Sastra Anak: Kekosongan di Usia Sekolah Menengah Pertama

Posted: 11 April 2018 by Apri Damai Sagita Krissandi

Pengantar

Seorang sahabat yang kebetulan berprofesi sebagai seorang guru pernah bertanya kepada saya perihal karya sastra yang tepat untuk usia sekolah menengah pertama (SMP). Awalnya saya tidak begitu berpikir panjang tentang hal tersebut. Sambil lalu saya meminta waktu untuk sekedar mencari referensi. Setelah saya mencoba menjawab, saya begitu kewalahan mencari karya sastra yang khas SMP. Saya memulai mencari puisi yang cocok untuk anak SMP. Saya menemui karya-karya Chairil Anwar dan WS Rendra. Kawan saya pun menanyakan perihal karya lain Chairil dan Rendra, dia mengatakan kesulitan jika harus menjelaskan makna di balik diksi-diksi “liar” nan “garang” karya penyair tersebut, menyerahlah saya. Kemudian bertanya lagi kawan guru terkait novel. Saya semakin bingung, karena tidak satu pun saya menemukan novel dengan latar dunia SMP. Hanya beberapa karya Hilman, yakni Lupus ketika usia SD dan SMP. Saya kesulitan mencari yang lain. Kehadiran sastra untuk usia SMP menjadi saya pertanyakan.

Sebagai manusia dewasa sudah menjadi tugas kita untuk membimbing adik atau anak-anak dan memberikan informasi tentang dunia ini. Salah satu cara menyampaikan informasi adalah melalui cerita. Semua orang menyukai cerita, jika direfeksikan banyak hal yang mempengaruhi kehidupan kita sekarang yang berasal dari cerita. Pendampingan bacaan anak harus dilakukan secara berkelanjutan sesuai kebutuhan dan tahap perkembangan anak.

Selama ini sastra anak banyak dibahas dalam tataran usia dini hingga usia sekolah dasar. Sejatinya masa sekolah menengah pertama yakni masa remaja awal juga merupakan usia yang rentan dan butuh bimbingan. Kajian sastra untuk usia remaja awal inilah yang mengalami kekosongan. Kekosongan tersebut dapat dilihat dari tidak tersedianya bacaan khas untuk usia siswa sekolah menengah pertama. Saya mempunyai gagasan untuk memasukkan usia remaja awal dalam naungan sastra anak.

Kekosongan bacaan sastra masa remaja awal (masa transisi)

Sastra anak adalah karya sastra yang dibuat oleh orang dewasa atau oleh anak-anak dengan konteks dunia anak, bahasa anak, dan minat anak. Sepemahaman saya sastra anak mempertimbangkan sisi pendidikan dan pesan dalam setiap karyanya. Bahasanya pun sederhana. Sastra anak memiliki dimensi mulai dari usia yang belum begitu jelas.

Selama ini batasan usia sastra anak berhenti pada usia 12 tahun yakni usia SD kelas 6. Hal ini didasari teori Piaget tentang tahap perkembangan anak, dimulai dari pra-operasional, operasional konkret, dan operasional formal. Usia 12 tahun ke atas dianggap masuk dalam wilayah operasional formal. Pembagian usia sastra anak mengikuti alur berpikir tersebut sehingga usia siswa kelas 6 SD hingga usia dewasa digolongkan dalam zona “sastra formal”. Tentunya hal ini tidak sesuai dengan realitas yang terjadi. Sastra dewasa, sebut saja demikian, memiliki kompleksitas ide yang kadang tidak sesuai, misalnya, untuk anak SD kelas 6 ataupun SMP kelas 7 dan kelas 8. Penggolongan usia dalam sastra anak perlu memiliki kekhasan dengan melihat situasi dalam konteks Indonesia. Saxby (1991:4) mengatakan bahwa sastra pada hakikatnya adalah citra kehidupan, gambaran kehidupan. Citra kehidupan (image of life) dapat dipahami sebagai penggambaran secara konkret tentang model-model kehidupan sebagaimana yang dijumpai dalam kehidupan faktual sehingga mudah diimajinasikan sewaktu dibaca. Begitu pula dengan sastra anak, sastra anak perlu menggambarkan konteks mereka sesuai tahap perkembangannya. Jika usia 12 tahun ke atas dianggap telah dewasa, maka diberikan kebebasan bagi mereka untuk memilih bacaannya. Tentunya hal ini tidak dapat diterima begitu saja. Usia remaja awal masih sangat memerlukan bimbingan orang dewasa, khususnya dalam memilih karya sastra.

Pemahaman tentang tahap perkembangan anak sangat penting untuk memilih karya sastra yang sesuai. Pilihan bacaan anak untuk usia sekolah dasar sangatlah melimpah. Secara garis besar, Lukens (1999:14-30) mengelompokkan genre sastra anak ke dalam enam macam, yaitu realisme, fiksi formula, fantasi, sastra tradisional, puisi, dan nonfiksi dengan masing-masing mempunyai beberapa Jenis lagi. Genre drama sengaja tidak dimasukkan arena menurutnya, drama baru lengkap setelah dipertunjukkan dan ditonton, dan bukan semata-mata urusan bahasa-sastra. Genre sastra anak tersebut memberikan batasan yang sangat luas terhadap semua buku anak, dengan kata lain semua buku anak adalah sastra anak. Misalnya, pada usia dini (2-4 tahun) seorang anak belum dapat mengenali huruf dan belum dapat membaca, tetapi anak sudah dapat memahami bahwa ada buku yang berisi sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya. Hal itu terjadi karena anak biasa melihat aktivitas dewasa yang sering memegang buku dan membaca serta membacakan isi buku itu kepadanya. Lewat buku-buku tersebut anak dapat melihat berbagai gambar -gambar-gambar yang sengaja dirancang untuk diberikan. Oleh karena itu, dalam rentang usia dini buku bergambar, pengenalan warna, hewan, huruf-huruf (alfabet) pun dapat dikategorikan sebagai sastra anak.

Sastra anak untuk usia sekolah dasar juga memiliki banyak ragam, misalnya: dongeng, cerita rakyat, buku cerita bergambar, puisi, pantun, cerita pendek, maupun novel. Novel untuk siswa sekolah dasar yang saat ini populer adalah Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK), siswa sekolah dasar yang menjadi pembaca sekaligus penulis karya novel tersebut. Gairah menulis dan perkembangan sastra anak khususnya di usia sekolah dasar menunjukkan arah positf. Karya sastra tulisan anak-anak mulai banyak diterbitkan. Dengan ditulis oleh anak, maka gambaran dunia anak akan lebih orisinal, termasuk ekspresi bahasa yang digunakan. Di samping itu, tokoh anak dalam novel tersebut, akan memberikan contoh kepada pembaca, anak, bagaimana menjadi seorang anak yang berkualitas secara intelektual, moral, dan spiritual sebagai ciri pribadi yang berkarakter.

Fenomena ironis terjadi pada sastra untuk usia sekolah menengah atau dapat kita sebut usia SMP, jika kita menelisik lebih jauh, tidak dapat kita temukan karya sastra yang khas usia SMP. Perpustakaan SMP dipenuhi buku-buku novel remaja percintaan, novel sastra dewasa, atau justru cerita-cerita anak-anak SD. Seolah tidak ada pengarang sastra yang ingin mendalami permasalahan usia SMP. Sastra tidak memberikan perannya secara maksimal sebagai sarana pendidikan karakter untuk anak usia SMP. Dapat dilihat pula jarang ditemukan prosa mupun karya lain yang tokoh utamanya berusia SMP. Sebut saja kisah Dilan yang saat ini sedang booming, latar ceritanya adalah usia SMA. Tidak hanya Dilan, kita mengenal Lupus, Olga Sepatu Roda, dan sebagainya merupakan novel dengan setting SMA. Sejauh pengetahuan saya, belum ada novel dengan tokoh utama anak SMP. Selain itu, jika melihat buku paket SMP kita akan menemukan contoh-contoh puisi dan prosa dewasa. Tidak salah mengajarkan sastra dewasa dengan nilai-nilai luhur tetapi perlu dikaji tentang minat siswa terhadap isu terkait, kompleksitas alur dan permasalahannya, kompeksitas gramatikal bahasa, kompleksitas tokoh, dan sebagainya.

Alternatif Penggolongan Sastra Anak berdasarkan Usia

Sub bab ini diberikan judul alternatif sebab pada dasarnya pembahasan tahap perkembangan anak khususnya dalam sastra anak telah banyak dibahas. Perkembangan kognitif berpedoman pada teori Piaget, perkembangan moral berpedoman pada teori Kohlberg. Bapak Burhan Nurgiantoro dalam banyak tulisannya pun banyak membahas secara detail hal ini. Tahap perkembangan tersebut dibahas dalam rangka memilih karya sastra yang sesuai dengan tingkat usia anak. Pemilihan karya sastra untuk anak adalah tanggung jawab orang dewasa. Pengetahuan tentang tahapan perkembangan anak akan memberikan gambaran pada sifat, karakter, dan kebutuhan anak kemudian dicocokan dengan karya sastra yang sesuai.

Motivasi saya di sini menggolongkan sastra anak adalah memberi usulan untuk merangkul secara pasti, jelas, dan mantab bahwa usia SMP adalah termasuk zona tanggung jawab sastra anak. Maka penggelut dunia sastra anak memiliki tanggung jawab untuk meluaskan target sasaran ke jenjang SMP. Hal ini diharapkan akan menggelorakan sastra di jenjang SMP.

Penggolongan sastra anak berdasarkan usia yang diusulkan adalah: (1) Sastra anak usia awal (0-7 tahun); (2) Sastra anak usia menengah (8-11 tahun); dan (3) Sastra anak usia lanjut (13-15 tahun).

  1. Sastra Anak Usia Awal (0-7 tahun)

Tahap ini berdasar pada tahap sensorial dan pra-operasional menurut Piaget. Bacaan yang bersifat dasar dan pengenalan huruf, kalimat dan cara membaca tepat. Karena dalam tahapan ini masih baru mengenal bacaan sehingga perlu bimbingan khusus dari guru dan orangtua dalam membaca bacaannya yang mungkin memang masih belum lancar dalam membaca. Bentuk bacaan dapat berupa gambar, pengenalan huruf, pengenalan warna, hewan, sayuran, pengenalan bunyi, pengenalan emosi, pengenalan kalimat sederhana, membaca-menulis permulaan, dll.

2. Sastra Anak Usia Menengah (7-11 tahun)

Tahap ini berdasar pada tahap operasional konkret menurut Piaget. Bacaan narasi atau eksplanasi yang mengandung urutan logis dari yang sederhana ke yang  lebih kompleks. Bacaan yang menampilkan cerita yang sederhana baik yang menyangkut masalah yang dikisahkan, cara pengisahan, maupun jumlah tokoh yang dilibatkan. Bacaan yang menampilkan berbagai objek gambar secara bervariasi, bahkan mungkin yang dalam bentuk diagram dan model sederhana. Bacaan narasi yang menampilkan narator yang mengisahkan cerita, atau cerita yang dapat membawa anak untuk memproyeksikan dirinya ke waktu atau tempat lain. Dalam masa ini anak sudah dapat terlibat memikirkan dan memecahkan persoalan yang dihadapi tokoh protagonis atau memprediksikan kelanjutan cerita.

3. Sastra Anak Usia Lanjut (11-15 tahun)

Tahap ini sesuai dengan tahapan operasional formal menurut Piaget. Anak telah memiliki pengetahuan abstrak. Topik/tema yang sesuai dengan lingkungan dan usia siswa, misalnya tema persahabatan, petualangan, informasi tentang trend kegiatan positif di zaman yang sedang berkembang, semangat kebangsaan, cinta tanah air, kerja keras, jujur dan bertanggung jawab, serta pilihan hidup yang sesuai dengan keyakinannya. Tingkat kerumitan gramatika yang tidak begitu kompleks, bahasa yang mudah dipahami, bahasa perlu mempertimbangkan aspek kesopanan dan kesantunan. Panjang pendek karya sastra yang tidak banyak memerlukan waktu untuk memahaminya. Kerumitan konflik atau alur cerita yang tidak begitu kompleks dan absurd. Kerumitan perwatakan, termasuk jumlah tokoh, yang tidak begitu panyak penafsiran; dan Tingkat pemicu imajinasi yang dapat cepat menggerakan pikiran siswa pada hal-hal yang dihadapinya sehari-hari.

Penutup

Kekosongan sastra usia SMP perlu mendapatkan perhatian penggiat sastra. Usia sekolah menengah adalah usia kompleks, masa transisi dari anak-anak ke remaja. Dalam dirinya masih terdapat jiwa anak-anak yang belum dapat lepas begitu saja. Usia SMP sangat memerlukan pendampingan orang dewasa. Karya sastra dapat menjadi sarana pendampingan karakter. Karya sastra dapat secara efektif merasuk dalam pribadi usia SMP dikarenakan sifatnya yang tidak menggurui. Pembaca akan larut dan dapat bersentuhan dengan pesan moral serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sebagai usaha merangkul kembali sastra untuk usia SMP, diusulkan untuk memasukkan rentang usia SMP ke dalam kajian sastra anak. Dengan demikian diharapkan pengkajian sastra anak dengan rentang usia sekolah menengah pertama dapat semakin banyak diminati.

 

Daftar Pustaka

Huck, Charlotte S, Susan Hepler, dan Janet Hickman. 1987. Children’s Literature in The Elementary School. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Lukens, Rebecca J. 1999. A Critical Handbook of Children Literature. New York: Longman.
Nurgiantoro, Burhan. Tahapan Perkembangan Anak dan Pemilihan Bacaan Sastra Anak. Cakrawala Pendidikan, Th. XXIV, No. 2, Juni 2005
Nurgiantoro, Burhan. Sastra Anak di Usia Awal dan Literasi. DIKSI, Vol 12, No 1, Januari 2005
Nurgiantoro, Burhan. Sastra Anak: Persoalan Genre. Humaniora Volume 16, No. 2, Jun/ 2004: 107-122
Saxby, Maurice dan Gordon Winch (eds). 1991. Give Them Wings, The Experience of Children’s Literature. Melbourne: The Mac- millan Company.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: