana dengan kawan di sore hari menuntun cerita-cerita masa kecil nan jenaka. Kami menghabiskan malam dengan tertawa dengan kisah-kisah mistis. Kami punya kesimpulan bahwa cerita mistis perlu diteliti kebenarannya. Tetapi sampai saat ini kami malas meneliti. Jawabannya adalah karena kami suka cerita mistis. Kendatipun faktanya tidak mistis, hati kami tidak rela bahwa faktanya tidak mistis, pokoknya harus mistis, hehe. 

    Misalnya saja kisah “KKN di Desa Penari”, saya kebetulan pengurus KKN di sebuah universitas. Setiap saat saya mendengar cerita mistis dari mahasiswa. Kami sering mencari tahu kebenaran cerita tersebut. Kami telusuri kisah dari sumber satu ke sumber yang lain. Sumber demi sumber dirunut ternyata ujung-ujungnya adalah “katanya si A dan katanya si B” dengan kata lain ceritanya tak berujung. Seandainya pada akhirnya kita mengetahui bahwa fakta kisah “KKN di Desa Penari” ternyata tidak benar, saya yakin masih banyak orang tetap bersikukuh pada “kebenaran” mistis. Mitos dan Mistis memang mempersatukan bangsa ini. 

    Dalam diskusi di sore itu, seorang kawan menceritakan kisah mistisnya. Kawan saya bernama Adi, ia seorang dosen fisika yang sangat logis melihat fenomena alam ini. Misalnya ia pernah membuktikan bunyi “taaaaaaang” yang selalu muncul di tengah malam ternyata adalah kelelawar kecelakaan karena menabrak kabel tiang listrik. Gelombang ultrasonik yang dipancarkan kelelawar ke kabel tersebut menyebar ke berbagai arah dan tidak kembali padanya. Kabel dengan permukaan kecil dan bulat menyebabkan gelombang yang menyebar tidak terkendali. Sebagian warga desanya pada saat ini bersikukuh bahwa bunyi itu adalah setan iseng yang ngrutukki batu di tiang listrik. Selain kisah di atas ada cerita lain yang  dapat mengilustrasikan bagaimana kisah mistis melegenda di suatu daerah. Saya tertarik menjadikan kisah itu sebagai ilustrasi kecintaan kita pada kisah mistis mengalahkan nalar dan fakta yang terjadi. Begini kisahnya …

    Adi duduk sendiri memandang pohon-pohon besar yang akan dilaluinya. Dari kejauhan pohon itu serasa ingin mencengkeram dengan dahan-dahan yang kekar. Adi bingung sekaligus takut. Ia ingin pulang tetapi sudah terlalu malam. Adi saat itu tidak memperhitungkan waktu bermainnya. Ia terlanjur ikut sepak bola di kampung sebelah. Saat musim kemarau, suasana sore yang terang berlajan lama dan tiba-tiba gelap. Saking asiknya bermain, Adi tidak sadar jika hari menjelang gelap.

    Pohon besar adalah sesuatu yang menyeramkan untuk anak-anak. Orang tua kadang menambahkan cerita mistis tentang pohon besar. Pohon besar dikatakan sebagai tempat tinggal setan. Biasanya setan akan menculik anak-anak dan meletakkannya di atas pohon. Adi adalah anak yang penakut, di siang hari pun ia akan berlari dengan kencang ketika melewati pohon besar.

    Masalah yang dihadapi Adi sekarang amatlah berat. Ia harus pulang ke rumah sementara hari mulai gelap dan pohon-pohon besar berjajar di sepanjang perjalanan pulang. Ia takut bukan kepalang. Jarak desanya juga lumayan jauh. Adi tinggal di daerah Sragen, kota kecil dan sepi. Desa Adi masih puluhan kilo dari pusat kota. Maka sangat wajar jarak antar desa jauh dan sepi ketika malam hari.

    Kebetulan sekali ada ibu-ibu menaiki sepeda menuju ke arah rumah Adi. Adi bergegas berlari mengejar ibu tersebut. Ia tidak ingin merepotkan ibu-ibu itu, maka Adi menjaga jarak. Ketika Ibu itu mengayuh kencang, Adi berlari sejadi-jadinya. Ketika ibu itu pelan, Adi ikut pelan. Ketika Ibu itu berhenti, Adi pun berhenti di kejauhan. Dalam nafas yang terengah-engah, justru Adi merasa tidak takut lagi dengan pohon-pohon besar. Adi kembali takut ketika ibu itu jaraknya terlalu jauh. Ketakutan Adi tidak lagi berfokus pada pohon besar tetapi pada jarak yang terlalu jauh dengan ibu itu. 

    Betul saja, ibu itu ternyata menuju desa Adi. Perasaan lega dan bahagia Adi terpancar ketika sayup-sayup ia melihat desanya. Sampai di rumah pertama desa itu, ibu itu menghilang. Adi kehilangan jejak. Adi tidak mempermasalahkannya karena ia tinggal berlari kencang untuk sampai ke rumahnya yang sudah tidak terlalu jauh lagi. Ia mengeluarkan sisa-sisa tenaganya untuk berlari menuju rumah. Rupanya ibu Adi sudah menunggu khawatir. Ibu seharusnya sudah pergi berbelanja di warung sebelah. Warung sebelah rumah biasanya digunakan untuk singgah para pedagang pasar mingguan. Sebelum dijual di pasar, Ibu Adi akan membeli beberapa kebutuhan langsung dari pedagang yang singgah tersebut. 

    Tanpa berkata-kata Adi langsung menegak kendi yang berisi air minum. Ia merasa sangat kehausan. Ia juga bergegas mandi karena keringat sudah sangat lekat di bajunya. Saat selesai mandi, ia tidak bertemu dengan ibunya. Ibu Adi sedang berbelanja di warung sebelah. Ibu sudah tenang Adi pulang dengan selamat. Adi sebetulnya sangat ingin bercerita tentang pengalamannya.

    Setibanya ibu di rumah, Adi segera menceritakan kisahnya dengan menggebu-gebu. Adi bercerita bahwa ia tadi bermain bola ke desa sebelah. Ia takut karena ditinggal kawan-kawannya. “Bu, aku tadi takut sekali!” kata Adi. Ibu sangat memahami anaknya. Ia tahu bahwa Adi sebetulnya anak yang sangat penakut. “Kamu hebat sekali berani pulang sampai rumah?” kata Ibu. Adi bercerita bahwa ia mengikuti ibu-ibu yang bersepeda menuju ke desanya. Adi bercerita bahwa ia mengikuti dari kejauhan agar tidak merepotkan. Seketika itu Ibu terhenyak kaget, Ibu cepat-cepat berlari ke luar rumah menuju warung.

    Warung tempat singgah pedagang pasar itu hanya berselang satu rumah dari rumah Adi. Dari pintu depan rumah, Ibu memanggil salah satu pedagang. “Yu… Yu… ternyata tadi bukan tuyul, sik ngetutuke koe ki anakku!” teriak Ibu. Seketika itu seluruh pedagang yang singgah di warung itu berhamburan di jalan sambil tertawa terbahak-bahak. Salah satu ibu berseloroh, “Waaah kecewa!” Komentar tersebut disambut ibu-ibu yang lain dengan menyatakan kekecewaannya. 

     Seandainya saja tidak ada pertemuan Ibu Adi dengan Ibu pedagang tersebut dapat dibayangkan kisah “diikuti tuyul” akan menjadi legenda yang dipercaya. Ajaibnya, beberapa minggu kemudian di desa sebelah, Adi mendengar kisah “diikuti tuyul” penuh dengan tambahan unsur mistis, ceritanya semakin komplek, penuh kegairahan dalam narasi ceritanya.

  • India yang Tak Ber-Ojek

    author = Batari Oja

    (Judul Asli “GO-JEK: Scooter Taxi Aggregator – India versus Indonesia”, oleh Prof. V. Santhakumar.)

    Sulit untuk tidak memperhatikan maraknya taksi motor atau ojek yang beroperasi bahkan di kota-kota kecil di Indonesia sekalipun. Dimana ojek-ojek tersebut difasilitasi oleh para agregator seperti GO-JEK dan GRAB. Ojek memang telah lama beroperasi di Indonesia, bahkan sebelum adanya aplikasi-aplikasi agregator tersebut. Namun, bagaimanapun, meluasnya penggunaan aplikasi-aplikasi agregator transportasi itu sangat membantu perkembangan Ojek Online atau Ojol dewasa ini. Kebanyakan pengemudinya adalah laki-laki, tapi ada sebagian kecil dari pengemudi yang perempuan, terutama di kota-kota besar, seperti Jakarta. Sementara, penumpangnya hampir sama jumlahnya antara laki-laki dan perempuan.

    Keuntungan solusi transportasi seperti ini sudah tidak diragukan lagi. Ojol lebih murah dibandingkan taksi mobil atau becak motor (bentor). Dibandingkan bis umum atau angkot (yang adalah bentuk transpotasi paling umum dijumpai di Indonesia), Ojol agak sedikit lebih mahal, tapi jauh lebih fleksibel dan dapat membantu menghemat waktu bagi penumpangnya. Apalagi, munculnya dunia agregator ini memperluas kegunaan kapasitas armada ojek, dan itu akan mengurangi biaya penumpang dan dapat meningkatkan pendapatan operatornya (melalui peningkatan jumlah penarikan penumpang per kendaraan per hari).

    Pengurangan biaya ini akan memicu lebih banyak orang untuk menggunakan taksi model ini (ojol) dan dengan kata lain lebih banyak orang bisa menjadi operator (yang artinya ini akan meningkatkan lapangan pekerjaan). Ojol yang mudah dijangkau ini, sebagaimana dan ketika disediakan melalui agregator, dapat menurunkan angka sepeda motor pribadi. Hal ini dapat membuat orang-orang berpikir dua kali untuk membeli atau memiliki sepeda motor pribadi untuk berkendaraan sehari-hari mereka. Bahkan mereka yang tidak mampu membeli atau memiliki sepeda motor dapat pergi kemana-mana menggunakan motor untuk sarana transportasi. Hal ini bisa menjadi sebuah keuntungan bagi transportasi publik sepenuhnya karena mengurangi kepemilikan kendaraan pribadi.

    Meskipun agregator taksi telah menjadi hal yang biasa di India, taksi motor (dengan atau tanpa agregator; baik ojek maupun ojol) bukanlah hal yang biasa di negara ini. Idealnya, India harus memiliki lebih banyak taksi seperti ini. Kepemilikikan sepeda motor pribadi meningkat di India, dan penyebab kemacetan lalu lintas utama di India adalah karena kendaraan roda dua ini. 

    Kenyataan bahwa tidak adanya taksi motor di India telah melukai perasaan sebagian orang India. Siapa mereka? Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, ada beberapa orang yang tidak bisa membeli atau memiliki sepeda motor tapi mereka bisa pergi kemana-mana naik motor dengan ojol. Sama halnya ada beberapa orang yang tidak bisa membayar taksi mobil, tapi sanggup membayar taksi motor. 

    Para teknisi perangkat lunak laki-laki atau perempuan mampu membayar taksi di India, tapi para perempuan pekerja pabrik garmen atau para SPG supermarket kemungkinan tidak mampu membayar taksi mobil. Mereka memilih naik bis umum yang mungkin mengharuskan mereka menunggu dalam waktu yang cukup lama dan mungkin dipenuhi banyak orang di jam-jam kerja, atau mereka akan meminta suami atau saudara laki-laki mereka untuk mengantar mereka. Kecil kemungkinan bagi perempuan-perempuan ini untuk memiliki sepeda motor pribadi. 

    Secara teoritis, orang-orang seperti ini dapat diuntungkan dari ketersediaannya taksi motor dan para agregatornya. Ketersediaan transpotasi yang mudah dan murah seperti ini akan memudahkan banyak perempuan untuk mendapatkan pekerjaan. Pada kenyataannya pengguna utama taksi motor di Indonesia berasal dari para pekerja seperti ini. Sementara bagi pekerja laki-laki, sarana tansportasi seperti ini dapat menjadi alternatif transportasi yang lebih murah dan lebih cepat. Sayangnya, transpotasi sejenis ini, yang mempermudah mobilitas sebagian masyarakat, (termasuk para perempuan dari kalangan keluarga dan kelas menengah ke bawah yang relative miskin) tidak ada di negara kami.

    Apakah orang India tidak bisa menyediakan pelayanan jasa transpotasi seperti ojol? Kenyataannya, India dapat dikatakan memiliki tradisi perkendaraan yang lebih hebat daripada Indonesia. Dalam hal produksi sepeda motor, India memiliki ahli dan kapasitas untuk itu. India adalah eksportir kendaraan bermotor ke berbagai negara, mungkin salah satunya adalah Indonesia. India memiliki kapasitas yang jauh lebih baik daripada Indonesia dalam hal perangkat lunak dan back-office operations yang dibutuhkan untuk agregator transportasi. Tidak perlu disebutkan lagi bahwa para teknisi perangkat lunak India pastinya bekerja dalam skala global di perusahaan agregator seperti Uber, Grab atau bahkan Go-Jek. Meskipun memiliki kelebihan dalam kemampuan, India mungkin tidak akan memiliki agregator taksi motor dalam waktu dekat ini.

    Tentu saja, selain ketersediaan, pasti juga harus ada permintaan. Ketika saya menceritakan cerita tentang GO-JEK di Indonesia kepada anak perempuan saya, yang tiap hari ke kantor mengendarai sepeda motor, responnya seketika adalah: “di sana pasti aman”. Yah, ini adalah isu yang paling krusial. Banyak perempuan di India merasa tidak nyaman berboncengan motor dengan orang yang tidak dikenal. Mungkin ada kekhawatiran mendalam tentang keamanan di India karena pelecehan seksual sangat sering terjadi di sini, bahkan di dalam taksi mobil sekalipun.

    Berboncengan motor dengan orang yang tidak dikenal bukanlah hal yang bisa diterima secara sosial bagi perempuan, khususnya perempuan yang berasal dari daerah pedesaan di India. Kedua orang yang naik motor (yang membonceng dan yang dibonceng) harus memiliki hubungan yang secara sosial diterima supaya hal itu (dibonceng motor) menjadi hal normal di India. Norma-norma sosial ini juga, sebagai tambahan untuk kekhawatiran soal keamanan, yang mencegah perempuan menggunakan taksi motor (ojek dan ojol). Hal ini dapat menurunkan jumlah perempuan yang ingin naik ojek. Dalam logika statistik, jumlah itu mengindikasikan kekhawatiran akan mendapatkan pelecehan seksual. Norma sosial dan isu-isu keamanan saling menguatkan satu sama lain. 

    Tentu saja, tingkat partisipasi kerja perempuan di India hanya 25 persen, dan mobilitasnya dipengaruhi oleh norma-norma sosial. Kekhawatiran akan keamanan bisa jadi memiliki peranan penting. Tingkat partisipasi kerja yang rendah itu juga mengurangi permintaan akan taksi motor. Hal yang menarik adalah dua faktor ini bukan menjadi penghalang bagi perempuan di Indonesia untuk tidak ber-ojol ria. Bahkan sebelum kemunculan agregator ojek, seperti Go-Jek, perempuan Indonesia sudah menggunakan ojek tidak online. Norma sosial yang mendorong seorang perempuan pergi sendiri dengan orang yang tidak dikenal tidak begitu kuat di negara ini. Ini lah bagian yang membuat kondisi-kondisi yang diijinkan bagi perempuan di Indonesia, tapi tidak bagi perempuan di India, beberapa di antaranya dipaparkan dalam artikel saya tentang kehidupan perempuan di Indonesia dan India, di sini.

    Pertanyaan lain yang muncul adalah bagaimana dengan laki-laki di India? Kenapa mereka tidak naik ojek? Apakah ini berhubungan dengan kelas dan kasta yang mencegah laki-laki kelas menengah naik taksi motor yang dikendarai oleh laki-laki dari kelas menengah bawah yang lebih rendah atau keluarga yang lebih miskin? Meskipun banyak terjadi, laki-laki kelas bawah menjadi supir mobil pribadi laki-laki kelas atas. 

    Penyebab lainnya bisa jadi adalah tidak adanya kelas menengah di India yang kuat dalam sektor ekonomi dan sosial. Ada banyak orang di India yang bisa membayar 20-50 Rupee untuk naik bis umum, dan ada orang yang termasuk kelas menengah bisa membayar 200-300 Rupee untuk naik taksi (mobil). Tapi tidak banyak orang di antara kedua kelas itu, yang mampu membayar 50-80 Rupee untuk naik taksi motor. Hal ini bisa jadi merupakan hal yang menyebabkan kegagalan ekonomi India secara keseluruhan, seperti yang telah didiskusikan dalam artikel saya sebelumnya, di sini.

    Apakah mungkin sentuhan fisik antara pengemudi dan penumpang yang sulit diterima secara sosial di India adalah karena najis bersentuhan dengan kasta yang lebih rendah atau karena “jarak” sosial yang besar antara kelas menegah dengan kelas bawah?

    Intinya, keberadaan dan pertumbuhan GO-JEK di Indonesia, dan tidak adanya di India, merepresentasikan dua keseimbangan antara ketersediaan-permintaan. Faktor ketersediaan di dua negara ini tidak banyak berbeda. Namun, faktor permintaan lah yang memainkan peranan penting akan keberadaan ojol itu sendiri. Keseimbangan di India memiliki implikasi yang negatif. Sebuah solusi transpotasi yang murah dan lebih efektif menjadi tidak tersedia untuk banyak orang, padahal solusi ini berhasil mempermudah mobilitas bagi orang-orang kebanyakan. Juga, bisa menyediakan sarana yang memerdekakan bagi banyak perempuan sehingga mempermudah partisipasi mereka di tempat kerja, sayangnya tujuan itu tidak tercapai di india. 

    Kasus GO-JEK memberikan beberapa pelajaran. Pertama, tingkat aktivitas ekonomi – kekhawatiran para ekonom dan adanya keinginan dalam pertumbuhan ekonomi – tidak perlu dibentuk hanya oleh faktor ekonomi semata, seperti investasi, atau kemudahan berbisnis, atau ekonomi yang terbuka, atau ketersediaan teknonologi, dsb. Ada faktor-faktor non-ekonomi yang tidak kalah penting. Tidak perlu disebutkan lagi bahwa tingkat aktivitas ekonomi memiliki implikasi pada aspek non-ekonomi, juga kesejahteraan masyarakat.

    Hal ini bisa berarti bahwa aktivitas ekonomi tidak bisa dipercepat hanya dengan menggunakan satu atau beberapa kebijakan ekonomi saja. Diperlukkan usaha untuk merubah norma sosial dan perilaku pribadi. Kebijakan ekonomi dapat menjadi tidak efektif jika tidak ada perubahan dalam perilaku dan norma. Memang benar juga bahwa perubahan ekonomi dapat memberikan perubahan yang pasti dalam norma dan perilaku, tapi tidak perlulah kita memperdebatkan perdebatan telur dan ayam di sini. Kita perlu melihat ini bersama sebagai bagian dari sebuah ekuilibrium, atau harus ada perubahan dalam berbagai hal untuk bergerak maju menuju tingkat keseimbangan sosial dan ekonomi yang lebih tinggi.

    Ada lagi satu hal penting, dalam cerita ini, untuk para peneliti dan akademisi. Para ekonom biasanya tidak begitu fokus pada faktor non-ekonomi sebagai penentu atau implikasi tingkat aktivitas ekonomi. Sementara, para non-ekonom (atau para ilmuwan sosial) seringnya mempelajari faktor-faktor tersebut tapi mereka tidak begitu menghubungkannya dengan tingkat aktivitas ekonomi. Cerita ini mengindikasikan perlunya pemahaman dari berbagai dimensi realitas sosial, bahkan untuk memahami fenomena ekonomi atau sosial yang spesifik. Khususnya dalam hal ini, sehingga penelitian yang dilakukan memiliki tujuan berkontribusi untuk perubahan sosial.

  • Incipit Vita Nova: Epilog Akhir Penuh Harapan

    author = Bambang Widyonarko

    “Manusia
    modern adalah wujud dari binatang yang berevolusi sempurna”
    , kata-kata itu dikemukakan oleh
    Darwin jauh sebelum Harari berteori. Darwin menjelaskan bahwa manusia adalah
    bentuk paling mutakhir dari berbagai macam homo
    yang hidup di bumi ini. Secara morfologis dan biologis, manusia telah
    membuktikan adaptasi alamiah membuat mereka tetap eksis hingga beranak-pinak
    memenuhi seisi dunia. Manusia juga yang telah menjelma sebagai predator puncak
    alam semesta, ia tak terkalahkan oleh apapun. Para aristotelian menganggap
    manusia dengan ego-nya yang menggerakan alam semesta, ia merupakan pusat kosmik
    jagat raya. Namun, terkadang peradaban manusia harus goyah kala diguncang musuh
    yang tak kasat mata bernama penyakit. Sejalan dengan sejarah hidup manusia,
    penyakit itu melekat padanya.

    Black Death atau kematian hitam adalah pelajaran
    pertama manusia menyikapi suatu penyakit. Wabah ini awalnya dianggap sebagai
    penyakit biasa yang diacuhkan oleh otoritas gereja. Pada masa itu, supremasi
    utama kehidupan masyarakat Eropa berada di tangan Gereja Katolik. Gereja ini
    memerintah atas nama Tuhan alih-alih bersembunyi melanggengkan aristokrasi para
    bangsawan. Gereja pula yang berpendapat penyakit ini sebagai kutukan hingga
    berbondong-bondong manusia datang untuk mohon pertobatan. Penghakiman masal
    atas siapapun yang dituduh sebagai ahli sihir jamak dilakukan. Hingga sejarah
    mencatat lebih dari 50 juta penduduk dunia musnah akibat wabah tersebut.

    Kolonialisme yang bercokol di Hindia Timur juga tak luput
    digoncang pandemi. Ketakutan orang Belanda terbesar adalah para inlander itu akan menularkan penyakit
    kepada mereka. Hindia Timur adalah harapan sekaligus neraka bagi orang kulit
    putih. Orang Belanda menganggap pribumi sebagai pangkal dari penyakit frambusia, malaria, hingga kolera.
    Tatapan rasial dan sinis  mereka atas
    pribumi itu dibantah keras oleh Wallace, orang yang merupakan bagian dari
    bangsa kulit putih sendiri. Alih-alih menyalahkan pribumi, justru seharusnya
    manusia Eropa berkaca terhadap dirinya sendiri mengapa mereka datang ke negara
    tropis dengan membawa kulit sub-tropik mereka?

    Pandemi Flu Spanyol tahun 1918 yang menjadi catatan hitam
    pemerintah kolonial dalam menghadapi wabah, juga patut dibaca ulang. Ravando
    Lie, seorang sejarawan mengemukakan bahwa pada awalnya pemerintah kolonial
    menganggap remeh penyakit ini dengan sebutan ‘influenza biasa’. Hal ini
    kemudian harus ditebus dengan kematian 900.000 orang di Hindia Belanda selama
    Agustus-November 1918. Sejarah mencatat semuanya sebagai bentuk pengabaian dan
    kelalaian yang cenderung arogan dalam menyikapi pandemi.

    Tak ubahnya saat ini, saat seorang Luhut Binsar Panjaitan dengan mudahnya mengkalkulasikan jumlah kematian yang menurutnya masih kurang untuk ukuran Indonesia. Sungguh prediksi mulia melebihi judi bola untuk menghitung orang yang mati. Kematian hanya menjadi angka yang dilukis menjadi kurva statistika. Kematian pula yang membuka mata bahwa ada negara yang buta, melihat manusia hanya sebagai data.

    ***

    Dante mengajakku berwisata menengok inferno hingga
    purgatorio. Sudah dua puluh hari aku bersamanya. Tak pernah kubayangkan sebelumnya,
    bila sepanjang bulan Maret-April 2020 adalah hari-hari paling berharga dalam
    hidup. Sepuluh hari pertama aku habiskan bercengkrama dengan Dante yang
    meminjamkan sebuah benda bernama kacamata kematian. Kacamata ini memperjelas
    penglihatanku siapa yang pergi, siapa yang datang. Aku masih sangat lunglai
    saat itu. Sesak nafas bak orang dicekik, demam tinggi diiringi rasa sakit di
    bagian punggung laksana tulang ini dipreteli
    satu-persatu, dan tenggorokan yang sakit seperti pemain jathilan yang makan beling tapi tak kesurupan merupakan kombinasi
    mantap untuk memeluk kematian. Hal itu membuat aku berniat mengembalikan
    kacamata itu ke Dante. “Jangan, pakai saja dulu”, sergahnya padaku. Aku melihat
    tubuh-tubuh pucat itu dibalut plastik lalu dimasukan ke dalam tabung
    transparan. Tak berapa lama takbir kecil penanda shalat jenazah bergaung di
    depan ruang isolasi. Mereka sudah selesai kata Dante.

    Jum’at Agung itu aku berdiam diri menyaksikan misa Paus
    Fransiskus di Vatikan. Misa agung ini terlampau sunyi bertabur haru. Paus tak
    menyelenggarakan prosesi Jalan Salib sebagaimana biasanya. Ia juga tak
    mengambil homili terakhir tahun ini. Tak ada riuh rendah orang menunggu Sri
    Paus keluar untuk menyapa kerumunan di St. Petersburg, hanya pendar-pendar
    cahaya Kudus yang tersemat dalam sanubari.

    Aku membayangkan rumah sakit akan dipenuhi oleh orang-orang
    sepertiku. Di saat ketidakjelasan negara dalam menentukan kebijakan, diasapi
    pula oleh pernyataan dari pejabat negara yang pandir, ditambah beberapa manusia
    bebal yang tak kunjung mengerti bahaya yang dihadapi, penuh sudah pikiranku
    saat itu. Jakarta nyatanya masih ramai kutengok lewat gawai. Sebagian terhimpit
    oleh perut, selebihnya bodoh akut, lalu mereka pikir bisa memperdaya maut.

    Selepas Paskah, tubuhku beranjak sehat laksana Yesus menebusnya di Golgota. Ia membawa terbang penyakit itu seraya kebangkitan-Nya. Seorang mentor di Leiden berujar padaku, “Tinggalkan Dante, sekarang kisahmu adalah Ashabul Kahfi”. Ya, aku merasa sudah terpenjara dalam gua. Gua keheningan yang hanya aku sendiri di sana. Tanpa pelita, sedikit berkas sinar, hanya berusaha tertidur hingga semuanya usai. Aku sadar, aku adalah tokoh kedelapan dalam kisah itu, Kitmir!

    ***

    Banyak kawan di luar sana mengucapkan selamat bahwa aku
    sudah menang melawan penyakit ini. Namun aku selalu bilang tidak!

    Tak pantas rasanya mendaku menang saat kulihat sendiri
    banyak yang tak bisa bertahan. Menyerah pada kematian bukanlah pilihan, tapi
    bertahan hidup di kala sekarat juga tak bisa dipastikan. Ini hanya bagian dari
    lotre kehidupan. Mereka yang keluar gelanggang, mungkin bersama Dante
    bersenang-senang di surga sana. Lagipula, masih banyak kawan-kawanku senasib
    sepenanggungan yang belum keluar undiannya. Aku berharap mereka mendapat jackpot layaknya diriku sehingga bisa
    merenda dosa kembali di dunia.

    Naif juga rasanya mengucap syukur dan terima kasih pada
    Tuhan bahwa aku telah diselamatkan oleh-Nya. Bukankah itu merupakan bagian dari
    permainan-Nya?

    Lantas Tuhan juga pasti akan
    berkata, “Untuk hal ini saja kau bersyukur, sedangkan nikmat-Ku yang lain kau
    kufur!”. Maaf Tuhan, aku janji kali ini akan giat beribadah kembali supaya
    wajah-Mu tak cemberut seperti ini. Terima kasih untuk instruksi-Mu pada Izrail
    demi menunda kepulanganku sehingga aku masih bisa memesan sepiring nasi kapau
    kesukaanku.

    Untuk para dokter dan perawat, mereka bukan hanya sekedar
    pahlawan bak superhero rekaan Marvel.
    Bagiku mereka adalah batara langit yang diutus menebar wangi khayangan pada
    umat manusia. Diikuti oleh dayang-dayang yang senantiasa menambah semerbak
    wangi nirwana, berturut-turut mereka adalah: petugas gizi dengan makanan
    sehatnya, petugas radiologi, pegawai administrasi rumah sakit, supir ambulan, cleaning service, dan satpam rumah
    sakit. Untuk rombongan khayangan ini, kidung terindah kulantunkan bagi mereka.

    Seburuk apapun dirimu, keluarga akan tetap memelukmu dengan
    hangat. Aku merasa aku memiliki dua rumah dan dua keluarga. Keluarga pertamaku
    tinggal di sebuah komplek yang selalu kebanjiran, satunya lagi di komplek
    polisi perairan. Keduanya sama-sama banjir. Banjir kasih sayang. Pun begitu,
    aku tak menafikan bantuan dan dukungan dari segenap sanak saudara serta handai
    taulan yang sangat perhatian. Memelukku dari jauh seraya berdo’a penuh.

    Aku bersyukur sempat dipertemukan Tuhan oleh Yogyakarta. Kota
    sejuta makna dengan manusia-manusia utama. Para guru-guruku di Kampus Gadjah
    Mada yang selalu memantau kondisiku, kawan-kawan kuliah yang tak terhitung
    jumlah dan ketulusan hati mereka, hingga senior-senior yang selalu menahan diri
    ini berkata “sampun cekap”. Kawat
    dari Bekasi, Bandung, Semarang, Leiden, Bristol, Melbourne, Köln, Leipzig
    hingga Tokyo menyesaki gawai. Berlomba memompa semangat diiringi pelukan hangat
    dari seorang sejarawan di pinggir Kali Bengawan. Sang sejarawan selalu
    mengawali pagi dengan, “Belum nyerah kan? Para dewa batara di Suralaya tentu
    geleng kepala!”. Aku menyebut mereka dengan nama ‘Malaikat Mataram’. Tak lupa,
    ucapan terima kasih aku persembahkan pada kawan-kawan masa kecil dan teman
    nakal semasa sekolah di Jakarta. Kehidupan Priok yang keras, membuat aku
    belajar untuk sulit tunduk pada kekuasaan, apalagi kuasa penyakit.

    Tentu ucapan terima kasih ini hanya sebagian kecil dari
    banyak kata yang tak sanggup terucap. Bukan pula untuk mengecilkan atau
    menafikan dukungan dari siapapun yang tak tertulis di sini. Sekali lagi,
    tulisan ini adalah bagian dari verba
    volant, scripta manent
    . Monumen hidup atas apa yang terjadi dalam kurun
    waktu tertentu.

    Terakhir, untuk Redaksi Kibul.in yang mau memuat trilogi
    kecil pengalamanku sehingga bisa dibaca khalayak, danke sehr. Terutama mas Asef Saeful Anwar, sastrawan besar yang
    bahkan bersua pun aku takut, mas Olav sang redaktur, dan mas Bagus Panuntun
    yang sedang menetap di Aix-en-Provence (sial aku tak bisa mengejanya!),
    meminjam kata-kata di Alkitab, “Upahmu besar di surga”.

    Pada akhirnya epilog ini bukanlah suatu deklarasi
    kemenangan. Apa yang perlu dirayakan atas kematian orang lain?

    Tulisan ini hanya menjadi pengingat bagi diri ini bahwa bila hati ini sudah mulai meninggi, masih banyak tempatku untuk berhutang budi. Seperti kata salah seorang seniorku, incipit vita nova; dari sini segala hidup baru dimulai. Mulai dengan harapan setelah lolos dari kematian.

    Rumah, enam hari menjelang Ramadhan
    2020.

  • Hiperrealitas Kisah Cinta Mas Pur

    author = Dimas Indiana Senja

     

    Tugas pertama seorang perempuan ialah menyerah

    pada berbagai tuntutan kedermawanannya…”

     

    Ungkapan Simone De Beauvoir dalam buku “Second Sex” (2016: 296) tersebut saya rasa cukup mewakili apa yang saat ini dialami Novita (Putri Anne). Dalam sinetron Tukang Ojek Pengkolan (TOP) part 6/6 (11 Juli 2018), Novita memberanikan diri untuk menyudahi hubungannya dengan Mas Pur (Furry Setya Raharja) lantaran orang tua Novita tidak merestui hubungan mereka. “Mau gimana juga kan mami ga setuju Mas Pur, mami kan lebih senengnya sama Mas Radit. Ya daripada kita terlalu panjang, terlalu keburu, terlalu nyaman, sepertinya lebih baik udahin aja,” ucap Novita sambil sesenggukan.

    Novita adalah proyeksi dari perempuan yang mendapat stigma sebagai “second sex”. Ia dibebani dengan tuntutan bahwa perempuan harus mengalah, mengikuti perintah atau kehendak “yang berkuasa” atas dirinya dalam hal paling personal sekalipun. “Kekuatan besar” di luar dirinya itu membatasi langkah dan keinginannya untuk memperjuangkan sesuatu yang menjadi pilihannya.

    Fenomena tidak direstuinya sebuah hubungan oleh orang tua adalah problematika universal yang banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang menyebabkan hastag #maspuradalahkita dan #kamibersamamaspur menjadi viral baru-baru ini. Ada semacam keterwakilan yang dialami oleh banyak lelaki di luar sana, yang memiliki kesamaan nasib dengan Mas Pur. Apalagi, potret Mas Pur adalah simbol masyarakat “kelas dua”, masyarakat proletariat yang dicirikan dengan, misal, tampang biasa saja, penghasilan biasa saja, gaya hidup yang biasa-biasa saja.

    Mas Pur dihadapkan dengan kenyataan bahwa mayoritas orang tua yang mempertimbangkan banyak hal terkait dengan dengan siapa anak perempuannya hidup bersama kelak. Anggapan bahwa Mas Pur, dengan berbagai keterbatasannya, tidak akan mampu memberi kesejahteraan terhadap kehidupan (materiil) Novita adalah sesuatu yang menarik. Mas Pur adalah proyeksi kekalahan kaum proletar atas dominasi sekaligus hegemoni kapitalis. Bahwa kebahagiaan seolah hanya dimiliki orang-orang yang memiliki modal. Padahal itu hanya kebahagiaan semu. Tapi begitulah realitas hidup, kapitalisme sudah merambah sektor percintaan.

    “Aku harus melihat kamu bahagia, meskipun kamu bahagianya sama orang lain bukan sama aku,” kata Mas Pur dengan nada yang getir. Sebuah kepasrahan yang tidak diinginkan siapapun. Tapi Mas Pur telah menunjukkan bahwa ada hal yang lebih berat dari cinta itu sendiri, yaitu melihat orang yang dicintai bahagia-meski bukan dengan dirinya. Fenomena ini membenarkan bahwa fragmen cinta paling luka adalah saat dua orang mengaku saling mencintai dan bersepakat untuk tidak saling memiliki.

    Kisah cinta Mas Pur dan Novita begitu mengharu biru. Membuat banyak orang turut dalam kesedihan berkepanjangan. Namun dalam kacamata Erich Fromm,  mereka sudah menunjukkan bahwa cinta adalah “memberi”. Tindakan memberi bukan terletak dalam persoalan materi, tetapi terletak dalam kenyataan diri manusia (human realism) itu sendiri.

    “Yang terpenting dalam hal ini bukan soal bahwa dia telah mengorbankan hidupnya demi orang lain melainkan bahwa dia telah memberikan apa yang hidup dalam dirinya; dia memberikan kegembiraannya, kepentingannya, pemahamannya, pengetahuannya, kejenakaannya, kesedihannya-semua ekspresi serta manifestasi yang ada dalam dirinya. Dengan tindakan tersebut seseorang telah memperkaya orang lain, meningkatkan perasaan hidup orang lain lewat peningkatan perasaan hidupnya sendiri… (Erich Fromm, The Art Of Loving, hal.41)

    Banyak hal yang bisa dipelajari dari apa yang dialami Mas Pur dan Novita. Sebuah refleksi kehidupan percintaan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Mas Pur dan Novita merelakan perpisahan untuk saling memberikan “yang terbaik”. Mas Pur menunjukkan hakikat dari cinta yang sebenarnya dan semestinya. Kata-kata: “Tapi yang harus kamu ingat, di sini ada hati yang selalu dengan tulus menyayangi kamu” adalah kunci dari kepasrahan seorang pecinta sejati. Bahwa dia tidak berhenti untuk mencintai, meski tak bisa memiliki. Apa yang dialami Mas Pur bukanlah sesuatu yang sederhana. Bukan. Ini bukan semata persoalan perasaan. Jauh melampaui itu semua.