Menelisik Fenomena Sastra dan Bersastra di Yogyakarta

Posted: 1 August 2018 by Studio Pertunjukan Sastra

Sejak pasca kemerdekaan hingga kini, banyak seniman dan sastrawan Indonesia & Jawa yang berdomisili di Yogyakarta sukses mencatatkan prestasi berkarya di tingkat lokal, regional, dan nasional. Dimungkinkan, berkat prestasi merekalah Yogyakarta memiliki prestis kebudayaan cukup tinggi sampai menyandang gelar “kawah candradimuka” bagi calon seniman dan sastrawan di Indonesia.

Khusus untuk sastra Indonesia & Jawa, prestasi kesastraan tersebut secara kasar dapat dibuktikan dengan terwujudnya pencapaian sebagai berikut:

  1. Sastrawan Indonesia & Jawa di Yogyakarta cukup produktif berkarya dan giat menyiarkannya. Hasilnya, karya mereka banyak dimuat media massa lokal maupun nasional, sehingga namanya pun dikenal luas oleh masyarakat sastra.
  2. Karya sastrawan Indonesia & Jawa dari Yogyakarta sering mendapat pujian para kritisi/akademisi, menerima anugerah/penghargaan di tingkat lokal dan nasional, memperoleh apresiasi positif dari kalangan sastra, dan berhasil memberi warna pada zamannya.
  3. Dari generasi ke generasi senantiasa muncul sastrawan dari Yogyakarta yang menjadi tokoh panutan dan menginspirasi masyarakat sastra secara luas.
  4. Banyak orang muda dari berbagai daerah di Indonesia sukses menempuh proses kreatif bersastra di Yogyakarta hingga mendapat pengakuan sebagai sastrawan.
  5. Walaupun belum tercatat dan dicatat secara pasti, kreator dan apresiator sastra aktif dan pasif, dikenal dan tidak terkenal, jumlahnya cukup besar di Yogyakarta. Untuk sekadar informasi, pada masa Persada Studi Klub (1969-1977), Ragil Suwarna Pragolapati mencatat tidak kurang 1.500 nama yang sempat berproses di komunitas ini. Generasi muda Madura yang menjalani studi di Yogyakarta dan mulai merambah dunia sastra pada era-2000an mencapai puluhan orang.
  6. Secara berkala di Yogyakarta muncul gerakan serta even bersastra yang berkelanjutan dan melegenda sehingga dapat dijadikan bukti bahwa denyut kehidupan sastra di kota ini tak pernah mengalami stagnasi, apalagi mati.

Karena munculnya prestasi berasal dari karya yang dibuat di Yogyakarta oleh sastrawan dari Yogyakarta, dimungkinkan berbagai fenomena (hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindera dan dapat diterangkan dan dinilai secara ilmiah, atau sesuatu yang luar biasa; keajaiban) yang terdapat di Yogyakarta pun juga memiliki pengaruh signifikan terhadap keberhasilan tersebut. Sejumlah faktor yang diperkirakan cukup berpengaruh dalam menunjang pencapaian prestasi sastra dan kesastraan para sastrawan di Yogyakarta selama ini, antara lain:

  1. Spirit bersastra dan berkesenian yang diwariskan para pendahulu (guru). Misalnya: semangat belajar, pengembangan diri dalam mencipta, etos kreatif, kemandirian, dll. Para sastrawan Yogyakarta umumnya menyadari potensi tersebut sangat diperlukan sebagai penguatan pribadi, sehingga berusaha memiliki karena proses bersastra merupakan kegiatan individual (bukan kelompok). Caranya bisa dengan meneladani nilai-nilai yang diwariskan sastrawan pendahulunya.
  2. Kehidupan sosial kemasyarakatan di Yogyakarta. Banyak kalangan mengakui bahwa iklim kehidupan sosial kemasyarakatan di Yogyakarta cukup kondusif untuk menunjang kegiatan bersastra. Misalnya, sikap masyarakat yang cukup terbuka, apresiatif terhadap dunia seni sastra, mudah berkomunikasi, toleransinya tinggi, suka menolong/membantu, pengaruh keberadaan keraton, standar hidup yang relatif terjangkau bagi kalangan bawah, dll.
  3. Keberadaan berbagai cabang seni budaya di Yogyakarta. Bagi sastrawan, kekayaan seni budaya Yogyakarta mampu memberikan nuansa khas dan nyaman. Seperti menambah pengalaman dan wawasan, memunculkan berbagai pemikiran baru, mempertajam cita rasa seni, menstimulir kreativitas, dll.
  4. Komunitas dalam berkesenian dan bersastra. Hingga kini masyarakat sastra di Yogyakarta memiliki tradisi membangun komunitas. Baik yang dibentuk secara mandiri, dalam lingkungan kampus, maupun yang menjadi binaan instansi/lembaga pemerintah dan swasta. Dalam komunitas inilah para orang muda membangun spirit bersastra serta melakukan proses belajar bersama (komunalisme kreatif) secara nonformal. Seperti diskusi terbuka, pentas sastra, mengumpulkan dan menerbitkan karya, dll. Dalam komunitas ini setiap anggota dapat berperan ganda dalam kehidupan bersama maupun olah kreatif. Seperti menjadi teman, orang tua, guru, kritikus, sekaligus “musuh”. Artinya, pada komunitas sastra terjadi proses “asah-asih-asuh” dalam pengertian luas.
  5. Keberadaan media massa yang memiliki komitmen pada dunia sastra. Hampir seluruh media massa pemerintah maupun swasta di  Yogyakarta selalu membuka rubrik sastra dan seni budaya. Seperti koran/mingguan, majalah, jurnal, buletin, radio, televisi, termasuk media online. Dari pemuatan karya mereka para sastrawan memperoleh sekadar honorarium yang besarnya sesuai dengan kemampuan media massa yang bersangkutan.
  6. Dunia pendidikan dan perguruan tinggi. Langsung tak langsung dunia pendidikan dan perguruan tinggi telah memberikan dukungan nyata bagi berlangsungnya proses bersastra serta upaya menimba keilmuan bagi generasi muda sejak dini. Guru-guru bahasa dan sastra maupun para dosen, jelas sangat berperan  terhadap tumbuh kembangnya regenerasi sastrawan Yogyakarta dari waktu ke waktu.
  7. Institusi/lembaga pemerintah dan swasta.  Keberadaan institusi/lembaga pemerintah dan swasta sangat berperan dalam menopang gerak kehidupan bersastra di kota ini. Misalnya, Balai Bahasa, Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan, Taman Budaya, telah memberikan dukungan dana dan fasilitas terhadap tumbuh kembangnya kesastraan Indonesia & Jawa di Yogyakarta selama ini.
  8. Dunia perbukuan dan perpustakaan. Peran dunia perbukuan dan perpustakaan di Yogyakarta cukup besar dalam menunjang prestasi bersastra para sastrawan. Seperti aktif dalam penerbitan buku teori sastra dan karya sastra. Perpustakaan pemerintah dan swasta menyediakan buku-buku dan ruang baca. Munculnya buku murah sejak masa shoping center Senopati, pemasaran buku online, pameran buku, dll. Dengan diterbitkannya karya sastra menjadi buku persebarannya makin luas dan tidak lagi terbatas seperti media massa.

Dari sekian faktor penunjang terwujudnya prestasi bersastra di Yogyakarta yang tergambar di atas, tampak bahwa yang mampu dilahirkan, digarap, dikelola, ditangani oleh para sastrawan hanyalah “spirit bersastra” dan “komunitas sastra”. Artinya, selain kedua aspek tadi para sastrawan nyaris tidak dapat melakukan “intervensi” serta memasukkan ide-ide secara total karena di luar  wewenangnya.

Mungkin, inilah salah satu alasan mengapa orang muda dan sastrawan di Yogyakarta tetap melanjutkan tradisi berkomunitas hingga kini. Walaupun setiap komunitas nyaris menggunakan format beragam/berbeda sesuai dengan pemikiran masing-masing. Namun, dari  berbagai komunitas yang pernah dan masih ada di kota ini ternyata telah lahir semangat bersastra (mencipta/menulis) bagi generasi muda hingga menghasilkan karya-karya yang berkualitas standar di tingkat lokal, regional, dan nasional.

Beberapa ciri komunitas-komunitas sastra yang pernah ada dan masih ada di Yogyakarta, antara lain:

  1. Komunitas sastra di Yogyakarta biasanya lahir dari ide para penggerak sastra yang memiliki semangat komunal/kebersamaan/patembayatan, dalam mewujudkan cita-cita bersama, khususnya bersastra. Hasilnya, dari komunitas sastra lahir sosok-sosok kreator dan apresiator sastra pada zamannya.
  2. Setiap komunitas sastra selalu memiliki tokoh/patron yang  dijadikan panutan komunitasnya.
  3. Bentuk organisasi relatif sederhana, hanya semacam perkumpulan atau paguyuban yang tidak memiliki badan hukum. Kantor atau pusat kegiatan biasa menumpang pada rumah tokoh penggerak atau anggota komunitas.
  4. Terbuka bagi siapa pun ikut berpartisipasi/terlibat tanpa persyaratan formal mengikat.  Asal yang bersangkutan sedia menjalin persahabatan dan kekeluargaan dengan anggota yang lain, serta mengikuti tradisi komunitas tadi.
  5. Bersifat mandiri, sehingga pemenuhan kebutuhan komunitas cenderung diperoleh dari gotong-royong (sumbangan/donasi) yang tidak mengikat. Kecuali komunitas sastra kampus atau komunitas yang dibina oleh instansi/lembaga pemerintah maupun swasta (LSM) akan memperoleh dukungan fasilitas dari “pengayom”nya.
  6. Format kegiatan jarang terprogram kokoh dan lebih menyesuaikan pada ide-ide yang berkembang di tingkat internal maupun eksternal.
  7. Jika tokoh penggerak atau ada anggota pindah dari Yogyakarta karena mempunyai kegiatan lain, atau merasa tidak memerlukan berproses di sana lagi, mereka dapat meninggalkan komunitasnya. Maka tidak mengherankan jika ada komunitas sastra yang umurnya cukup lama, tetapi banyak juga yang sekian waktu kemudian bubar.
  8. Setiap komunitas jarang mendokumentasikan secara lengkap profil komunitas, ide-ide yang melatarbelakangi pergerakannya, kegiatan yang dilakukan, serta data-data penting lainnya.
Catatan akhir

Mengingat Yogyakarta sebagai: 1) salah satu pusat sastra di Indonesia dan 2) penghasil kreator sastra Indonesia & Jawa, dari semacam oncek-oncek mengenai fenomena sastra dan bersastra di Yogyakarta, mungkin ada beberapa catatan yang layak jadi bahan renungan bersama. Antara lain:

  1. Ternyata peran dan jasa komunitas sastra di Yogyakarta selama ini cukup besar. Maka, upaya mengumpulkan data-data mengenai profil, kegiatan, prestasi, serta sastrawan yang sempat berproses dalam setiap komunitas perlu digerakkan dengan dukungan instansi/lembaga terkait. Karena dokumentasi tersebut diperlukan banyak pihak sebagai bahan kajian pada masa-masa berikutnya.
  2. Dalam arti luas, Yogyakarta sesungguhnya juga merupakan “komunitas besar” yang mewadahi kehidupan bersastra bagi paguyubanpaguyuban sastra Indonesia & Jawa di kawasan ini. Mungkinkah Yogyakarta merintis berdirinya semacam  percontohan “Komite Sastra”, “Pusat Dokumentasi Sastra Yogyakarta”, diterbitkannya “Sejarah Sastra Indonesia & Jawa Pasca Kemerdekaan di Yogyakarta”, sebagai referensi dan sarana meningkatkan prestasi sastra dan bersastra  ke depannya?
  3. Silaturahmi sastrawan Indonesia dan sastrawan Jawa di Yogyakarta seyogyanya diintensifkan untuk mengembangkan wawasan dan kreativitas mereka. Dengan harapan, sastrawan dari suku bangsa Jawa yang mencipta dalam bahasa Indonesia juga bersedia mencipta sastra dalam bahasa Jawa; demikian juga sebaliknya.
  4. Yogyakarta merupakan salah satu daerah tujuan wisata terbesar di Indonesia. Mungkinkah dirintis upaya penerjemahan karya-karya sastra berbahasa Indonesia & Jawa kontemporer untuk turis mancanegara? Juga pemasaran buku-buku sastra untuk turis domestik?

 

Catatan Redaksi:
Ditulis dan disampaikan oleh Iman Budhi Santosa, Penyair dan Budayawan Yogyakarta.
Pada acara Bincang-Bincang Sastra edisi 154, Kamis 26 Juli 2018 di Ruang Seminar, Taman Budaya Yogyakarta.

Pendapat Anda: