[Ngibul #96] Apa Jadinya Jika Warung Burjo Ada di Mal?

Dul Kibul percaya setiap kali menghadapi kenyataan yang tak sesuai harapan, pasti akan selalu ada sesuatu yang bermakna di dalamnya. Maka, ia tak kecewa ketika mau menonton pertandingan Real Madrid vs Girona di Warung Burjo Kabita, malah mati lampu. Marbakat, yang datang bersamanya, bersungut-sungut mengajak berpindah tempat nonton. Bagi Marbakat pertandingan Madrid melawan tim gurem pasti akan ada banyak gol, sayang untuk dilewatkan.

Ora ah. Tak ngancani Aa Ujang.” jawab Dul Kibul

Nggak perlu lho, Mas. Saya mah biasa jaga sendiri.” kata Aa Ujang setelah selesai menyalakan lilin.

“Nah itu Aa Ujang aja nggak apa-apa kok. Wong kamu juga nggak mesen apa-apa di sini.” saut Marbakat

“Lha itu ngerti, terus di tempat nanti aku mau bayar pakai apa? Kamu mau bayarin?”

Nggak lah. Kita nonton di kos temanku yang punya tipi saja. Agak jauh sih. Tapi aku jamin nggak mati lampu daerah sana.”

Dul Kibul tetap keukeuh dengan pilihannya; menemani Aa Ujang. Dul Kibul tahu ada sesuatu yang ingin disampaikan Aa Ujang dari kemarin-kemarin tapi ndak pernah kesampaian. Dan mati lampu ini pasti adalah waktu yang diberikan Tuhan untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Aa Ujang. Apalagi tak ada pembeli lain selain dia. Marbakat pun sudah ngacir pergi ingin menonton klub kesayangannya entah di kos siapa.

“Mas Dul sedang nulis apa sekarang?” tanya Aa Ujang memulai percakapan sambil menawarkan tembakau tingwe ke Dul Kibul.

“Pilpres, A. Itu yang lagi laku. Padahal ada pileg juga.” jawab Dul Kibul sambil melinting tembakaunya.

“Mas Dul pilih calon yang mana?” tanya Aa Ujang setelah menghembuskan asap tembakaunya

“Masih belum ada pilihan. Masih mempelajari program dan track record-nya.” jawab Dul Kibul sebelum menyalakan tembakau yang sudah dilintingnya.

“Waduh, harus kitu?” asap kembali dihembuskan, dan obrolan mereka diselang-selingi asap tembakau masing-masing.

Nggak harus sih, A. Tapi itu lebih baik. Daripada milih sesuatu tanpa dasar. Lha Aa Ujang nanti pilih calon mana?”

“Golput lagi kayaknya, Mas.”

“Waduh. Kenapa?”

“Mau presidennya siapa juga nggak akan warung burjo diizinkan dibuka di mal.”

“Kenapa harus di mal?”

“Sekarang peradaban manusia itu ada di mal. Jadi kalau nggak di mal dianggap kurang beradab.”

“Cakeeep.”

“Itu kata Lik Narto, Mas Dul. Saya mah ngiyain aja waktu beliau kemarin sarapan di sini. Tapi dipikir-pikir benar juga sih. Makanan dan minuman, pakaian, hiburan, dan lain-lain bahkan sampai bahan bangunan juga sekarang ada malnya ya, Mas Dul.”

“Jadi kalau ada capres yang programnya membuka warung burjo di mal akan Aa Ujang coblos?”

“Jelas atuh. Sebenarna mah warung burjo itu contoh saja. Capres harusnya paham tentang kelestarian makanan khas negeri ini. Kalau warung-warung masuk mal, masuk pusat peradaban, itu kan pasti terjaga, nggak akan punah. Lha sekarang kita diajari untuk suka makanan luar negeri: ayam tepung, roti gandum, spaghetti, es krim, dan lain-lain. Anak saya saja sukanya kentakikentaki apa gitu. Coba bandingkan lebih banyak mana ayam tepung dengan opor ayam? Alhamdulillah, istri saya bisa masak opor ayam, tapi teman-temannya sudah jarang yang tahu resep dan caranya. Kalau nggak ada lebaran, mungkin sudah nggak akan ada lagi opor ayam.”

“Eh tapi masih ada banyak opor ayam di sunmor, A.”

“Syukurlah kalau masih banyak yang jualan jadi bisa bertahan.”

“Maksud Aa Ujang ketahanan pangan ya?”

Nggak tahulah apa namanya. Pokoknya yang dukung pedagang kecil yang jualan makanan khas negara kita. Angkringan, warteg, coto makassar, nasi lengko, empal gentong, dan lain-lain. Juga macam-macam jajanan kecil kita, Mas Dul.”

“Kita?”

“Eh Mas Dul kelahiran 80-an kan?”

“Saya 94, A.”

“Oh maap. Tapi mungkin Mas Dul pernah dengar es serut, es goyang, es gabus, es goreng?”

Es goreng? Dul Kibul ternganga. Ia menggelengkan kepala dan mulai mencatat nama-nama es yang asing baginya itu yang nanti akan di-googling.        

“Wah dulu ada banyak jajanan yang sekarang hilang, Mas Dul. Dan itu karena tadi, karena anak-anak kecil diajari untuk suka yang ada di mal, yang berasal dari luar negeri.”

Di mata Dul Kibul, malam ini kening Aa Ujang tampak bercahaya meskipun mati lampu. Tapi, apa yang dicurahkan semuanya itu bukanlah makna di balik mati lampu malam ini. Dul Kibul pun mengejar:

“A, maaf nih ya, A. Dari kemarin-kemarin aku lihat kok wajah Aa Ujang seperti… maaf, sekali lagi maaf, mumpung nggak ada orang, istri dan anak sudah tidur kan, A?”

“Seperti apa, Mas Dul?”

“Seperti lagi ada masalah.”

“Begitulah. Ya seperti saya bilang tadi, Mas Dul, anak-anak diajari untuk suka sesuatu yang berasal dari luar negeri.”

“Maksudnya?”

“Si Dadang minta dibelikan tablet.”

Kan yang second banyak….”

“Bukan masalah harganya, Mas Dul. Tapi saya pikir anak baru kelas 1 esde belum butuh seperti itu. Saya waktu kecil cuma mainan senapan dari bambu sudah senang sekali.”

“Wah kalau senapan bambu aku ngalamin, A.”

“Bisa buat sendiri?”

Nggak. Dibuatin bapakku.”

“Kalaupun bisa percuma, Mas Dul. Ini saya bisa buat senapan dari bambu, bisa buat kandang jangkrik, bisa buat pistol dari kayu dengan isi petasan, bisa buat ketapel, bisa buat layang-layang, dan hampir semua mainan saat saya kecil bisa aku buat, tapi di hadapan anakku, si Dadang itu, tak ada artinya, tak ada yang disukainya. Ia selalu bilang: ‘Tapi teman-temanku…tapi teman-temanku….’ begitu terus… Ah, jadi orangtua zaman sekarang berat banget.”

Dul Kibul melihat mata Aa Ujang berkaca. Tak dihisap lagi tembakaunya.

“Kenapa Aa Ujang tidak sekalian membuatkan mainan untuk teman-temannya Dadang?”

“Oh iya… baru kepikiran.”

“Tapi aku diajarin dulu ya, A. Biar nanti aku bisa bantu membuatkan dan mengajarkan anak-anak juga. Minggu depan ya, A.”

“Siaaap….”

Mereka menyudahi obrolan. Dul Kibul mengambil gitar yang ada di dinding warung burjo, Aa Ujang mulai menata rambutnya agar mirip Charlie ST12 seolah itu berpengaruh pada suaranya, lalu mengalirlah lagu-lagu pop melayu sampai datang Marbakat.

Kok lesu?” tanya Aa Ujang

“Kalah mesti ya?” tanya Dul Kibul

“Sudah dibela-belain nonton jauh-jauh kalah. Sama tim lemah lagi.” gerutu Marbakat.

“Terus kenapa ke sini?” tanya Dul Kibul

“Mau sahur sekalian.” jawab Marbakat.

“Mau sahur apa mau ngebon?” tanya Aa Ujang.

“Bantu orang puasa sunah dapat pahala lho, A.” kata Marbakat.

“Aku sekalian kalau gitu, A.” saut Dul Kibul

“Sekalian utang apa sekalian sahur?” tanya Aa Ujang

“Sekalian dua-duanya.”

Seketika lampu menyala. Dan Aa Ujang menyalakan kompornya demi mi instan dua anak manusia yang kekurangan itu. Ah, apa jadinya nasib anak-anak kosan jika warung burjo ada di mal?

Asef Saeful Anwar

Asef Saeful Anwar

Penyayang orangtua, penyuka daun muda yang sudah direbus atau ditumis tanpa micin.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait