Skip links

[Ngibul #97] Perbincangan dengan Pak Soes

Akhir pekan lalu (16 Februari 2019), Andre, rekan pengelola Warung Sastra menawari saya untuk ikut berbincang dengan Soesilo Toer. Niatnya semula hanya meminta Pak Soes menandatangani beberapa eksemplar buku yang beliau tulis. Tapi, dari awal saya yakin, dari cerita beberapa teman yang sudah pernah berjumpa dan berbincang dengan beliau, perjumpaan dengan beliau pasti diiringi dengan cerita-cerita yang menarik. Hal tersebut benar adanya.

Saya, Andre, dan Awan—teman sekamar Andre— menemui Pak Soes di sebuah kontrakan di Jalan Wonosari. Perbincangan sore itu seperti biasa diawali basa-basi terlebih dahulu. Kami bertanya tentang beberapa cerita yang beliau tulis dan dikumpulkan dalam buku Nasib Seorang Penebang Kayu yang diterbitkan Pojok Cerpen. Jujur saja, buku itu adalah buku pertama Pak Soes yang saya beli—dan tentu saya mintakan tandatangan ke beliau langsung.

Semula saya pikir Pak Soes tidak bisa lepas dari bayang-bayang Pramoedya Ananta Toer, kakaknya. Saya tentu tak perlu menjelaskan seberapa terkenalnya Pram, juga karya-karyanya—kalaupun tak tahu, tentu Google selalu siap membantu. Semisal Pak Soes tidak tampil sebagai bintang tamu di Hitam Putih, barangkali lebih sedikit orang yang mengenalnya sekarang. Padahal, jumlah karya Pak Soes lebih banyak dari Pram.

“Saya baca cerpen-cerpen saya sendiri di (buku) Serenade (Pataba Press, 2019) itu ada yang saya sendiri lupa, Mas. Ini saya nulisnya kapan?” Tutur beliau pada kami.

“Ada cerpen saya tentang Cibodas di situ (Serenade), itu dulu saya pernah kecelakaan di situ, mobilnya masuk jurang, pacar saya waktu itu mati di tempat, Mas. Kalau baca cerpennya saya sering kali nangis sendiri. Saya memang paling cengeng dari anak-anaknya bapak. Lalu pernah ada yang bilang di sekitar area tempat saya kecelakaan, sering ada yang dengar suara perempuan memanggil nama saya ‘Soeess… Sooeeess’ gitu,” lanjut beliau.

Kisah cinta yang memilukan tersebut hanya awal dari perbincangan di sore hari itu yang tentu tidak hanya diisi oleh kisah cinta beliau saja. Beliau juga berbagi cerita tentang pengalaman beliau membangun resevoir untuk pembangkit tenaga listrik terbesar di Rusia yang ada di Bratsk.

“Di sana tugas saya itu mengaspal mas. Di atas resevoir-nya itu kan dibangun jalan raya. Nah, tugas saya mengaspal. Makanya, sebenarnya kalau dibilang saya di sana bersenang-senang itu juga salah. Saya menderita juga di sana. Saya itu pernah nulis ‘Saya menderita di sini’ pake Bahasa Rusia di lereng bendungannya. Entah masih ada apa tidak sekarang.”

Atau kisah membetulkan rel kereta api Trans-Siberia yang terkena banjir rob di Irkutsk.

“Waktu memperbaiki rel Trans-Siberia itu, yang rusak kurang lebih enam kilometer. Harus diselesaikan dalam dua bulan. Di sana kerja itu bisa sampe 20 jam sehari, Mas. Sewaktu musim panas, malam juga masih terang benderang. Makanya kan Dostoyevsky bisa nulis Malam-malam Putih karena fenomena itu. Itu saya alami sendiri, Mas.”

“Di sana itu begitu ada sirine, tanda barang konstruksi datang, pekerja harus bangun. Kalau yang tidur, ya tidak dibangunkan dan nggak dapat tambahan upah. Saya selalu bangun ketika sirine bunyi. Mereka nggak tahu orang Indonesia kuat begadang.” tuturnya sambil terkekeh.

Beliau juga bercerita pengalaman beliau pernah ditipu oleh Orang Gypsy, tentang perempuan-perempuan yang pernah dipacari semasa di Rusia yang kemudian salah satunya menjadi inspirasi menulis Anak Bungsu (Pataba Press, 2017), berkisah tentang kota Samarkand, berenang melintasi sungai Prut yang terletak di perbatasan Moldova dan Romania. Cerita-cerita yang barangkali sudah disampaikan Pak Soes dengan anak muda lain dalam diskusi-diskusi atau bahkan di percakapan-percakapan ringan seperti petang itu.

“Kalau sampeyan, kuliah dimana mas?” tanya beliau tiba-tiba.

“Ee… Saya lulusan Sastra Prancis, UGM, Pak,” jawab saya.

“Waahh, Parlez-vous français?” tanyanya lagi.

Mampus, langsung di tes.

Oui, un petit peu,” jawab saya, sembari buru-buru menambahkan “tapi sudah lama nggak ngomong pakai Bahasa Prancis, Pak.”

Beliau terkekeh mendengar jawaban saya. Saya balik bertanya, apakah beliau dulu juga belajar Bahasa Rusia sebelum berangkat ke sana. Beliau berkata hampir mirip dengan apa yang dikatakan oleh bapak Laddy Lesmana, dosen mata kuliah Linguistik Prancis saya semasa kuliah.

“Bahasa itu soal kebiasaan, saya bisa Bahasa Rusia juga karena ada di sana dan setiap hari dipaksa menggunakan bahasa itu. Bulan pertama saya menghafalkan tiga ribu kosa kata, bulan kedua saya tambahkan lagi. Bahasa yang awalnya terdengar seperti dengungan di telinga saya akhirnya makin lama makin jernih di telinga saya. Sampeyan kalau dilepas di Prancis sana pasti mau nggak mau juga akan bisa.”

Saya mengangguk-angguk menyetujui pernyataan tersebut. Lalu saya menanyakan tentang sastra di Eropa timur. Semula saya ragu bertanya seperti itu, karena seingat saya, beliau tidak secara khusus belajar sastra di sana.

“Kalau sastra di Eropa Timur, tentu saja Rusia yang paling berpengaruh. Orang sini sudah mulai banyak yang tahu (Leo) Tolstoy, (Leon) Trotsky, (Maxim) Gorky, paling (Ivan) Turgenev sama (Aleksandr Isayevich) Solzhenitsyn yang kurang dikenal. Tapi mungkin yang belum banyak orang sini yang tahu itu Sastra Romania. Seperti Pemberontakan di Pelabuhan (Pataba Press, 2017) karya Alexandru Sahia yang diterjemahkan Mas Koes (Koesalah Soebagyo Toer) itu sebenarnya bagus.”

“Lalu, Pak Soes sendiri ada nasehat untuk anak-anak muda supaya lebih peduli dengan literasi?” Tanya saya.

Setelah diam sebentar, beliau melanjutkan,

“Didiklah dirimu sendiri, bukan jadi serigala, tapi jadi manusia. Dan kalau anda tak mengerti hakikat diri anda, anda itu masih ternak. ‘Bacalah, bukan bakarlah’ kalau kata Pram. Tapi saya tambahi, ‘bacalah dan bakarlah titik-titikmu’. Titik-titik itu isilah sendiri. Tapi kalau yang berkaitan dengan sastra, bacalah dan bakarlah semangat membacamu membaca dan menulis. Bukan menulis dan membaca. Karena harus membaca dulu baru menulis. Einstein kan ngomong ‘Carilah pengalaman sebanyak-banyaknya, itu adalah basis pengetahuan anda. Dari basis pengetahuan itu, itu adalah ilmu anda’. Jadi kalau anda tidak punya pengalaman, anda tidak punya pengetahuan. Einstein lho itu yang bilang. Pengalaman itu banyak, tapi barangkali anda tidak perduli. Dalam sehari itu anda mendengar dan melihat lebih dari sejuta obyek, tapi kalau anda nggak peduli ya nggak jadi pengalaman. Dengar dan lihat itu semua, olah itu semua, itu nanti jadi basis pengetahuan anda.”

Seperti yang saya sampaikan di awal tadi, barangkali Pak Soes tidak akan bisa lepas dari bayang-bayang kakaknya, Pramoedya Ananta Toer. Tapi, katanya ‘Pram is Pram, Soes is Soes’. Dengan bangga beliau juga berkata bahwa besok (17 September 2019), adalah kemenangan keduanya dari Pram. Pertama Pram menulis tetralogi buru, sementara beliau menulis pentalogi biografi Pram. Kedua, Pram wafat di usia 81 tahun tapi sehari lagi beliau berumur 82 tahun. Namun saya kira kemenangan ketiga Pak Soes dari Pram adalah produktifitasnya yang sudah melebihi kakaknya dan variasi tulisannya. Beliau tak hanya menulis fiksi sejarah seperti Pram, namun juga cerpen-cerpen, cerita-cerita anak yang sudah jarang mewarnai dunia kesusastraan Indonesia.

Selamat ulang tahun, Bro Soes. Semoga sehat, ceria, dan bahagia selalu. Saya masih menantikan semoga “Lelananging Jagad” segera bisa diterbitkan dan dinikmati oleh pembaca karya-karya anda.

Pendapat Anda: