Ritual Kematian oleh Noni Erviani Lubis

Catatan Redaksi: Puisi ini menghadirkan kematian dengan sangat intim. lukisan suasana sepi serta kerinduan pada mereka yang terpisah dua dunia menjadikan puisi ini memiliki nuansa liris, emosional, namun tetap terjaga. Meskipun terasa hikmat, ada larik-larik yang cukup menghentak, menghadirkan ironi dalam kelirisan itu, kedekatan yang dibangun sebagai ilusi, melalui dialog serta narasi kesendirian yang diungkap dengan cara sederhana namun cukup menyayat menjadikan puisi ini layak untuk dinikmati.    

Lagu Tentang Keranda

Malam tadi kita bernyanyi tentang keranda lalu pagi tiba Dan kita berhenti bernada Kau bilang keranda sudah hampir tiba Kelak kau akan susul aku kan, dinda? Iya, iya kubilang Sambil mengelus-ngelus punggung kerandanya Binjai, 4 November 2017  

Lelaki Sepi di Bukit Tandus

Ada yang berputar-putar mengelilingi bukit berbatu Ada hamparan rumput kering Aku mendengar ia bernyanyi tentang sepi Lelaki itu Aku mencintainya lebih sunyi daripada sepinya Ia lelaki yang dicintai semua orang Dan kadang aku suka kasihan Keberserahannya dalam sepi, menjerit mencari potongan tubuhku di balik batu Bukit tandus

Aku mencintainya lebih sunyi daripada sepinya Ia lelaki yang dicintai semua orang Tapi hidupnya tak lebih malang daripada perasaanku

Dan kami selalu bernyanyi tentang sepi Setiap malam Menjelang ajalnya

Binjai, 2 Desember 2017

 

Ritual Kematian

Tubuhku adalah rongga ; tempat dimana kau keluar masuk Semakin sering kau mengunjungiku, semakin menganga dan tak lagi bisa ditambal Dan hari ini genap sembilan puluh hari ritual itu berlangsung Aku mendapati satu lobang melebar Yaitu ada di antara kedua pangkal paha Satunya lagi tepat di atas kepalaku Keduanya saling mendidih Menimbulkan aroma duka Dan tanganku adalah sebaik-baiknya tangan yang pernah menjamahnya Binjai, 11 November 2017    

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Noni Erviani Lubis

Noni Erviani Lubis

Mahasiswi jurusan Bisnis Administrasi yang menekuni dunia sastra sejak SMA. Dan pernah menerbitkan antologi cerpen dan puisi bersama penulis lain di tahun 2016 untuk pertama kalinya. Saat ini sedang menekuni puisi sebagai wujud kreativitas dalam dunia kepenulisan.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait