Srawung Sasanti Sangkala dan Sanggar Pamong UST: The Art Declaration Of Human Right 2017

Posted: 6 December 2017 by Redaksi Kibul

FBS-Karangmalang. SANGKALA FBS UNY bekerja sama dengan Sanggar Pamong UST Yogyakarta akan melangsungkan sebuah acara “Srawung Sasanti” yang bertajuk “The Art Declaration of Human Right 2017. The Theatre for Freedom and Unity” di laboratorium Karawitan FBS UNY, Jalan Karangmalang No. 15, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Srawung Sasanti ini akan berlangsung selama dua hari yaitu pada tanggal 7 dan 8 desember 2017.  Di hari pertama akan berlangsung sebuah pementasan teater dari Sangkala yang akan membawakan naskah “Sayang Ada Orang Lain” karya Utuy Tatang Sontani disusul oleh pementasan Teater Kolosal dari Sanggar Pamong UST di hari kedua dengan naskah “Selasa Kliwon”.

Devitri, Pimpinan Produksi Srawung Sasanti, mengatakan, tujuan dari Srawung Sasanti ini yaitu untuk ikut memperingati Hari Hak Asasi Manusia pada tanggal 10 desember. “Srawung Sasanti ini sebenarnya sebuah acara yang memperingati hari hak asasi manusia. Namun, kita mencoba memperingati hari itu dengan cara lain dari biasanya. Yaitu dengan mementasakan pementasan teater. Selain itu Srawung Sasanti merupakan sebuah acara silaturahmi dan proses belajar Bersama.”

“Nanti di Srawung Sasanti ini akan ada dua pertunjukan Teater dalam dua hari. Pertama dari Sangkala, mereka akan  mementaskan naskah Sayang Ada Orang Lain dan di hari kedua akan ada pementasan Teater Kolosal Selasa Kliwon dari Sanggar Pamong UST” jelas Vitri.

Fajar Kurniawan, Sutradara, mengatakan pada intinya masalah yang ditawarkan dalam naskah Sayang Ada Orang lain ini yaitu di mana kebebasan hidup seseorang dibatasi oleh kondisi sosial seseorang. Sementara, M. Shodiq, mengatakan masalah yang dibahas dalam naskah Selasa Kliwon adalah masalah pendidikan.

“Naskah ini mencoba menjawab problem yang muncul akhir-akhir ini. Di mana sekarang Ruang Pendidikan atau Kampus semakin marak berdiri kokoh tapi banyak pula pengangguran yang terjadi di Indonesia. Pendidikan seharusnya mengajarkan manusia untuk mandiri dan mampu mempunyai kebebasan berfikir.” terang Shodiq.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *