BBS #166: Ziarah A. Adjid Hamzah

Studio Pertunjukan Sastra bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta dan Dewan Teater Yogyakarta menggelar acara Bincang-Bincang Sastra edisi ke 166 mengusung tajuk “Ziarah A. Adjib Hamzah: Sosok dan Karya”. Acara ini akan diselenggarakan Minggu, 28 Juli 2019 pukul 20.00-23.00 di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta, jalan Sri Wedani 1 Yogyakarta. Hadir selaku pembicara dalam Bincang-Bincang Sastra kali ini ialah A.S. Adham (putra alm. A. Adjib Hamzah) dan Brisman H.S. (Teater Ramada). Di dalam acara ini juga akan tampil Dewan Teater Yogyakarta menyajikan dramatik reading salah satu naskah drama karya mantan pemimpin redaksi Majalah Suara Muhammadiyah itu.

Melalui acara Bincang-Bincang Sastra edisi Sastrawan Leluhur kali ini, Studio Pertunjukan Sastra mengajak para pencinta sastra dan teater di Yogyakarta untuk kembali ziarah, mengenal dan mengenang sosok maestro sastra Yogyakarta pemilik nama lengkap Adham Adjib Hamzah. Bagi generasi milenial, mungkin nama A. Adjib Hamzah terdengar asing di telinga. Padahal ia merupakan salah satu tokoh sastra Yogyakarta yang telah banyak melahirkan karya sastra berupa novel, cerpen, dan drama. Proses kreatifnya di bidang kesastraan dimulai sejak masa awal kemerdekaan bersama sang adik, Hadjid Hamzah, berbarengan dengan Nasjah Djamin, Kirdjomuljo, Motinggo Boesje, Bastari Asnin, dan  para sastrawan sezaman yang lainnya. 

Yogyakarta sebagai ibukota negara pada masa awal kemerdekaan mendorong sejumlah sastrawan dari luar berbagai daerah berbondong-bondong datang sehingga iklim kreativitas kesastraan, seni rupa, teater, dan lainnya tumbuh berkecambah. Adjib Hamzah menjadi salah satu nama sastrawan kelahiran Yogyakarta yang tumbuh. 

Kecintaannya pada dunia seni dan filsafat dibuktikan dengan riwayat pendidikan formal yang ditempuhnya, yakni di Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta, Asdrafi, dan Akademi Metafisika Yogyakarta. Di sela hari-harinya yang suntuk dengan mesin tik di meja kerjanya, A. Adjib Hamzah juga aktif dalam dunia teater. Ia pernah menjadi guru drama di SMP Muhammadiyah III B, di SPG Muhammadiyah I Yogyakarta, di SMP Muhammadiyah V Putri, dan mengajar dramaturgi dan penulisan skenario film pada Fakultas Ilmu Dakwah Masjid Syuhada Yogyakarta. Selain itu, ia juga mendirikan kelompok Teater Ramada di tempat tinggalnya, yakni di Notoprajan. Terkait dengan dunia drama, ayah dari Affan Safani Adham, Annas Solikhin Adham, Amran Sahrani Adham, Amin Sa’adi Adham, Azam Sauki Adham, Arief  Subhan Adham, Abas Sani Adham, dan Anna Sophia Adham  ini menulis buku Pengantar Bermain Drama (CV Rosda, 1985) yang menjadi buku bacaan wajib di sejumlah sekolah dan kampus di Indonesia. Tidak hanya itu, karyanya juga diangkat menjadi film dan sinetron, antara lain Gudeg Yogya (film, 1962), Tiga Siluet (sinetron, 1985), dan Hengki (sinetron, 1986). Karyanya berupa drama radio diputar di RRI Nusantara II Yogyakarta sejak 1957-1985. Ia juga mengisi sinetron di TVRI Stasiun Yogyakarta sejak tahun 1972-1986. 

“Kali ini Studio Pertunjukan Sastra hadir dengan tema sastrawan leluhur A. Adjib Hamzah. Bisa dibilang ia adalah maestro di bidang sastra, khususnya di arena satra Yogyakarta. Karya-karyanya telah mengisi sejumlah media massa di Indonesia. Karya-karyanya juga banyak yang terbit dan memenangkan sejumlah penghargaan. Antara lain,  Pembela Keadilan, menjadi pemenang pertama dalam Sayembara Besar Mengarang PN Balai Pustaka dan diterbitkan Balai Pustaka tahun 1968.  Tabah Si Anak Laut menjadi pemenang pertama sayembara yang diadakan Kedaulatan Rakyat dan diterbitkan oleh Kedaulatan Rakyat tahun 1971. Atas kesetiaannya, pada tahun 1993 menerima Penghargaan Seni dari Pemerintah Daerah, Daerah Istimewa Yogyakarta,” tutur Sukandar selaku koordinator acara.

Sukandar menambahkan, “Sastrawan yang lahir di Yogyakarta pada tanggal 4 Juni 1938 ini dikenal sebagai penulis yang disiplin. Berdasar kesaksian sang putra, A.S Adham, hampir sepanjang hari A. Adjib Hamzah duduk di depan mesin tiknya. Bahkan tamu pun harus menunggu jika ingin bertemu apabila bertepatan di saat ia fokus di depan meja kerjanya.” 

“Kegiatan di bidang teater, yakni Teater Ramada juga menarik untuk dikupas. Maka dihadirkanlah Brisman H.S., selaku penggiat teater yang secara langsung oleh A. Adjib Hamzah diberi kepercayaan untuk mengelola Teater Ramada. Teater Ramada adalah sempalan dari sebuah teater dengan sejarah besar di Yogyakarta bahkan Indonesia, yakni Teater Muslim. Tradisi kepenulisan di suatu kelompok teater menjadi satu hal yang penting baginya. Oleh sebab itu, selain melatih bermain drama Adjib Hamzah juga melatih murid-muridnya dalam hal penulisan kreatif di Teater Ramada.” pungkas Sukandar.

Keberadaan sastrawan di masa lalu beserta karya-karyanya tentu tidak boleh dilupakan begitu saja. Maka, penting bagi masyarakat untuk hadir menghikmati acara Bincang-Bincang Sastra kali ini. Acara yang rutin digelar setiap akhir bulan ini terbuka untuk umum dan gratis.

Studio Pertunjukan Sastra

Studio Pertunjukan Sastra

Mengawal Geliat Sastra Yogyakarta

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait