Puisi-Puisi Caroline Norton

Posted: 1 September 2017 by Rini Febriani Hauri

Hatiku seperti Kacang Layu

HATIKU seperti kacang layu,
bergetar dalam kulitnya yang cekung;
kau takkan bisa melepaskan dadaku dan meletakkan
sesuatu yang segar untuk meninggalkan
harapan dan impian yang mengisi kepalaku
saat musim semi,  kemuliaan hidup yang memenuhi pandanganku,
hilang! Dan tidak pernah  merasa sukacita sehingga rasa sakit
yang menyusut  akan membengkak lagi.

Hatiku seperti kacang layu;
begitu lembut untuk setiap sentuhan,
tapi sekarang sangat erat dan tertutup;
aku tidak perlu memohon lagi
suara ringan sekaligus kencang membuka alisku,
angin sepoi-sepoi mengguncang pepohonan
buah-buah yang  bergelantungan  diterangi sinar matahari,
kebohongan-kebohongan menjadi dingin, kaku, dan sedih, sepertiku!

Hatiku seperti kacang layu –
sangat lucu bila dilihat;
tapi ledakan sial telah mengubah
warnanya menjadi  gelap dan menyedihkan.
seperti semangat pemuda yang masih hijau
seharusnya buah itu pulih kembali;
dan hatiku yang malang, aku merasakannya dalam kebenaran
bukan matahari maupun senyuman yang akan menyinarinya lagi!

*judul asli: MY heart is like a withered nut

 

 

Jangan Mencintai

Jangan mencintai, jangan mencintai! Hai anak-anak tanah liat!
karangan bunga penuh harapan terbuat dari bunga-bunga duniawi
beberapa diantaranya memudar dan rontok
bunga-bunga itu telah mekar beberapa lama.
jangan mencintai!

jangan mencintai! Apa-apa yang kaucintai bisa berubah:
bibir kemerah-merahan akan berhenti tersenyum kepadamu,
mata yang ramah menjadi dingin dan aneh,
jantung berdegup kencang, namun  itu semua tak nyata.
jangan mencintai!

jangan mencintai! Apa-apa yang kaucintai akan mati,
semoga binasa dari bumi yang riang gembira;
bintang-bintang sunyi, langit biru tersenyum,
balok kuburan kita, masih seperti dulu saat kelahirannya.
jangan mencintai!

jangan mencintai! Oh, kata peringatan yang sia-sia
masa-masa  sekarang sebagaimana  tahun-tahun berlalu;
cinta mengibas-ngibaskan lingkaran ke kepala sang terkasih,
sempurna, abadi, sampai mereka berubah atau mati,
jangan mencintai!

*judul asli: Love Not

 

 

Cinta Pertama

YA, aku tahu kau pernah menjadi kekasihku,
tapi hubungan kita sudah berakhir,
meskipun perjalanan cinta kita sudah selesai,
kau tahu kau masih bisa menjadi – temanku:
aku masih muda dan  bodoh, ingatlah;
(pernahkah kau mendengar John Hardy bernyanyi?)
saat itulah, tanggal lima belas November,
dan inilah akhir musim semi!

Kau mengeluh Kau tak diperlakukan dengan baik
tiba-tiba saja aku berubah;
bisakah aku membantumu? kau sangat sombong,
karena  menganggap kau setara dengan Joe.
jangan berlutut di kakiku, aku mohon padamu;
jangan menulis pada gambar –gambar yang kaubawa;
jangan memintaku mengatakan, ‘aku memujamu,’
Sebab, memang, sekarang tidak lagi seperti dulu.

aku akui, ketika di Bognor kita berpisah,
aku bersumpah dulu pernah memujamu –
aku seorang pembantu yang patah hati,
dan kau seorang pria paling menawan
kuakui, saat aku membaca surat pertamamu,
aku menghapus namamu dengan air mata–
tapi, oh! Aku masih muda – dan tak tahu apa-apa,
bolehkah kukatakan padamu, aku telah bertemu Hardy di sini?

Betapa membosankan menjadi dewasa! Betapa cemasnya,
mengulangi janji menjadi kenyataan –
jika aku mengatakan sesuatu, aku akan  menceritakan sebuah kisah,
karena aku mencintai Hardy lebih baik darimu!
Ya! Hatiku yang manis telah memperbaiki yang lain,
(aku menghela napas  setiap kali ia pergi,)
aku akan selalu mencintaimu – sebagai saudara laki-laki,
tapi di dalam hatiku hanya ada John Hardy seorang diri.

*judul asli: First Love

 

 

Aku Tak Mencintaimu

Aku tak mencintaimu! – tidak! Aku tak mencintaimu!
namun, saat kau tak hadir, aku merasa sedih;
    dan iri saat langit biru cerah berada  di atasmu,
bintang yang tenang bisa melihatmu  bersukacita.

    Aku tak mencintaimu! – Namun, aku tak tahu mengapa,
bagiku segalanya masih tampak baik
    di saat kesendirianku, aku sering menghela napas
bahwa orang yang kucintai tidak lebih seperti kau!

    Aku tak mencintaimu! – Namun, saat kau pergi,
aku membenci suara-suara (meski orang-orang berbicara tentang cinta)
   memecah gema nada yang tersisa
suara -suaramu terdengar di telingaku.

    Aku tak mencintaimu! – Namun matamu yang biru berbicara,
dengan dalam, dengan terang  dan penuh perasaan
    aku dan langit tengah malam terbangun,
lebih sering daripada mata yang pernah kukenal.

    Aku tahu, aku tak mencintaimu! Namun, sayang!
orang lain hampir tak memercayai hatiku yang jujur;
   dan aku menangkap mereka tersenyum saat berjalan,
karena mereka melihatku menatap keberadaanmu

*judul asli: I Do Not Love Thee

 

 

Andai Aku Bersamamu!


Andai  aku bersamamu! setiap hari dan setiap waktu
sebab saat jauh darimu, aku menghabiskan waktuku dalam kesedihan –
andai  aku tercipta memiliki kekuatan gaib
aku akan mengikuti kegalauanku!
bagaimana pun nasibmu – baik di darat maupun laut –
andai aku bersamamu – selamanya?

Andai  aku bersamamu! Ketika dunia lupa,
tubuhmu yang lelah terlempar di atas rerumputan
sementara terang jingga matahari sore terbenam,
semua pikiranmu hanyalah milik surga:
Sementara mimpi bahagia telah hatimu peroleh –
andai aku bersamamu – dalam kegembiraanmu!


Andai  aku bersamamu! Ketika kita tidak lagi berpura-pura
tertawa terbahak-bahak  menahan napas;
bibirmu yang lembut menuangkan keluhannya yang manis,
dan airmata telah memadamkan cahaya di dalam matamu:
lalu semua tampak gelap dan sedih berada di bawahnya,
andai aku bersamamu – dalam celaka mu!

Andai  aku bersamamu! Ketika hari-hari patah,
saat bulan telah menyinari laut yang sepi –
atau ketika di tengah keramaian, beberapa catatan serampangan terbangun:
berbicara kepada hatimu untuk mengenangku.
dalam kegembiraan atau kesakitan, baik di laut maupun di darat –
andai aku bersamamu – selama-selamanya!

*Judul asli: Would I Were With Thee!

 

 

Profil Penyair:

Caroline Elizabeth Sarah Norton,  (22 Maret 1808 – 15 Juni 1877) adalah seorang pembaharu sosial Inggris  yang lahir tanggal 22 Maret 1808. Ia juga penulis yang aktif di awal dan pertengahan abad kesembilan belas. Kampanye Caroline yang intens menyebabkan berlalunya Undang-Undang Penitipan Bayi 1839, Undang-Undang Penyebab Kekristenan tahun 1857 dan Undang-Undang tentang Wanita yang Menikah pada Tahun 1870. Meninggal pada tanggal 15 Juni 1877.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *