Kiki Sulistyo: Adanya komunitas menandakan iklim sastra kita itu buruk

Posted: 1 September 2018 by Redaksi Kibul

Jumat, 24 Agustus 2018 Redaktur Kibul berkesempatan bercakap-cakap dengan sastrawan asal Lombok, Kiki Sulistyo. Penyair peraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 melalui bukunya Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017). Bang Kiki bercerita tentang perkembangan sastra di Lombok, tentang komunitas sastra di sana, juga tentang Komunitas Akarpohon, komunitas yang dibentuknya sejak 2009. Setelah berbincang tentang gempa, dan kondisi masyarakat korban Gempa Lombok, perbincangan kami mulai terarah ke dunia sastra dan sekitarnya. Berikut wawancara Redaktur Kibul dengan Kiki Sulistyo:

Bagaimana perkembangan sastra di Lombok menurut Bang Kiki?

Sastra di Lombok, ya saya bisa bilang turun naik lah. Maksudnya kalau saya baca, generasi awal gitu pasti memiliki masa dimana sastrawannya mulai berkurang. Masa-masa ini rata-rata (terjadi) karena tidak ada yang menggerakkan atau menggiatkan. Mungkin (salah satunya) karena di sana tidak ada fakultas sastra, yang ada kan hanya fakultas pendidikan bahasa dan sastra. Jadi kemunculan sastrawan itu biasanya sporadis gitu lho. Seperti datang dari lorong-lorong gelap atau dari mana gitu. Kalau saya baca sejarahnya di NTB itu, gerakan (sastra) di tahun 50-an, 60-an gitu. Ada sastrawan tua almarhum Putu Arya Tirtawirya dia dulu bikin HPPPN, Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara. (Himpunan itu) bikin buletin-buletin (sastra). Koordinatnya banyak ada di Malang, dan beberapa daerah. Nah, Putu Arya inilah yang mengumpulkan anak-anak muda sehingga terkumpulah generasi pengarang di era itu. Tapi setelah akhir 90-an itu mulai berkurang, rata-rata itu karena para sastrawan-sastrawan itu telah menikah dan kemudian tidak produktif lagi. Lalu baru sekitar tahun 2008-2009 itu baru mulai (muncul) lagi, itu karena komunitas-komunitas yang mulai tumbuh.

Seperti apa pendapat Bang Kiki mengenai Sastra Daring?

Ya pertama itu (berkembang karena) lebih mudah kan. Sejauh yang yang saya lihat, perubahannya itu baru pada kuantitasnya. Kalo kualitasnya sih,… maksud saya media yang baru itu belum dimanfaatkan untuk model-model penulisan yang baru. Misalnya kalau prosa kan di koran panjangnya 9000 cws, kadang-kadang media online itu juga masih dengan 9000 cws. Saya sih memandang itu sebagai media saja, saya suka sastra yang bagus lah, terlepas dari medianya seperti apa.

Bang Kiki lebih suka menulis cerpen atau puisi?

Menulis puisi

Tema-tema seperti yang ingin diangkat Kiki Sulistyo dalam puisi-puisinya?

Buku saya yang paling bertema itu yang terakhir, yang Di Ampenan (Apa Lagi yang Kau Cari?) itu. Pada awalnya saya tidak memikirkan proyek menulis tentang Ampenan saja, tapi setelah dikumpulkan dalam jangka waktu 10 tahun ternyata banyak puisi tentang Ampenan, maka bukunya jadi nampak bertema. Sebelum-sebelumnya sih lebih acak (temanya).

Apa saja kegiatan Komunitas Akarpohon yang dibentuk oleh Bang Kiki?

Akarpohon itu kegiatannya yang rutin ya diskusi mingguan. Diskusi karya gitu. Yang kita diskusikan itu ada 4 kategori. Yang pertama karya penulis muda di sana kita diskusikan, yang kedua karya penulis NTB yang sudah dilupakan, misal pernah menulis satu dua karya kemudian menghilang. Yang ketiga karya penulis Indonesia yang juga sudah dilupakan misalnya Motinggo Busye, lalu juga (keempat) karya terjemahan sastrawan dunia.

Bagaimana semarak dunia penerbitan di Lombok?

Kalau penerbitan di NTB sih tidak ramai, buku yang terbit di sana sedikit. Karena kita juga cetaknya di Jogja. Di sana belum ada percetakan yang baik untuk mencetak buku.

Apa peran komunitas sastra dalam perkembangan dunia sastra?

Kalau menurut saya, munculnya komunitas menunjukkan kalau iklim sastra di Indonesia itu buruk. Jadi dia itu harus membuat ekosistemnya sendiri, membuat habitatnya sendiri untuk menjaga lingkungan sastranya itu tetap sehat.

Bagaimana hubungan antar komunitas sastra di Lombok?

Ada sinergi di sana. Beberapa komunitas sastra itu menerbitkan antologi bareng, bikin acara lokal gitu lah. Ada Festival Sastra lokal, (namanya) Oktofest di bulan Oktober, yang tahun lalu itu mengundang Esha (Tegar Putra). Spotnya berpindah-pindah, tidak di satu spot tapi di beberapa tempat.

Bagaimana perasaan Bang Kiki diundang di acara Diskusi Sastra Nasional PKKH UGM?

Ya pertama saya kaget juga. Senang, kaget, campur-campur lah, dan agak deg-degan juga.

Dalam acara Diskusi Sastra Nasional PKKH UGM bertajuk Membaca Kasablanka dan Ubai, puisi-puisi Esha Tegar Putra, Kiki Sulistyo mengungkapkan lebih lanjut alasannya masih grogi ketika diundang dalam acara diskusi malam itu. Kiki mengungkapkan bahwa puisi-puisi Esha tidak bisa dilepaskan dari latar belakang budayanya. Esha yang berlatar belakang budaya Minang tentu saja memiliki latar belakang budaya yang jauh berbeda dengan Kiki yang berasal dari Lombok, meskipun keduanya mengenal dekat secara pribadi.

Ketika dihubungi paskaacara, Kiki Sulistyo mengungkapkan acara diskusi sastra semacam ini perlu untuk dilanjutkan, karena menyandingkan antara cara seorang praktisi dan seorang akademisi dalam mengurai suatu karya. Hanya saja peserta diskusi seharusnya lebih aktif dalam membuka celah-celah diskusi. Terlepas dari segala kekurangannya, acara seperti ini harus diapresiasi dan diteruskan.

Pendapat Anda: