Matahari di Pelupuk

Sore yang bikin gerah memeluk tubuh rampingnya. Sepoi yang berarak teratur dari selatan dan beraroma asin membelai parasnya yang ayu. Rambut hitamnya yang ikal ia biarkan terurai. Sesekali angin menerbangkan rambutnya dengan mesra lantas dengan gemulai yang menawan merebahkannya kembali. Sebagian ikalnya menutupi wajah. Ia perlahan-lahan menyusuri bibir pantai dengan kaki telanjang. Sementara itu rombongan burung-burung laut berarak kembali ke bukit-bukit cadas tempat mereka kawin. Bocah-bocah pantai yang telanjang masih mengakrabi laut. Kulit legam mereka yang basah kelihatan mengkilap di bawah sinar matahari. Mereka riang. Tawa mereka lepas seperti ombak yang bergulung ritmis menerjang pantai.

Raut wajah  perempuan itu kontras dengan wajah-wajah bocah pantai. Di balik sebagian ikal yang menutupi wajah, matanya sayu. Ia nelangsa meski dikelilingi aura semesta yang sedang ceria. Hatinya gundah seperti awan hitam di atas laut ketika musim penghujan berkunjung. Ia lalu menghempaskan pantatnya di atas pasir yang lembut, mengatur rambut yang menutupi wajah dengan gerakan anggun ke belakang kuping dan memandangi lautan. Matanya tertuju ke horizon, nun di batas cakrawala. Petang merembang dan ia ingin matahari yang bergerak perlahan-lahan itu menjemput dirinya bersama-sama tenggelam di kedalaman lautan.

Sepertinya kesendirian dan pantai memang berjodoh. Kira-kira benaknya berkata demikian. Tak ada tempat paling khusyuk untuk merayakan kesendirian selain pantai. Pasir hitam yang membentang hangat, suara ombak yang mendebur, desau angin yang ritmis, matahari yang bergerak lamban, kicau burung-burung, dan tentu saja laut hijau kebiruan yang menghampar luas di hadapannya seolah-olah menyapanya. Awan hitam yang mengerubungi hatinya memang tak sirna seketika. Namun demikian, ia merasa diterima oleh semesta. Ia merasa disapa dan entah bagaimana, pantai selalu mendengarnya dengan caranya yang mistis. 

Langit telah jingga dan bocah-bocah telanjang mulai memunguti pakaian mereka yang berserak di atas pasir, hendak pulang ke rumah. Ia masih terpekur sendirian dengan sepasang kaki jenjang kecoklatan membujur di atas pasir. Sesekali ombak menciprati telapak kakinya dan ia tenggelam dalam palung batinnya.

“Benarkah ia telah pergi?” 

Ia makin larut dalam kesendirian. Bahkan aroma laut yang menguar tajam menembus penciuman tak lantas membikin ia terhenyak. Ia masih tenggelam dalam sendiri, masih membaui aroma tubuh itu. Tubuh tempat ia bersandar, berpeluh selepas berpacu liar merayakan ritual erotik paling purba akan penyatuan. Ia masih merasakan detak jantungnya berdentum hebat, darahnya berdesir kilat merambat naik memenuhi ubun-ubun kepalanya, hingga pipinya yang berlesung terasa hangat dan seketika merona manakala bibir yang basah itu mendarat telak menyapu bibirnya. 

Langit telah jingga dan jantungnya berdentum hebat, detaknya semakin cepat. Dadanya sesak serasa ingin meledak. Rasanya seperti saat ia masih bocah dan nyaris mati tenggelam. Ia meneguk bergelas-gelas air laut tanpa ia kehendaki namun mau tak mau harus ia minum. Dadanya perih dan panas. Semakin ia menghela nafas, semakin banyak air laut yang memenuhi rongga dadanya, hingga rasa-rasanya ia menggelembung seperti ikan bulat jelek yang berduri. Semakin lama di dalam air, dadanya seperti ditusuk oleh ikan-ikan iblis jahanam itu. Lalu ia meledak menjadi serpihan-serpihan daging segar, menjadi makanan ikan-ikan iblis yang bulat dan berduri.

“Tidak, tidak demikian rasanya. Ini sesak yang berbeda.” 

Ia menghela nafas, dadanya turun naik dengan cepat. Tanpa ia sadari jari-jarinya telah merenggut pasir-pasir yang pasrah dengan naluri peremuk dalam genggamannya. Butir-butir bening tumpah dari sudut bola matanya yang sayu, bergerak turun di pipi lalu ia merasa asin yang akrab menjalari bibirnya. Kesadarannya pulih. Matahari kian tenggelam. Ia menatap matahari dengan pandangan iri. 

“Ah, engkau matahari… Tak pernah renta, selalu muda ketika menyingsing di timur jauh. Tak  pernah pula hirau pada jiwa-jiwa yang nelangsa seolah-olah derita mereka adalah kutukan yang harus ditanggung sendiri.”

Pasang air laut telah naik hingga ke lututnya. Ia bangkit dengan enggan. Lamat-lamat di kejauhan dentang lonceng gereja berbunyi. Sesaat ia menatap buih-buih ombak yang bermain di atas pasir. Jejak-jejak kakinya di atas pasir basah pun telah lenyap disapu ombak, sama seperti lelaki yang hadir sesaat lantas hilang disapu waktu.

Ia maju beberapa langkah, menceburkan separuh lengannya yang berpasir ke dalam laut. Sedikit membungkuk ia membasuh wajahnya dengan air laut. Hangat dan asin menjalari wajahnya. Ia menoleh ke belakang dengan pandangan takzim sesaat. Ia telah siap. Matahari telah tenggelam, gelap telah bertandang, dan ia terus melangkah dengan pasti.

Juan Kromen

Juan Kromen

Pemuda baik-baik, penikmat kopi hitam, dan pecinta sastra. Sekarang mukim di Jakarta.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait