Siasat Klasik Merampok Buku di Masa Depan

Posted: 9 October 2018 by Ifan Afiansa

Udah, tinggal aja. Kamu belum hidup di masa manusia terpikir untuk mencuri buku,  ok.

Begitu pesan yang kukirim pada Ina. Ina ragu dan meminta pendapatku perihal meninggalkan novel War and Peace—yang juga masih bau toko—di meja perpustakaan kampus. Ada jeda beberapa saat selepas tanda centang di Whatsapp membiru. Displai ruang obrolan kami yang terus saja kupandangi, hingga ia membalas;

Baiklah, akan kutinggal. Kalo ada yang sampe ngambil, kamu ganti rugi  War and Peace bonus Anna Karenina yang bukan terbitan Wordsworth.

Sial, aku mengiyakan saja, kendati pun aku tetap yakin buku itu tidak akan ada yang mencurinya. Saat kami bertemu, Ina bercerita ia mengambil Babat Tanah Jawi dan meletakkannya di atas War and Peace, lalu pergi ke toilet. Benar saja, sepuluh menit berlalu, Ina masih menemukan bukunya di bawah kumpulan tembang Jawa itu.

“Kok kamu bisa seyakin itu kalo nggak akan ada yang mencuri bukuku?” tanyanya heran.

Aku bercerita sekitar seminggu lalu aku menyendiri di minimarket di Jalan Colombo. Sekitar jam 1 dini hari aku tengah membaca Arabian Nights Volume 1 yang kubeli di toko buku bekas di Malioboro, ditemani sekaleng bir kaleng. Tidak lama kemudian, aku beranjak pergi ke toilet. Setelah kembali, bir kaleng yang baru kuteguk dua kali raib, dan Arabian Nights-ku masih di tempatnya.

“Hahaha, kalo jadi pencurinya, ya,” ujar Ina. “Aku bakal ambil Arabian Nights-lah, dijual terus beli bir. Bakal dapet beberapa kaleng tuh,”

“Nah, kubilang apa. Orang-orang zaman sekarang nggak ada yang paham harga sebuah buku.”

***

Dua puluh tahun berlalu, pesan dan ingatan itu tersaji begitu saja setelah muncul notifikasi surel masuk, pengirimnya dari “Kolektor Budiman”. Surel kaleng itu berisi:

Aku ingin kau menjual Tetralogi Buru cetakan kedua yang kaumiliki, atau aku akan mengambilnya sendiri. Balas sesegera mungkin, akan kukirim teknisnya.

Anji-, umpatku tertahan. Perasaan pesimisku bertahun lalu benar-benar jadi kenyataan.  Aku benar-benar hidup di masa manusia berkeingian mencuri buku. Bahkan ini bukan mencuri lagi, ada seorang di lua sana yang berusaha merampok koleksiku, lagaknya pun seperti Kaito Kid saja. Pekerjaanku sebagai redaktur fiksi di majalah daring buyar begitu saja. Aku segera saja menghubungkan kamera pengawas di rumah ke layar komputer kantor. Ada delapan panel yang terhubung di sudut-sudut strategis, tidak ada pergerakan yang mencurigakan, istriku masih berada di kantornya,  di begitu pula, Pip, anakku juga masih berada di sekolahnya, di panel perpustakaan pribadiku pun hanya terlihat rak-rak yang tersusun dari buku-buku yang kukoleksi semenjak aku duduk jenjang SD, sedangkan di panel pekarangan, ada mobil hijau mungil berjalan pelan di pinggir pekarangan.

Tok! Tok!

“Ya, silakan masuk.”  Haduh, siapa lagi di saat-saat seperti ini.           

Dari balik pintu yang terbuka, Rony, ia salah merupakan satu kurator cerita pendek yang mempunyai kumis yang selalu saja mengingatkanku pada Adam Suseno.

“Maaf, mengganggu, Pak. Saya dapat titipan dari satpam basement,” ia menyerahkan sekotak bungkusan coklat. Tidak ada nama pengirim. “Tadi satpamnya bilang, dari ‘Kolektor Budiman’, dia bilang Bapak minta dititipkan ke satpam saja. Jadi satpam itu tidak curiga.”

Kupandangi lekat-lekat paket di hadapanku, jari telunjuk dan tengahku bergantian mengetuk meja, melihat sekilas ke arah Rony. Aku mengulang frasa ‘Kolektor Budiman’ bernada tanya, Rony menggangguk takzim. Aku membuka surel kaleng barusan, ‘Kolektor Budiman’ juga. Aku mempersilakan Rony keluar ruangan dan mengucapkan terima kasih. Aku mengambil pisau kecil di rak meja dan mulai mengiris-iris pinggiran paket itu. Jika terbakanku benar, paket ini berisi Tetralogi Pulau Buru. Benar saja. Empat buku roman ini merupakan terbitan Lentera Dipantara. Edisi yang sangat populer di masa-masa perkuliahku dulu. Hanya saja, aku sudah memiliki Tetralogi Pulau Buru cetakan kedua yang diterbitkan Hasta Mitra di tahun 1982. Saat ini tahun 2039, berarti karya-karya Pram yang kumiliki sudah berumur hampir 60 tahun. Dan ada yang mengincar koleksi ini.

Tahun 2032 terjadi perubahan besar-besaran pada industri buku. Banyak penerbit, baik major maupun indie, berhenti mencetak buku-buku dan beralih merilis buku elektronik, perubahan ini dipicu oleh ongkos produksi buku cetak yang semakin mahal berimbas pada harga buku yang melonjak hingga lima hingga enam digit angka. Hal ini membuat buku-buku cetak menjadi langka dan begitu berharga. Hanya ada satu dua penerbit yang masih mencetak buku-buku fisik, itu pun hanya terbatas pada karya sastrawan dan penulis legendaris saja, dan dibandrol dengan harga enam hingga tujuh digit angka. Minat baca yang tinggi menyebabkan permintaan pada buku-buku begitu tinggi. Ada spekulasi yang mengatakan bahwa program penggratisan buku-buku ke perpustakaan di daerah terpencil yang digagas presiden terdahulu memicu hal ini terjadi.

Dua tahun kemudian, dalam dekade yang sama, membaca menjadi aktivitas yang prestisius, buku apa yang sedang dibaca jadi salah topik yang terus diperbincangkan, selaras dengan perbincangan soal gim yang sedang ramai dimainkan. Jika saja kau menelusuri lorong-lorong sekolah, terdengar selintas penulis-penulis populer maupun klasik jadi perbincangan. Di salah satu sudut bisa jadi kau menemui anak-anak yang membandingkan moralitas dalam novel Emma karangan Jane Austin dengan Siti Nurbaya karangan Marah Roesli. Atau di sudut lain, kau akan menemukan anak laki-laki yang berpura-pura membaca Around the World in Eighty Days karangan Jules Verne di depan gadis yang ia sukai, harap-harap gadis itu menganggapnya pintar sebab menyukai buku fiksi sains. Atau di sudut kelas, ada yang bermuram, pakaiannya kusut di sana-sini, ia baru saja di-bully lantaran tertangkap basah membaca karya Pram di masa SMA, menurut anak-anak zaman ini, buku-buku Pram sudah seharusnya diselesaikan saat duduk di bangku SMP. Tidak hanya di-bully, gadis-gadis SMA tidak akan mendekati laki-laki yang belum pernah membaca karya Pram. Cerita-cerita itu aku dengar dari Pip. Ah, membayangkan  di masa yang sama, kau akan cendrung menjauhkan diri dari teman-teman yang berpenampilan mentereng hanya karena kau hobi membaca. Namun, di zaman ini kau akan ketar-ketir jika ada yang terobsesi dengan salah satu koleksi paling berhargamu dan berkeinginan merampokmu.

Satu per satu, aku meloloskan buku-buku itu dari bungkusannya. Pengirim bahkan meletakkan keempatnya secara berurutan dari kiri ke kanan. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Kondisinya masih sangat bagus, walau ada bercak-bercak coklat di pinggiran kertas. Sekadar tebakanku, buku-buku ini sebagai barter atas permintaanya menjual Tetralogi Buru milikku.

“Halo Asist, tolong hubungi Dio.” Begitu perintahku pada smartphone yang hanya berbentuk bingkai tipis dan diisi oleh layar hologram. Kata ‘menyambungkan’ di displai menjadi begitu menyebalkan di saat-saat kau tengah tergesa-gesa. Setelah setengah hampir setengah menit berlalu, terdengar suara sobat baikku semasa kuliah dulu, ia juga merupakan penulis yang namanya sedang naik daun.

“Hei, siang ini kau ada waktu? Ada hal penting yang pingin kuomongin,” kataku cepat.

“Hal penting apa nih?”

“Siang ini ada waktu?” kuulangi dengan sedikit penegasan.

“Oh, ada, ada. Di kedai biasa kan? Kau yang traktir.”

“Kutunggu.”

***

Kedai kopi di lantai dasar gedung kantor cukup ramai. Namun riuh suara yang terdengar tidak mengganggu setiap pengunjung di dalamnya, kedai kopi ini didesain tiap mejanya hanya diisi dua orang saja di bagian dalam, dan lebih dari empat kursi orang di bagian luar. Lima belas menit setelah aku memesan kopi, Dio menampakkan dirinya di depan pintu masuk. Ia mengenakan kemeja santai dengan rambut yang sedikit acak-acakan. Aku melambaikan tangan ke arahnya. Begitu menyadari keberadaanku, ia memesan kopi dan menunjuk arah meja aku berada.

“Apa apa, bung?” tanyanya.

Aku menceritakan dengan detail kejadian pagi ini. Kopi Flores yang diseduh dengan cara vietnam drip, tidak pernah gagal membuatku rileks. Aku selalu meminumnya  saaat aku tengah panik atau dirudung masalah. Aku menceritakan dengan detail kejadian pagi ini. Rasa segar bebuahan di sela-sela pahit cukup mampu menenangkanku dalam bercerita pada Dio. Selain bercerita surat ancaman perampokan,  aku juga bercerita perial kepesimisanku (dan kesotoyanku) perihal masa manusia akan mencuri buku.

“Wah, wah. Aku tidak menyangka kepesimisanmu menjadi kenyataan. Hmm, kupikir-pikir, kau tidak curiga pada Ina, mantanmu itu?” Dio terhenti sejenak. Ia menyeruput sedikit capucino yang baru tiba. “Toh, dari ceritamu, dia punya benih-benih pikiran jahat juga kan?”

Aku memandangi lekat-lekat ke ruang kosong di balik Dio, seperti berupaya menerobos sangkaan Dio pada mantannya, setelah tidak menemukan apa-apa dalam sangkaan itu, pikirannya menerawang jauh ke beberapa tahun lalu. Aku dan Ina putus setelah dua tahun kami wisuda. Obesesinya pada naskah-naskah Nusantara di Belanda, membuatnya meminta hubungan kami putus secara baik-baik, dan terbang ke Belanda beberapa bulan kemudian. Tentu kejadian ini begitu memukulku, aku pun juga tidak dapat berbuat banyak, aku tidak menyenangi hubungan jarak jauh, penuh delusi dan menyimpan begitu banyak kecurigaan. Selama Ina di Belanda, tak sekali pun ia berkabar untukku, bahkan aku tidak tahu ia sudah pulang atau masih menetap di sana.

“Entahlah, aku nggak yakin.” Aku bingung harus menanggapi seperti apa, “lagipula pencurian buku beberapa bulan ini cukup marak.”

“Kau tahu, dahulu kita selalu saja mengeluh minat baca negeri ini sangat rendah. Dan siapa sangka,” ia menepuk pahanya. “dua puluh tahun berlalu dan minat baca mencapai hampir 20%, harga-harga buku fisik melonjak naik setara emas dua gram. Bahkan kemarin aku baca berita, ada sepasang gay menikah dengan mahar kawin novel Of Mice and Man terbitan Covici Friede tahun 1937. Ah, bisa kau bayangkan, siapa yang akan jadi Lennie, siapa yang akan menjadi George. Kita akan tunggu berita salah satu di antara mereka akan menembakkan pelor ke pasangannya.” Dio tampak begitu kesal, ia bahkan tidak sempat menyesapkan kopinya di tengah deretan kalimat-kalimatnya.

“Kau tau, kemarin Amanda Tatum baru saja dihajar di media karena ketahuan membawa Satanic Verses karangan Salman Rushdie di tas Hermes-nya. Media bahkan tidak peduli lagi tas itu dibelikan dari suaminya yang politikus yang sempat dicurigai menyelundupkan uang negara. Persetan media! Mereka benar-benar mengeksploitasi buku sebagai dagangan mereka!” Lanjutnya Dio kembali.

Sial, kenapa dia yang marah-marah sih? Kendati pun aku setuju dengan pendapatnya, namun ocehannya tidak menyelesaikan apapun. Bahkan menanggapi ucapanku saja tidak. “Lalu, untuk masalahku, aku harus bagaimana?”

“Udah, ah. Diemin aja. Paling orang iseng juga. Kayak dia bisa masuk ke perpustakaanmu sembarangan saja.”

“Lalu buku-buku yang ia kirim bagaimana? Sepertinya ia nggak main-main.” Aku heran sikapnya bisa sesantai ini dan tidak melihat masalahku sebagai masalah besar saja.

“Humm iya juga, ya.” ia mengetuk-ketukkan jarinya di meja, sudut matanya seperti menerawang hal lain. “Walau tidak seklasik tetralogi punya kau, tapi edisi Lentera Dipantara juga cukup antik buat zaman sekarang. Kau sungguh menyayangi koleksimu? Realistis saja ya, aku pun saat ini ngeri dengan pencurian buku-buku, kemarin Rio, tetangga indekosku pun kemalingan serial Supernova yg sampul hitam dan diakhiri sampul putih itu. Kau tahulah siapa pun senang dengan sampul buku yang estetik dan seragam. Kau sudah punya anak juga, kau tak ingin anak dan istrimu juga terjadi sesuatu kan? Jika kau benar-benar menyayangi mereka dan koleksimu, saranku, kau ingat cerpen Breaking The Pig-nya Etgar Keret?”

Terdengar getaran handphone di saku Dio. Ia mengangkat telepon itu. “Eh, aku dipanggil bos, nih. Kutinggal, ya. Saranku pikirkanlah keselamatan anak dan istrimu. Kau pernah bilang kan yang dilakukan Yoavi pada celengan babinya, Pesachson, adalah tahapan cinta paling tinggi kan? Oh, iya maaf, aku yang belum menikah tidak seharusnya mencerahimu tentang cinta, kan? By the way, thanks ya traktirannya.” Dio pun segera berlalu.

Aku masih termenung. Mataku menerawang ke segala penjuru kedai kopi, coba mengingat-ingat kisah itu. Sejujurnya, aku pun sudah lupa detail-detail cerpen itu, namun di penghujung cerita itu sungguhlah berkesan. Kau tentu tak akan menyangka serta akan mengakui bahwa kehilangan dan melepaskan adalah tahapan cinta paling tinggi dan agung dalam cerita itu. Di tetes terakhir kopi Flores yang kusesap, aku menuju kasir dan meninggalkan kedai.

Aku kembali merebahkan diri di kursi kerjaku. Meraih segelas air putih yang sedari pagi belum kusentuh, aku pun sebenarnya menyesalkan mengapa Dio menyarankan hal seperti itu, hanya keluarga jadi alasan memaksaku untuk mengamini saran Dio. Aku ambil Bumi Manusia dan membaca sekilas di mana halaman terbuka. Ah, sepertinya nanti malam akan kubaca.

Pikiranku sejenak bisa tenang, kurasa aku bisa melanjutkan pekerjaanku kembali. Brak! Astaga aku baru ingat aku tadi memantau rumah, layar komputer yang setipis buku-buku puisi kebanyakan, kembali menyala. Tiba-tiba wajahku pucat dan tanganku bergetar hebat. Salah satu panel yang memantau pekarangan rumah seperti disemprot pilox hitam. Segera saja aku menghubungi Erin, asistenku, untuk meng-handle pekerjaanku. Aku harus pulang.

Sesampai di basement, aku segera memacu mobilku. Deretan mobil di sepanjang jalan. Sialan. Aku memukul stir. Buku-buku sialan. Perampok bangsat. Lokasi rumahku hanya sekitar lima kilometer dari kantor, tetapi dengan kemacetan seperti ini, bisa menghabiskan satu jam. Mataku berfokus ke kiri jalan sambil mengharapkan ada minimarket terdekat. Ah, ada satu. Setelah bersabar lima menit, aku memarkirkan mobilku di minimarket, dan memesan ojek kapsul online.

Begitu ada kapsul kecil berwarna kuning menghampiriku, aku membuat rute untuk melewati gang-gang kecil saja. Ingatan jalan Kaliurang yang dahulu dua arah saja, macetnya bisa membuat merasa tinggal di Jakarta. Namun, Pemda akhirnya memberlakukan jalan Kaliurang satu arah kau masih saja mengumpat soal kemacetan.

Dua puluh menit dengan perasaan kacau balau, akhirnya aku hanya menemukan kondisi rumahku yang baik-baik saja. Pintu depan tidak terlihat tanda-tanda dibuka paksa. Namun kamera pengawas di depan pintu memang disemprot pilox pada lensanya. Aku mendekatkan mataku ke pemindai retina, pintu terbuka. Tidak ada siapa pun di dalamnya, tidak ada barang-barang yang diobrak-abrik. Begitu tenang. Istri dan anakku pun kupikir masih di luar. Ada kertas di bawah pintu depan. Aku meraihnya, tertulis:

Kau sudah terima kirimanku? Sore letakkan Tetralogi Buru milikmu di bawah tangga darurat Perpustakaan  Grahatama. Segera tinggalkan. Aku punya harga yang pas untukmu.

Brengsek! Cecunguk itu benar-benar mengawasiku. Ah, aku tidak punya pilihan lain. Segera aku memasuki perpustakaan pribadiku, mengambil keempat buku legendaris itu. Anjing, anjing, anjing, aku harus menuruti permintaannya. Aku perhatikan buku itu satu per satu. Ada setitik air mata menetes. Kuingat pernah membelinya di tiga toko buku bekas di Jogja, Jakarta, dan Malang. Aku ingat di Kwitang aku  memohon-mohon pada penjualnya untuk menyimpankan Jejak Langkah dan Anak Semua Bangsa, bahkan khusus Bumi Manusia, aku menyembunyikan buku itu di rak buku-buku terbawah di toko buku mungil di jalan Wijilan. Dan Rumah Kaca aku dapatkan setelah seharian mengobrak-abrik toko buku di Malang. Setelah mengemasi buku itu, aku memesan ojek kapsul dengan tujuan Perpustakaan Grahatama. Tangisku benar-benar pecah saat aku memeluk buku itu, lalu perlahan meninggalkan di bawah tangga, mataku yang sembab masih saja memandangi buku-buku yang terbungkus karton hitam, hingga benar-benar hilang dari pandangan. Mata yang begitu basah, aku tidak awas memperhatikan jalan, ia hampir saja  menabrak mobil hijau di depannya. Sesampainya di rumah, aku menemukan kartu uang elektronik. Begitu kupindai di ponsel, ada dua ratus lima puluh juta rupiah di dalamnya.

***

“Astaga, Dio. Aku tidak mengira kita bisa sejahat ini, hahaha.” Ina mengawasi dari balik jendela mobil hijau. “Ini cincin  kita.”

“Tak usah pikirkan, aku udah nurutin mau kamu, kita baikan ya, sayang?” Keduanya berciuman.

Pendapat Anda: