[Ngibul #46] Menjelang Malam di Tepi Bethlehem

Posted: 25 December 2017 by Andreas Nova

Sore itu sama seperti sore-sore sebelumnya, aku menemui Baz di padang Yaar. Tempat itu terletak di tepian Bethlehem. Kata orang-orang tua, Daud menggembalakan kambing dan domba milik ayahnya di padang itu dan tradisi itu masih berlanjut walaupun sempat terputus pada masa pembuangan di Babilonia. Bethlehem, kota kelahiranku memang hanya kota kecil. Jangan bandingkan dengan Yerusalem yang agung. Bethlehem tidak jauh dari Yerusalem, bahkan jika kau memiliki sepasang telinga yang baik, kau akan bisa mendengarkan hingar bingar kota itu dari sini.

Aku melihat Baz sedang duduk bersandar di sebuah pohon yang cukup rimbun. Ia nampak terkantuk menikmati semilir angin di sore hari yang tidak terlalu gerah ini. Domba-domba karakul dan beberapa kambing berbulu gelap dibiarkannya menikmati rumput yang sedang segar-segarnya. Gembala-gembala—juga Baz tentu saja—menyebutnya rumput Ab. Baz pernah berkata, rumput bulan Ab adalah rumput terbaik. Tidak terlalu lembab seperti pada bulan Siwan, tidak terlalu kering seperti pada bulan-bulan menjelang musim dingin.

Aku sering sekali menemui Baz pada bulan-bulan seperti ini. Ketika ia dan gembala lainnya naik ke bukit dan menggembalakan ternaknya di padang Yaar. Ia berasal dari Beit Yala yang terletak di sebelah selatan padang Yaar, tidak jauh dari Bethlehem. Biasanya ia akan membangun tenda dan menggembalakan domba-dombanya dari bulan Adar sampai Keshywan. Domba-domba karakul biasanya akan dijual untuk merayakan paskah.

Aku tidak tahu berapa umur Baz, mungkin sekitar lima puluh tahun. Ia pernah bilang kalau dia sudah diajak menggembalakan domba dan kambing sejak kecil. Ia tahu betul domba mana yang sehat, mana yang sakit dan bagaimana memperlakukan mereka. Katanya ia juga pernah bergulat dengan anjing hutan yang hampir memangsa anak domba yang digembalanya. Semula aku tidak percaya begitu saja. Namun ia menunjukkan bekas luka-luka di lengan kirinya. Luka gigitan dan luka bekas sayatan, mungkin bekas cakar anjing hutan. Eh, apakah anjing hutan bisa mencakar? Aku belum pernah melihatnya, jadi aku tak tahu.

Kakiku melangkah mendekati Baz. Ia tersadar dari kantuknya, menguap sebentar lalu menengok ke arahku. Aku melambaikan tanganku. Ia membalas dengan senyum. Aku mendekat dan duduk di sebelahnya. Punggungku kusandarkan ke pohon yang sama dengannya. Nyaman sekali rasanya berteduh di pohon setelah berjalan cukup jauh. Aku datang kemari untuk mendengarkannya bercerita. Aku suka mendengarkan cerita orang. Aku bisa membayangkan diriku di setiap kisah yang mereka tuturkan. Aku biasa mendengarkan cerita orang di pasar, di kedai tempat ibuku bekerja, bahkan mendengarkan kisah para nabi dalam khotbah para rabi di sinagoge sangat menyenangkan bagiku. Baz adalah salah satu pencerita yang paling kugemari. Ia bisa menceritakan kisah para raja Israel dari Saul sampai Hosea. Ia bahkan bisa menceritakan kisah para nabi lebih baik dari rabi-rabi di sinagoge.

Aku pernah menanyakan mengapa ia tidak berminat menjadi seorang rabi. Kupikir ia bisa menjadi Imam Agung yang bijak. Ia menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya. Ia bilang, gembala juga merupakan pekerjaan yang mulia. Katanya, domba-domba dari Bethlehem dan sekitarnya kebanyakan diperuntukan sebagai kurban dalam ibadah-ibadah di Bait Allah. Semua orang bisa belajar dan menjadi rabi, namun tidak semua orang bisa terampil menggembalakan domba dan kambing.

“Baz, adakah kisah menarik yang belum pernah kau ceritakan kepadaku?”

“Apa yang ingin kau dengar?”

Aku mengangkat bahuku. Aku menyukai semua ceritanya.

“Bagaimana tentang masa kecilmu? Aku belum pernah mendengarnya? Aku hanya tahu kau sudah diajak menggembala sejak kecil, namun aku belum pernah mendengarkan cerita masa kecilmu?”

“Berapa umurmu?”

“Hmmm… Dua belas.”

“Baiklah, ketika aku seumuranmu, atau mungkin sedikit lebih besar. Aku sudah diajak pamanku menggembala di padang ini.”

“Paman? Kemana ayahmu?”

Ia mengangkat bahunya. “Ibuku meninggal saat melahirkanku dan ayahku meninggal tak lama kemudian. Aku tak mengingat seperti apa wajah mereka. Aku dibesarkan oleh paman dan bibiku.”

Aku diam menantikan kelanjutan kisahnya.

“Kau sudah mendengar kabar seorang rabi yang bulan Nisan lalu disalib orang-orang Romawi menggantikan seorang pembunuh?”

Aku mengangguk. Aku mendengar kabar itu beberapa waktu yang lalu, ketika orang-orang membicarakan sang rabi. Ia mengaku sebagai Anak Allah. Sebagian orang percaya karena pernah melihat atau mendengarnya melakukan mukjizat, dari menyembuhkan orang kusta hingga menghidupkan orang mati. Bahkan ia bisa mengubah air menjadi anggur dalam sebuah pesta pernikahan. Ia dianggap sebagai nabi oleh sebagian orang. Beberapa malah menyamakanannya seperti Musa, atau malah menganggapnya sebagai Elia yang turun kembali untuk menyelamatkan bangsa ini. Seperti ketika Elia menyadarkan raja Ahab dari pengaruh Izebel yang membuat leluhur kami menyembah Baal. Sebagian lain menganggapnya omong kosong belaka.

“Kau boleh percaya atau tidak, jika benar sang rabi merupakan Anak Allah, maka bisa jadi aku pernah menyaksikan kelahirannya.”

“Bagaimana bisa?”

“Aku lupa hal yang akan kuceritakan ini terjadi bulan apa. Antara bulan Iyar atau Sivan. Malam itu aku dan pamanku menggembala di sekitar menara.” Ia menunjuk sedikit ke arah barat. Setahuku di sana ada jalan yang menghubungkan Bethlehem dan Yerusalem. Memang ada sebuah menara di situ. Domba-domba yang biasa dipersembahkan di mazbah Bait Allah biasanya digembalakan di situ.

“Malam itu malam yang sangat tenang. Aku bisa mendengar suara nafas domba dan kambing yang berbaring di padang. Aku tak bisa tidur, aku berjaga bersama beberapa gembala lain. Sesekali aku berbaring memandang langit cerah yang dipenuhi bintang. Sejak kecil aku mengagumi langit malam. Aku tak tahu bagaimana bintang-bintang diletakkan begitu indahnya di langit malam. Mungkin orang-orang akan menyangka bintang-bintang ditaburkan begitu saja di langit, tapi kupikir Sang Pencipta sudah mengaturnya sebegitu rupa sehingga nampak indah. Malam itu bukan bulan purnama, bahkan mungkin bulan tak nampak malam itu. Tapi langit sangat cerah, hanya sedikit awan tipis yang ada di sana.

Menjelang tengah malam, tiba-tiba kami dikagetkan oleh domba dan kambing yang mengembik bersahutan. Aku pikir ada serangan sekawanan binatang buas yang mengincar domba-domba. Tapi domba-domba itu tetap diam di tempatnya hanya mengembik. Di kejauhan nampak kerlip cahaya, sebesar kerlip bintang, lalu menjadi sebesar cahaya lentara yang lambat laun semakin terang, semakin terang, seterang matahari. Bayangkan saja ketika matamu menatap matahari terlalu lama di tengah hari. Cahaya itu sangat terang, namun cahayanya tidak menyakiti mataku. Cahayanya seterang matahari namun sinarnya tidak menusuk mataku.

Dari cahaya itu nampak sesosok menyerupai manusia. Namun aku rasa bukan manusia. Pasti bukan. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas karena cahaya yang sangat terang itu. Lututku gemetar, aku ingin lari tapi kakiku tak bisa kuperintah untuk menjauh. Aku terjatuh berlutut. Ketika aku mencoba melihat sekelilingku, kulihat pamanku dan teman-temannya juga terjatuh berlutut sepertiku. Kami gemetar ketakutan. Kami biasanya gagah berani melawan binatang buas hanya dengan bersenjatakan tongkat dan umban. Namun, kami tak bisa apa-apa di depan cahaya itu.

Lalu terdengar suara. Suara itu muncul dari dalam kepalaku. Suara itu tidak seperti suara yang didengarkan telingamu. Suara itu muncul dari dalam kepalamu. Seperti suara yang seringkali muncul sebelum kau melakukan hal yang buruk. Suara itu berkata ‘Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.’

Bulu kudukku berdiri, ketika melihat langit seperti terbelah dan cahaya-cahaya bermunculan membuat malam itu sangat terang. Suara-suara itu muncul lagi, kali ini bersahutan ‘Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.’ Kami sadar, kami menyaksikan kemuliaan Tuhan. Malaikat-malaikat Tuhan berkenan datang menemui kami. Kaum gembala yang biasa dijauhi masyarakat karena kami dekil dan bau domba. Perlahan cahaya-cahaya itu membumbung ke langit kemudian meredup. ‘Ikutilah bintang yang paling terang, disitulah terbaring sang Juru Selamat.’

Dengan gemetaran kami berdiri. Pamanku, yang tertua dari para gembala yang ada di situ berkata kepada yang lain untuk mengikuti petunjuk Tuhan yang disampaikan para malaikat. Kami berjalan diikuti domba-domba kami. Beberapa gembala berjalan di belakang domba. Aku berjalan di samping pamanku yang berdiri paling depan di antara rombongan. Kami berjalan menuju timur, mengikuti bintang terang yang terlihat jelas di langit malam itu.

Aku memang pernah mendengar sebuah nubuat nabi tentang sang Juru Selamat. Aku berharap Juru Selamat yang diutus Tuhan akan memimpin dan mempersatukan bangsa ini seperti Musa yang memimpin keduabelas suku keluar dari perbudakan di Mesir menuju Kanaan, tanah terjanji. Sekaligus seperti Daud yang membawa bangsa ini menjadi bangsa yang termasyhur dan disegani bangsa-bangsa lain.

Bintang itu membawa kami ke sebuah kandang. Aku berpikir apakah mungkin keturunan Daud lahir di sebuah kandang? Bukankah Ia lebih layak tinggal di istana yang mewah seperti istana Herodes yang diangkat pemerintahan Romawi menjadi Raja Yudea? Apakah seorang yang dijanjikan Tuhan layak terlahir di sebuah kandang?

Jika kau akan bertanya kandang seperti apa yang kudatangi. Kandang itu hanyalah kandang biasa. Seperti kandang tempat berlindung domba-domba dan kambing-kambing dari terpaan angin musim dingin. Temboknya terbuat dari tanah liat, disekat dengan kayu mentah, atapnya dari jerami kering. Kami masuk dan mendapati sepasang suami istri di sana. Mereka terkejut dengan kedatangan kami.

Aku melihat seorang bayi lelaki yang masih merah, nampak bercahaya diletakan di palungan. Dialasi beberapa jumput jerami dan kain lampin yang membungkusnya. Aku bertanya-tanya, mungkinkah dia sang Juru Selamat? Aku mendekatinya perlahan. Aku tak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba lututku sontak lemas dan berlutut di hadapan bayi laki-laki itu. Kami sekawanan gembala yang papa, berlutut menyembah bayi lelaki itu.

Pamanku mendekat dan bercakap dengan pasangan itu. Dari yang kucuri dengar dari percakapan mereka, suami istri itu berasal dari Nazareth, di sebuah daerah bernama Galilea, jauh di utara dekat danau Tiberias. Mereka datang ke Bethlehem untuk mendaftarkan diri seperti perintah Kaisar Agustus. Pamanku menceritakan hal yang kami alami, dan bagaimana Malaikat Tuhan datang dan memberi petunjuk kepada kami. Sungguh kemuliaan Tuhan itu besar adanya.

Kami duduk mengelilingi bayi yang sedang tidur itu. Domba dan kambing yang biasa mengembik bersahutan ketika dibawa ke kandang tak ada yang bersuara seolah tak ingin mengganggu bayi yang sedang tidur itu. Malam itu sungguh syahdu dan kudus adanya.

Aku terbangun menjelang matahari terbit. Aku mendengar suara derap kuda datang mendekat. Aku membangunkan pamanku. Derap kuda itu berhenti di tepi kandang. Aku melihat ada tiga orang berpakaian aneh, yang tak pernah kulihat sebelumnya, perlahan masuk ke kandang itu. Mereka saling bercakap dengan kata-kata yang tak kupahami maksudnya. Aku tak mengenali satu kata pun yang mereka ucapkan.

Pamanku berdiri, mengambil tongkatnya kemudian mendekati mereka. Salah satu dari mereka menunduk dan memberi salam dalam bahasa kami. Mereka bertanya-tanya dimanakah raja besar yang baru lahir. Pamanku mempersilakan ketiga orang itu masuk dan menemui Yosef dan Maria, nama orangtua bayi itu. Ia menunjukkan bayi yang terbaring di palungan. Sama halnya seperti kami, mereka bertanya-tanya apakah layak seorang raja lahir dan hadir di kandang seperti ini.

Mereka berkisah bahwa mereka mengikuti bintang yang muncul di barat. Menurut yang mereka percayai, bintang itu adalah pertanda bahwa ada orang besar yang baru lahir. Biasanya hal itu mengacu pada raja-raja besar yang membawa kejayaan bagi bangsanya. Mereka memperkenalkan diri sebagai orang-orang majusi dari sebuah negara jauh di timur. Mereka membawa persembahan dalam kantung. Orang pertama mempersembahkan sekantung bongkahan kecil logam berwarna kuning, Orang kedua dan ketiga mempersembahkan sekantung rempah-rempah. Wangi rempah itu tercium sangat kuat meskipun kantung yang membungkusnya belum terbuka.

Kami semakin yakin bahwa kelak bayi itu akan membawa kejayaan bagi bangsa ini. Malam itu tak akan pernah terlupakan.” tutur Baz mengakhiri cerita panjangnya.

“Bagaimana kau bisa tahu rabi yang mati disalib itu adalah bayi yang kau kunjungi malam itu? Bukankah ia mati sebagai seorang rabi, bukan sebagai raja?” tanyaku polos.

“Kau tentu tahu, Daud hanyalah seorang gembala sebelum ia diurapi Samuel. Bisa jadi seorang anak tukang kayu dari Nazareth adalah orang besar jika memang ia dikehendaki oleh Tuhan. Kita tidak pernah tahu apa kehendak-Nya. Bahkan Musa sempat ragu ketika Tuhan memintanya memukul laut merah, ketika bangsa ini keluar dari Mesir.”

“Tapi jika benar ia Juru Selamat, bukankah bangsa ini masih dijajah oleh bangsa Romawi? Bukankah seharusnya Ia memimpin bangsa ini dan melepaskannya dari Romawi?”

“Aku tak tahu. Dari apa yang kudengar, beberapa orang bercerita bahwa ia bangkit dari kematiannya, setelah ia diturunkan dari salib menjelang paskah. Aku tidak tahu apakah ia akan menyelamatkan kita dari bangsa Romawi, ataukah kelak ia akan menyelamatkan jiwa-jiwa orang yang telah mati. Aku tak tahu apakah ia dijanjikan untuk bangsa ini, atau ia dijanjikan untuk seluruh dunia. Kita tak pernah tahu apa kehendak Tuhan.”

Aku tak mengerti apa yang dimaksudnya. “Lalu apakah kau percaya Dia adalah Anak Allah?”

Baz mengangkat bahunya. Ia, aku dan semua manusia mungkin tidak akan pernah bisa memahami kehendak Tuhan. Kami hanya bisa percaya dan meyakini bahwa kelak Ia akan datang di hari penghakiman.

 

Selamat Natal. Feliz Navidad.

Semoga damai menyertai semua manusia di dunia.

 

Gambar Lukisan The Adoration of the Shepherds (Mattia Preti)

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *