Pengultusan dan Ketakutan akan Hilangnya Isi Kepala

Saya hidup dengan meniru. Waktu kecil, misalnya, saya menonton Naruto dan ingin jadi Naruto. Akhirnya yang saya lakukan untuk jadi sedekat mungkin dengan sosok Naruto adalah meniru berbagai jurus berkelahinya secara diam-diam.

Sosok-sosok untuk diidolakan dan ditiru, baik yang fiktif maupun nyata, selalu ada sepanjang hidup saya hingga sekarang. Saya menemukan mereka lewat berbagai manusia dengan berbagai jenis profesi. Lewat komik, TV, dan buku.

Sekarang, medium-medium itu bertambah (dan menggeser yang lama) dengan adanya smartphone dan internet. Ada Youtube, film, blog, podcast, dan akun sosial media yang menjadi tempat tiap orang untuk menunjukkan keunikan masing-masing.

Dengan bertambahnya medium, bertambah pula orang-orang yang dapat dijadikan idola atau role model. Di Youtube saja, barangkali kita bisa menemukan puluhan vlogger dan content creator asal Indonesia yang memiliki subscriber puluhan ribu keatas.

Dengan internet, kini anak-anak SD tidak perlu menunggu dengan sabar hingga sore di TV untuk menemukan idolanya. Ponsel mereka menembus batas-batas waktu.

Sebagai remaja, saya juga merasakan kebutuhan untuk menemukan orang-orang yang bisa dijadikan panutan. Bedanya, sekarang saya tidak mencari sosok yang bisa melakukan jurus-jurus ajaib atau memukuli ratusan orang sendirian. Saya mencari orang yang menawarkan “gagasan”, “jawaban” atau “kompas buat menjawab” keresahan-keresahan yang saya alami. Mereka yang punya keahlian dan cara hidup untuk dibagi.

Dengan sendirinya, saya menemukan beberapa sosok yang terasa begitu menarik untuk dicari kabarnya. Lalu mengikuti mereka melalui tulisan, status sosial media, video, atau podcast. Dan terima kasih kepada internet, sekarang saya tidak perlu menunggu berjam-jam untuk mendapatkan segala macam konten tersebut. Semuanya bahkan terasa terlalu mudah.

Satu hal lagi yang jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu adalah soal betapa intens-nya saya bisa mengikuti sosok yang saya idolakan. Menonton vlog, membaca tulisan, dan mendengarkan podcast mereka seringkali membawa saya kepada ilusi bahwa saya begitu dekat dengan si idola.

Candu untuk “mengikuti” ini serasa makin hebat dari hari ke hari dengan begitu aktifnya mereka di kanal masing-masing. Kehidupan pribadi mereka terasa menarik hingga membuat saya melakukan stalking untuk mencari-cari informasi yang lebih.

Tapi ketakutan terjadi ketika saya merasa makin tenggelam pada sosok mereka sampai kepada suatu titik dimana saya selalu menjadikan para idola ini referensi dalam berpikir dan menyikapi hampir segala hal.

Misalnya ketika menjumpai suatu masalah, tanpa sadar saya selalu mencoba berpikir menggunakan sudut pandang dari si idola. Hal ini bisa terjadi begitu sering sampai membuat saya melupakan pilihan-pilihan lain.

Begitu juga ketika ada isu yang hadir. Sebelum mencerna dan menggali isu tersebut untuk disimpulkan sendiri, saya biasanya selalu mencari-cari opini dari orang-orang yang saya idolakan.

Kepedulian saya pada keadaan yang nyata di sekitar tempat tinggal juga menghilang. Pikiran saya disibukkan pada masalah-masalah yang penting tapi jauh lalu melupakan yang terlihat kecil dan dekat.

Sesuatu yang remeh barangkali terjadi pada persoalan selera musik. Yaitu ketika saya punya beberapa musisi idola yang selalu dijadikan referensi. Sebelum mendengarkan lagu A, misalnya, saya selalu mencari tanggapan dari si musisi dulu. Kalau dia suka, maka saya akan mendengarkan. Kalau tidak, biasanya saya tinggalkan atau dengarkan sedikit hanya untuk meyakinkan diri sendiri kalau musik yang saya sedang dengarkan adalah musik yang jelek.

Belum lagi kalau idola saya punya semacam “musuh”, orang yang mengkritik atau mendebat mereka. Seperti persoalan selera musik, reaksi pertama saya pada si musuh adalah “orang ini goblok dan brengsek”. Lalu membaca sedikit soal si musuh hanya untuk meyakinkan anggapan saya sebelumnya tentang dia.

Peristiwa-peristiwa tadi ketika dipikirkan ulang seringkali menciptakan kegaduhan kecil dalam kepala. Timbul pertanyaan dan keresahan soal identitas diri. Apakah saya punya kontrol atas apa yang saya pikirkan?

Saya jadi curiga kalau sebenarnya saya tidak punya isi kepala. Kalau gagasan yang ada di dalam kepala adalah hasil ikut-ikutan orang lain bukannya sesuatu yang dipikirkan dengan matang.

Bahkan sepertinya saya tidak punya gagasan. Yang ada hanya pengultusan. Saya terlalu intens mengikuti orang lain sampai-sampai kehilangan semangat untuk berpikir karena merasa sudah terwakili dengan menunggangi pikiran mereka.

Pangeran Siahaan di Twitter-nya bilang : “Jangan percaya sama orang. Pada satu titik, orang akan mengecewakan lo. Percaya pada nilai. Percaya pada gagasan.”

Saya kira twit barusan bisa menggambarkan masalah banyak orang. Ketika gagasan tertukar dengan siapa yang mengemukakan gagasan. Sehingga yang jadi pisau kita untuk menyikapi dan membedah sesuatu bukan gagasan, tapi orangnya.

Akhirnya yang ada cuma pengultusan alih-alih akal sehat.

Dalam skala yang besar pengultusan ini terlihat di dalam suasana pemilihan presiden. Selalu ada orang yang menganggap calon presiden pilihannya adalah manusia super yang tidak punya salah dan si lawan sebaliknya.

Semuanya semakin konyol dengan pelabelan julukan pada masing-masing pemilih. Seperti ada perbedaan yang begitu tajam antar-kedua paslon. Seolah-olah segalanya cuma soal memilih di antara dua kubu, yang hitam-putih. Antara si baik dan si jahat.

Kendati demikian, internet juga menumbuhkan beragam kultus dalam skala lebih kecil karena sekarang tiap orang atau perkumpulan bisa membagikan gagasannya dengan gampang dan intens. Pengultusan bisa terjadi dengan lebih mudah, baik dalam hal remeh maupun besar. Disadari maupun tidak.

Adalah tugas masing-masing kita untuk terus mengisi kepala dengan akal sehat dan gagasan, alih-alih menumpahkannya secara cuma-cuma ke punggung idola.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait