Mencetak Masa Lalu Ampenan: Fantasi atau Pembebasan?

Posted: 10 October 2018 by Muhammad Nur Hanif

Melalui kumpulan puisi Di Ampenan, Apa Lagi Yang Kau Cari? (2017), Kiki Sulistyo secara khusus menyoroti fenomena sosial yang terjadi di Ampenan, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Fenomena-fenomena tersebut sering kali hadir bersama nama latar lokal seperti Simpang Lima, Pantai Ampenan, Kubur Dende, Bioskop Ramayana, Kelayu, dan lain-lain. Puisi-puisi semacam itu seolah membawa saya berdiri di tengah Ampenan.

Selanjutnya, Kiki mengajak saya mengenal lebih jauh individu maupun masyarakat serta gerak peradaban di Ampenan. Hal tersebut barangkali tidak terlepas dari kenyataan bahwa Kiki tumbuh di sana. Karena itu, hubungan aku-lirik dengan keluarga maupun kerabatnya tidak jarang ditemui dalam kumpulan puisi tersebut. Misalnya, hubungan dengan bapak, ibu, paman, bibi, serta Ida (perempuan berambut merah, satu-satunya tokoh yang seolah memberikan sentuhan romantisme kepada aku-lirik).

Hubungan-hubungan tersebut terjadi beriringan dengan perubahan di Ampenan, baik dari segi sosial (masyarakat) maupun Ampenan itu sendiri sebagai sebuah kota. Beberapa puisi memberikan informasi tentang hubungan dua keluarga yang semula dekat menjadi retak dan bertentangan karena suatu permasalahan. Beberapa puisi juga membicarakan perubahan antara Ampenan yang dulu dan yang sekarang.

Untuk menandai perbedaan waktu (yang dulu dan yang sekarang), Kiki berupaya memperhatikan segi kronologis puisi-puisi dalam bukunya. Hal tersebut terbukti dari penataan isi yang dibagi berdasar tiga fragmen; Ampenan yang dulu; orang-orang di Ampenan; serta Ampenan yang sekarang. Dengan begitu, puisi-puisi dalam buku tersebut seakan menjadi serba berkaitan. Kaitan tersebut, misalnya, bukan hanya mengenai keadaan yang membuat aku-lirik bertindak, namun juga akibat yang ditimbulkan tindakan aku-lirik. Karena itu, saya sering merasa tidak cukup membaca satu puisi saja. Misalnya, saya baru puas membaca puisi “simpang lima” setelah membaca juga puisi “bioskop ramayana”.

Respons Kiki terhadap perubahan Ampenan dapat diketahui dari tindakan maupun pandangan aku-lirik di dalam kumpulan puisi tersebut. Misalnya, tindakan dan pandangan aku-lirik pada tiga puisi yang saya anggap cukup representatif, yakni puisi “simpang lima”, “rencana membunuh paman”, dan “di ampenan, apa lagi yang kaucari?”.

Puisi yang dibahas pertama berjudul “simpang lima”. Bait pertama puisi tersebut menceritakan pengalaman aku-lirik dalam dunia Ampenan yang dulu, sedangkan bait kedua berisi aku-lirik dalam Ampenan yang sekarang.

di sini dulu ada terminal, tempat para petarung berkumpul
sebelum tanggal tahun-tahun dan pisau tajam menumpul
… (Sulistyo, 2017: 12)

Dulu, Simpang Lima seolah sarat persaingan dengan adanya terminal yang menjadi tempat perkumpulan para petarung. Saya menduga bahwa mereka berkumpul untuk bersaing (mana yang lebih hebat?) sekalipun para petarung dapat diasosiasikan sebagai para sopir atau kernet. Nuansa persaingan tersebut akhirnya “menajamkan” pisau para petarung sebelum tanggal tahun-tahun yang sarat persaingan dan pisau yang tajam itu akhirnya menumpul. Kata menumpul hadir untuk mengingatkan bahwa kata tajam memiliki batas waktu.


pernah seseorang membohongi ibunya dengan durhaka kecil
maka kakinya terkilir setelah jatuh di selokan kering
ibu, seseorang itu aku, tak pergi mengaji
sebab tergoda poster bioskop petang hari
melupakan yang harus diantar; rantang, juga tang besi
kerja bapak si tukang reparasi
… (Sulistyo, 2017: 12)

Pada larik selanjutnya, aku-lirik melakukan pembangkangan dengan membohongi ibunya. Aku-lirik tidak pergi mengaji dan melupakan tanggung jawabnya hanya karena tergoda poster bioskop. Membaca kutipan tersebut, saya jadi bertanya-tanya: mengapa aku-lirik menuruti godaan poster bioskop? Bagaimanakah bioskop saat itu hingga posternya saja dapat menggoda aku-lirik untuk mendatanginya? Apakah bioskop saat itu begitu menggoda?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut barangkali dapat ditemukan dalam puisi “bioskop ramayana”. Demikian kutipannya.


penonton ramai di akhir pekan
putaran kedua dimulai jam delapan
jam utama di mana orang-orang bebas dari tugas
… (Sulistyo, 2017: 16)

penonton ramai di akhir pekan

putaran kedua dimulai jam delapan

jam utama di mana orang-orang bebas dari tugas

… (Sulistyo, 2017: 16)

Lewat kutipan tersebut, diketahui bahwa masyarakat juga tergoda oleh bioskop. Buktinya, penonton ramai di akhir pekan. Dapat diduga bahwa masyarakat menganggap bioskop sebagai “tempat pelarian” dari rutinitas pekerjaan atau tugas. Sebab, orang-orang bebas dari tugas (hanya) saat akhir pekan. Selain itu, ada jam utama di antara jam-jam lain di bioskop tersebut, yakni jam delapan, meski sudah putaran kedua. Kata utama seolah merujuk pada jam yang lebih penting daripada jam-jam yang lain. Mengapa ada jam yang utama? Barangkali, pada jam itulah para penonton datang karena mereka telah bebas dari tugas.

Lalu, bagaimana kaitannya dengan aku-lirik dalam puisi “simpang lima”? Rupanya, sikap masyarakat dan aku-lirik terhadap bioskop memiliki kesamaan. Baik masyarakat maupun aku-lirik menganggap bioskop sebagai “tempat pelarian” dari tanggung jawab yang “mengekang” mereka. Masyarakat pergi ke bioskop karena tugas-tugas yang mengekang mereka. Aku-lirik menuruti godaan poster bioskop karena pekerjaan yang (barangkali) juga mengekangnya, yakni mengaji dan mengantarkan barang kepada bapaknya.

Perbedaannya, masyarakat memilih pergi ke bioskop setelah tugas mereka selesai (bebas), sedangkan aku-lirik menuruti godaan poster bioskop ketika dirinya sedang mengemban tugas. Aku-lirik saat itu tidak peduli tugasnya tidak selesai. Bagi aku-lirik, yang penting adalah datang ke bioskop.

Datang ke bioskop dapat diasumsikan sebagai suatu cara bagi aku-lirik untuk mengejar “kebebasan”. Dengan kata lain, mengaji dan mengantarkan barang kepada bapak adalah hal yang mengekang aku-lirik. Sebab, hal itu dilakukan bukan semata-mata karena keinginan aku-lirik. Dengan menuruti godaan poster bioskop, lalu datang ke bioskop, aku-lirik seolah mampu melakukan hal yang berasal dari keinginannya sendiri dan membebaskan diri dari pekerjaan yang mengekangnya. Yang menjadi pertanyaan: apakah aku-lirik benar-benar bebas?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pandangan aku-lirik terhadap poster dan bioskop perlu diamati lebih dulu. Aku-lirik bisa jadi tahu bahwa poster hanyalah gambar dan (film) bioskop sekadar gambar bergerak yang disertai suara-suara. Namun, aku-lirik mengalihkan kenyataan tersebut karena seolah tidak sanggup menerima kenyataan bahwa menonton gambar bergerak yang disertai suara-suara tidak akan memberinya sebuah “kebebasan”. Karena itu, aku-lirik memungkiri pengetahuannya mengenai kenyataan tersebut dengan menyatakan bahwa “poster bisa menggoda” dan “datang ke bioskop dapat memberikan kebebasan”. Pengalihan tersebut dilakukan aku-lirik supaya dirinya dapat menikmati fantasi membebaskan diri dari perkerjaan yang mengekangnya dengan cara menuruti godaan poster bioskop, lalu datang ke bioskop. Melalui kenikmatan berfantasi tersebut, aku-lirik sekaligus mengklaim masih memiliki keinginan yang berasal dari dirinya sendiri.

Fantasi yang dilakukan aku-lirik itu kemudian justru membuatnya semakin terkekang karena “rasa bersalah”. Aku-lirik seolah telah melanggar “norma” sebagaimana kutipan berikut.


pernah seseorang membohongi ibunya dengan durhaka kecil
maka kakinya terkilir setelah jatuh di selokan kering
… (Sulistyo, 2017: 12)

Aku-lirik “mengaku bersalah” dengan menyebut tindakannya sebagai durhaka kecil. Aku-lirik juga menganggap bahwa kualat yang dialami dirinya, yakni kakinya terkilir setelah jatuh di selokan kering, adalah akibat dari durhaka kecil­nya. Durhaka dan kualat tersebut menjadi perwujudan norma yang semakin mengekang aku-lirik.

Beranjak ke bait kedua, aku-lirik berpindah ke Ampenan yang sekarang, menemukan Ampenan yang telah jauh berubah.


di sini, sekarang aku berdiri, di simpang lima
melihat lampu jalan dan waktu berjalan pelan
sudah tak ada siapa-siapa, apa-apa yang dulu pernah ada
(Sulistyo, 2017: 12)

Simpang Lima dulu memang memiliki banyak hal untuk aku-lirik. Misalnya, terminal, tempat mengaji, dan poster bioskop. Dengan begitu, aku-lirik terbiasa menjumpai orang-orang di sekitarnya seperti para sopir, kernet, guru mengaji, dan para penonton bioskop. Hal itu menyibukkan aku-lirik dalam petualangannya sendiri sehingga waktu pun terasa berjalan cepat baginya. Namun, sekarang, ketika menyadari sudah tak ada siapa-siapa, apa-apa yang dulu pernah ada di Simpang Lima, aku-lirik seolah tersiksa hingga waktu berjalan pelan baginya. Aku-lirik tidak lagi dapat bertindak, apalagi menyingkirkan situasi yang menyiksanya.

Puisi yang dibahas selanjutnya berjudul “rencana membunuh paman”. Sebagaimana judulnya, puisi tersebut bercerita mengenai serangkaian strategi sadis yang dimaksudkan untuk membunuh paman. Membaca puisi ini, saya tidak mendapatkan emosinya karena pikiran saya telanjur dibelit oleh pertanyaan: mengapa paman tiba-tiba mau dibunuh? Rupanya, jawabannya terdapat dalam puisi “rumah ladang, paman kami”.


seperti sekerjap: rumah warisan dan perkara pembagian
yang mengalah berpindah-pindah
yang menang sesaat senang
sebelum sengsara tiba-tiba merupa berpuluh roda
paman tak berani pulang ke rumahnya
seakan hantu-hantu ladang menanti di sana
paman meraung-raung dan mati tiba-tiba
disergap hipertensi
… (Sulistyo, 2017: 21-22)

Ternyata, paman hendak dibunuh karena menjadi “biang keladi” atas retaknya hubungan dua keluarga, yakni keluarga aku-lirik dan keluarga paman itu sendiri. Keretakan itu dipicu oleh sengketa tanah warisan sebagaimana yang tertera dalam kutipan di atas. Kedua keluarga juga menemui kesengsaraannya masing-masing.


kadang kami membenci paman. kami percaya paman sejenis
jahanam
dan tempat yang pantas untuknya adalah dalam nampan panas
paman gemar mengasah parang dan samar di matanya kilatan
mata parang
bagai taring ular yang berbaring di kerimbunan belukar
… (Sulistyo, 2017: 40)

Kembali ke puisi “rencana membunuh paman”, rupanya, aku-lirik tidak lagi sendirian. Aku-lirik meneguhkan posisinya, yakni membela keluarganya sendiri. Peneguhan posisi aku-lirik diwujudkan dengan kata kami. Bahkan, aku-lirik menganggap pamannya-lah yang bersalah hingga ingin membunuhnya.

Rencana pembunuhan itu dinyatakan aku-lirik yang telah bergabung bersama keluarganya melalui kata kami. Namun, hal itu, tampaknya, tidak membuat mentalnya semakin kukuh. Terbukti, kami masih menggunakan kata kadang dalam menyatakan kebencian kepada paman. Artinya, masih ada waktu ketika kami (termasuk aku-lirik) tidak membenci paman. Meski begitu, kami tetap bermaksud membunuh paman. Yang cukup mengagetkan kemudian, kami menyadari bahwa keinginan membunuh paman itu tidak akan pernah tercapai karena paman telah mati, bahwa keinginan tersebut akan berhenti pada “sekadar” maksud. Berikut kutipannya.


kami bersorak, riang bagai katak di musim penghujan
merasa telah mengusir bagian paling menyedihkan dari sebuah
kisah
tapi itu terjadi hanya dalam bayangan kami. sampai kelak paman
mati
diam-diam kami memendam sesal, kenapa bukan kami yang
memberinya ajal
(Sulistyo, 2017: 40)

Setidaknya, ada dua tindakan aku-lirik yang saya temukan dalam puisi “rencana membunuh paman”. Aku-lirik memilih berpihak pada keluarganya melalui kata kami, bukan pada keluarga pamannya, bukan pula berada di tengah-tengah, lalu berencana membunuh pamannya. Dalam hal ini, aku-lirik seolah menganggap kenyataan bahwa pamannya telah mati bukanlah hal yang penting. Yang penting bagi aku-lirik adalah keinginan membunuh paman karena dengan begitu dia sejalan dengan keluarganya (kami). Padahal, sebenarnya aku-lirik sangat tahu bahwa keinginan tersebut tidak akan pernah tercapai. Aku-lirik kemudian mengingkari pengetahuannya, dan tetap menyatakan ingin membunuh paman.

Aku-lirik yang memilih membela keluarganya juga seolah menyatakan bahwa dirinya setia kepada keluarga. Namun, hal itu diduga hanyalah suatu pengalihan karena aku-lirik tidak dapat menjadi mediator di antara keluarganya dan keluarga pamannya sebagai upaya mencapai “kedamaian” karena, sekali lagi, paman telah mati. Singkatnya, aku-lirik seakan telah memiliki “kesetiaan” yang diperoleh dari upaya membela keluarganya untuk menutupi kenyataan menyakitkan bahwa dirinya gagal meraih “kedamaian”. Kedua tindakan aku-lirik, yakni membela keluarga dan keinginan membunuh paman, tidak lain adalah fantasi.

Puisi terakhir yang hendak saya bahas berjudul “di ampenan, apa lagi yang kaucari?”. Puisi tersebut diletakkan dalam fragmen ketiga: Ampenan yang sekarang (kepulangan Kiki ke Ampenan). Saya kira, pembaca akan tahu melalui fragmen tersebut bahwa Kiki pernah meninggalkan Ampenan. Kemudian, melalui fragmen itu pula, pembaca akan tahu bahwa Kiki telah pulang ke Ampenan.

Puisi yang sekaligus menjadi judul buku tersebut disajikan dalam bentuk monolog. Aku-lirik seolah berbicara kepada dirinya sendiri.

di Ampenan, apalagi yang kaucari?
kota tua yang hangus oleh sepi
kali kecil menjalar di tengah mimpi
di mana masa kecil mengalir tak henti
… (Sulistyo, 2017: 59)

Melalui kutipan tersebut, aku-lirik tampak membuktikan bahwa dirinya benar-benar tak punya daya untuk mengunjungi kembali Ampenan dengan kali kecil yang menampung masa kecil-nya. Yang ada tinggal kota tua yang hangus oleh sepi. Kali kecil yang dirindukan aku-lirik hanya berada di tengah mimpi, tak bisa ditemuinya lagi. Secara tidak langsung, masih ada yang hendak dicari oleh aku-lirik, yakni masa lalunya dalam dunia Ampenan yang dulu.

Selanjutnya, aku-lirik mengamati gerak peradaban yang terjadi di Ampenan yang sekarang. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut.


hanya angin yang resah
mondar-mandir dengan kaki patah
dan di simpang lima itu
akan kau temui kembali
riwayat keluarga
yang terus menggelepar
di ingatanmu.
(Sulistyo, 2017: 59)

Bagi saya, angin dalam kutipan itu merujuk pada sebuah pergerakan. Artinya, masih ada peradaban yang bergerak di Ampenan ketika aku-lirik pulang ke sana. Namun, orang-orang di dalamnya resah. Antusiasme mereka pada masa lalu kini lenyap. Bahkan, peradaban yang dulu bagi aku-lirik begitu kuat dan mengesankan, sekarang, ketika dia pulang, menjadi timpang karena kaki-nya patah.

Berdasar kutipan di atas pula, barangkali yang mendorong aku-lirik pulang ke Ampenan hanyalah kenangan keluarga yang terus menggelepar dalam ingatannya. Mungkin, kali ini, tindakan kepulangan aku-lirik berasal dari keinginannya sendiri. Namun, di sisi lain, aku-lirik ingin mendapatkan kembali masa kecil-nya lewat kepulangannya. Padahal, aku-lirik tahu bahwa masa kecil-nya tidak akan bisa diraih kembali dan selamanya hanya akan tinggal di tengah mimpi. Karena itu, beberapa pertanyaan kemudian muncul: mengapa aku-lirik tetap pulang ke Ampenan? Apakah aku-lirik sekadar ingin menyapa Ampenan yang pernah dia tinggalkan? Apakah aku-lirik sekadar hendak mengingat? Apakah aku-lirik menganggap Ampenan sebagai temannya? Apakah aku-lirik menganggap Ampenan adalah dirinya sendiri, karena keduanya sama-sama berubah?

Saya berasumsi, aku-lirik pulang ke Ampenan untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dirinya masih ada, sebagaimana Ampenan yang juga masih ada. Dengan kata lain, aku-lirik melihat (ada dan tidaknya) dirinya sendiri melalui Ampenan. Namun, aku-lirik sinis terhadap kenyataan yang dia ketahui bahwa sebenarnya dirinya dan Ampenan sudah tidak ada dan tak akan bisa ditemukan kembali. Sebab, bagi aku-lirik, dirinya adalah dirinya yang dulu dan Ampenan adalah Ampenan yang dulu. Karena itu, kepulangan aku-lirik adalah sebuah fantasi yang menyediakan pengakuan bagi aku-lirik dan Ampenan bahwa keduanya masih ada.

Karena ketiga puisi yang telah dibahas di atas saya pilih berdasar daya representatifnya, saya dapat mengatakan bahwa upaya Kiki menulis puisi Di Ampenan, Apa Lagi Yang Kau Cari? (2017) merupakan semacam fantasi untuk mendamaikan dua gejolak dalam dirinya, yakni kehilangan traumatis akan masa lalunya serta kegagalan untuk mendapatkan kembali masa lalunya.

Sumber:

Sulistyo, Kiki. 2017. Di Ampenan, Apa Lagi Yang Kau Cari? Yogyakarta: Basabasi.

Pendapat Anda: