Ibu Sungai oleh Dedy Tri Riyadi

Posted: 13 April 2018 by Dedy Tri Riyadi

Catatan Redaksi:
Puisi-puisi ini hadir sebagai respon dari teks-teks lain yang umumnya sudah banyak dikenal. Puisi berjudul Ibu Sungai misalnya, nampak merespon puisi berjudul Tigris karya Goenawan Mohammad. Puisi ini sekaligus mengonstruksi pikiran-pikiran tentang perdamaian di kawasan tempat lahirnya peradaban pertama sekaligus wilayah yang terus menerus bergejolak hingga dewasa ini. Perang dan perdamaian selalu datang silih berganti tanpa berkesudahan. Darah dan dosa tumpah mewarnai sejarah kawasan tersebut dan sungai yang terus mengalir itu terus menjadi saksi sekaligus tempat kembali, seperti ibu yang menyaksikan anaknya tumbuh, jatuh, berkelahi tapi padanyalah anak-anak menangis dan minta disusui.

 

Ibu Sungai

(ibuku, seandainya kau tahu
kami adalah anak-anakmu)
– Tigris, Goenawan Mohammad

Tak apa jika kau mati,
tapi hiduplah sekali lagi.

Ibu sungai akan melarungkan
segala sesal pertarungan.

Luka-lukamu akan dibasuh
sampai bersih sungguh.

Tak ada istilah kalah,
oleh Ibu Sungai batu pun belah.

Karena Ibu Sungai, yang datang
dari gurun, menemu jalan pulang.

Dan seekor merpati turun
bukan untuk sekadar minum.

Ia jadi tanda dunia damai
meski baru sebatas sungai.

Lihatlah, yang datang berduyun.
Meminta mandi, memohon ampun.

Dan pada Ibu sungai, beribu tangis reda,
seolah telah menemu Bethesda.

2017

 

 

Melangkah

Jiwa yang memandang keindahan
kadang berjalan sendirian – Goethe

Ia mulai perjalanan
dengan membuka pintu,
mengenakan sepatu
lalu melangkah ke halaman.

Ia melihat peradaban
hanya setumpuk serasah,
sisa pembakaran, dan
botol- botol plastik bekas minuman.

Sedang teknologi masih
sebatas sinyal dan aplikasi
yang mempertemukan seorang
dengan yang lain lalu pergi
ke mana entah. Mungkin
ke planet lain.

Ia tahu, pada saatnya
puisi bukan hanya bunga,
kenangan, dan kesedihan.

Maka
ia
melangkah.

Mengelindankan apa yang
sesuram mural di tembok kota,
seperih amsal dalam kitab tua.

Menjadikan diri sebagai pejalan kaki
pada sebuah kota yang tak pernah
benar-benar peduli akan kehadirannya.

2017

 

Lagu

Hidup itu lagu ajaib dari semesta,
untuk memahaminya,
rasakan saja di dadamu
dan bernyanyilah, ―
Debasish Mridha

Tanpa batas suci, lagu
itu mengalun menghampiri
ruang tak terjangkau
dalam hidupnya:

selasar pasar, sudut terminal,
sebatang bambu yang menusuk
lubang got di trotoar dengan
bendera kertas warna kuning yang
berkibar.

Lagu itu sangat berbeda
dari himne gereja, meski
kata-katanya nyaris sama.

Ia menghibur mereka yang
kehilangan anaknya, cemas dan
gemas akan luka-lukanya, serta
gundah hampir menyerah pada
takdir dan kematian.

Lagu itu terdengar seperti
berlepasannya serat kapuk
dari buah randu ke udara.

Terasa begitu ringan, seolah
memang rapuh sebentuk ikatan,
entah janji manis atau sejenisnya.
Namun bukankah lagu sekadar
penghiburan?

Kau ingin berkata, bukan. Namun
baru saja bersiap untuk lebih jernih
mendengarkan, lagu itu telah berlalu.

2017

 

 

Lari Pagi dalam Puisi

Wherever I go,
I meet myself
― Dejan Stojanovic
dalam The Shape

Dengan puisi, ia
ingin kau mengingat
keganjilan berjalan dari
ambang pintu sampai halaman.
Menyadari betapa pohon-pohon
yang tampak diam sesungguhnya
mengerti hidup bisa dimulai dari
biji yang terjatuh dari cengkeram
paruh lalu jatuh ke celah bebatuan.

Lalu saat kau mulai berlari,
ia menjadi hirup udara segar,
muskular kaki yang lincah
menghindari genang hujan
semalam dan gonggong anjing
tetangga di balik pagar.

Dalam bahasa yang hangat,
saat matahari belum tinggi benar,
akan ia tampakkan suram pohonan,
dan disebarkan wangi nektar bunga,
agar kau mengerti hidup bukan soal
berlari hari lepas hari.

Sebab hidup sering juga
diserang mengi lalu
terantuk bebatu.

2017

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: