Jiwa-jiwa yang Pergi

Posted: 18 July 2017 by Hadi Winata

Pria berumur dengan kulit yang terbakar itu memandang jauh ke depan. Sejauh matanya memandang, hanya ada lautan biru yang membentang. Matanya seperti menyiratkan sebuah luka yang mendalam.

Kedua tangannya diletakkannya di atas stir kapal. Sementara pikirannya terbang entah ke mana. Ia masih tak habis pikir bagaimana istri yang sangat dicintainya, yang telah hidup bersamanya selama belasan tahun—meski belum dikaruniani anak—itu tega mengkhianatinya.

Berkelebat ingatannya tentang apa yang dilihatnya tiga hari yang lalu, di rumahnya sendiri. Matanya seketika memanas. Dan, beberapa jenak kemudian, melahirkan butir air.

Ceritanya berawal dari sepuluh hari berselang, ketika ia pergi bersama rombongannya melaut. Ia adalah satu dari sekian banyak nelayan yang fokus menangkap ikan cakalang di kampungnya. Saat sebelum berangkat, ia berpesan kepada istrinya,

“Doakan Kakak, Dik. Kita tak pernah tahu apa yang akan menimpa diri kita—Tuhan yang mengatur semuanya. Kamu baik-baik di rumah!”

Pergilah ia melaut. Lautan luas nan lepas selalu menjadi harapan bagi para nelayan. Tak ada yang lain, hanya kepada lautlah mereka bergantung untuk dapat memenuhi kebutuan hidup keluarga.

Suatu siang, saat semuanya tengah asyik menarik stik pancing masing-masing yang membuat ikan-ikan cakalang yang terkail terlempar ke belakang, ada seseorang dari mereka yang melanggar pantangan. Orang itu adalah orang yang baru pindah ke kampung mereka. Karena belum memiliki pekerjaan, ia meminta untuk diajak melaut. Tugasnya adalah melemparkan umpan-umpan.

Orang itu mengucapkan kata terlarang. Yakni ketika ia melihat ikan cakalang yang dalam waktu hitungan menit sudah terkumpul begitu banyak, ketika itulah ia mengucapkannya. Sepertinya, ia tak memiliki maksud negatif. Tapi, mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, ia menganggap kata-kata semacam itu hanyalah sebuah ocehan biasa yang tak memiliki makna berarti. Tapi apalah daya, setiap kata yang telah keluar dari mulut manusia takkan mungkin bisa ditarik lagi. Sementara kata maaf belum tentu diterima.

Langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap—mendung seketika. Ikan-ikan cakalang yang semula berkerumun di depan kapal, langsung pergi hingga tak menyisakan seekor pun. Dan, tak seorang pun dari nelayan-nelayan itu yang tak marah; mereka seperti ingin memakan hidup-hidup orang itu. Tapi tak ada guna, semuanya akan mati. Begitulah apa yang terjadi pada kapal-kapal nelayan lain yang melanggar pantangan.

Para nelayan bingung. Mereka gelisah sehingga tidak tahu harus berbuat apa. Ketika itu, badai besar nan mengerikan tiba-tiba datang. Mata mereka terbelalak. Mulut mereka menganga.

“Aku berlindung kepada Tuhan dari jin yang terkutuk—dari badai yang mengerikan ini.”

Terjadilah!

Kapal mereka dihempaskan oleh ombak setinggi lima meter yang sungguh mengerikan. Kapal mereka tenggelam seketika. Para nelayan terpisah satu sama lain. Masing-masing berusaha menyelamatkan diri sendiri.

Pria dengan kulit terbakar itu ikhlas. Ia menyerahkan dirinya kepada penciptanya. Tapi, secara naluri, tentu saja setiap jiwa yang akan mati akan mencoba bertahan terlebih dahulu sebelum jiwa mereka benar-benar pergi. Demikian halnya pula dengan apa yang dilakukan oleh pria itu. Ia berenang sekuat tenaga demi mencapai permukaan. Namun badai baru saja datang, mustahil baginya untuk segera pergi. Langit gelap sepekat malam menyelimuti laut lepas itu. Pria itu tak tahu harus melakukan apa; yang bisa dilakukannya hanya satu: berserah diri. Namun jelas, berserah diri itu beda halnya dengan pasrah. Ia sadar kalau dirinya takkan mampu mencapai bibir pantai. Selain itu, ombak pun terus-menerus bergulung-gulung hebat. Maka dari itu ia putuskan untuk mencoba bertahan dengan mengambang. Ia serahkan dirinya kepada Tuhannya. Ia beranggapan, kalau Tuhan mengizinkan maka ia akan disampaikan ke bibir pantai menggunakan arus ombak yang sejatinya lebih patuh kepada-Nya. Bukan kepada jin ataupun penguasa laut lepas itu.

Pelan namun pasti, ombak-ombak yang bergulung tinggi itu mengecil dan menjelma teman setia yang melindungi. Entah karena faktor keberuntungan atau karena sikap tawakalnya, ia sampai di bibir pantai di kampungnya.

Pria itu terdampar semalaman. Waktu itu, kicauan burung-burung yang terbang di atasnya-lah yang membangunkannya. Kira-kira sekitar pukul tujuh pagi. Rumahnya—atau mungkin yang lebih tepat disebut gubuk—terletak di dekat bibir pantai. Dengan pakaian yang basah kuyup, ia bangun dan segera kembali ke rumahnya. Sementara langkah sempoyongan, tak terelakkan.

Pagi itu orang-orang kampung yang melihatnya tampak heran. Namun, tak ada waktu untuk menjelaskan. Tenaga sudah habis. Tapi apa yang mau dikata, ketika ia sampai diambang pintu rumahnya, ia mendengar suara lelaki dan perempuan mendesah-desah kenikmatan.

Pria itu tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mengambil napas—mengumpulkan sisa-sisa tenaga. Dilihatnya ada kayu yang cukup besar tergeletak di sebelah kirinya. Diambilnya kayu itu. Emosinya menggelegak di ubun-ubunnya. Harga dirinya remuk seperti lebih dari diinjak-injak. Ini rumahku dan itu istriku, katanya dalam hati.

Pria itu menyingkap tirai kamarnya yang kusam—yang memiliki banyak noda hitam. Dan benar! Ada sepasang lelaki-perempuan sedang bergumul kenikmatan, saling gigit-gigitan, tangan mereka mencengkam satu sama lain. Apa yang mau dikata, dua orang itu terdiam. Si perempuan yang tak lain adalah istrinya sendiri ketakutan. Sedangkan si lelaki terlihat terganggu. Ia terkejut, tapi cepat-cepat diubahnya raut mukanya menjadi marah. Lelaki itu benar-benar tak tahu diri, ia tak merasa malu sedikit pun karena telah bersenggama dengan istri orang. Dan bahkan, saat suami perempuan yang diselingkuhinya itu ada di hadapannya sendiri.

Dialah Domo—preman yang ditakuti penduduk kampung. Namun, saat itu, sang suami sungguh tidak takut sedikit pun. Ini menyangkut harga diriku, istriku, dan rumahku yang dikotori, pikirnya.

Domo yang masih telanjang bulat itu langsung turun dari ranjang. Sementara sang suami sudah siap dengan kuda-kudanya yang telah mantap. Tapi Domo langsung duduk dan menggenggam pasir (rumah itu masih beralaskan tanah yang berpasir). Ia langsung melemparkan pasir yang ada di genggamannya tepat ke arah mata lawannya. Sontak saja, si nelayan langsung kehilangan kendali. Karena takut akan diserang duluan, Domo mengambil pisau yang terselip di dinding papan rumah itu. Langsung saja, tidak tanggung-tanggung dan tanpa ampun sedikit pun ia menusuk si tuan rumah empat kali. Ternyata, mata sang nelayan sudah bisa terbuka meski baru sedikit. Seketika itu juga langsung dipukulkannya kayu yang ada di genggamannya tepat ke kepala Domo. Seketika itu juga Domo langsung jatuh tak sadarkan diri.

Istrinya terus-menerus menjerit sejak tadi. Sementara pria itu memandang dengan tatapan yang sungguh murka terhadapnya.

“Pelacur kau ini ternyata, May!” katanya sambil menunjuk wajah istrinya.

Pria itu pergi meninggalkan rumahnya. Ia berjalan ke arah pantai dengan perut yang terus mengucurkan darah—telapak tangan kirinya dirapatkannya ke lubang tusukan itu. Ia takut kehilangan banyak darah. Sampai di bibir pantai ia berhenti, ia benar-benar telah kehabisan tenaga. Terlebih lagi karena nyeri yang tidak bisa dijelaskan akibat tusukan itu. Akhirnya, ia putuskan untuk duduk di bawah pohon kelapa. Ia harap akan ada orang yang melihatnya lalu menolongnya. Namun, sampai ia tak sadarkan diri di sana, tak seorang pun ada yang datang.

Entah berapa jam ia tak sadarkan diri di pinggir pantai itu. Ketika bangun, ia langsung pergi meninggalkan kampung menuju laut. Ia ingin menenangkan pikirannya.

Dan kini, ia tengah berada di atas kapalnya—dalam perjalanan pulang. Sudah tiga hari ia di lautan.

Angin-angin laut menabrak wajahnya yang datar. Burung-burung beterbangan mencari makan bersama gerombolannya. Sementara air laut, tetap bergelombang seperti biasanya.

Akhirnya ia sampai di bibir pantai; Ia turun dan meninggalkan kapalnya. Di atas pasir, sudah menunggu sebuah kereta dengan kuda bersayap warna putih bersama penunggangnya. Ia sudah ditunggu oleh penunggang kereta itu sejak tadi. Ia mendekat dan menaiki kereta itu.

Kereta kuda itu berjalan, mulai terbang. Di pertengahan jalan, dari atas, pria itu melihat kalau ada rumah yang terbakar. Oh tidak, rumah itu adalah rumahnya. Dilihatnya pula, sepasang lelaki-perempuan lari terbirit-birit dari rumahnya menuju pantai. Dua orang itu terus berlari hingga tubuh mereka benar-benar hilang ditelan laut. Ia bingung, kalau yang tadi adalah istrinya dan Domo, lantas siapa dua orang yang seluruh kulitnya terbakar dan sedang dibopong oleh penduduk kampung di dekat rumahnya itu? Dan yang lebih mengherankan lagi, ia melihat seorang pria yang rupanya mirip sekali dengannya. Kulit pria itu hitam terbakar matahari. Tapi pria itu tak sadarkan diri. Tepatnya, pria itu duduk bersandar ke sebuah pohon kelapa di pinggir pantai. Sementara di sekitarnya, banyak bekas darah yang sudah mengering.

Kereta kuda yang ditumpangi pria itu terus melaju. Terus terbang menuju tempat yang jauh.

 

Diadaptasi dari puisi karya Hadi Winata, Jiwa-jiwa yang Hilang.

Indralaya, 20-21 April 2017

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *