Ngibul

[Ngibul #84] Kita Semua Pendosa, Bukan Pendhoza

Saya pernah membaca sebuah postingan di salah satu media sosial. Postingan itu berisi potongan ceramah suatu agama. Tepatnya seperti apa saya lupa. Tapi intinya tidak membolehkan untuk mendengar atau menyaksikan

[Ngibul #83] Sajadah Merah

Dul Kibul tengah menulis naskah dengan nama pena Syaiful Anwar, itu artinya ia sedang membuat tulisan yang berkaitan dengan agama. Dari judulnya saja sudah terlihat: Sajadah Merah. Apakah ia akan

[Ngibul #82] Bertemu Sjahrir di Makam Soekarno

Tak seperti nama Soekarno, tidak banyak dari manusia Indonesia generasi sekarang yang mengenal nama Sutan Sjahrir.  Kealfaan sejarah yang sama yang dilupakan kita ialah bahwa tiga bulan setelah Indonesia merdeka—dengan

[Ngibul #81] Hidup Semaunya Sendiri

Istilah “hidup semaunya sendiri” sering kali memiliki makna yang negatif. Ketika istilah itu diberikan pada seseorang, misalnya seperti ini: “Dasar Kamu, hidup semaunya sendiri, rasakan nanti akibatnya,” hampir dapat dipastikan

[Ngibul #79] Susahnya Mendongeng untuk Anak Zaman Now

Saya masih ingat betul, ibu saya sering mendongeng untuk saya sebelum tidur ketika saya masih anak-anak. Dulu ibu saya sering membacakan dongeng yang diambil dari majalah Bobo, atau buku dongeng

[Ngibul #78] Kekiri-kirian, Kengeri-ngerian

Malam. Bulan separuh, seperti judul lagu dangdut yang tersiar dari radio Marbakat. Marbakat melihat Dul Kibul berjalan ke arah rumahnya. Ia terpaksa matikan suara Lilis Karlina dari radionya, menyambut kawannya

Tulisan Terbaru