Bulu Hidung

Posted: 3 April 2018 by Agus Geisha

Persoalan terbesar manusia adalah perut, isi kancut, lubang kentut, mulut, lutut, dan sikut. Lain dari itu biasanya remeh-temeh belaka. Dan perasaan hanya istilah untuk menerjemahkan persoalan-persoalan tadi. Biasanya seperti itu, kecuali bagi Mali hari ini. Baginya, sejak malam ada masalah lain, yang begitu mengganggu, hingga pagi dia terbangun dalam keadaan marah yang terpendam. Perihal selembar bulu hidungnya yang menimbulkan rasa gatal tak terselesaikan. Semalam sudah dia cari gunting untuk memotongnya, tak dia temukan. Sudah juga dia lakukan banyak hal untuk paling tidak meredakan rasa gatal yang ditimbulkan oleh rambut lembut yang tumbuh di dalam lubang hidungnya itu. Biasanya tidak.

Semalaman, dia mencari gunting di atas kulkas, tempat biasa barang-barang bergeletakan begitu saja. Tak ia temukan. Juga dia mencarinya ke dapur, tak juga ia temukan. Anak dan bininya sudah tidur. Dia mencoba mengabaikan rasa gatal di hidungnya. Tak bisa dan tak mungkin. Hampir gila dia dibuatnya. Awalnya dia hendak membakar bulu hidung itu, tapi bayangan kengerian akan rasa panas yang bisa saja timbul menggantikan rasa gatal membuatnya mengurungkan niat. Dia hanya memendam kesal semalaman hingga tidur dalam keadaan memendam dendam.

Oleh sebabnya, pagi ini Mali memulai hari dengan gerutu di dalam hati. Tak pernah ia memulai pagi bukan dengan motivasi atau berita pagi di layar televisi, kecuali hari ini. Persoalan bulu hidung belum juga usai.

“Di mana gunting?” tanyanya.

“Biasa ada di atas kulkas.” jawab Marni, istrinya.

“Tak ada, sudah kucari sejak semalam.”

“Untuk apa?”

“Ada persoalan.”

“Persoalan apa?”

“Bulu hidung.”

“Persoalan itu bukan bulu hidung. Persoalan itu tagihan rentenir dan bayar kontrakan.”

“Bising!”

Sarapannya dia tinggalkan separuh, cangkir kopi masih setengah terisi. Mali berangkat menyusuri debu jalanan pagi hari dengan sepeda motor. Bunyi klakson, bau knalpot.

“Ada gunting?” tanyanya pada Office Boy begitu dia sampai di ruang kerjanya.

“Tidak ada, Pak”

“Masa kantor sebesar ini tak punya gunting. Aneh!”

“Ya gunting ada. Tapi saya tak punya, Pak.”

“Carikan. Penting.”

“Untuk apa, Pak?”

“Persoalan.”

“Persoalan?”

“Bulu hidung.”

“Bulu hidung?”

“Carikan! Bising!”

Dia menaruh tas punggungnya. Berisi berkas dan hal-hal yang hari ini, atau paling tidak pagi ini begitu tak penting baginya. Apalagi perihal Wati, rekan kerjanya yang selalu berbau minyak wangi yang tak sedap. Mungkin minyak wangi murahan, pikirnya. Tapi itu tentu bukan masalah besar, sebab lain hari, selain hari ini, persoalan adalah target penjualan yang tinggi, atasan yang senang menekan, pelanggan yang banyak permintaan, agenda kegiatan yang begitu padat dan angka upah bulanan yang jarang bertambah.

Hari ini persoalan begitu lain.

“Tidak ada, Pak. Ada cutter.”

“Bulu hidung mau kau cutter? Kau bilang tadi ada.”

“Maaf, Pak.”

Mungkin di kantin ada, tak mungkin di dunia ini tak ada gunting sama sekali. Mustahil.

“Ada gunting, Bu?” tanyanya pada penjaga kantin.

“Biasanya tanya kopi. Mau dibikinkan kopi, Pak Mali?”

“Pagi ini sedang butuh gunting, Bu. Ada?”

Enggak ada, Pak Mali. Untuk apa?”

“Bulu hidung!”

Hari itu mungkin terasa begitu terasa tak biasa. Tak ada gunting di setiap tempat yang didatanginya. Mungkin ini entah konspirasi atau suatu hal yang lain. Sekedar gunting, dunia tak memilikinya. Mali sempat berpikir, apa sebenarnya bulu hidungnya itu. Benda yang begitu mengganggu. Tak mungkin seharian dia tak kerja dan hanya mengurusi selembar bulu hidung. Ada banyak hal yang harus dikerjakan daripada terus mengurusi bulu hidung. Pimpinannya berharap dia bekerja sesuai dengan kebutuhan perusahaan, meraih target penjualan dengan tenggat waktu yang sudah ditentukan. Tak ada pimpinan perusahaan yang peduli dengan selembar bulu hidung karyawannya. Istrinya, berharap dia selalu sebagai suami di awal bulan. Memiliki uang untuk membayar tagihan rentenir dan kontrakan. Tak ada pentingnya bulu hidung bagi satu ikatan pernikahan. Tetangga-tetangganya, Mali tak pernah mengenal tetangganya. Rekan kerjanya, siapa pula mereka. Bulu hidung bukan persoalan bagi siapa pun, kecuali baginya.

Sampai siang, tak ada gunting atau pinset. Tak ada kantor yang menyediakan pinset bagi karyawan. Untuk apa ada pinset di kantor sebesar ini. Benda aneh. Tapi gunting, kenapa bisa sampai benda sepenting gunting tak ada? Sedang dalam pengiriman katanya. Baru dibeli. Sudah rusak. Hari ini selalu ada alasan baginya untuk tidak menemukan gunting.

“Ada bulu hidung yang menggangguku sejak semalam. Biasanya kau apakan bulu hidungmu?” tanya Mali pada rekan kerjanya.

“Gunting. Rasa gatalnya akan hilang. Gatal kan?”

“Cari gunting, Mali. Potong saja. Atau kau bakar pakai korek.”

“Tak ada gunting.”

“Di mana? Kantor sebesar ini tak ada gunting? Di rumahmu tak ada gunting?”

“Beli gunting, Mali.”

“Murah itu.”

“Aku beli gunting, kupakai potong selembar bulu hidung, lalu tak kupakai lagi. Mubazir.”

“Bisa kau pakai untuk hal lain, atau kau bawa ke rumahmu. Di rumahmu tak ada gunting, kan?”

“Ada gunting di rumahku, tapi entah di mana.”

“Artinya tak ada, Mali.”

“Ada, hanya saja entah di mana. Mungkin di bawah bantal atau di balik pintu lemari. Atau bisa di mana saja. Tapi di rumahku ada gunting.”

“Tapi gunting yang ada di rumahmu itu tidak menyelesaikan persoalan bulu hidungmu. Sebab gunting di rumahmu entah di mana. Artinya tak ada gunting.”

“Di rumahku ada gunting! Bising!”

Hari itu, yang menemani waktu kerjanya adalah kekesalan dan dongkol. Sejak pagi hingga petang menjelang waktu pulang. Bulu hidung. Dia menimbang, apa perlu dia membeli gunting. Bagaimana bila gunting sudah dibelinya, lalu dibawa ke rumah, gunting yang ada di rumah sudah ada dan diam di atas kulkas seperti biasanya. Apa gunting ada di rumah? Jadi sebetulnya di rumah ada gunting apa tidak. Gunting. Beberapa saat sebelum dia membenahi kembali meja kerjanya, dia masih menimbang perihal gunting. Harganya kan tak seberapa dan masih bisa dipakai setelah persoalan bulu hidung selesai, pikirnya. Tapi untuk apa ada dua gunting di rumah. Pikirannya saling berdebat. Satu pikiran dengan pikiran yang lain.

“Ada gunting?”

“Sedang habis, Pak. Coba di swalayan depan sana. Mungkin ada.”

“Untuk gunting saja harus ke swalayan? Alamak!”

Hanya gunting yang dibawanya ke meja kasir swalayan. Tak ada yang lain. Tak ada susu atau gula atau kopi atau biskuit. Dia hanya butuh gunting dan sebenarnya hanya untuk satu kali pemakaian. Tapi swalayan tak mungkin mengizinkan siapa pun memakai barang yang dijualnya dipakai satu kali lalu dipajang lagi. Swalayan bukan tempat peminjaman barang. Terlebih jika yang dipinjam adalah gunting yang akan dipakai untuk memotong selembar bulu hidung. Setelahnya tak akan ada yang menginginkan gunting tersebut. Untuk dipakai apalagi dibeli. Tak pernah ada dalam pikiran siapa pun.

Akhirnya dia bisa pulang dengan perasaan yang sedikit agak lega sebab gunting sudah dia miliki. Dia sudah tak peduli lagi seandainya gunting di rumah akan menjadi dua atau hanya akan ada satu. Itu bukan persoalan.

“Ini gunting yang kau cari tadi pagi.” Sambut istrinya dari teras rumah.

“Bising! Bikinkan aku kopi.”

Dia mengambil gunting yang masih terbungkus rapi dari tas punggungnya. Membuka plastik pembungkus dengan segera. Ada perasaan yang tiba-tiba hadir. Sesuatu yang mungkin belum pernah dia rasakan sebelumnya, perasaan yang tak bisa disampaikan oleh sekadar kata-kata saja. Dia merasa akan kehilangan sesuatu yang dalam sehari ini sudah begitu dekat dengan dirinya, sesuatu yang sebetulnya memberi masalah baru baginya. Dia berpikir, barangkali ada sesuatu yang bisa direnungkannya dari sekedar bulu hidung. Atau gunting. Perasaan yang lahir dari bulu hidung, yang sejak kemarin malam menemaninya. Mengganggu dan membuatnya kesal. Selembar bulu hidung saja.

“Maafkan aku.” katanya sebelum benar-benar memotong bulu hidung itu. Persoalan itu.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: