Menulis Seperti Membuat Pematang

disampaikan sebagai pengantar Workshop Kepenulisan Novel dalam pra-acara rangkaian kegiatan Joglitfest (Festival Sastra Yogyakarta) yang diselenggarakan Klub Buku Yogyakarta, bekerjasama dengan Kibul.in dan Gerak Budaya Yogyakarta di Toko Buku Gerak Budaya Yogyakarta, tanggal 21 Agustus 2019.

Hanya beberapa jam sebelum saya menuliskan ini, seorang peserta dalam sebuah kelompok diskusi menulis—yang mengaku sebagai penulis pemula—mengeluh kepada saya bahwa ia terbiasa menulis dan kemudian menghapusnya, menulis lagi dan kemudian menghapusnya lagi. Keluhan itu kemudian dipungkasi dengan pertanyaan: “Apa tipsnya, Mas?”

Itu keluhan dan pertanyaan yang sangat sering saya dengar—saya lebih dua tahun terlibat dengan sebuah gerakan yang mengorganisir secara sederhana sebuah kelas menulis di Jogja. Dan, boleh jadi, pada satu masa, beberapa tahun lalu, di acara seminar atau diskusi tentang menulis yang sudah tidak saya ingat, saya menanyakan hal yang sama. Jadi, tentu saja saya tidak kaget. Itu kegelisahan yang sangat tipikal dari para penulis pemula.

Yang mungkin tidak mereka (para penulis pemula itu) ketahui, membuat awal yang bagus, memulai kalimat dengan mantap, sebenarnya adalah kegelisahan semua penulis. Segaek apa pun dia. Seterkenal apa pun dia. Yang membedakan kenapa penulis pemula selalu bertanya tentang itu sementara penulis yang bukan pemula tidak bukanlah bahwa yang disebut belakangan tidak lagi punya masalah dengan kalimat pertama. Pengalaman, itulah yang membedakannya.

***

Ada anekdot yang sudah nyaris menjadi dongeng bahwa cerpenis terbesar dunia, Anton Chekov, setiap menyelesaikan setiap ceritanya, akan memotong cerita tersebut menjadi dua dan kemudian membuang separoh yang pertama, dan menjadikan awal kalimat dari separoh akhir cerita yang dipertahankan tersebut sebagai kalimat pembukanya.

Anekdot lain mengatakan, John Steinbeck, novelis terbesar Amerika, membutuhkan berlembar-lembar kertas untuk dicoretinya, ditulisinya, tentang apa saja (biasanya ia menuliskan deskripsi ruangan tempatnya menulis), hanya untuk dibuangnya ke bak sampah. Setelah merasa cukup melemaskan tangan dan menemukan feel-nya (kalau pakai istilah anak sekarang), ia baru mulai menulis betulan, memperjuangkan kalimat pertamanya.

Baik kisah Chekov maupun cerita soal Steinbeck menunjukkan bahwa penulis, sehebat apa pun, harus berjuang untuk mendapatkan kalimat pertamanya yang dianggap tepat. Bakat mungkin membuat mereka tak semenderita kita-kita yang tak seberapa terberkati ini. Tapi, hal yang paling besar berperan dalam hal ini adalah bahwa orang-orang hebat itu sudah mengalami “kesulitan khas pemula” itu berkali-kali dan karena itu punya metode khusus untuk mengatasinya. Dan itu karena pengalaman.

***

Orang-orang mungkin punya resep ces-pleng tentang pertanyaan “khas penulis pemula” itu. (“Menulis itu gampang,” kata salah seorang penulis tua; “menulis itu asyik,” kata banyak penulis yang tulisannya tidak terlalu asyik.) Tapi, saya selalu merasa bahwa pertanyaan macam itu tak bisa diberikan jawabannya oleh orang lain. Seseorang harus menemukan jawabannya sendiri, di kalimat-kalimat yang telah dihapusnya, dan dituliskannya kembali, dan kemudian dihapusnya lagi. Ia harus menemukan jawaban itu di kalimat-kalimat lain yang dihasilkan tangannya sendiri, di kalimat-kalimat lain yang pada akhirnya dipertahankannya.

Klise mungkin. Tapi saya selalu berpikir bahwa kemampuan menulis bagi penulis tak berbeda dengan kemampuan membuat pematang bagi petani atau kemampuan mengontrol bola untuk pemain sepakbola. Keahlian menulis, kecakapan membuat pematang, atau kelihaian menggocek bola, hanya bisa didapatkan oleh banyaknya latihan, banyaknya mengulangi dan salah dan mengulangi dan salah dan mengulangi, dan begitu seterusnya.

Ya, seperti kalimat pertama seorang penulis pemula, pematang pertama untuk seorang petani pemula juga selalu sulit. Jangan dulu memikirkan apakah pematang itu akan tampak mulus dan kokoh, ia bahkan harus periksa dulu apakah caranya memegang pacul  sudah benar atau belum; atau, apakah ayunan cangkul itu sudah pas apa belum. Kadang, si petani pemula menemukan bagian tanah yang terlalu keras untuk dicangkul, sehingga si petani mesti mengerahkan tenaga lebih memapasnya. Tapi lain kali, tanah yang dicangkkulnya terlalu lembek, sehingga sulit untuk dibentuk dan dipadatkan. Ada kalanya ia salah dalam membuat cangkulan. Cangkulan yang seharusnya kecil saja, ia unjam dalam-dalam. Untuk itu si petani pemula kudu menambalnya. Ada kalanya, cangkulan yang seharusnya tegak lurus ia lakukan terlalu landai, sehingga cangkulannya melenceng, dan ia mesti mengulanginya. Dan mungkin akan begitu lagi. Dan lagi.

Dan kesulitan itu hanya untuk satu tempat saja, sementara pematang itu bermeter-meter panjangnya, dengan tiap jengkal pematang mungkin masalahnya bisa berbeda-beda. Namun bisa dipastikan, semakin panjang pematang yang telah dikerjakannya, semakin si petani pemula tahu apa saja macam persoalan-persoalan dalam membuat pematang dan untuk itu ia akan belajar bagaimana cara mengatasinya. Setelah satu petak selesai, dan ia melewatinya dengan baik, maka ketika ia mengerjakan pematang di petak yang lain, ia kini adalah petani pemula yang lebih baik.

Dan begitu juga seorang penulis pemula.

***

Tapi ada sedikit masalah—sedikit besar, mungkin lebih tepatnya. Membuat pematang hanya salah satu masalah saja, dan itu mungkin kecil, di antara banyak masalah lain seorang petani, baik itu pemula maupun yang sudah puluhan tahun. Masalah-masalah itu ada di setiap sudut petak sawahnya, di setiap tahapan menanamnya, dan bahkan tidak hanya di tanah yang digarapnya saja. Masalah itu ada di musim. Ada juga di rantai industri (entah di sistem distibusi pupuk atau cerapan pasar hasil pertanian).

Begitu juga yang akan dihadapi penulis, baik pemula maupun sudah legenda. Seorang penulis opini atau penulis laporan akademik akan mendapati bahwa setelah ia lolos dari jerat kalimat pertama, ia mesti ditantang untuk menaklukkan persoalan kohenrensi antarkalimat, membangun premis-premis yang logis dan kokoh, dan simpulan-simpulan yang tepat dari rumusan masalah yang mesti diselesaikannya. Seorang wartawan, misalnya, setelah mampu membuat lead yang hebat, ia harus menghadapi sulitnya mentransformasikan hasil wawancara yang bagus dengan narasumber menjadi tulisan dengan narasi yang runtut dan enak dibaca, atau setidaknya menjaganya tetap menjadi tulisan berita dan bukan sebuah surat pembaca.

Dan mungkin para penulis pemula belum cukup tahu bahwa masalah yang lebih besar para penulis fiksi, misalnya, bukanlah bagaimana membuat kalimat pertama, tapi bagaimana membuat kalimat terakhir.

Makanya, menurut saya, sebagian besar masalah dalam menulis tidak bisa dicari solusinya pada satu-dua jawaban pendek dan (seakan-akan) ampuh dari seorang pembicara dalam kelas menulis, apalagi dalam sebuah jumpa fan pembaca dan penulis. Ia mungkin berguna sebagai pembanding saja. Sebab, sebagian besar tips-tips menulis dari penulis lain, jika bukan hasil melebih-lebihkan atau menggampang-gampangkan, setidaknya merupakan hasil refleksi dari pengalaman menulis orang lain yang mungkin sama sekali berbeda dengan yang akan dialami si penulis yang bertanya. Maka, pada akhirnya, sebagian, atau sebagian besar malah, masalah menulis mesti dialami dan setelah itu dilalui. Satu demi satu. Sendiri.  

***

Menulis itu hal mulia, tapi boleh jadi tak lebih mulia dari kebanyakan hal yang dilakukan manusia lainnya. Makanya, saya sepakat saja dengan semboyan yang mengatakan bahwa “semua orang bisa menulis”. Tapi, pada saat yang sama, saya pikir tak perlulah semua orang mesti menulis. Toh menulis bukan satu-satunya hal mulia yang bisa dilakukan manusia. Maka, barang siapa yang misalnya sangat ingin jadi penulis namun setelah mencoba berkali-kali membuat kalimat pertama dan gagal, bikin lagi dan gagal lagi, bikin lagi, gagal lagi, kenapa tidak mencoba hal lain? Jadi dokter, misalnya. Jadi psikolog juga tak apa.

Sebagaimana bertani, tak perlu semua orang jadi petani. Yang tak mampu bikin pematang, setelah berkali-kali mencoba, mending letakkan cangkul. Coba ambil joran, pergi ke danau, dan memancing. Siapa tahu, Anda mungkin lebih cocok kerja di air.

Meski demikian, sebagai anak petani yang pernah belajar memegang cangkul dan membuat pematang, dan merasa tidak mampu, harus dengan bangga saya katakan bahwa sejauh ini menulis memang pekerjaan yang mengasyikkan. Setidaknya, dibanding bertani yang tak mampu saya lakukan. Setidaknya, dibanding menata pematang dan senewen, saya merasa jauh lebih nyaman mengolah kalimat, memadatkan ide, lalu menggarap cerita.

Jadi, apakah ada yang masih tertarik menulis? Kalau tidak, tak apa-apa. Mari memancing saja.

Mahfud Ikhwan

Mahfud Ikhwan

Lahir di Lamongan, 7 Mei 1980. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada pada 2003. Menulis sejak kuliah, cerpen-cerpennya terbit di Annida, Minggu Pagi, Jawa Pos, dan di beberapa media komunitas di Jogja. Pernah menjadi karyawan penerbit buku pelajaran selama lima tahun. Tahun 2009 menerbitkan novel pertamanya, Ulid. Novel keduanya, Lari Gung! Lari! (2011) tidak banyak dikenal. Namun, novel berikutnya Kambing dan Hujan (2015) memenangkan Sayembara Novel DKJ tahun 2014 dan Karya Terbaik Kategori Novel dari Badan Bahasa RI. Lalu novel paling tipis yang ditulisnya, Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu (2017) memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa kategori Prosa. Cerpen-cerpen yang ditulisnya diterbitkan dalam buku Belajar Mencintai Kambing (2016). Selain menulis fiksi, ia juga menerbitkan buku kumpulan esai film, Aku dan Film India Melawan Dunia (dua jilid, 2017), dan dua kumpulan esai sepakbola, yaitu Dari Kekalahan ke Kematian (2018) dan Sepakbola Tak Akan Pulang (2019).

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait