Bandung Lautan Puisi oleh Khodyani Achmad

Posted: 3 August 2018 by Khodyani Achmad

Refleksi Tubuh Kota dalam Sepotong Surat untuk Layla

Kini dan di sini, Layla
Semua yang kita lihat asing dan beda
Kau yang menjauh tiba-tiba
Membuat langsam kataku lintuh
Seperti penyair yang tak berdaya
Diberi honor murah-meriah

Tetapi napasmu yang kembang
Kadang jadi amis, kadang jadi polusi

Aku mencium napasmu, Layla
Di mana-mana, di segala tempat yang tak terencana
Kadang kutemui kau di mata anak-anak miskin kota
Memulung barang bekas, memulangkan mimpinya yang tak tuntas

Layla, kini di sini
Duka yang kau rasakan belum apa-apa
Di kafe ini, aku lihat kau jadi keringat
Para pegawai yang hanya memikirkan gaji bulanan
Dan uang makan harian, tak lebih mahal
Dari biaya sekali kita kencan

Layla, Layla, Layla
Aku mencintaimu dengan sengsara
Dan aku tidak menangis akan hal ini

Tangerang, 2018

Kurasakan Dukamu

Aku telah sampai di ruang renung
Lampu padam dan catatan harian
Memintulkan ujung nyaliku
Pada pagi yang masih benih

Kurasakan dukamu tumbuh
Di langit-langit kamar
Memanen tubuhku

Diammu yang hening
Telah mengalirkan bening air
Mata yang berkaca di inti bait
Akhir sebuah lagu

Tetapi aku tahu
Tidak semua kekata mampu
Menyelamatkan kita

Aku dan dukamu yang sunyi
Berbaring sama memandang

2018

Angin yang Tak Mau Juga Beranjak dari Tubuh

Kau yang merah rana
Mendera punggung dan dada
Dalam sepi aku kerap pasrah
Berharap cepat ruwat dari segala
Yang tak kucatat sebagai sajak

Sejak embusmu taifun
Aku tabah seperti daun-daun matang
Berencana akan berbaring tenang
Dalam linang gerimis sore

Tapi, nyali masih ada
Setelah sekian lalu pernah
Kutaklukan tubuhmu yang gembur
Mengubah hutanku tampak subur

Dan sepoimu yang kulihat lenguh
Masih terus mencecar rusuk bertubi
Tak kuhiraukan lagi
Hidupku lekas sembuh

2018

Bandung Lautan Puisi

Akan kutandaskan wangi kata-kata
yang menguar ditebar halimun pagi ini

Jadi puisi, membuat kau beringsut
di balik batang pinus atau bilik kedai
sepanjang Braga

Kita tangkap rupa lain dari yang telah
dilukiskan seniman jalanan

Segala tampak sepi, senyummu getir
seperti nasib bangunan-bangunan tua
bakal kena pugar

Sialnya, puisi yang kutulis ini
tak juga mau membuatmu menunggu
di stasiun, terminal, atau rumahmu

Hingga aku dan puisi kembali sangsi
di kota ini gugup menerjemahkan langkah
sendiri

2018

Roh Puisi

1.
Lalu setelah kutamatkan tawamu
Aku berlari ke tengah kota yang ramai
Kota yang keladi, kau tak ada lagi di urat
Nadiku yang berdenyar sejak ashar lalu

Ketika kau abaikan lembur kerjamu
Dan menganggap aku sebagai berkas-berkas
Yang kau cetak, hanya kesibukan wajah kita
Kau-aku mengimani segala yang tak berencana

Bahwa nasib baik telah berpihak
Kepada kita, kepada yang ada
Di dada

2.
Lalu setelah kutamatkan pelukanmu
Kau menjelma tragedi di sunyi yang kurawat
Setelah ramai kucerna sebagai gawat

Kau kata-kata itu, memilih jadi puisi
Setelah kulekaskan mimpi berbaring
Kau jadi satu-satunya kulihat
Dalam lanskap nyenyat

Tetapi sejak kubangunkan mimpi
Kau benar hilang dari mataku
Terbagi sebagai roh dalam puisi

Tangerang, 2018

Pendapat Anda: