Ritual Kematian oleh Noni Erviani Lubis

Posted: 16 March 2018 by Noni Erviani Lubis

Catatan Redaksi:
Puisi ini menghadirkan kematian dengan sangat intim. lukisan suasana sepi serta kerinduan pada mereka yang terpisah dua dunia menjadikan puisi ini memiliki nuansa liris, emosional, namun tetap terjaga. Meskipun terasa hikmat, ada larik-larik yang cukup menghentak, menghadirkan ironi dalam kelirisan itu, kedekatan yang dibangun sebagai ilusi, melalui dialog serta narasi kesendirian yang diungkap dengan cara sederhana namun cukup menyayat menjadikan puisi ini layak untuk dinikmati.

 

 

Lagu Tentang Keranda

Malam tadi kita bernyanyi tentang keranda
lalu pagi tiba
Dan kita berhenti bernada
Kau bilang keranda sudah hampir tiba
Kelak kau akan susul aku kan, dinda?

Iya, iya kubilang
Sambil mengelus-ngelus punggung kerandanya

Binjai, 4 November 2017

 

Lelaki Sepi di Bukit Tandus

Ada yang berputar-putar mengelilingi bukit berbatu
Ada hamparan rumput kering
Aku mendengar ia bernyanyi tentang sepi
Lelaki itu
Aku mencintainya lebih sunyi daripada sepinya
Ia lelaki yang dicintai semua orang
Dan kadang aku suka kasihan
Keberserahannya dalam sepi, menjerit mencari potongan tubuhku di balik batu
Bukit tandus

Aku mencintainya lebih sunyi daripada sepinya
Ia lelaki yang dicintai semua orang
Tapi hidupnya tak lebih malang daripada perasaanku

Dan kami selalu bernyanyi tentang sepi
Setiap malam
Menjelang ajalnya

Binjai, 2 Desember 2017

 

Ritual Kematian

Tubuhku adalah rongga ; tempat dimana kau keluar masuk
Semakin sering kau mengunjungiku, semakin menganga dan tak lagi bisa ditambal
Dan hari ini genap sembilan puluh hari ritual itu berlangsung
Aku mendapati satu lobang melebar
Yaitu ada di antara kedua pangkal paha
Satunya lagi tepat di atas kepalaku

Keduanya saling mendidih
Menimbulkan aroma duka
Dan tanganku adalah sebaik-baiknya tangan yang pernah menjamahnya

Binjai, 11 November 2017

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: