Siapkah Kita Kehilangan Taman Sriwedari? Ah, Mungkin Sudah

Posted: 21 February 2018 by Tyassanti Kusumo

Menawi malem Jumuwah sarta malem Ngahad mawi tetingalan gambar sorot, ringgit tiyang, manawi Ngahad siyang, ringgit tiyang inggih main. Ingkang dhateng ningali boten ngemungaken bangsa Jawi kemawon, bangsa Cina, Koja, Jepan, Kaji, Arab, Wlanda punapadene bangsa sabrang sanesipun” –Yasahardjana, Babad Sriwedari, 1926.

“Ketika Malam Jumat dan Malam Minggu, ada pemutaran film (kain putih yang disorot gambar), wayang orang; pun di Minggu Siang wayang orang juga main. Yang datang menonton bukan hanya orang Jawa, ada orang Cina, Koja, Jepang, Haji, Arab, Belanda dan bangsa-bangsa asing lainnya”

Sumber: KITLV

Siapa warga Solo yang tak tahu Sriwedari? Tentu hampir semua tahu, terlebih dengan ramainya kawasan ini beberapa minggu terakhir, baik di media cetak, daring maupun di lokasi karena isu pembangunan Masjid Taman Sriwedari. Alih-alih membahas sengketa lahan yang tak jelas juntrungnya atau pihak mana saja yang terlibat dan berkepentingan dalam pemanfaatan dan pembangunan yang ada di kawasan ini, akan lebih baik jika kita coba mulai mengenal lebih dekat Taman Sriwedari. Bicara mengenai tahu, boleh jadi hampir semua tahu, bahkan dari berbagai kalangan usia dan status yang disandang, tetapi, bicara masalah kenal, siapa yang begitu kenal? Padahal, tak kenal maka tak sayang. Nah! Tamat sudah!

Terletak di daerah yang dulunya bernama Desa Talawangi, Sriwedari menjadi pusat hiburan dan plesir seluruh masyarakat kala itu. Bahkan beberapa tahun belakangan, masih cukup ramai dipadati dengan berbagai keluarga yang mengajak anaknya menjajal seluruh wahana permainan di Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari atau sekadar menonton Orkes Melayu dan Koes Plus-an. Sanggar-sanggar seni yang ada di kawasan inipun masih ramai dan aktif digunakan, pun pertunjukan Wayang Wong yang rutin digelar tiap harinya dengan harga tiket sangat terjangkau, antara Rp 5.000,00 – Rp 10.000,00. Percik keramaian yang kita lihat sekarang hanya sekelumit dari keramaian tahun-tahun awal dan masa kejayaan Taman Sriwedari.

Dibangun pada masa pemerintahan Paku Buwana X (PB X) di tahun 1899 dan diresmikan pada 1901, penggagas Taman Sriwedari sebenarnya adalah  Pepatih dalem Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat atau yang lebih dikenal dengan Kanjeng Ageng atau Sosrodiningrat I, sosok kepercayaan kerajaan yang juga ahli kebudayaan (Koran Mekar Sari, 15 Juli 1986). Kompleks taman yakni meliputi Museum Radya Pustaka hingga yang kini direncanakan menjadi Masjid. Taman ini sengaja dibangun di luar dinding keraton sebagai tempat plesir keluarga raja dan juga masyarakat Surakarta kala itu, sehingga kerap disebut sebagai Bonrojo (akronim dari Kebon Rojo alias Kebunnya Raja). Dalam Babad Sriwedari digambarkan tentang kondisi Taman yang sejuk, penuh pepohonan dengan jalan berkelok di tengahnya

ing nglebet cinithak margi menggak-menggok malengkung.. adamel lam-laming para ingkang sami lalangen, dening wasising pangrukti, pantes sinudarsana. Urut pinggiring margi kataneman wit camara sineling palem lan trembesi punapadene kenari” (Yasahardjana, 1926:7)

Selain tetumbuhan rindang dan udara yang sejuk, sebuah taman tentu memiliki unsur air. Unsur air bisa kita temui di Segaran yang letaknya di sebelah selatan taman dan juga di kebun binatang, yakni di tempat kandang Buaya, belibis, angsa, bangau dan penyu. Segaran merupakan kolam buatan yang berbentuk lingkaran dengan sebuah ‘pulau’ kecil di tengah-tengahnya. Di pulau ini dibangunlah Panti Pangaksi, tempat peristirahatan sekaligus tempat raja dan keluarga melihat-lihat pemandangan yang ada di Sriwedari. Di bawah Panti Pangaksi juga ada bangunan lain, yakni Gua Swara yang dipergunakan untuk menyimpan gamelan Santiswara milik Keraton. Gamelan ini diletakkan di sana untuk mengiringi acara-acara yang diadakan di Sriwedari, seperti Malam Selikuran dan perayaan ulang tahun naik tahta seorang raja. Meski Panti Pangaksi lebih banyak diakses oleh keluarga raja, tetapi pada tahun 1950, tempat ini pernah dijadikan tempat pentas Keroncong PERSOB (Persatuan Orang Buta), pun area sekitarnya juga bisa digunakan masyarakat untuk bersenang-senang. Dalam Babad Sriwedari halaman 9, tertulis bahwa tersedia wahana berperahu mengelilingi Segaran, dan banyak pula yang berjalan kaki di sekelilingnya. Coba kita bayangkan betapa menyenangkannya kondisi Taman Sriwedari di kala itu!

Fasilitas-fasilitas di Sriwedari memang diperuntukkan sebagai sarana plesir dan hiburan, bahkan Raja membuat kebun binatang agar masyarakat bisa menikmati dan berinteraksi dengan hewan-hewan tersebut. Jenis binatang yang ditaruh di sana beraneka ragam. Ada kancil, babi, sapi, banteng, ayam emas, ayam tembagi, macan gembong, macan tutul, macan kumbang, kera, landak, monyet, anjing, aneka burung warna-warni, bajing, burung kuntul, buaya, bangau, kambing dan gajah. Namun sayang, di tahun 1983, para hewan akhirnya dipindah ke Taman Satwa Taru Jurug, daerah Kentingan, agar perawatan dan pengelolaannya lebih baik. Kemudian di tahun 1909, Raja memberi palilah pada seorang pangeran yang pandai menari untuk menari di Sriwedari sampai kemudian dibukalah Gedung Wayang Orang di sana1. Ada pula fasilitas gedung bioskop yang bisa dinikmati semua kalangan hanya dengan membayar lima sampai sepuluh sen saja. Budaya menonton film ini tak lain dan tak bukan juga turut berkembang karena para masyarakat asing yang tinggal di Surakarta.

Selain mengampu fungsi sebagai taman hiburan, Sriwedari juga menjadi pusat tontonan budaya dengan pertunjukan Wayang Orangnya. Surat Kabar Darmo Kondo tanggal 29 Januari 1935 memberitakan tentang persiapan pegawai Sriwedari untuk menyambut para turis asing dari Amerika yang akan merekam pertunjukan wayang orang. Para turis ini datang berduyun-duyun menaiki auto lalu merekam pertunjukan yang sedang dimainkan saat itu. Jelas fenomena ini perlu kita jadikan refleksi bahwa Sriwedari sudah benar-benar kawentar di masa tersebut, dengan fungsi publik sebagai tempat hiburan dan budaya. Fungsi lain taman Sriwedari bisa kita temukan di pembahasan Skripsi Umaira Fambayun, alumni prodi Arkeologi UGM. Dalam skripsinya yang berjudul Taman-taman Kota (Taman Sriwedari, Taman Balekambang, dan Villapark): Elemen Penting Pembentuk Keindahan Kota Surakarta Awal Abad ke-20, Umaira membahas tentang Taman Sriwedari yang memiliki fungsi politik, yakni sebagai perwujudan kuasa dan kebesaran lewat pendirian (wujud) sebuah taman sebagai fasilitas umum masyarakat Surakarta pada masa kolonial. Disebut masa kolonial karena memang saat itu Belanda menguasai wilayah di area Benteng Vastenburg serta Banjarsari (daerah sekitar Monumen 45 dahulu adalah wilayah yang bernama Villapark, milik Belanda)  dan bisa mengatur kebijakan dalam kerajaan. PB X ingin menunjukkan kemampuannya untuk memperindah kota dan menyejahterakan rakyatnya melalui hiburan-hiburan yang disajikan di Taman Sriwedari. Tidak hanya itu saja, taman hiburan rakyat ini juga berhasil menarik masyarakat dari berbagai etnis untuk datang kesana (Fambayun, 2016:84), bahkan pernah digunakan sebagai tempat merayakan lahirnya putri di negeri Belanda (Prinses van Oranje). Taman Sriwedari riuh dipenuhi semua kalangan masyarakat yang turut menyemarakkan kelahiran Prinses van Oranje. Selama sehari semalam, Taman dipenuhi dengan orang yang mencari hiburan dan berjualan. Banyak lapak dan kios makanan yang turut berjualan di sana2.

Namun itu dulu. Setelah PB X meninggal, keberadaan Taman Sriwedari dan unsur-unsur di dalamnya, baik unsur tanaman, air, hewan dan bangunan mulai tergusur keberadaan dan nilainya. Yang masih bisa kita jumpai hingga sekarang mungkin hanya museum Radya Pustaka yang ada di sebelah barat kompleks, kemudian Gedung Wayang Orang. Gedung kesenian yang dahulu juga difungsikan sebagai tempat menonton film sudah dibongkar pada 2016 silam. Sedang bangunan yang sudah lama tidak ada ialah Panti Pangaksi, Gua Swara dan Kandang Binatang. Sejak tahun 1980-an, keberadaan Panti Pangaksi memang telah lama tak ada, bahkan kemudian menjadi restoran Wisma Boga yang sekarang pun telah dibongkar. Keberadaan Gua Swara di bawahnya pun entah tak ada kabar. Perahu-perahu yang dulu pernah mengelilingi segaran kini entah ke mana; Segaran telah berubah menjadi kolam dangkal yang kotor dan tak terawat. Ada pula bangunan yang nyempil di tengah-tengah antara taman dan museum, yakni Graha Wisata Niaga yang entah mengapa ada di sana. Sriwedari berubah terlalu cepat, kita tidak menyadarinya. Keindahan dan keramaian yang dulu pernah ada sekarang bagai tak bersisa. Transformasi budaya, fisik dan nilai tidak bisa dihindari, bahkan sejak dulu. Penataan kawasan ini seperti bergeser dari nilai utama yang melandasi pembangunannya dahulu sebagai taman dan tempat hiburan masyarakat. Meski Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta berdalih bahwa akan merevitalisasi kawasan ini, nyatanya yang justru ditonjolkan dan jadi proyek awal adalah pembangunan Masjid Taman Sriwedari. Sekarang pertanyaan yang muncul, di mana nilai Bonrojo yang akan direvitalisasi jika pembangunan yang mengokupasi lahan seluas 17,200 meter persegi dengan lima menara, termasuk di antaranya mencapai tinggi 114 meter ini benar-benar terwujud? Tidakkah ini menjadi cerminan bahwa value atau nilai penting Bonrojo justru dikikis dan dikalahkan dengan wacana baru tentang pembangunan masjid? Siapa bisa menjamin Taman yang telah berstatus Cagar Budaya dengan SK Walikota no 646/1-2/1/2013 ini bisa ‘hidup kembali’ dengan revitalisasi yang tercerabut dari nilai awalnya? Sejak awal Bonrojo difungsikan sebagai tempat plesir, melepas penat serta bersukaria dengan unsur-unsur yang ada di dalamnya, tetapi bukan unsur tempat ibadah seperti yang sedang dalam proses pembangunan sekarang. Selain Masjid, proyek selanjutnya yang masuk dalam proses penataan adalah Gedung Wayang Orang (GWO). Pemkot akan membangun ulang GWO dan membangun museum Wayang Orang. Namun pembangunan seperti ini tidak akan efektif bila belum didukung dengan upaya membangun budaya apresiasi pada pertunjukan ini. Justru seperti sia-sia saja jika gedung telah terbangun bagus tetapi tidak ada upaya untuk menggenjot minat warga pada pertunjukan ini. Pembangunan akan terasa kering kerontang tanpa adanya ruh yang menyertai kesadaran pada pentingnya substansi yang ditampilkan, yakni pertunjukan wayang wong tersebut.

Sriwedari berubah, banyak. Kita yang berdinamika di area sekitarnya terbuai tanpa sadar. Nilai pentingnya tak pernah diwacanakan. Sadarkah kita akan kehilangan tersebut? siapkah kita menyongsongnya? Barangkali benar, kita tak begitu sayang, sehingga sudah sedari dulu kita bertemu kehilangan tersebut.

 

Catatan
1: Masjid dan Memori tentang Bon Raja, Hijriyah Al Wakhidah. Solopos, 24 Januari 2018
2: Kebon Raja Menggugat, Heri Priyatmoko. Solopos, 18 Januari 2018

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *