Alleen Voor Inlander

Posted: 18 December 2018 by Adhi Pandoyo

Frasa itu tertera di sebuah tulisan ketikan, bagian dari semacam surat kabar. Kertasnya telah menguning kecoklatan disepuh waktu. Rijke (dibaca Riyke) iseng memesan sebuah judul dan menemu arsip tersebut. Tak ambil pusing, Rijke bergegas memproses kopiannya. Memang rutinitas terbaru Rijke beberapa bulan ini adalah berburu di Pusat Arsip setiap akhir pekan. Dengan bus sekitar sejam dari kampusnya. Universiteit kenamaan yang katanya tertua di negeri bendungan itu. Rijke entah kenapa jadi kian ketagihan menggali arsip-arsip negaranya tentang negeri koloninya. Padahal tugas akhir Bachelor Art-nya sudah kelewat, dan kini tinggal menunggu wisuda.

Sesore ini Rijke nunggang bus pulang hingga tertambat halte pemberhentian. Seperti biasa, berjalan kaki menuju rumah, meniti jalan sama persis dengan berangkat. Rijke ngerti, sepersis apapun takkan menapaki tapak yang sama. Apalagi langkah pulang selelah ini, kalah dengan derap semangat tadi pagi. Namun alasan pulang sering lebih kuat ketimbang keberangkatan. Di saat merenungkan ini, ia teringat ibunya. Langkah kakinya ia perhatikan sambil sesekali pantengin sekitar. Rijke teringat bagaimana Ibunya menutunnya pulang sekolah. Dia sendiri sering heran, mengapa ingatan waktu kecil justru muncul?

Lima menit pun telah berlalu, rasa lelah mengantarkannya segera memasuki rumah bertembok mencolok batu-bata yang khas itu. Rumah mendiang ibunya yang kini jadi miliknya seorang. Sebuah rumah mungil bertingkat,di sudut distrik terpadat di Amsterdam.Mungkin memang sudut kota yang termasuk klasik di tempatnya itu nyaris tak ada perubahan. Kecuali ya manusia-manusianya. Datang buat menggantikan yang berpulang. Berpulang layaknya Ibunya dua bulan lalu. Kini ketiadaan bau ibunya mengurangi hasrat pulang. Tetapi lewat kemangkatan ibunya itulah, kotak pandora mulai terbuka, dan merayunya memburu masa silam.

Hampir setahun lalu. Awal September. Menjelang pamitnya musim panas, herfst alias musim gugur membawa angin dingin menerpa syalnya yang melambai-lambai seperti memanggil daun-daun merah-kecoklatan pohon elm yang mulai gugur satu-satu. Rambut Rijke yang hitam kecoklatannya memburai dan menutup wajahnya. Belum sempat ia pakai, syal lepas dari tangannya. Angin kian liar mengendus lehernya dan menyibakkan rambutnya ke depan, dan seketika tangan kanannya hendak tanggap menangkap syal rajut warisan mendiang ibunya itu,tetapi tangan kirinya sibuk mengurai rambut panjang semi ikalnya, yang konon seperti rambut ayahnya. Rambut ikal mayangnya memang panjang, dan kalau ke belakang, nyarislah memeluk seluruh punggungnya, dan kalaulah ke depan, cukup buat menutup payudara sampai udelnya. Dan seketika itu, ikal mayang itu seperti terbebas menari dalam jamahan angin yang menelisipi rambut, seketika itu pula di depan matanya lelaki berkulit kayu tua mendekat. Ia mengulurkan syalnya sembari melepas senyum dan berucap: “Het is van jou?”. Dan jalan di sisi kanal itu pun menjadi saksi sebuah persuaan.

ɣ

Kali ini harus kuceritakan padamu, kisah yang benar-benar terjadi ini: Kala itu Rijke rada kaget menangkap tatapanku tetapi segera keluar dari bibirnya: “dank u”. Waktu itu aku memberanikan diri: “Mag ik met je meelopen?”. Rijke cuma mesem. Esemnya waktu itu sama persis seperti hari ini. Persis ketika batang hidungnya nongol dari balik pintu rumahnya kali ini. Cuma bedanya, kini ia yang mendekat sendiri padaku.Aku merasa sangat beruntung disambangi bidadari di akhir bulan juni ini. Dua bulan menuju genap setahun.

Di pub dekat perempatan, persis sisi kanan penghujung Oost Straat, aku memesan bir. Rijke sedari tadi entah mengapa enggan memesan apapun. Ia tak terlalu bersemangat. “Tak kau urus wisudamu?” tanyaku. “Hmmh sudahlah, het is niet belangrijk”. “aku tidak sabar… ontmoet mijn vader”ucapnya lirih. “Ik heb belangstelling van het geschiedenis en cultuur van Indonesië” lanjutnya. Aku diam. Aku teguk lagi segelas bir belgia itu. “Perlu kutemani?” tanyaku lagi. “bukankah kamu akan segera ujian Phd?” tanya Marijke. “ya tapi aku bisa saja…”. Marijke mengangkat ibu jarinya, dan dengan cepat nempel di bibirku. Bibirku yang dingin oleh bir, perlahan hangat. Sikap ini persis seperti pertama dia mengenali kakunya Bahasa Belandaku. Begitulah caranya mengakhiri setiap yang membosankannya muncul dariku. Ibu jarinya, isyarat khusus buatku. Dan ini mengantarkan kami berpindah tempat dan berganti Isyarat bahasa tubuh. Sensasi malam pertama-tama dulu, seperti berulang sekarang. Di semarak musim panas, kutemukan madunya malam ini. Namun sungguh aku rada was-was kalau-kalau ini jadi yang terakhir. Aku pun ngerti, Rijke benar-benar sudah mengurus tiket hingga perbekalan. Aku tak bisa membayangkan wajahnya, ketika harus berucap: Tot straks. Duhai Anne Marijke, “Ik zweer dat ik erg van hem houd!”.

ɣɣ

“Excuse me, please passport!” ucap petugas, matanya menjamah seluruh wajah Rijke. “Ah yak, ini silahkan” ucapnya semangat. Seperti biasa, mencocokkan sesaat, “Bisa Bahasa Indonesia ya… oke selamat datang di Indonesia”. Senyum Rijke diumbar pelan. Matanya tidak sebiru orang eropa, tetapi mancungnya lebih dari cukup. Dia makin yakin. Dalam hati ia benarkan kata kawan Indonesianya di Londo sana, katanya orang Indonesia jauh lebih ramah di negerinya, apalagi kalau sama bule.”Rijke tahu makna bule dari kawannya itu. Tetapi dia membatin, bulekah dirinya?

Menyusuri Bandar udara yang demikian luas, Rijke tak ingin ambil  pusing. Dia menuruti petunjuk tercepat buat exit, sampai lambaian tangan para penjaja taksi menyambutnya. “Where are you going?”. “saya mau ke…”. “Woh iso boso Indonesia toh, sini ikut saya…”. Belum selesai rayuan taksi, teriakan memotong, “Anne, anne, di sini!”. Wajahnya nyaris bundar tapi agak ciut, tetapi badannya berisi, cenderung gempal. “ohh mijn god, Lila”. Sebagian orang menengok teriakan sahut-sahutan mereka berdua. Dalam bahasa kangen dan perjumpaan keduanya menggenang dalam pembicaraan meriah dan terasa memecah pintu keluar bandara. Segera tuan penjaja taxi menemu pelanggan tersesat lainnya. Tirai senja pun lambat-lambat ditarik, persis ketika Marijke dan Lila telah terduduk di dalam mobil. Di jalur padat berpolusi pekat ibu kota.

Lila mendekati Rijke yang asik masyuk membuka-buka buku, “Kamu baca apa, asik banget sejak tiga hari di sini?”. “Ini Babad Tanah Jawa, aku pernah baca terjemahan Belandanya, tapi baru kutahu versi Bahasa Indonesianya di sini, rasanya beda” terang Rijke. “Ah sudahlah, ayo kita keluar, liat-liat Jakarta, masa kuajak bepergian keliling Jakarta kau malas, malahan baca buku pamanku”. Akhirnya, senja itu mereka berdua keluar dan Rijke sengaja menuruti ajakan Lila, termasuk ke bekas-bekas Hindia-Belanda, macam kota Tua “Kamu kan londo, jadi harus liat tuh bekas-bekas taring negerimu di sini” terang Lila. “Tapi aku kan separuh sini” bela Rijke. “Hahaha, ow iya, kamu jadi minggu depan ke kota itu?” “iya”. “Kapan?”. “Senin”. “Berarti tinggal besok lusa, kenapa buru-buru?” Lila mendesak. “Maaf Lila, saya sudah terlanjur pesan tiket kereta, dan saya sudah tidak sabar menemui Ayahku”. Lila ingin membantah, tetapi sorot mata Rijke sangat tulus dan serius. “baiklah kalau itu maumu, tapi kenapa nggak naik pesawat saja?”. “Saya ingin naik kereta, belum pernah mencoba kereta di sini”. Jawaban Rijke mengherankan Lila. “Dasar aneh, ya udah pokoknya malam ini harus dugem ya?” ajak Lila. “Apa itu dugem?” tanya Rijke polos. “Ahh, kau nanti juga tahu sendiri, budaya impor dari orang-orang londo”. Rijke mengernyitkan dahi. Dan mobil itu ditelan malam, berhenti di sudut gemerlap ibukota.

“Ingat baik-baik ya, jangan ragu hubungi aku jika ternyata Ayahmu itu bukan ayahmu”. Lila mengingatkan sambil memperhatikan gadget. “Bisa jadi kan, Ayahmu itu sebenarnya sudah tiada, dan yang akan kau temui adalah orang yang mengaku sebagai ayahmu” jelas Lila. Rijke diam. “ah maafkan aku, terserahlah, aku tidak mau mengecewakan semangatmu, tapi aku cuma khawatir saja…” Belum selesai lila berbicara, pengumuman dari speaker stasiun berkumandang. “itu kereta akan segera tiba, berhati-hatilah Rijke, hubungi aku kapanpun, maaf aku tak bisa turut serta menemani, kerjaanku menumpuk” keluh Lila. “ahh tidak papa” jawab Rijke sambil menyungging. “jeess” suara rem kereta dan riuh rendah terjalin.

Suasana penumpang di gerbong lima, mulai penuh tetapi tak berdesakan, maklum kereta kini sudah berubah. Tetapi tahu apa Rijke tentang kereta yang berubah? Yang pasti Rijke berusaha mencermati alur kursi, dan mencari kursinya. Berhenti di angka yang dituju, dan di sekitar itu masih kosong dan Rijke pun memilih yang menempel dengan jendela. Kereta pun melaju, dan Rijke tenggelam dalam pandangan yang lepas di jendela kereta. Masinis memeriksa dan berlalu, sementara Rijke memutuskan tenggelam dalam kisah-kisah dalam babad. Jam demi jam berlalu, stasiun demi stasiun disinggahi. Namun di sekitarnya masih sepi. Hanya di seberang lajur kanan yang telah terisi oleh oleh lelaki, perempuan dan dua anaknya, yang nampaknya sekeluarga.

Pada suatu pemberhentian stasiun, Rijke meletakkan bukunya di desk kecil yang menempel jendela. Rijke mengambil layar gawai dan asyik memeriksa pesan. Sampai tiba-tiba seorang bertanya, “where are you come from?”. Rijke ragu menggubris hingga pertanyaan pun berulang dengan meyakinkan. “I’m from Nederland, saya dari Belanda” kata Rijke, seperti ingin pamer bahwa ia bisa berbahasa. Lelaki yang bertanya itu berambut panjang terurai, rada keriting mengombak, dan sepanjang memenuhi punggung. Rambut keduanya sebenarnya hampir sama, hanya milik Rijke yang terkadang tampak kecoklatan. “hmm, pasti peneliti ya?” tanya lelaki itu percaya diri, sorot matanya cerah dan senyumnya muncul perlahan di bawah kumisnya yang tipis. “Ah, bukan, saya cuma..”. “mana mungkin, bisa bahasa indonesia, apalagi membaca Babad Tanah Jawa, pasti bukan sembarang turis” potong lelaki itu cepat. Rijke diam beberapa detik. “dulu saya mahasiswa, tetapi sekarang tidak, saya baru lulus” terang Rijke. “ohh, begitu.” Lelaki itu manggut-manggut. Lelaki itu berdiri menata tasnya, dan menaruhnya di bagasi atas.Lelaki itu duduk kembali, dan suasana hening sesaat seiring laju kereta.

Lelaki itu mencoba memperhatikan Rijke yang mencoba menikmati bacaan barunya itu. “Leng welut marganing bhumi, sirna ilang rasaning janma” ucap lelaki itu. Rijke mendengar, tetapi mencoba tak ambil peduli. “Nona, kau tahu artinya?“ tanya lelaki itu segera, sambil mulai menggelung rambutnya yang panjang itu. Rijke malah memperhatikan gelagat lelaki itu yang sanggup menggelung rambutnya tanpa pengikat, dan tampak terkucir rapi. Rijke pun lambat menjawab “Apa maksud anda?” tanyanya. Lelaki itu memecah senyum dan sesekali melirik ke bukunya. Ia mengulang kalimat itu tadi, dan bertanya lagi. “Saya tidak paham” ucap Rijke singkat. “Kau mestinya tahu di buku bacaanmu itu” terang lelaki itu singkat. Lelaki itu tersenyum lagi. Dan kini, entah mengapa Rijke penasaran sendiri.

Lelaki itu mengulurkan tangan, isyarat meminjam. Rijke tak ambil pusing dan menyodorkan buku itu. Lelaki itu menatap sampulnya, lalu segera membuka-buka sebentar, lalu menutup buku itu kembali. Buku itu diberikan pada Rijke lagi. “Buku itu terjemahannya kurang bagus”. Ucap lelaki itu singkat. “maksudnya?” tanya Rijke. “Seharusnya kau baca naskah aslinya saja, dalam aksara jawa”, kata lelaki itu lagi dengan sorot mata yang mulai menajam menatap Rijke, langsung ke mata.“Buku ini pernah disunting dan diterjemahkan oleh seorang peneliti dari negerimu untuk kepentingan negerimu, dan sayangnya beberapa tokoh dalam babad disamakan, sehingga ada yang meleset ditafsirkan. Beberapa waktu lalu bahkan ada peneliti Eropa yang menerjemahkan Serat Centhini, padahal juga tak pandai membaca dalam kitab berbahasa dan beraksara aslinya. Inilah mengapa, ada beberapa karangan yang sebenarnya diciptakan khusus untuk pribumi.” Penjelasan lelaki itu perlahan diresapi Rijke. “Serat Centhini?”. “ya, kau pernah mendengarnya?” tanya lelaki itu. Rijke hanya mengangguk. Lelaki itu melanjutkan: “Begitulah, karya-karya khusus diciptakan leluhur kami agar dipahami kami.Jadi hanya untuk kami. Kami yang kalian sebut inlanders ini”. Rijke entah mengapa hanya senyum dan tak bertanya lagi. Mungkin ekspresi lelaki itu yang bagi Rijke tampak demikian emosional. Lelaki itu pun terdiam, dan mulai memandangi langit senja dari jendela kereta. Rijke terdiam dengan batin yang bertanya-tanya. Rijke seperti teringat sesuatu. Tetapi perjalanan mulai menuntunnya pada rasa kantuk.

Kereta telah menuju stasiun yang dituju. Rijke terbangun oleh suara pemberitahuan petugas tentang pemberhentian stasiun. Tak sampai beberapa saat, suara klakson kereta berdentam. Laju memelan. Tibalah di Stasiun kota tujuan.Kota terdalam di selatan. Kota yang konon menyimpan segala sejarah ini mendebarkan hatinya. Sesaat berbenah, Rijke tersadar Lelaki yang duduk di depannya telah hilang. Tanpa perkenalan, Rijke sedikit merasa kehilangan. Namun, sebuah tiket ditemukannya. Rijke memungutnya dan memasukkannya ke sela buku babad. Rijke tak terburu ingin tahu siapa namanya. Rijke meyakini, barang yang tertinggal akan menemui pemiliknya lagi. Begitupun tiket itu, bagi Rijke, menyimpannya akan menghantarkan pada perjumpaan kedua. Rijke bukan jatuh hati. Hanya dia merasa ada yang perlu diketahuinya lebih jauh tentang masa lalu negeri Ayahnya dari Lelaki itu.Rijke teringat kalimat lelaki itu lagi. Rijke sungguh teringat sesuatu. Seperti dejavu.

ɣɣɣ

Sore mulai dijemput senja. Taxi online mengantar Rijke pada tujuan. Menanti terbukanya portal, buat memotong lintasan kereta. Melaju mobil menembus jalan beraspal yang membelah persawahan. Rijke tiba di sebuah kawasan perumahan di pinggiran kota itu. Alamat menuntunnya memasuki sebuah gapura yang di mulutnya tumbuh bendera putih kecil. Bendera putih kecil itu pula yang kemudian menuntut Rijke menelepon Lila. Lila tak kunjung mengangkat, lalu menelponku. Begitu ia cerita dengan suara memelan yang memperdengarkan kecemasannya. Aku dalam hati bertanya, adakah Rijke meneleponku karena membutuhkanku, atau sekedar membutuhkan pribumi yang ia kenal, buat membantu menjelaskan keadaan terasingnya? Bukankah Rijke mencari akar darah pribuminya?” aku bicara sendiri. Ah sudahlah. Mencintai harus membuang segala tanya. Aku pun memesan tiket pesawat untuk kembali. Tetapi pertanyaan terus datang kembali: Kembali sebagai pribumi atau sebagai lelaki yang mencintainya?

Pendapat Anda: