Jim [Roberto Bolaño]

Posted: 24 April 2018 by Andreas Nova

Dulu aku punya seorang teman bernama Jim, dan dia adalah orang Amerika Utara yang paling menyedihkan yang pernah aku jumpai. Aku telah melihat banyak pria putus asa. Tapi tak ada yang semenyedihkan Jim. Suatu ketika dia pergi ke Peru–seharusnya lebih dari enam bulan, tapi tidak lama kemudian saya melihatnya lagi. Anak-anak jalanan di Meksiko pernah bertanya kepadanya, Jim, puisi itu apa? Mendengar mereka, Jim menatap awan dan kemudian dia mulai memuntahkan jawabannya. Kosakata, kefasihan, pencarian kebenaran. Pencerahan. Rasanya seperti kamu melihat penampakan Bunda Maria. Dia pernah dibegal beberapa kali di Amerika Tengah, itu mengejutkan, karena dia adalah seorang mantan marinir dan pernah bertempur di Vietnam. Tidak ada lagi perang, begitu kata Jim. Aku seorang penyair sekarang, mencari hal-hal luar biasa, mencoba mengungkapkannya dalam kata-kata biasa yang umum digunakan. Jadi menurutmu ada kata-kata biasa yang umum digunakan? Aku pikir ada, begitu kata Jim. Istrinya adalah seorang penyair Chicana1)Perempuan keturunan Meksiko atau blasteran Meksiko-Amerika Serikat; Sering sekali dia mengancam akan meninggalkan Jim. Dia menunjukkan fotonya padaku. Dia tidak terlalu cantik. Wajahnya menunjukkan penderitaan, dan di dalam penderitaan itu, ada kekecewaan. Aku membayangkan istrinya berada di sebuah apartemen di San Francisco atau sebuah rumah di Los Angeles, dengan jendela ditutup dan tirai terbuka, duduk di meja, makan seiris roti dan semangkuk sup hijau. Jim menyukai wanita berambut gelap, perempuan yang menyimpan sejarah rahasia, tanpa menjelaskannya lebih lanjut. Sedangkan aku sebaliknya, aku menyukai perempuan berambut pirang. Suatu ketika aku melihatnya menyaksikan tragafuegos2)Pemakan api di sebuah jalan di Mexico City. Aku melihatnya dari belakang, dan tidak menyapanya, tapi aku yakin kalau itu Jim. Rambut kusutnya, kemeja putih kotor, seolah-olah masih terbebani ranselnya. Entah bagaimana lehernya, lehernya merah, membangkitkan bayangan tentang hukuman gantung tanpa peradilan di negara ini—sebuah lanskap monokrom, tanpa papan reklame atau neonbox pom bensin—negara yang ada namun terasa tiada: satu hamparan tanah kosong yang kabur. Selanjutnya, kamar berdinding batu bata atau bunker dari tempat kami melarikan diri masih berdiri di sana, menunggu kepulangan kami. Jim memasukkan tangan ke kedua sakunya. Pemakan api melambaikan obornya dan tertawa keras. Wajahnya yang cemberut tak bernyawa: ia bisa berusia tiga puluh lima atau lima belas tahun. Dia bertelanjang dada dan ada bekas luka memanjang dari pusarnya sampai ke tulang dada. Sering sekali dia mengisi mulutnya dengan cairan yang mudah terbakar dan meludahkan api yang panjang laksana ular. Orang-orang di jalan akan memperhatikannya sebentar, mengagumi keahliannya, dan terus melanjutkan perjalanan mereka, kecuali Jim, yang tetap berada di pinggir trotoar, tetap diam, seolah mengharapkan sesuatu yang lebih dari si pemakan api, semburan kesepuluh (yang biasanya sembilan), atau seolah-olah dia melihat wajah seorang teman lama atau seseorang yang pernah dia bunuh. Aku mengamatinya cukup lama. Saat itu aku berusia delapan belas atau sembilan belas tahun dan percaya bahwa aku makhluk abadi. Jika aku menyadari bahwa aku tidak abadi, aku sudah pasti berbalik dan pergi. Setelah beberapa lama aku bosan melihat punggung Jim dan tatapan si pemakan api. Jadi aku mendekat dan memanggil namanya. Jim seperti tidak mendengarku. Saat dia berbalik aku melihat wajahnya berkeringat. Dia tampak demam, dan butuh beberapa saat untuk mengenaliku; Dia menyapaku dengan anggukan dan kemudian kembali melihat si pemakan api. Aku berdiri di sampingnya, melihat dia sedang menangis. Mungkin dia demam. Aku juga menemukan sesuatu yang mengejutkanku—lebih terkejut daripada saat menulis ini: Si pemakan api melakukan pertunjukan khusus untuk Jim, seolah semua orang yang lewat di tikungan jalan di Mexico City sama sekali tidak ada. Terkadang nyala api masuk ke tempat kami berdiri. Tunggu apa lagi, kataku, kau ingin terpanggang di jalan? Itu adalah sebuah kata-kata yang bodoh, aku mengatakannya tanpa berpikir, tapi kemudian aku terjatuh: itulah yang Jim tunggu. Tahun itu, sepertinya aku ingat, ada sebuah lagu yang terus mereka mainkan di beberapa tempat yang lebih funky, Chingado y hechizado3)Kacau dan terkesima. Itu adalah Jim: chingado dan hechizado. Mantra Meksiko telah mengikatnya dan sekarang dia melihat iblisnya tepat di wajah. Ayo keluar dari sini, kataku. Aku bertanya juga kepadanya apakah dia teler, atau merasa sakit. Dia menggelengkan kepalanya. Si pemakan api menatap kami. Kemudian, dengan pipinya terengah-engah seperti Aeolus, dewa angin, dia mulai mendekati kami. Dalam sepersekian detik aku menyadari bahwa itu bukan embusan angin yang akan kita dapatkan. Ayo pergi, kataku, dan menarik Jim menjauh dari tepi trotoar yang berbahaya. Kami pergi dari jalan dan menuju Reforma4) Paseo de la Reforma; jalan utama yang besar dan sangat lebar yang membelah diagonal di jantung Mexico City. Nama Reforma diambil dari sebuah peristiwa bersejarah saat Meksiko melakukan reformasi yang menggulingkan kekaisaran Maximilian., dan setelah beberapa lama kami berpisah. Jim tidak mengucapkan sepatah kata pun sepanjang waktu itu. Aku tidak pernah melihatnya lagi.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

References   [ + ]

1. Perempuan keturunan Meksiko atau blasteran Meksiko-Amerika Serikat
2. Pemakan api
3. Kacau dan terkesima
4. Paseo de la Reforma; jalan utama yang besar dan sangat lebar yang membelah diagonal di jantung Mexico City. Nama Reforma diambil dari sebuah peristiwa bersejarah saat Meksiko melakukan reformasi yang menggulingkan kekaisaran Maximilian.