Apa yang Pertama Kali Kau Googling pada Tahun 2045 Setelah Kau Terbangun dari Tidur yang Amat Panjang?

Sudah jelas, penjelasanku akan menyita waktu makan siangmu, atau rencana mendirikan indekos dengan bayaran per bulan hingga per tahun, atau nubuat menikahi penari Jawa yang tidak akan melirikmu saat ia pentas di panggung. Namun, sesuatu yang disita belum tentu sia-sia, bukan?

Kita bisa memulainya dengan mengosongkan pikiran kita dari perkara-perkara ruwet dan kurang mengasyikkan. Tutup matamu dan buka setelah hitungan keenam. Jangan, jangan mati dulu. Percayalah, masih ada penulis-penulis pesimis yang bertebaran di ibukota, Jogja, Surakarta, Bandung, Makassar, Padang, Oklahoma, Dabababad, dan Seodaemun. Barangkali aku termasuk di dalamnya: penulis pesimis dari Jogja yang tengah berproses kreatif di ibukota.

Kembali ke pertanyaan yang tertulis pada judul tulisanku ini. Apa? Apa yang pertama kali kau googling pada tahun 2045? Kasusnya, kau telah menunaikan ibadah tidur yang teramat lama. Ingat! Bukan ibadah puisi!

Aku membayangkan jawaban itu ketika sedang suntuk dan kopi sedang tumben-tumbennya tidak dipesan oleh kolegaku, Albert, sehingga kautahu sendiri, siang itu aku mengantuk dan sempat terpikir untuk tidur di jamban tanpa perlu melorotkan celana kain hitamku dan menggantungkan kacamataku di gantungan handuk. Dan usahaku untuk berbuat demikian hilang seketika. Aku usil pada benakku sendiri. Bertanya hal-hal aneh pada diri sendiri adalah kegemaranku sejak kecil. Kau juga begitu? Aku tidak yakin: barangkali, setelah kau mengenal agama keselamatan, siasat kekuasaan, dan klausul menahan diri menjadi extravert, kau suka mengurung segala pertanyaan dan membenamkan gagasan adiluhungmu sampai kau lupa bahwa kau pernah kecil dan ingusan. Ditambah lagi, sekarang, kau agak curiga pada jawabanku tentang apa yang telah kutulis pada judul.

Baik, mari kita mulai dengan saksama.

Nanti, pada tahun 2045, kau akan membuka matamu. Kau berpikir lamban: apakah ini surga, surga buatan, atau lapisan bumi yang berdekatan dengan inti bumi. Lalu, kau meyakini bahwa kau berada di suatu kamar, penuh rak-rak buku psikologi positif, lampu mati, rumah laba-laba menjuntai di empat sudut kamar (juntai terbesar ada di atas kepalamu), kolase fotomu saat lulus SMA, foto selebriti Jepang yang pernah tersandung skandal asusila dengan kakek-kakek bintang porno, dan fotomu saat pergi ke Singapura (pose mulutmu menganga dari kejauhan patung Merlion seolah-olah memberi efek samping kepada orangtuamu bahwa si Merlion sedang menyusuimu di muka umum).

Lalu, terbersit keinginanmu untuk mengecek apakah kau masih punya senjata vital atau tidak. Ternyata masih ada, meringkuk malas dan kau belum mau membikinnya tegang dan meruahkan cairan pencipta bayi manusia. Apa ada orang lain di rumah? Kau bertanya-tanya, berjalan ke luar kamar, dan sempoyongan dalam beberapa jenak dan langkah ke depan. Ada air putih di atas meja, di dapur. Maka, kau minum saja air itu dan saat kau menyadari bahwa kau belum mengucapkan nama-Nya, kau menghentikan aktivitas minum dan memulai kembali dengan bacaan “Dengan menyebut nama-Nya yang Maha Asyik, Maha Oke, Maha Maha, semoga air ini bermanfaat dan berfaedah bagi tubuh, jiwa, hati, dan pikiranku. Iimaan”. Habis sudah air putih itu. Bugar rasanya? Tidak juga. Masalah yang berikutnya menimpamu adalah bunyi dan rasa lapar. Masalah yang berikut ialah tidak ada makanan di dapur, di kulkas, di atas meja ruang tamu, di kamarmu. Nihil makanan. Jangan menyerah dulu. Kau mengingat bahwa makanan bisa dipesan melalui jaringan internet. Masalah yang berikutnya adalah kau tidak tahu di mana gawai pintarmu berada. Tenang… Ia pasti tergeletak sembarangan di atas kasur, atau di bawah kasur. Ah, tidak ada juga ternyata, ya? Kau ingin teriak tapi gagal karena ada perangkat komputer di kamar orangtuamu. Beruntung saluran listrik masih tersambung. Kipas angin adalah peranti yang kau nyalakan terlebih dahulu sebelum komputer. Sayangnya, kipas angin itu berdebu. Debu-debunya menghunjam wajahmu, membuat kau mundur sekian meter sampai nyaris menabrak cermin dandan ibumu. Sebagian debu yang lain mengotori lantai ubin, dan kau menapakinya sehingga tampak bekas telapak kakimu di antara debu-debu itu. Sekarang, kau menguntai kabel komputer, lalu menancapkannya pelan-pelan pada colokan yang agak coplok. ON! Komputer pun nyala.

Pemandangan bukit hijau, awan terkulai di antara langit biru, tidak ada bintang sebab siang itu sempurna, dan sekian tanaman penuh pesona turut menghiasi layar komputer. Klasik, batinmu.

Astaga naga dragon! Tanggal berapa ini? 17/8/2045? Kau menggebuk monitor pelan-pelan. Tidak puas pada gebukan pertama, kau menggebuk monitor lagi. Tanggal yang tertera tidak berganti. Sial betul. Demi apa semua ini terjadi? Kalau tanggal yang tertera adalah 17/8/2020 atau 25/12/2019, aku yakin, kau tidak akan sekaget itu.

Sepintas kau melihat teras rumah: sepi. Kau lihat kebun: banyak daun kering dan berserakan tak keruan. Kau lihat tiga rumah di depan: rumah sebelah kiri: tumpukan bantal-bantal dijemur di atas mobil sedan hitam, lampu kamar lantai dua menyala, dan coretan GNJ di tembok pagarnya tertimpa coretan GNP; rumah tengah: ayam-ayam setinggi pusar menotol kerikil di jalan setapak menuju garasi, dedaunan pohon mangga menutupi seluruh atap rumah, dan sendok-sendok dan garpu-garpu ditempel di kaca-kaca jendela teras rumah dengan semrawut; rumah sebelah kanan: banyak sapu lidi beterbangan, bunga mawar dan lidah buaya dalam pot yang beterbangan, dan baliho besar di atas cerobong asap bertuliskan “Pesan barang-barang mutakhir ini di Google! Stok terbatas dan Senin harga tetap!” dan bergambarkan sapu-sapu lidi beterbangan, bunga-bunga berbagai jenis dalam pot beterbangan, kolam renang beterbangan, kolam ikan beterbangan, dan macam-macam yang juga beterbangan.

Kau bergumam, Wahai Zat yang Luhur dan Waskita, sempurnalah segala yang kau cipta kau rasa kau cinta kau punya…

Gumamanmu berakhir dan logo pada baliho di rumah sebelah kanan itu cukup mengganggumu. Kau tidak perlu berpayah susah untuk memanfaatkan komputer milik ayahmu. Pilihan yang tepat wal afiat!

Dan, demi menghilangkan perasaan kaget yang sedikit memudar, kau membuka salah satu aplikasi yang kerap kau gunakan untuk mencari istilah-istilah sukar (misal: berkelindan, jatmika, digdaya, pedagogik), istilah-istilah dewasa (misal: vcs, bo, cim, petik mangga), istilah-istilah ibukota (misal: sue, bejibun, bangkotan, madi rodok). Pada baris teratas aplikasi itu, telah tertulis http://www.google.co.id. Maka, kau menggeser kursor, dan meletakkan di tengah layar, lantas yang kau googling pada tahun 2045 setelah kau terbangun dari tidur yang amat panjang adalah hari ini tanggal berapa.

Ananda Sevma

Ananda Sevma

lahir di Bantul, 7 Mei 1995. Lulus dari Psikologi UGM dan sedang bekerja di Jakarta.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait