[Ngibul #53] Mantan Menolak Lupa

Posted: 19 February 2018 by Danu Saputra

Beberapa hari yang lalu, di beberapa grup Whatsapp yang saya ikuti, berseliweran informasi tentang acara melupakan mantan. Di hari itu juga, ketika saya membuka lini masa media sosial, saya menemukan banyak informasi yang sama. Sembari saya membuat tulisan ini, saya juga melakukan penelusuran kata “mantan” di mesin pencarian google. Penelusuran itu memberikan sekitar 68,1 juta hasil pencarian dalam waktu 0,44 detik, dengan 4 hasil teratas merujuk kata “mantan” yang berasosiasi dengan asmara dan pasangan. Kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, hasil penelusuran itu lebih dari sepertiga jumlahnya. Kata tersebut ternyata memang mampu menarik perhatian banyak orang.

Saya melanjutkan penelusuran dengan menggunakan kata “melupakan.” Mesin pencarian google merespon dengan memberi 10 hasil penelusuran teratas dari 12,2 juta adalah tentang cara dan doa melupakan mantan. Melihat hasil itu, saya bertanya-tanya, sebenarnya apa sih “mantan” itu sehingga sangat perlu untuk dilupakan?

Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “mantan” diartikan sebagai bekas, sedangkan kata “bekas” diartikan sebagai tanda atau sesuatu yang tertinggal sebagai sisa; pernah menjabat atau menjadi; atau sudah pernah dipakai. Kalau kata “mantan” ini dipasangkan dengan pacar dan atau pasangan, berarti “mantan pacar” atau “mantan pasangan” itu menunjukkan kondisi “tidak lagi menjadi pacar atau pasangan” dan memberi tanda atau sesuatu yang tertinggal. Tertinggal di mana? Di hati dan perasaannya, mungkin.

Kembali pada kenyataan ada acara melupakan mantan dan banyaknya pecarian informasi tentang cara melupakan informasi melalui mesin pencarian google, sejujurnya saya masih belum paham mengapa ia harus dilupakan. Sebagai orang yang berada pada posisi menjadi mantan, ada rasa sedih yang muncul entah dari mana ketika saya membayangkan jika ternyata saya benar-benar dilupakan. Dilupakan itu sakit Bos, yakin. Kalau tidak percaya, coba aja sendiri berada pada posisi dilupakan.

Orang-orang yang ingin melupakan itu apa tidak ingat, pada saat sebelum menjadi mantan atau pasangan, bagaimana perjuangan tarik ulur perasaan, tarik ulur keputusan untuk nembak atau tidak, terima atau tolak, kekhawatiran bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu, dan beragam gejolak perasaan lain. Mereka apa ya tidak sadar, bisa menjadi seperti sekarang ini karena pernah melewati waktu bersama sang mantan?  Seharusnya mereka berterima kasih untuk itu semua, untuk waktu-waktu yang pernah dilewati bersama.

Apasih salahnya mantan sampai harus dilupakan? Apakah tidak bersama lagi itu suatu kesalahan? Kalaupun memang kesalahan, itu kesalahan siapa? Apakah pantas menyalahkan mantan atas kesalahan yang tidak mungkin terjadi karena satu pihak saja?

Daripada melupakan mantan seperti itu, saya rasa lebih baik untuk kita menerima mantan sebagai bagian dalam hidup kita. Mengakui bahwa mantan pernah mengisi beberapa waktu dalam hidup kita, baik itu diisi dengan kenangan yang menyenangkan atau menyakitkan, lebih baik daripada seumur hidup berusaha melupakan mantan yang nyata-nyata telah memberi tanda, menyisakan kenangan, dalam hidup. Mungkin memang kita pernah terluka, tapi yang membuat kita terluka itu tindakan, bukan sosok mantan itu. Kita boleh saja membenci tindakan mantan, tapi janganlah benci orangnya, bukankah dulu kamu pernah begitu mencintainya?

Sekali-kali merasa kangen dengan mantan itu wajar kok, tidak masalah, tidak perlu ditolak dan diabaikan. Toh sesungguhnya kalau dipikir-pikir, yang dikangeni itu momen-momen tertentu, bukan sosoknya. Kita merindukan bayangan, momen-momen, dan tindakan yang pernah dilakukan, bukan pada sosok itu sendiri. Kalau ia hadir kembali, tapi tidak sesuai dengan bayangan yang kita bangun atas sosoknya, bisa jadi kita akan kecewa.

Mungkin kebiasaan-kebiasaan menyalahkan sosok ini lah yang membuat kita tidak beranjak ke mana-mana. Kita begitu marah pada sosok tersebut tapi abai terhadap tindakannya yang membuat kita marah, seakan-akan semua selesai dengan marah pada sosoknya. Kurang ajarnya, bahkan kita sering kali melupakan kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukannya, semua karena kemarahan pada sosoknya.

Jangan-jangan kita juga melakukan pola-pola seperti ini pada banyak hal lain. Kita begitu benci pada koruptor tapi abai pada tindakan korup itu sendiri. Bahkan mungkin kita melakukan tindakan korup tanpa kita sadari, korupsi waktu, fasilitas, dan mengorupsi hal-hal lain.

Jadi bagaimana, masih ingin melupakan mantan? Saya sih memilih untuk menolak lupa. Seperti kata-kata yang sohor di pantat truk; eling rasane, lali jenenge. Eh gimana?

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *