[Ngibul #13] Sungguh-Sungguh, Chairil!

Posted: 1 May 2017 by Fitriawan Nur Indrianto

Dasar mau bebas dan mau menikmati hidup itulah sudah membikin Chairil dengan sadjaknya “aku” itu suatu lambang adanja dan hidupnja kemauan dan tjita-tjita seperti itu djuga di kalangan bangsa kita sendiri

(Akhdiat K. Mihardja).

Agak aneh ketika Ahmad Gaus dalam esainya berjudul Chairil Anwar Revolusi Puisi Indonesia yang termuat dalam buku “canggih” 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh pada paragraf terakhir salah menyebut tanggal kematian penyair Chairil Anwar. Padahal, tanggal itu hampir selalu diperingati setiap tahun oleh lapisan masyarakat pecinta sastra Indonesia. Barangkali kesalahan tersebut terjadi bukan karena Ahmad Gaus lupa namun hanya karena salah ketik saja. Tulisan itu mungkin tidak sempat diedit dan direview oleh anggota lain dari Tim 8 yang menjadi penyusun buku tersebut. Terlepas dari itu semua, tentu tak dapat disangkal bahwa Chairil Anwar memang telah diakui sebagai tokoh besar sastra Indonesia.

Esai Ahmad Gaus hanyalah satu dari banyaknya tulisan yang membahas Chairil dan karya-karyanya. Bahkan sejak tahun kematiannya, sudah muncul berbagai tulisan mengenai Chairil yang ditulis diantaranya oleh ST. Alisyahbana, Rivai Apin, A.Teeuw, Beb Vuyk, W. Pongilatan dan tentu saja H.B. Jassin. Selepas tahun itu hingga sekarang tentu sudah tak terhitung lagi tulisan mengenai sosok penyair kontroversial ini dan juga karya-karyanya. Dalam titik ini sulit untuk mencari celah menulis soal Chairil dan/atau karya-karyanya. Oleh sebab itu, tulisan pendek ini mungkin hanya akan memunculkan pengulangan di sana sini.

Begitu besarnya nama Chairil, penyair yang menulis 70 sajak asli, 4 sajak saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli dan 4 prosa terjemahan ini telah begitu lekat dalam benak masyarakat Indonesia dan mungkin dunia. Bagi anak yang pernah mengenyam pendidikan minimal SMP ketika ditanya “siapa sastrawan Indonesia yang kamu ketahui?” Maka secara otomatis ia akan menjawab Chairil Anwar, meskipun mereka hanya tahu satu sajak Chairil berjudul “Aku” dan ingatan mereka hanya pada lirik “Aku ini Binatang Jalang” yang pernah diplesetkan teman saya menjadi “aku ini perempuan jalang”. Chairil, penyair besar ini memang begitu dicintai. Ketika dia menghembuskan nafas terakhir: mati muda, kepergiannya dilepas oleh para pemuda dan pembesar negeri yang pada berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir padanya.

Meskipun pada akhirnya dikenang sebagai penyair besar, namun tidak sedikit cacian yang diperoleh oleh Chairil, mulai dari sosoknya yang kurang ajar, beberapa karyanya yang dianggap plagiat, serta karyanya sendiri yang awalnya dianggap bukan sastra yang baik. Sajak Chairilpun pernah di tolak oleh penerbit. Sajaknya yang paling terkenal “Aku” musti dimuat dengan judul “Semangat” yang jelas tidak sesuai dengan keinginannya. Sementara , sosok Chairil sendiri begitu kontroversial. Ia pernah dipenjara gara-gara mencuri cat milik seorang opsir Jepang, suka mengambil cerutu Sutan Sjahrir, dan narasi paling menyedihkan adalah ketika lamarannya ditolak oleh ayah kekasihnya lalu ia pulang dengan uang pemberian sang ayah kekasihnya itu. Akan tetapi agaknya sikap Chairil yang dianggap kurang ajar itu tidak menghalanginya untuk menjadi penyair besar. Ia pun tetap dikasihi oleh kawan-kawannya. Bahkan, salah satu orang yang pernah bersitegang dengannya: HB Jassin, yang pernah memukul wajah Chairil justru menjadi salah satu tokoh yang terang-terangan membela karya-karyanya. Ia bahkan menyebut Chairil sebagai pelopor Angkatan 45, sebuah angkatan yang dihuni oleh seniman-seniman kenamaan.

Seperti yang diungkapkan Akhdiat K. Mihardhja di atas, sikap hidup yang tanpa kompromi yang juga termanifestasi dalam sajak-sajaknya barangkalilah yang membuat Chairil menjadi seorang yang merdeka sekaligus menjadi contoh bagi bangsa Indonesia yang kala itu memang masih dalam cengkraman penjajah. Selain itu, salah satu hal yang menarik dari Chairil adalah keseriusannya dalam menapaki dunia kesenian. Dalam suratnya kepada Jassin, Chairil menulis.

Jassin,
Dalam kalangan kita sipat setengah-setengah bersimaharajalela benar. Kau tentu tahu ini, Aku memasuki dunia kesenian dengan sepenuh hati. Tapi hingga kini lahir aku hanya bisa mencampuri dunia kesenian setengah setengah pula. Tapi untuklah bathin seluruh hasrat dan minatku sedari umur 15 Tahun tertuju ke titik satu saja, kesenian.

(8 Maret 1944)

Kesungguhan Chairil dalam berkesenian nampak sudah terbangun sejak usia belia. Kecintaan itu mendorongnya untuk bisa menghasilkan karya yang sama sekali baru dan berbeda. Chairil dikenal sebagai sosok yang individualis. Bukan berarti pula ia tidak suka bergaul. Tetapi dalam beberapa narasi, Chairil digambarkan sebagai seorang yang begitu serius. Dalam keramaian tampak ia lebih suka menyendiri dan memilih duduk membaca. Sebagai keponakan Sjahrir, ia banyak mengakses berbagai macam bacaan. Ia pun menguasai bahasa asing yang membuatnya bisa belajar karya-karya sastra dari luar hingga memiliki kemampuan menerjemahkan. Dalam usahanya menulis tampak ia tidak segan untuk melakukan self reflection pada diri dan karyanya. Pada suratnya yang lain tergambar bagaimana ia tetap mengoreksi karya-karyanya sendiri. Pada Jassin ia menulis

Jassin,
Begini keadaan jiwaku sekarang, untuk menulis sajak keperwiraan seperti “Diponegoro” tidak lagi. Menurut oomku, sajak itu tidak baik,
Lagi pula dengan keritik yang agak tajam sedikit, hanya beberapa sajak saja yang bisa melewati timbangan.

(10 Maret 1944)

 

Padahal sebagai mana kita tahu, sajak Diponegoro merupakan salah satu sajak awal Chairil yang tidak ditolak pada masa itu. Sajak itupun merupakan salah satu sajak Chairil yang paling terkenal karena menjadi salah satu sajak yang diajarkan di sekolah-sekolah. Sajak itu bahkan menjadi salah satu ikon bahwa Chairil juga seorang nasionalis. Akan tetapi Chairil sendiri smerasa “kecewa” dengan karyanya sendiri hingga sempat tidak ingin menulis sajak dengan nada yang sama. Koreksi terhadap karya-karyanya juga nampak dalam surat lainnya untuk H.B Jassin.

Jassin,
Kubaca sajak-sajakku semua. Kesal aku, sekesal kesalnya… jiwaku tiap menit bertukar warna, sehingga tak tahu aku apa aku sebenarnya…

(11 Maret 1944)

Jika kita lihat, surat di atas menunjukkan bagaimana Chairil dalam menulis sajak bukan saja mencari kebagusan sajak semata, tetapi juga sebagai ajang penemuan diri. Dari titik inilah dapat kita lihat bahwa sajak bagi Chairil bukan saja kata-kata indah, melainkan mengandung makna mengenai identitas penyairnya sendiri. Dalam titik inilah kepribadian Chairil dan sajaknya dibentuk. Spirit kesungguhan menemukan identitas diri itulah yang menjadi bagian penting yang kemudian dijadikan sebagai tonggak nama besar Chairil juga menjadi ikon angkatan 45 sekaligus menjadi suara sebuah bangsa yang ingin merdeka.

Pesan yang dikirim Chairil pada H.B Jassin melalui kartu pos (tertanggal 11 Maret 1944) di atas mirip seperti pesan sms atau chating di zaman sekarang. Meskipun karakternya hanya sedikit namun nampak kepadatan dalam tulisannya. Pesan pendek di atas dikirim Chairil pada pagi hari dan sorenya disambung dengan kartu pos yang lain. Nampak pada pembacaan kita bahwa Chairil benar-benar fokus dan serius ketika membahas suatu hal terutama soal tulisan. Ketika pesan kedua ditulis, Chairil telah membahas persoalan yang lain. Saya sempat berpikir mengapa Chairil tidak menulis surat yang panjang untuk H.B Jassin. Bukanlah keresahan jiwanya nampak begitu banyak dan kompleks berkait dengan persoalan hidupnya yang demikian banyak? Agaknya untuk urusan tulisan, Chairil memang tidak suka bertele-tele. Hal itu pulalah yang membuat Chairil lebih memilih dunia kepenyairan dibanding menulis prosa (soal ini disampaikan Chairil pada surat keduanya yang ditulis tanggal 8 Maret 1944)

Kesungguhan hidup Chairil juga tercermin justru dari jumlah sajaknya yang boleh dikatakan sedikit. Tentu hal ini bukan karna kemalasannya dalam menulis sebuah sajak. Chairil memang merupakan seorang penyair yang sangat hati-hati dalam memilah dan memilih kata. Kepadatan makna dalam setiap kata-kata yang dipilihnya tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu kekhasan puisi-puisi Chairil. Dalam catatannya, Jassin pun mengatakan bahwa puisi-puisi Chairil yang ditulis tangan banyak terdapat corat-coret di sana sini. Nampak bahwa Chairil benar-benar mencari kata-kata yang paling tepat dalam setiap sajaknya. Apa yang dilakukan Chairil merupakan sebuah pembuktian atas kritiknya kepada para seniman yang diungkapkannya dalam prosanya berjudul Berhadapan Mata. Dalam prosa itu, Chairil menyatakan bahwa para seniman di masa itu sungguh bekerja setengah-setengah dan begitu tergesa-gesa. Menurut Chairil, para seniman terlalu dipengaruhi oleh apa yang disebut Chairil sebagai “Hukum Wahyu” , dorongan mencipta yang muncul tiba-tiba, mendadak yang katanya wahyu. Dengan kesungguhnya dalam menciptakan totalitas dalam karyanya, Chairil membuktikan diri bukan sekeder pecundang yang pandai mengkritik, tetapi mampu mewujudkan karya yang benar-benar “utuh”.

Dalam sebuah pidato pada tahun 1943 Chairil mengatakan “tiap-tiap seniman harus seorang perintis jalan, adik. Penuh keberanian, tenaga hidup. Tidak segan memasuki hutan rimba penuh binatang-binatang buas, mengarungi lautan lebar, tak bertepi, seniman adalah dari hidup yang melepas bebas.” Chairil menampakkan vitalitas hidup yang luar biasa. Ia melalui karyanya menampakkan sebuah jalan baru. Berawal dari kritiknya terhadap karya-karya yang sudah ada sebelumnya, umumnya sajak-sajak angkatan Pujangga Baru, Chairil muncul dengan gaya penulisan yang sama sekali baru. Keberanian ini pulalah yang menjadikannya sosok yang dikagumi.

Usaha merintis jalan baru tidak saja diwujudkan dalam karya-karya puisinya. Tahun 1946 Chairil bertemu dengan beberapa orang seniman antara lain Asrun Sani, Rivai Apin, M.Akbar Djuana, Mochtar Apin, Baharudib dan Henk Ngantung. Dalam pertemuan itu terkristallah bahwa perjuangan Indonesia bukan melulu lewat perjuangan politik melainkan pula lewat jalur kebudayaan. Dari pembicaraan itulah kemudian dalam kelanjutannya lahir perkumpulan “Gelanggang” yang di dalamnya berkumpul bukan saja seniman namun pemikiran-pemikir revolusioner. Dari momentum itu kemudian lahir majalah kebudayaan Siasat serta momentum sejarah kebudayaan dengan terbitnya manifesto Surat Kepercayaan Gelanggang.

Vitalitas yang begitu besar itu pada akhirnya harus terhenti ketika tubuh Chairil tidak lagi mampu menopang semangatnya. Akibat sakit yang dideritanya, ia pun meninggal di usia muda. Nampak Chairil tak bisa benar hidup selama seribu tahun seperti dalam puisinya. Namun agaknya semangat itu senantiasa tetap hidup dan dihidupkan. Di sanalah bersemayam jiwa Chairil, dalam karya-karya dan warisan semangatnya yang: abadi.

Sekian banyak cerita heroik mengenai Chairil menjadi potret luar biasa sekaligus “suram” mengenai diri seorang “seniman sejati.” Apakah Chairil menikmati kehidupan yang dijalaninya tersebut? Tidak pernah ada yang tahu. Tetapi kita pun tahu, orang-orang besar selalu menjalani hidup yang “tidak biasa”. Dalam kacamata awam, Chairil adalah sosok yang menyedihkan. Barangkali begitu pula citra dari para seniman yang sepenuh hati menjalani kehidupan. Tentu, tidak semua hal dari Chairil baik dan patut diteladani. Bahkan karya-karyanya pun barangkali musti cukup dijadikan sebagai monumen yang perlu berdiri untuk Chairil saja. Sebab sebagaimana keinginan Chairil, seniman adalah perintis jalan baru, seorang kreator, bukan melulu seorang improvisator.

 

Untuk Chairil Anwar
28 April 2017

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *