[Ngibul #81] Hidup Semaunya Sendiri

Posted: 24 September 2018 by Danu Saputra

Istilah “hidup semaunya sendiri” sering kali memiliki makna yang negatif. Ketika istilah itu diberikan pada seseorang, misalnya seperti ini: “Dasar Kamu, hidup semaunya sendiri, rasakan nanti akibatnya,” hampir dapat dipastikan orang yang diberikan menjadi objek kekesalan dari sang pemberi istilah. Di sini kita dapat menggali lebih dalam menggunakan pertanyaan; Apa yang salah dengan hidup yang dijalani dengan mengikuti keinginan sendiri? Memangnya hidup harus dijalani sesuai dengan keinginan orang lain?

Saya pikir tidak ada yang salah dengan hidup semaunya sendiri. Seseorang yang hidup dengan semaunya sendiri secara langsung menunjukkan keberanian dalam bertindak, lebih jauh lagi menunjukkan kemerdekaan atas diri mereka sendiri. Masalah bisa terjadi ketika “hidup semaunya sendiri” milik seseorang berbenturan dengan milik seseorang atau sekelompok orang lainnya. Ketika benturan itu terjadi maka kemampuan tawar-menawar, keberanian menghadapi resiko, dan kedewasaan mengambil peranan besar untuk menghindari perkelahian. Meskipun dalam kasus-kasus tertentu yang berkaitan dengan nilai-nilai yang dipegang teguh, perkelahian tidak dapat dihindari.

Ilustrasi sederhana untuk melihat benturan dalam kasus “hidup semaunya sendiri” dapat dilihat dalam proses jual beli. Penjual dan pembeli dalam proses jual beli tentu sama-sama ingin meraih kemauannya yaitu untung yang besar, untuk itu penjual memberikan harga setinggi-tingginya dan pembeli meminta harga serendah-rendahnya. Adanya perbedaan harga antara penjual dan pembeli ini menggambarkan benturan yang terus terjadi hingga terjadi kesepakatan, yaitu kondisi ketika penjual dan pembeli sama-sama berani menghadapi resiko. Bisa jadi penjual berani menghadapi resiko mendapat untung lebih kecil dan pembeli berani menghadapi resiko membayar lebih mahal. Bisa juga penjual berani menghadapi resiko barang tidak terjual dan pembeli berani tidak mendapat barang yang dibutuhkan.

Jadi sebenarnya tidak ada yang benar-benar hidup semaunya sendiri. Mereka yang mendapat label hidup dengan semaunya sendiri mungkin hanyalah orang yang memiliki nilai tawar yang tinggi dan tekad yang kuat untuk meraih apa yang diinginkannya. Hal itu menyebabkan mereka tidak mudah bergantung oleh hal-hal di luar diri mereka sehingga mereka dapat lebih bebas dalam bertindak.

Meski begitu, jalan hidup yang semaunya sendiri sebenarnya bukanlah jalan yang mudah untuk dilalaui. Salah sedikit dalam melangkah, bukan jalan hidup semaunya sendiri yang ditempuh tetapi jalan hidup ngawur yang akan ditempuh.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan sebuah cerita.

Pada suatu hari Dodo, Udin, dan Adit sedang ngopi dan merokok di tempat yang diperbolehkan untuk merokok. Beberapa saat kemudian Bowo datang untuk ngopi di samping mereka. Selang beberapa saat, Bowo meminta Dodo, Udin, dan Adit untuk mematikan rokok mereka karena Bowo merasa terganggu dengan asapnya. Selain itu, Bowo menceramahi Dodo, Udin, dan Adit tentang bahaya merokok. Dodo, Udin, dan Adit mesam-mesem memerhatikan Bowo yang terus ceramah, tentu saja mereka bertiga memerhatikan sambil tetap kebal-kebul dan srapat-sruput.

Dari cerita itu, menurut Anda siapa yang menempuh jalan hidup ngawur?

Pendapat Anda: