Pensiun

Posted: 29 August 2017 by Michael Anggi Gilang Angkasa

Aku meraba setiap jengkal dinding kamar dengan telapak tangan yang mulai terkelupas karena berganti kulit. Hingga kini aku tidak juga mengerti, mengapa setiap tangan akan bernasib seperti ular. Bahkan tanganku “benar-benar ular” sekarang. Namun ,ular itu tidak meliuk di atas tanah atau melingkar di pepohonan. Ia merambat gelisah di antara cat tembok yang terlepas dengan sedikit hawa dingin yang meresap melalui kulit, lalu masuk ke sumsum tulang. Merangsang seluruh sistem syaraf pusat dan memberikan kejutan listrik pada otak untuk bekerja lebih daripada semestinya. Sinyal-sinyal listrik pada otak, memberikan rekaman-rekaman tentang semua yang pernah terjadi dan kini yang tersisa secara tidak teratur dan cenderung chaos. Ini membuktikan bahwa selalu ada yang tersisip di bagian entah dimana. Bisa muncul pada saat yang tidak terduga. Kadang teringat kadang terlupakan begitu saja.

Namun, bagi yang senantiasa bertekun dalam kenangan tentu tidak akan menjadi soal. Mereka memiliki semacam sistem katalog dalam ingatan. Sewaktu-waktu mereka dapat bercerita secara historis-kronologis, bahkan mencari persamaan untuk menjelaskan semua keterkaitannya. Setidaknya mereka percaya bahwa segala sesuatu mengandung makna yang terkait satu dengan yang lain. Bagi mereka setiap momen dalam hidup adalah variabel bebas, dan nyawa adalah variabel terikat. Mereka sangat matematis meskipun tampak luar begitu romantis, atau sekadar mengaku romantis. Kelak jika persamaan itu berubah karena satu atau dua hal, mereka tidak bimbang. Sadar darimana mereka berasal. Seberapa rumit perjuangan mereka untuk mendapatkan persamaan pendek dan elegan, khas intelektual abad pencerahan. Namun apa boleh dikata, demi sebuah pegangan, kepercayaan adalah salah satu dari berbagai keniscayaan. Dan aku adalah bagian dari mereka, baik secara sadar untuk diakui atau secara tidak sadar untuk disangkal.

Semenjak pensiun dari periode unversiter, aku tinggal di sebuah rumah dengan sewa yang murah. Kesibukanku adalah sarapan roti kurma sebelum bersepeda dan mengikuti ibadat pagi. Mengumpulkan jurnal-jurnal penelitian dari siang sampai sore dan membaca novel tentang kebijaksanaan orang Timur sampai malam sebelum tidur. Beberapa kawan dari komunitas gereja  membimbingku untuk bertekun dalam sabda karena ada penguatan di sana, katanya. Mereka memberiku beberapa buku seperti tafsir injil dan beberapa buku renungan berukuran genggaman tangan. Payahnya, aku terlalu tua dan rabun untuk membaca tulisan dengan font yang lebih kecil daripada semut yang bersembunyi dicelah rumput itu. Akhirnya sebagian aku geletakkan saja di meja bundar dekat ruang tamu. Siapa tahu ada yang datang dan memerlukan pertolongan rohani, pikirku sambil sedikit tersenyum nyinyir.

Kalau boleh jujur, aku masih canggung dan kurang terbiasa dengan rutinitas sereligius ini. Mengapa mereka memperlakukan aku seperti orang sakit? Sejenis orang yang memerlukan pertolongan batiniah karena kecemasan atau kegelisahan? Apakah semua yang menua selalu cemas? Atau memang diharuskan untuk cemas? Kematian? Kanker? Gangguan Prostat? Maaf sedikit lancang, namun sikap mereka terhadap penuaan tubuh sepertinya terlalu berlebihan. Apa salahnya menjadi tua? Mengapa mereka selalu memberikan simbol penuaan kepada kesakitan dan penderitaan secara identik dan arbitrer. Seberapa banyak, orang tua di kota ini yang masih mampu berjalan di atas kakinya sendiri? Entahlah, dewasa ini agama memang identik dengan yang sakit. Tentang dunia yang benar-benar telah sakit.

Di berbagai belahan dunia tengah timbul krisis ekonomi dan kesenjangan sosial yang miris. Krisis ini disertai dengan eksploitasi mesin-mesin kapital terhadap lingkungan yang berdampak kepada perubahan kultural di sendi-sendi masyarakat yang mengalami. Manusia- manusia itu tercerabut hubungan primordialis-nya dengan alam yang membentuknya. Alam yang bersahabat untuk manusia agar tumbuh sebagaimana dirinya sendiri.

Di tengah rasa sakit akan kehilangan jati dirinya, belum lagi ruang hidup yang dengan sengaja dirampas, dan kekerasan yang kemudian meningkat sebagai akibatnya, manusia seperti kehilangan pegangan. Kehilangan seluruh sisi kemanusiaannya, baik jiwa maupun raganya. Akan tetapi, karena tuntutan eksistensial untuk terus mengada, manusia-manusia tertindas ini akan bertindak dengan berbagai cara. Sebagian akan mengambil tanggung jawab untuk terus hidup dengan melawan. Sebagian menaruh kepercayaan akan adanya dunia lain yang penuh pengharapan.

Dengan segala keterhilangan ini, agama menjadi satu-satunya yang tersisa untuk dijadikan sebagai pegangan. Isu-isu agama lalu menjadi sangat sensitif atau sengaja dikondisikan sedemikian rupa untuk menjadi sensitif. Akhirnya, mereka yang telah sadar dan berharap mampu keluar dari pengaruh remote control kapital malah diretas alam bawah sadarnya dengan isu-isu konflik antar umat beragama. Kapital kembali berhasil mengambil alih kontrol dengan menggunakan dimensi yang berbeda. Dimensi yang tidak hanya bersifat material namun juga metafisika. Meningkatnya kesadaran akan ketertindasan ini menjadi ancaman bagi kapital untuk terus memperluas ruang eksploitasi karena akan dihadapkan perlawanan. Sayangnya yang jarang disadari, kini eksploitasi kapital tidak hanya bersifat material, namun telah menuju kepada apa yang dimaksud sebagai eksploitasi kesadaran. Eksploitasi non-material yang menyerang alam bawah sadar, lalu mempengaruhi perilaku manusia untuk mengada. Dalam proses mengada inilah, di mana kapital meletakkan chip-nya dengan menjadikan manusia sebagai konsumen produk-produk kapital secara membabi buta. Inilah cara kita mengada saat ini.

Ah sudahlah, mungkin sebagian besar pemikiranku tadi, hanya menjadi alasan-alasan dengan maksud yang terselubung, namun bukan berarti tanpa dasar.

Sebenarnya hanya karena Emily, andai bukan permintaan Casandra Emily, putri kesayanganku yang kini sudah berumur duapuluh lima tahun, aku tidak akan bertindak hingga sejauh ini untuk keluar dari zona nyamanku. Aku sudah merasakan bagaimana kehidupan seperti kopi basi dan ampas-nya. Tidak salah bukan, jika aku memilih yang paling nyaman dalam segala urusan. Termasuk kenyamanan untuk bergaul dengan orang lain. Mungkin pikirnya masa pensiunku akan menjadi semacam post power syndrome yang berdampak kepada depresi akut dan degradasi ingatan yang berujung kepada alzheimer. “Aku tidak ingin suatu hari nanti engkau melupakan Emily, dan memanggilku dengan sebutan nona muda,” Begitu katanya kepadaku di telepon sebulan yang lalu. Emily, seandainya engkau tahu bahwa post power syndrome hanya akan terjadi bagi mereka yang memiliki kekuatan dan jabatan. Bisa juga kekuasaan secara hirarki dan politik.

Lagipula kekuatan apa yang pernah aku miliki? Aku tidak pernah memiliki kekuatan dan kekuasaan dengan demikian juga kehilangannya. Maka aku baik-baik saja sekarang, seperti masa mudaku yang juga lurus-lurus saja. Bahkan ciuman pertamaku adalah ketika aku melamar  Lauren dan dia menerimanya begitu saja, di sebuah bangku dekat kolam di taman kota Monroeville, pada bulan-bulan pertama aku bekerja sebagai staf pengajar di Universitas Waynesburg di bidang Teknik Material.

Setelah tiga puluh lima tahun kami menikah, akhirnya kami berpisah. Jangan tanya kenapa, terkadang hidup menawarkan sesuatu yang tidak terungkapkan dengan kata-kata namun dapat dipahami dengan sebuah tindakan yang dimaknai bersama. Kami berdua sama – sama tidak mengerti namun sangat mendalam ketika memaknai pertemuan dan perpisahan sebagai bagian dari keadaan. Mungkin itu adalah cara kami bersahabat dengan kenyataan.

Setelah kuliah Emily tinggal bersama Lauren di Boston. Ia mengambil jurusan manajemen bisnis. Setelah lulus ia menjalankan bisnis alat-alat kosmetik. Sedangkan Lauren, kini aktif dalam lembaga swadaya pemberdayaan kaum perempuan setelah sampai pada masa pensiunnya. Sedangkan aku, menikmati rutinitasku sehari-hari. Aku menyadari bahwa keterhubungan kita satu sama lain akan tiba pada saat dimana kembali kepada diri sendiri. Bukan sebuah egoisme, melainkan sebuah penerimaan yang paling dalam dimana rasa cinta ditunjukan dengan keterpisahan.

Pada saatnya, kehidupan menarik kita pada pemikiran dan takdir kita masing-masing, entah seberapa keras usaha kita menyatukannya. Dalam biduk keluarga, romantisme asmara, loyalitas persahabatan selalu ada saat di mana kita kembali kepada diri kita masing-masing. Menyadari ini terkadang semuanya terasa begitu sepi. Tapi bukan kita yang mampu menentukan saat berhenti, yaitu saat kita berakhir bersama diri kita sendiri.

Bersama dinding kamar yang semakin dingin ini, aku mencoba bersahabat dengan kenangan dan membereskan semua yang tersisa.

 

*Lukisan Antonio Rotta (1828 – 1903) berjudul A Man and His Dog

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *