[Ngibul #101] Saya bergosip, maka Saya Bercerita

Seumur-umur, saya baru dua kali mengikuti workshop kepenulisan. Yang pertama Workshop Kepenulisan Cerpen bersama Dea Anugrah di acara Tahun Baru di JBS sebagai peserta, yang kedua Workshop Kepenulisan Novel bersama Mahfud Ikhwan di Toko Buku Gerak Budaya Yogyakarta, dalam rangkaian kegiatan Joglitfest (Festival Sastra Yogyakarta) sebagai moderator. Keduanya memberi saya banyak pelajaran dalam hal tulis menulis.

Workshop Kepenulisan Cerpen bersama Dea Anugrah meng-encourage saya untuk “nulis aja, sebisamu, seasikmu” sementara Workshop bersama Mahfud Ikhwan mengajarkan saya bagaimana mendekatkan diri dengan pembaca. Lebih detil tentang workshop bersama Dea Anugrah akan saya bahas di tulisan lain. Kali ini saya akan berbagi pengalaman Workshop Kepenulisan Novel bersama Mahfud Ikhwan.

Workshop yang diadakan di Toko Buku Gerak Budaya Yogyakarta, Jl. Gondang Raya no. 8, Kentungan, Condong Catur, Sleman ini diadakan sebagai pra-acara Joglitfest (Festival Sastra Yogyakarta) oleh Klub Buku Yogyakarta, bekerja sama dengan Kibul.in dan Gerak Budaya Yogyakarta. Animonya cukup tinggi karena ketika pendaftaran dibuka ada 65 pendaftar yang berminat, namun agar acara berjalan kondusif, peserta dibatasi menjadi 40 orang saja.

Dalam workshop tersebut, di sesi pertama Cak Mahfud sedari awal menyampaikan ingin mencoba menawarkan cara menulis cerita dengan metode gosip. Menurutnya gosip dekat dengan masyarakat. Keseharian masyarakat—jawa pada umumnya—sudah dekat dengan istilah rerasan, ngrasani, atau rasan-rasan. Gosip bisa ditemukan dari obrolan di pos ronda, hingga di emperan masjid. Karena kedekatannya itulah, menulis sastra dengan pendekatan bergosip, barangkali bisa menjadi salah satu cara mendekatkan masyarakat dengan sastra.

Seperti halnya kisah fiksi, gosip berdiri di atas fakta yang kabur. Penutur gosip memolesnya dengan imajinasi. Gosip yang dipulas sedemikian rupa bisa jadi dipercaya sebagai fakta. Kalau istilah sekarang disebut hoax. Gosip adalah bentuk sederhana dari hoax. Barangkali juga, tuturan dari leluhur adalah gosip pada awalnya. Legenda yang diturunkan dari mulut ke mulut dipoles dengan hal magis dan mistis menjadi sesuatu yang menarik untuk terus dibicarakan. Toh sesuatu yang tidak menarik tidak akan banyak diceritakan orang. Barangkali karena itulah novel, cerpen, sesuatu hal yang fiksi itu tetap menarik bagi banyak orang meskipun pembaca tahu dan sadar kalau cerita itu tidak benar terjadi.

Mengapa menulis dengan metode bergosip? Mahfud Ikhwan melalui metode ini mengajak peserta workshop mengalami pengalaman menulis Dawuk, salah satu karya terbaiknya. Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu itu disusun dari fakta yang (di)kabur(kan). Seperti umumnya gosip, pusat cerita adalah tokoh yang dituturkan. Penutur cerita bukan si Dawuk, namun si entah siapa yang seingat saya cuma nongol di beberapa paragraf terakhir.

Di sesi kedua, setelah jeda ishoma, Mahfud Ikhwan mengajak para peserta menulis dengan berfokus pada detil latar tempat. Pada kesempatan itu peserta diajak menulis detil latar tempat berupa toko buku dikaitkan dengan suatu kejadian yang terjadi di sana. Detil latar tempat adalah salah satu hal yang membedakan novel dengan cerpen. Seringkali karena keterbatasan ruang, cerpen tak banyak memberi detil latar terjadinya peristiwa.

Setelah beberapa peserta membacakan hasil tulisannya, Mahfud Ikhwan memberi komentar dalam menulis detil latar, penulis seringkali terjebak memberikan fakta yang melimpah sehingga melupakan kaitan terhadap peristiwa. Karena fakta yang terlalu melimpah dan sia-sia itulah, terkadang peristiwa yang diceritakan itu bisa begitu saja dicerabut dan diletakkan dalam latar yang lain.

Berbeda dengan cerpen dimana penulis mempertaruhkan peristiwa yang diceritakan. Detil menjadi penting karena dalam novel, penulis harus bisa mengajak pembaca menginternalisasikan tokoh dalam ruang. Karena sebuah novel ada dua kemungkinan interaksi penulis dan pembaca, yang pertama adalah penulis bertemu pembaca jika tokoh utama memiliki pengalaman serupa, yang satunya adalah ketika tokoh utama mampu berbagi pengalaman dengan pembaca. 

Dua cabang kemungkinan itu dihubungkan kembali dengan menulis dengan metode bergosip seperti yang dilakukan di sesi pertama. Gosip itu seolah bercabang karena dia seolah berbicara dengan satu orang, sementara di cabang lain ia ingin didengarkan dengan cara berbeda. Semakin detil polesan gosip, semakin ia dipercaya, semakin ia nikmat untuk didengarkan banyak orang. Bukankah itu tujuan bercerita?

Menulis dengan cara bergosip menurut saya bukan hanya cocok diterapkan untuk menulis fiksi saja. Metode yang sama bisa digunakan untuk menulis apa saja. Kuncinya ada pendekatan yang tepat pada pembaca, sehingga pembaca bisa seolah mengalami hal yang sama dengan apa yang ditulis, sehingga pesan pada pembaca—tentunya ini intinya—bisa tersampaikan dengan baik.

Mengutip kata Mahfud Ikhwan, menulis bukan perkara apa yang ingin diceritakan atau cerita apa yang pembaca inginkan namun bagaimana menceritakan hal yang ingin diceritakan, menjadi cerita yang ingin dibaca.

Andreas Nova

Andreas Nova

Bapak beranak satu, belum mau menjadi bapak beranak pinak. Sarjana Sastra dengan susah payah.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait