Ngibul

Mudik

[Ngibul #21] Mudik: Kembali ke (Tempat) Asal

Mudik tahun ini adalah mudik terakhir bagi saya. Tahun depan, ibu dan adik saya sudah pindah ke Yogyakarta, jadi bisa dipastikan lebaran tahun depan tidak perlu repot bermacet ria dan

Vonis Ahok

[Ngibul #19] Hukum Jante untuk Ahok Arkidam!

Catatan: Tulisan ini hanya cocok dibaca oleh penikmat sastra yang suka berbincang gayeng walau beda pendapat. Tidak untuk penikmat politik, apalagi dengan semangat-semangat kebencian. Santai wae. Ra sah emosi. ***

[Ngibul #18] Sebuah Usaha Menjadi dan Mencintai Indonesia

Seingat saya, kesadaran kebangsaan  pertama kali ditanamakan pada diri saya ketika mengenyam pendidikan di sekolah dasar. Di dalam usia yang masih sangat muda itu, saya mulai diperkenalkan dengan kata “Indonesia”,

Marx

[Ngibul #17] Menghakimi Kamerad Kliwon

  “Kau akan dijemput pukul lima kurang sepuluh menit, dan tepat pukul lima proses kematianmu segera berlangsung. Katakan apa permintaan terakhirmu,” kata Sang Shodanco akhirnya. “Inilah permintaan terakhirku: kaum buruh

scrummy

[Ngibul #16] Antara Scrummy, Baklave, dan Strudel

Ketika seseorang pergi dari daerahnya—entah merantau, entah pergi untuk urusan bisnis, umumnya barang bawaannya ketika pulang bertambah dengan adanya buah tangan alias oleh-oleh. Awalnya buah tangan digunakan sebagai kenangan bahwa

kedai

[Ngibul #15] Bertikai di dalam Kedai

Seorang pendekar tidak akan dapat menemukan tempat pertarungan yang sedang dituju bila ia tidak singgah di sebuah kedai seperti halnya pendekar lain yang tidak akan menemukan seseorang yang telah membunuh

[Ngibul #14] Mozes Gatotkaca

Tulisan ini didedikasikan untuk saudara sepupu saya, Ferry Lawin Iban. Satu dari ratusan nyawa tidak berdosa yang tewas dalam rangkaian kerusuhan 1998 menggulingkan hegemoni Orde Baru.   *** Hari ini,

Tulisan Terbaru