“Taman Perangkap Bulan” Merayakan Kelahiran Anak Kedua Nuryana Asmaudi SA

Posted: 15 August 2018 by Cucum Cantini

Sabtu sore di Kedai JBS menjadi momen penting bagi penulis yang dikenal oleh kawan-kawannya sebagai “Penyair yang Berjalan di Jalan Sunyi”, Nuryana Asmaudi SA. Buku kumpulan puisi yang berjudul “Taman Perangkap Bulan” dilaunching di kedai buku milik Indrian Koto dan Mutia Sukma pada Sabtu, 11 Agustus 2018, sehari setelah peringatan kelahiran Umbu Landu Paranggi. Ternyata bukan jadi kali pertama Mas Nur—sapaan akrabnya, menggelar acara peluncuran bukunya di Yogyakarta. Dua tahun sebelumnya, buku puisi “Doa Bulan untuk Punguk” digelar di Taman Budaya Yogyakarta oleh Studio Pertunjukan Sastra.

Setelah sebelumnya Mustofa Hasyim memberikan testimoni terhadap bukunya yang pertama, bahwa Nuryana mengolah peribahasa-peribahasa dengan sudut pandang baru dan mengemaskan ke dalam puisi, sesuai dengan judul bukunya yang pertama. Di kali kedua kelahiran bukunya, Latief S. Nugraha—memberikan testimoni berbeda mengenai bukunya yang kedua, “Taman Perangkap Bulan”.

Latief terpancing pada kecenderungan Nuryana menggunakan diksi ‘bulan’ pada setiap puisi-puisinya—di buku pertama dan yang kedua. Menurut pengakuan Nuryana pada Latief, “Taman Perangkap Bulan” adalah momen dirinya melihat keindahan bulan di sebuah taman di belakang Studio Seni Snerayuza, Bali. Di taman itulah, Nuryana bisa menggenggam keindahan bulan hingga mampu dinarasikan melalui puisi. Dari sekitar 96 puisi yang dibagi menjadi tiga babak itulah, Latief merasakan pergeseran kehidupan Nuryana dari mulai di Jepara hingga ke Bali. Kegelisahan-kegelisahan yang nampak dari seorang Nuryana dibeberkan dengan memikat. Pada pertengahan bab, Nuryana menunjukkan kombinasi apik antara resepsi kisah pewayangan dan sisi religius yang dimilikinya dari pengalaman dan gagasannya ketika masih kuliah di IAIN Walisongo (sekarang UIN Walisongo).

Dalam kurun waktu 1989 – 2017, terdapat tiga tahun ganjil yang puisinya tidak hadir di “Taman Perangkap Bulan”, yakni tahun 1995, 2003, dan 2015. Mengenai hal ini, Raudal Tanjung Banua angkat bicara. Bagi Raudal, dirinya punya andil untuk mengarsipkan serta menyeleksi puisi-puisi yang keseluruhannya berjumlah tiga ratus bahkan lebih. Penting untuk menilai kelayakan sebuah karya untuk di-publish ke pembaca agar porsi dan estetika tidak nampak dipaksakan. Hal ini terkait dengan kekhasan Nuryana yang berkali-kali mengaku bukanlah seorang penyair yang gila produksi karya. Dirinya menulis dengan rasa, menyimpannya dan melupakannya. Itulah sebabnya, Nuryana tidak tertekan untuk produktif, dan tidak terbebani oleh gelar kepenyairannya. Dirinya tidak memiliki hasrat untuk dikenal, terlebih menjadi seorang penyair.

Senada dengan Latief, Nuryana mengakui bahwa peran orang-orang terdekatnya sangat penting di setiap momen puisinya. Tak hanya itu, paska-kelahiran puisi, posisi Raudal sebagai pengarsip menjadi fondasi dalam kehidupan kepenulisan Nuryana. Maka tak heran, ketika dirinya memberikan istilah puisi-puisinya sebagai anak rohani, maka Raudal Tanjung Banua menjadi orangtua baptis yang memelihara dan membesarkan mereka.

Dalam naskah awal “Taman Perangkap Bulan”, terdapat banyak puisi yang diseleksi oleh Raudal. Salah satu puisi yang tidak terpilih untuk dirangkum adalah “Status Saut”. Meski bagi penyeleksi, puisi tersebut belum layak hadir di buku kedua, namun Latief yang sempat membaca di naskah awal merasakan ada hubungan unik antara Nuryana dan Saut Situmorang. Persahabatan yang sulit diubah ke dalam bentuk kata-kata menjadikan puisi tersebut dinilai kurang pas jika disematkan dalam “Taman Perangkap Bulan”. Maka di momen acara yang juga didukung oleh Kalanari Teather Movement tersebut, puisi “Status Saut” dibacakan oleh Andika Ananda di depan Saut sendiri. Peserta yang hadir termasuk dari SPS, Kedung Dharma Romansha, Eka Nusa Pertiwi, Komang Ira, Raudal Tanjung Banua, S. Arimba, Asef Saeful Anwar serta banyak sastrawan Yogyakarta menjadi saksi ketika puisi berbentuk naratif tersebut didengar, bahkan Redaksi Kibul sempat menangkap momen tersebut melalui video. Parodi kehidupan serta relasi persahabatan yang erat antara Nuryana dan Saut membuat peserta merasakan rasa yang menyentuh unik melalui puisi tersebut.

Pada bab akhir buku “Taman Perangkap Bulan”, Latief menangkap momen perpisahan, kekecewaan, serta kegelisahan Nuryana ketika menetap di Bali. Kota-kota yang bergerak modern kehilangan sisi kemanusiaan dan religiusitasnya, kepergian kawan-kawan yang menjadi tulang penyangga hidupnya, serta kesendirian yang dirasa sangat meregang di kerongkongan dan hanya mampu diteriakan dalam kata-kata puitisnya. Seperti dalam “Lelaki dan Sepeda” di halaman 172, nampak jelas bahwa Nuryana memposisikan dirinya sebagai “Ia”. Dalam puisi tersebut, Nuryana tidak terbebani dengan rutinitas dan tuntutan sosial yang kedangkala mengubah manusia menjadi mesin dan kehilangan rasa.

Nuryana menutup buku puisinya dengan “Mengantar Sahabat” (hal. 174). Ada rasa yang hendak diulur oleh kata-kata namun pada akhir cerita, Mas Nur berbagi perasaan ikhlas atas kepergian-kepergian orang-orang dekatnya. Dirinya belajar untuk memaknai hidup, bahwa selalu ada yang datang dan pergi. Memiliki dan kehilangan. Serta, makna kepergian adalah ada untuk merasakan apa artinya sebuah kerinduan.

Karena menulis juga merupakan tanggung jawab duniawi, yang akan menjadi bebannya di akhirat, maka Nuryana Asmaudi SA. merasa harus jujur dengan diri dan tulisan-tulisannya. Dalam buku puisi ini, Nuryana menampilkan dirinya tidak pernah merasa sendiri. Dirinya memiliki anak-anak luar biasa yang dilahirkan dari pengalaman pertemuan dengan para kekasihnya yaitu kehidupan. Dirinya tidak merasa membutuhkan sebuah pengakuan dan tidak pula ingin memotret ‘anak-anaknya’ itu dikomersilkan hanya untuk kepentingannya semata. Baginya, membagi rasa melalui puisi adalah dengan menulis di jalan sunyi, tapi bukan berarti dirinya melangkah sendiri.(*)

  • Catatan acara Diskusi dan Peluncuran Buku “Taman Perangkap Bulan” karya Nuryana Asmaudi SA., Sabtu 11 Agustus 2018 di Kedai JBS Jalan Wijilan Gg. Semangat no. 150, Yogyakarta.
Pendapat Anda: