Tengkorak: Fiksi Ilmiah dengan Rasa Lokal

Posted: 24 November 2018 by Anatasia Anjani

Selama ini menonton film fiksi ilmiah atau lebih akrab disebut science fiction (sci-fi) sudah pasti berkiblat pada Hollywood. Rasanya agak aneh jika menonton film fiksi ilmiah yang dibuat sendiri oleh sineas dalam negeri. Tengkorak menjadi kebanggaan perfilman Indonesia yang minim diperbincangkan dan disorot oleh masyarakat. Pasalnya, film ini merupakan film Indonesia yang menggunakan genre fiksi ilmiah. Indonesia sudah layaknya turut berbangga hati, akhirnya bioskop tidak sesak dengan film-film roman yang menjual wisata luar negeri dan horor yang menjual aktor dan aktris berparas menawan.

Usaha sang sutradara, Yusron Fuadi patut diberi apresiasi lebih. Dana yang pas-pasan, cenderung terbatas tidak mengurungkan niatnya untuk menggarap film ini dengan serius. Butuh selama kurang lebih empat tahun untuk memproduksi film berdurasi hampir 2 jam. Pasalnya film ini juga merekrut kurang lebih sebanyak 127 kru dalam proses pembuatannya, hal tersebut dipaparkan oleh sang sutradara saat nonton bersama di Araya XXI, Kota Malang pada Sabtu (20/10/2018).

Seusai pemutaran, Yusron menghaturkan ucapan terimakasih disertai raut wajah yang memancarkan kebahagian. Dirinya pun tak menyangka jika filmnya akan diputarkan di layar bioskop seperti ini. Menurut Yusron, hal ini diluar ekspektasinya. Ia juga terlihat gembira melihat kursi penonton penuh, tak ada satupun yang kosong.

Menonton film dengan durasi tersebut, jujur agaknya membuat kepala saya agak pening. Film ini menyuguhkan cerita yang tidak umum dalam film Indonesia yang diputar di bioskop. Sederhananya film ini memiliki premis yaitu usai bencana hebat yang menimpa Jogja pada 2006, diduga ditemukan fosil manusia sepanjang 1850 meter di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tentu penemuan benda aneh, selalu membuat kita bertanya-tanya. Apakah benda tersebut? Apa benar-benar ada? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang muncul di kepala. Semua elemen masyarakat turut membincangkan peristiwa ini dari pemerintah, peneliti hingga tukang bakso sekalipun. Pun isu ini juga disorot luas baik lokal hingga internasional.

Kemampuan Yusron untuk melibatkan elemen secara luas memang luar biasa. Potongan-potongan adegan demi adegan dengan pintar disusun menjadi satu kesatuan cerita yang runut. Walaupun ada beberapa adegan yang menuntut kita untuk berpikir keras dari biasanya. Adegan demi adegan terasa dekat seperti adegan berpendapat di warung kopi serta dokumentasi pemberitaan di pelbagai stasiun televisi.

Tak hanya menjadi sutradara, Yusron juga ikut berperan dalam film sebagai Yos. Yos adalah pembunuh bayaran dan bergabung dengan tim Kamboja, tim yang diburu oleh berbagai pihak. Kisah dalam film ini menurut saya dimulai saat Yos mendapatkan pesan singkat dari obrolan grup di WhatsApp. Pesan tersebut berisikan bahwa ada korban yang harus dibunuh yaitu Ani (Eka Nusa Pertiwi). Ani adalah mahasiswa semester 7 yang magang di Badan Penelitian Bukit Tengkorak (BPBT) dengan dalih agar mandiri membiayai hidup hingga lulus kuliah.

Ani dekat dengan profesor luar yang meneliti di BPPT. Hal tersebut yang membuat dirinya menjadi incaran. Yusron mengaku dirinya terinspirasi pelbagai film sci-fi Hollywood dalam membuat cerita. Sesuatu yang asing dan kontroversial pasti akan dikejar oleh siapapun dan memiliki banyak rahasia. Agaknya nalar saya masih agak sulit memahami adegan disini dikarenakan setelah menerima pesan itu kemudian Yos tiba-tiba berlari dengan amat cepat dari kosannya yang kumuh dan padat menuju kos kosan Ani. Sesaat setelah Ani membuka pintu yang diketuk oleh seorang wanita, Yos dengan tangkas dan cepat plus sadis menghabisi wanita tersebut dengan pisau kecil. Melihat peristiwa itu Ani hanya bisa termenung dipojokkan kamar dengan gelagat takut dan penuh was-wasan. Ia tidak berkutik sekali pun.

Setelah membunuh wanita tersebut, Yos meminta Ani dengan paksa untuk ikut kabur bersama dirinya. Tanpa berpikir panjang Ani mengemasi barangnya dalam tas dan mengikuti perintah Yos agar selamat. Dengan meminjam motor dari kenalan Yos, mereka kabur ke daerah selatan yang masih sepi dan asri jauh dari kebisingan kota. Sepanjang perjalanan Ani yang masih syok tentu diam dan menangis. Berbeda dengan Yos yang menganggap tidak terjadi apa-apa setelah kejadian itu.

Bagian perjalanan antara Yos dengan Ani agaknya bisa membuat kita sedikit salah fokus. Pasalnya saat perjalanan mereka sangat dingin dan kaku bak film-film romantis. Jangan terbius dulu wahai pembaca budiman, lagi-lagi Yos hadir mencairkan suasana dengan dialek Jawanya yang sangat kental. Juga celetukan yang satir dan jorok yang sangat njawani banget.

Adegan perbincangan antara Ani dan Yos saat di rumah kolega yaitu Letnan Jaka juga menjadi bagian favorit saya dalam film. Konflik dalam film terlihat, ketika mereka kedatangan tamu yang juga merupakan anggota Tim Kamboja. Terdapat beberapa perdebatan dalam adegan tersebut yang pada akhirnya dengan terbunuhnya Yos. Saya cukup sedih dengan kematian Yos dalam adegan ini.

Ani meratapi kematian Yos, tapi tetap ia bertekad untuk memecahkan teka teki yang telah diberikan profesor. Ditemani Letnan Jaka yang merupakan kolega Yos, mereka melanjutkan perjalanan untuk memecahkan teka teki tersebut. Dimulai dari kerumah penulis dan pengamat hingga bertemu dengan petinggi negara. Menuju akhir dari film ini cukup sentimentil, Ani pulang dengan haru, disambut sang bapak yang sedang memasang lampu. Sedangkan akhir dari film ini, tentu saya tidak ingin cerita karena akan menjadi spoiler. Tidak etis bila saya susah susah berpikir untuk menonton film ini kemudian anda tahu endingnya.

Selain dengan usaha niat sang sutradara, hal lain yang patut diapresiasi adalah efek visual. Walaupun masih kasar dan belum sempurna. Tetap usaha tim sangat keren, beberapa CGI yang masih kurang mumpuni tidak mengurangi kekaguman saya terhadap film ini. Hemat saya film ini sudah keren dengan mengajak kerjasama dengan Vokasi UGM yang menghasil sumbangsih dalam efek visual, animasi 3D dan miniatur gedung BPBT. Juga dalam stock shoot-nya kreatif dengan memasukkan suasana riuhnya perkotaan maupun panorama kota Yogyakarta yang apik.

Selain berhubungan dengan efek visual, yang perlu disoroti adalah dalam hal suara. Terdapat beberapa adegan dengan efek suara yang terlalu lama, cenderung membuat penonton bosan. Penempatan back sound suara yang kurang pas dan terlalu lama. Penonton tidak diberikan istirahat untuk telinga dikarenakan pengiring suara terus sambung menyambung.

Dari segi cerita, walaupun cerita ini runut, tetapi untuk bridging yaitu jembatan antar gagasan masih sumbang. Sehingga butuh konsentrasi khusus untuk memahami film ini. Penonton seakan dibuat “wajib” memahami tiap adegan. Untuk pemainnya ini yang paling patut diapresiasi, aktingnya yang natural yang bukan pemain bintang umumnya tak mengurangi kualitas film ini. Kekuatan dialog adalah ciri khas film ini. Sayang jika dilewatkan begitu saja.

Bahasa yang 70% menggunakan bahasa Jawa ngoko lugu, terasa begitu dekat. Apalagi saat dialog antar tokoh yang misuh (berbicara kotor) menggunakan Bahasa Jawa menjadi pereda setelah konsentrasi penuh. Apalagi Yos walaupun bekerja penuh dosa dengan membunuh orang. Ia tetap kental dengan kearifan lokal produk Jawa. Hobi pakai batik, memancing ditengah-tengah menunggu tugas serta ngopi khas dari Mandailing hingga Kintamani sambil nyelatu (komentar) dengan Bahasa Jawa.

Ringkasnya Tengkorak adalah sajian film Indonesia di tengah sesaknya film horor dan film romantis dengan artis kenamaan. Mengusung genre “baru” untuk film Indonesia yaitu fiksi ilmiah, film ini sangat layak untuk ditonton, menawarkan “realita” kehidupan sesungguhnya. Tidak heran film ini sudah menyabet 3 penghargaan yaitu Jogja Netpac Asian Film Festival 2017, Cinequest Film VR Festival 2018 dan Balinale Film Festival 2018.  

Pendapat Anda: