Menjadi Si Miskin yang Dilupakan di Paris dan London

Posted: 14 April 2018 by Floriberta Novia Dinda Shafira

Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London Book Cover Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London
George Orwell
Penerbit Oak
1933, versi Bahasa Indonesia terbit tahun 2015
272
Rp79.000
Down and Out in Paris and London

Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London – Meskipun dibawa ke tangga kemashyuran oleh 1984 dan Animal Farm, karya yang mengantar Eric Blair, dengan nama pena George Orwell, masuk ke kancah sastra Inggris, dan pada akhirnya, dunia, adalah Down and Out in Paris and London (judul asli buku ini).

Isi buku ini terinspirasi oleh, kalau tidak diambil mentah-mentah dari, pengalaman Orwell hidup miskin di Paris dan, kemudian, di London. Setelah melepas kariernya sebagai polisi imperial Inggris di Burma—tanpa persetujuan penuh dari keluarganya, tentu—Orwell, seperti banyak penulis dan calon penulis Anglophone sebelum Great Depression, tinggal di Paris dan mengasah bakat kepenulisannya di sana.

Sewaktu di Paris inilah, karena sebagian besar uangnya dicuri, Orwell mulai terpaksa untuk hidup miskin. Kemudian, karena merasa tak kuat lagi bekerja sebagai tukang cuci piring di Paris, ia pindah ke London, dan di kota itu ceritanya tentang kemiskinan berlanjut, dengan kawan-kawan baru, dengan kesengsaraan-kesengsaraan yang baru pula.

 

Kau berkenalan dengan rasa bosan yang tak dapat dipisahkan dari kemiskinan, ketika kau menjadi pengangguran dan karena kurang makan, tak mampu memaksa diri untuk merasa tertarik pada apa pun. Selama setengah hari, kau hanya berbaring dan merasa mirip dengan jeune squelette (kerangka muda) dalam syair Baudelaire. (hlm. 24)

 

Membaca buku ini membuat saya seolah merasakan masa-masa perang. Perang memang sudah lama berlalu dan siapapun pasti sepakat bahwa perang adalah masa tersuram dalam sejarah umat manusia. Banyak orang-orang menjadi miskin tiba-tiba. Entah karena harta mereka dijarah tentara atau terpaksa membayar pajak yang sangat tinggi demi biaya perang. Makanan adalah suatu kemewahan. Harganya saja mendadak selangit, sampai banyak orang rela menjual harta benda mereka demi memenuhi hasrat lapar. Lalu, bagaimana kalau harta benda sudah tidak ada? Mau bagaimana lagi, mengemis pun menjadi jalan satu-satunya.

Buku ini sebetulnya menceritakan tentang perjalanan Orwell setelah ia mengundurkan diri dari kepolisian imperial Inggris yang ditugaskan di Burma (Myanmar). Orwell dengan nama samarannya, Eric Blair, memilih untuk menyambung hidup dengan menulis di Paris, Prancis. Keputusannya ini sempat ditentang oleh keluarganya. Bagaimana mungkin seorang melepas semua kemapanannya lalu memilih hidup secara tidak pasti? Barangkali Eric sudah bosan dengan kemapanan.

Rupanya keputusan ini menjadi awal nasib buruk yang menimpanya. Ketika di Paris, uangnya sempat dicuri, sehingga ia terpaksa menjalani hidup dengan serba pas-pasan. Ia tinggal di hotel yang sudah reyot dan bau. Dan ia rela bekerja apa saja, termasuk menjadi tukang cuci piring yang jam kerjanya sangat tidak manusiawi.

Hal paling menarik dari novel ini adalah bagaimana Eric bertemu dengan kawan seperjalannya, Boris, seorang Rusia yang kerap dibuai oleh angan-angan. Mereka berdua luntang-luntung mencari kerja meskipun yang didapat akhirnya hanyalah angin dan rasa lelah. Sampai pada suatu hari, mereka diiming-imingi pekerjaan ‘mapan’ oleh sebuah restoran yang kabarnya akan buka beberapa bulan lagi. Sembari menunggu, mereka memutuskan bekerja sebagai plongeur di sebuah hotel mewah di Paris.

Bayangkan saja, dulu dirimu adalah seorang tentara yang disegani, punya rumah mewah, makanan selalu lezat, lalu tiba-tiba saja hidupmu menjadi seorang plongeur, tukang cuci piring yang memiliki ‘kasta’ paling rendah di restoran maupun hotel. Dari kisah inilah, saya jadi paham mengapa Orwell memilih meninggalkan segala kemapanannya. Mungkin saja ia sengaja ingin merasakan kehidupan ‘orang kasta rendah’. Mungkin dengan menjalani kehidupan yang berbanding terbalik dengan kemapanannya, ia bisa lebih tajam mengkritik penguasa seperti layaknya Karl Marx. Atau mungkin saja ia juga ingin menceritakan ketidakpuasannya terhadap kebijakan pemerintah dengan menjadi seorang miskin yang dilupakan. Entah apapun alasannya, semua cerita disajikan Orwell dengan ciamik dan dramatisir.

Cerita tentu saja belum selesai. Hidupnya di Paris tak kunjung membaik, sementara ia juga sudah bosan hidup dalam angan-angan, Eric pun memutuskan untuk pindah ke London dengan harapan mendapat pekerjaan yang lebih layak.

Tapi kadang, kenyataan tak sesuai harapan kan? Alih-alih mendapat pekerjaan yang lebih layak, Eric malah terjebak menjadi pengemis. Masalahnya, menjadi pengemis di London ternyata luar biasa menyusahkan. Kalau kau ketahuan sedang duduk di trotoar saja, kau akan dianggap mengganggu fasilitas umum dan bisa dipastikan akan berurusan dengan aparat. Berbeda sekali dengan pengemis-pengemis di Paris yang meskipun dianggap sebagai kerikil, tapi mereka tidak pernah dianggap sebagai ‘pengganggu fasilitas umum’.

Menjadi seorang pengemis membuatnya harus rela berpindah-pindah tempat untuk mencari penginapan gratis bagi tunawisma (spike). Sayangnya, rumah inap gratis ini sangat jauh dari kata layak. Repotnya lagi, setiap tunawisma hanya boleh menginap sehari di setiap rumah. Saya tak habis pikir bagaimana seandainya jika sedang musim dingin. Betapa kejamnya hidup, ketika para pencari spike masih harus mencari rumah untuk menghangatkan diri. 

Novel ini sukses membuat saya terheran-heran dan tidak habis pikir. Bagaimana mungkin dia bisa menceritakan kemiskinan dengan sangat apik padahal ia lahir dari keluarga yang cukup kaya? Seandainya mau, kan bisa saja to dia menghubungi keluarganya untuk minta pertolongan. Terlebih saat ia sedang miskin-miskinnya sampai tak bisa membeli makan. Tapi hebatnya, ia tidak melakukannya. Eric Blair a.k.a George Orwell memilih untuk bertahan hidup dengan caranya sendiri.

Ada banyak ironi yang diceritakan dalam novel ini. Misalnya, ketika Eric dan Boris kembali ke hotel kumuh mereka setelah seharian menunggu panggilan dari patron hotel. Usai melahap sepotong roti, dengan lincahnya, Boris menulis nama orang-orang yang bisa membantu mereka mendapatkan pekerjaan.

“Besok, kita akan temukan sesuatu, mon ami,  aku merasakan itu. Nasib selalu berubah. Di samping itu, kita berdua punya otak—manusia berotak tak mungkin merasa kelaparan.” (hlm.40)

 

Lain waktu, mereka harus bergelut dengan kenyataan. Uang yang tersisa tinggal 60 sen dan hanya cukup untuk dibelikan setengah pon roti dan sebutir bawang putih yang digosokkan ke roti itu.

Kenapa roti harus digosok dengan bawang putih? Karena dengan begitu, rasa roti dan bawang putih akan tertinggal di mulut, dan untuk beberapa waktu, itu akan memberi kami ilusi bahwa kami baru saja makan. (hlm. 67)

Satu hal yang cukup mengena dari tulisan Orwell ini adalah bagaimana kemiskinan bisa saja menghapuskan angan-anganmu akan masa depan. Sebab, bagaimana mungkin kau akan bermimpi tentang masa depan padahal perutmu sedang kosong? Jelas, kau lebih memilih untuk membayangkan makanan apa yang sebaiknya kau makan atau berandai-andai melahap semua makanan enak yang pernah kau makan. Betapa ironis ketika membayangkan makanan saja sudah terasa mengeyangkan.

Buku ini juga membuat saya paham bahwa kepuasan hidup tidak melulu soal kemewahan dan kemapanan. Belajar dari pengalaman sebagai plongeur, kepuasan hidup ternyata jauh lebih remeh, yaitu seperti kepuasan para hewan ketika tercukupi makannya.

Selama membaca buku terjemahan, menurut saya, terjemahan dari OAK ini bisa dibilang bagus. Gaya bahasa yang digunakan pun akrab dan tidak bertele-tele, sehingga mampu membuat pembaca ikut masuk ke dalam cerita. Meski penerjemah masih mempertahankan istilah-istilah bahasa Prancis, saya rasa pembaca tidak kesulitan untuk memahaminya karena penerjemah sudah memberikan keterangan dalam catatan kaki. Akhir kata, buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Sebab, kau akan tahu bahwa kepahitan hidupmu tidak ada apa-apanya dan kau akan lebih merasa bersyukur karenanya.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: