Skip links

Kopi dan Maskulinitas

Asosiasi Kopi dan Maskulinitas

Sebuah artikel berjudul ‘Coffee Consumption Differs Between Genders, According to This Infographic’ yang diunggah oleh www.thehuffingtonpost.ca memuat sebuah infografis tentang pola konsumsi kopi laki-laki dan perempuan. Infografis ini dibuat berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Zagat, sebuah situs buatan Amerika Serikat yang bergerak di bidang makanan dan minuman. Hasil survei menunjukkan bahwa 50,8% dari total responden laki-laki mengidentifikasi diri sebagai peminum kopi, sementara responden perempuan yang mengaku peminum kopi hanya sebanyak 32,8% dari total responden. Selain itu, rata-rata responden laki-laki mengonsumsi 2,4 gelas kopi per hari, sementara rata-rata responden perempuan mengonsumsi 1,9 gelas kopi per hari.

Data di atas seolah memperkuat stereotip masyarakat dunia yang menyatakan bahwa kopi adalah minuman laki-laki dan diasosiasikan erat dengan maskulinitas. Perihal apakah pola konsumsi yang membentuk asosiasi atau apakah asosiasi yang membentuk pola konsumsi, jawabannya masih belum pasti.

Jika kita membahas lebih jauh, laki-laki seperti apakah yang diasosiasikan dengan kopi? Penulis mencoba mendapatkan jawabannya dengan cara mengetikkan kalimat ‘famous people who drink coffee’ di kolom pencarian Google. Kebanyakan nama yang keluar memang nama laki-laki, tepatnya tokoh-tokoh dunia dari berbagai latar belakang profesi dan era. Beberapa di antara mereka merupakan musisi klasik abad belasan, seperti Johann Sebastian Bach dan Ludwig Van Beethoven. Beberapa merupakan penulis besar, seperti Albert Camus dan Benjamin Franklin. Ada pula tokoh politik dunia seperti Theodore Roosevelt, John F. Kennedy, hingga Bill Clinton. Nama selebriti internasional era modern juga turut muncul, di antaranya adalah Hugh Jackman dan Leonardo DiCaprio. Bagaimana dengan perempuan? Memang benar bahwa ada nama-nama tokoh perempuan yang muncul, seperti Ariana Grande, Miley Cyrus, dan Kim Kardashian. Namun, kebetulan sekali mereka semua adalah selebriti yang hidup di era modern.

Berdasarkan hal ini, dapat disimpulkan bahwa kopi tidak hanya diasosiasikan dengan laki-laki. Lebih daripada itu, kopi dicitrakan sebagai minuman yang dikonsumsi laki-laki pemikir yang cerdas, produktif, dan menghasilkan karya-karya besar. Asosiasi semacam ini tidak ditemukan pada perempuan, karena nama-nama tokoh perempuan yang keluar hanyalah nama-nama selebriti. Bukankah berbagai budaya juga mengasosiasikan selebriti dengan kemewahan, hura-hura, dan tampilan visual yang menarik saja?

Belum ada jawaban yang pasti tentang mengapa kopi diasosiasikan erat dengan laki-laki. Namun, sebuah penelitian dari University of Akron dan Texas Tech University memberikan sebuah alternatif penjelasan. Penelitian ini memang tidak membahas tentang kopi, melainkan tentang tingginya tingkat konsumsi minuman berenergi pada laki-laki. Salah satu alasan mengapa laki-laki menyukai minuman berenergi adalah karena kandungan kafeinnya yang tinggi dan membantu mereka untuk lebih aktif, produktif, dan kuat. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa masyarakat kita memandang kafein sebagai substansi yang mendorong munculnya sifat-sifat maskulin. Karena itulah laki-laki menggemari minuman berkafein seperti minuman berenergi dan, tentu saja, kopi.

Dampak Asosiasi Kopi dan Maskulinitas

Stephen Klein, dalam bukunya yang berjudul ‘Learning: Principles and Applications’, menyatakan bahwa asosiasi berarti sebuah aktivitas mental yang menghubungkan konsep-konsep, kejadian-kejadian, atau keadaan-keadaan pikiran, yang biasanya didasarkan dari pengalaman spesifik. Contoh sederhananya adalah ketika kita mendengar kata ‘gajah’, maka yang muncul di kepala kita adalah seekor binatang besar berkaki empat yang punya belalai panjang dan sepasang telinga lebar. Manusia bisa mempunyai konsep asosiasi yang sama, bisa pula berbeda. Asosiasi yang berbeda disebabkan karena pengalaman spesifik individu yang berbeda pula. Misalnya, kata ‘1965’ mungkin mengingatkan seseorang pada PKI, namun memunculkan sosok Soeharto di pikiran orang lainnya. Sementara itu, sekelompok orang bisa mempunyai konsep asosiasi yang sama disebabkan beberapa hal, salah satunya adalah karena mereka dipengaruhi oleh budaya yang sama. Nalini Ambady, seorang psikolog sosial terkemuka dari India, dalam sebuah tulisannya yang berjudul The Mind in The World: Culture and the Brain, membenarkan bahwa budaya memang dapat mempengaruhi seseorang hingga ke level perilaku dan kognitif.

Pengaruh budaya dan asosiasi tidak bersifat satu arah. Artinya, bukan hanya budaya yang menciptakan asosiasi tertentu, namun juga sebaliknya, asosiasi dapat menciptakan pola perilaku dan budaya tertentu. Artinya, asosiasi kolektif dapat menciptakan pola perilaku kolektif.

Budaya patriarki yang terus melanggengkan dan mereproduksi asosiasi laki-laki dan maskulinitas telah menciptakan pola perilaku kolektif tertentu dalam industri kopi. Asosiasi kopi dan maskulinitas membuat masyarakat berpikir bahwa laki-laki adalah pihak yang paling memahami kopi. Sebagai pihak yang dianggap paling memahami kopi, maka laki-laki di industri kopi mendominasi dalam urusan yang bersifat kepemilikan aset, pengambilan keputusan, bisnis, dan keahlian meracik kopi. Hal ini terbukti dengan dominannya mereka dalam profesi-profesi seperti pemilik kebun kopi, manajer kedai kopi, investor, barista, dan roaster.

Berdasarkan data dari the Food and Agricultural Organization of the United Nation tahun 2016, perempuan yang bekerja di industri kopi mendominasi hanya dalam urusan yang bersifat pekerjaan fisik: menanam kopi, mengurus pohon kopi di kebun, memanen kopi, memilah-milah biji kopi. Fenomena ini ditemui di negara-negara penghasil kopi secara keseluruhan. Dalam dunia ke-barista-an, tidak sekalipun barista perempuan keluar sebagai juara dalam ajang World Barista Championship yang sudah diselenggarakan 18 kali. Bukti lainnya diabadikan dalam sebuah film dokumenter berjudul ‘Women In Coffee’ yang digarap Equal Exchange. Film ini mengangkat isu perempuan di Honduras yang sulit sekali memiliki lahan kopi. Kebanyakan baru bisa memilikinya sebagai warisan dari suami mereka yang sudah meninggal. Data-data ini menunjukkan bahwa masyarakat masih kurang mempercayakan industri ini di tangan perempuan. Komposisi gender di industri kopi dari hulu ke hilir jauh dari kata seimbang, yang salah satunya disebabkan oleh eratnya asosiasi kopi dan maskulinitas.

Menghilangkan Stereotip Gender dalam Industri Kopi

Ketimpangan gender dalam suatu industri akan melanggengkan perspektif yang monoton dalam industri tersebut. Ketimpangan gender juga membuka peluang bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk merepresi gender yang menjadi minoritas dalam industri itu. Represi itu dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti jam kerja yang berlebihan, upah di bawah standar, fasilitas yang tidak memadai, hingga kasus pelecehan seksual yang dibiarkan terjadi berulang-ulang tanpa ada solusi.

Pengasosiasian kopi dan maskulinitas terbukti telah menciptakan stereotip gender yang negatif terhadap perempuan di industri kopi. Pemikiran semacam ini tentunya harus dihapuskan. Semua pelaku industri kopi harus membuka ruang seluas-luasnya bagi semua gender untuk terjun di industri ini, kemudian mengapresiasi mereka dengan layak. Sebab, pada akhirnya keterlibatan perempuan di industri kopi mulai dari hulu hingga ke hilir akan membuat industri kopi menjadi lebih kaya dan dewasa.

Pendapat Anda: