[Ngibul #79] Susahnya Mendongeng untuk Anak Zaman Now

Posted: 10 September 2018 by Andreas Nova

Saya masih ingat betul, ibu saya sering mendongeng untuk saya sebelum tidur ketika saya masih anak-anak. Dulu ibu saya sering membacakan dongeng yang diambil dari majalah Bobo, atau buku dongeng tipis-tipis yang kadang dibeli di toko buku. Tradisi mendongeng itu coba saya teruskan pada anak saya yang baru berusia dua tahun lebih sembilan bulan. Banyak buku dongeng yang bisa dipilih dan dibeli di toko buku. Tapi entah kenapa setelah sekilas membaca beberapa cerita yang ada dalamnya kok malah saya jadi bingung sendiri. Saya jadi ragu untuk mendongengkan kisah-kisah dalam buku dongeng tersebut karena anak saya rasanya terlalu kritis untuk dongeng-dongeng klasik semacam itu. Mungkin hanya anak saya saja yang rasa ingin tahunya terlalu tinggi (dan kadang membuat saya iri).

Sebagai contoh, beberapa malam yang lalu saya mendongengkan Para Pemusik dari Bremen (Town Musicians of Bremen/Die Bremer Stadtmusikanten). Dongeng dari Grimm Bersaudara itu berkisah tentang seekor keledai, anjing, kucing dan ayam jago yang sudah tua dan lari atau diusir pemiliknya karena dianggap tidak bisa bekerja dan memutuskan berpetualang ke Bremen dan bermain musik di sana. Baru menceritakan beberapa kalimat tentang si Keledai, anak saya menginterupsi dan bertanya “Keledai itu apa?”, saya akhirnya membuka ponsel saya, mencari gambar keledai dan menunjukkannya kepada anak saya. “Ooh, ini kuda, Papa. Bukan keledai.” begitu komentarnya, akhirnya beberapa menit selanjutnya saya habiskan dengan menjelaskan bedanya keledai dengan kuda, tentu saja dengan bahasa yang mudah ia mengerti.

Kemudian saya melanjutkan cerita tersebut hingga sampai adegan dimana binatang-binatang tersebut mengusir kawanan Perampok yang tinggal di sebuah rumah yang hangat.

“Kenapa binatangnya tahu kalau itu orang jahat?” tanyanya lagi.

Saya cuma membatin “Ya karena ceritanya seperti itu, Nak”, tapi pasti dia akan protes berkepanjangan. Karena memang tidak ada adegan yang menjelaskan kalau perampok-perampok itu menjahati orang lain atau binatang-binatang itu. Untung saja sesaat kemudian dia minta dibuatkan susu dan kemudian tidur.

Saya meneruskan membaca beberapa cerita dalam buku dongeng itu (buku ini akan saya bahas di rubrik Buku kalau lolos dari Redaktur Resensi). Saya sempat berpikir, apakah dongeng-dongeng klasik dari Grimm atau dari Kisah Seribu Satu Malam kurang relevan dengan anak-anak di masa kini. Bukankah kisah-kisah klasik seperti itu disebut klasik karena sampai saat ini masih relevan?

Pernah juga saya mendongengkan “Kisah Gadis Kecil Berkerudung Merah” (Little Red Riding Hood/Le Petit Chaperon Rouge). Daripada terjadi misintrepretasi akhirnya saya sederhanakan menjadi mbak bertopi merah. Awalnya tidak ada pertanyaan sampai adegan si mbak bertopi merah bertemu dengan serigala. Pertanyaan tentang serigala itu apa juga sudah saya antisipasi dengan menyiapkan jawaban bahwa serigala itu mirip anjing tapi lebih besar. Bagian yang saya sederhanakan lagi adalah ketika serigala mendahului mbak bertopi merah—yang tidak kita ketahui namanya siapa sampai akhir cerita—ke rumah nenek si mbak ini tadi memakan si nenek hidup-hidup dan kemudian menyamar (karena dia pasti akan bertanya kenapa si nenek masih hidup padahal sudah dimakan serigala, dan akan membuatnya tidak mau makan ayam goreng kesukaannya karena takut ayamnya masih hidup). Adegan itu saya anggap terlalu gore untuk anak berumur dua tahun, jadi saya ganti menjadi serigala itu menakut-nakuti si nenek sehingga si nenek lari dari rumah dan kemudian si serigala berpura-pura menjadi si nenek untuk menyambut mbak bertopi merah. Ketika si mbak bertopi merah menyadari bahwa yang di rumah neneknya bukan neneknya tapi seekor serigala, dan ia berteriak minta tolong pada penebang kayu yang kebetulan (salah satu ciri dongeng klasik adalah terlalu banyak deus ex machina dimana-mana) ada di dekat rumah nenek. Ia kembali bertanya,

“Kenapa serigala tidak cepat-cepat menggigit mbaknya?”

“Lha kan pak penebang kayu lari-lari ke rumah neneknya mbak topi merah.”

“Tapi serigala lebih dekat, jadi serigala itu bodoh, Papa.”

Saya membatin lagi “Oke Nak, memang seperti ini ceritanya.”

Akhirnya saya menggunakan jurus “pokoknya” sehingga cerita tetap berakhir dengan gembira seperti normalnya dongeng Disney.

Beberapa dongeng yang saya baca dan saya ragu untuk menceritakan kepada anak saya, disebabkan karena dongeng itu terlalu khayal, dan memang seperti itulah dongeng. Entah anak saya yang terlalu kritis atau imajinasinya masih belum berkembang hingga bisa menangkap bayangan yang disampaikan dongeng itu. Tapi rasanya perlu diakui anak-anak sekarang lebih kritis daripada para netizen yang lebih mudah memakan hoax. Saya jadi teringat pengalaman Danu Saputra ketika ia bercerita tentang Pak Harimau yang bertamu ke rumah Pak Kelinci. Salah satu muridnya bertanya, kenapa Pak Harimau bisa masuk ke rumah Pak Kelinci, kan (rumah Pak Kelinci) kecil?

Dongeng-dongeng—karena diperuntukkan secara khusus untuk anak-anak juga sangat sederhana. Satu sisi ini baik untuk memahami cerita. Di sisi lain, hal ini juga tidak baik karena hanya mendikotomikan baik dan buruk, orang baik dan orang jahat, dan sebagainya. Tapi ya kali kita berharap dalam dongeng ada tokoh berwatak abu-abu macam serial Game of Thrones. Mungkin ada, tapi saya rasa tidak banyak. Hal ini kadang membuat saya takut apakah nantinya anak saya akan dengan mudah berasumsi “either you are with us or against us” karena hanya ada dua opsi yang tersedia dan pikirannya akan tertutup untuk melihat opsi lain yang bisa jadi ada.

Ketakutan-ketakutan seperti itu kadang muncul dalam diri saya dan kadang mengurungkan niat saya untuk mendongeng. Tapi kalau tidak mendongeng kok rasanya saya tidak ada usaha membudayakan literasi di dalam keluarga saya.

Pernah saya mendongeng tentang Cinderella, dan pada akhir cerita dia malah bertanya,

“Pangeran itu apa, Papa?”. Kemudian saya menjelaskan kalau pangeran itu anak cowoknya Raja, kalau anak cewek disebut Putri.

“Raja itu apa?” lanjutnya.

Duh, mampus. Masa saya harus menjelaskan sistem pemerintahan monarki pada anak berumur kurang dari tiga tahun? Lalu jika anak saya bertanya kenapa Raja sangat kaya dan banyak orang miskin dan ia merasa itu hal yang tidak adil, kemudian kelak ia menjadi pendukung masyarakat tanpa kelas gimana? Gara-gara dongeng Cinderella lho itu.

Pendapat Anda: