Kabar Kesepian

Siapa mengerti kesedihanku? Setelah tepat dua tahun lalu dokter memastikan bahwa bakteri Mycobacterium tuberculosis mulai membangun rumah tinggal di dalam paru-paruku. Menetap dan beranak pinak dengan cepat. Tanpa jeda. Setelahnya hanya ada hari-hari gelap yang dingin bagiku. Setelah itu dunia berubah wajahnya. Bukan lagi dunia yang pernah aku kenal sebagai sarang kebahagiaan dan keceriaan. Matahari pun tak lagi kukagumi, setiap terbitnya di fajar hari tak menerbitkan degup ketakjuban di dalam dadaku yang mulai digerogoti bakteri sialan ini. Bahkan setiap kali rembulan mencapai fase utuh bentuk tubuhnya aku tak bisa merasakan lagi taburan padhangmbulan yang gelora cahayanya membangkitkan gairah. Hanya kelengangan yang hadir, panjang sekali, mengurai sampai ke ujung ruang dan waktu yang entah batasnya ada di mana.

Tepat dua tahun juga setelah dokter memvonis TBC itu, aku tak lagi bekerja di kota. Aku tinggalkan pekerjaan membentuk cincin, kalung, dan beragam bentuk perhiasan emas lain. Tubuhku sebenarnya masih menghendaki diri untuk bekerja di sana, namun aku harus memikirkan nasib pekerja lain. Aku tak ingin menjadi zombie yang menularkan bakteri sialan ini ke tubuh pekerja lain sehingga mereka ikut juga merasakan kesepian ini. Cukuplah aku saja. Mereka mesti tetap bekerja dengan tubuh sehat untuk menghidupi anak dan istri mereka di rumah. Cukup aku saja yang merasakan kehinaan ini. Kehinaan seorang lelaki, seorang suami dengan lima anak dan satu istri, tanpa pekerjaan dan hanya menghabiskan waktu di dalam rumah menunggu detik demi detik menghabisi usia hari. Seluruh kebutuhan ekonomi rumah tangga kini ditanggung oleh istriku, yang dengan ketangguhan dan kesetiaannya memutar roda keuangan lewat usaha salon dan rias pengantinnya. Sebelum aku terserang penyakit sialan ini istriku hanya menerima dua sampai tiga orderan merias per minggu. Namun kini dia tak membatasi dirinya, sebanyak apapun ia terima sebab hanya tinggal inilah lumbung uang kami saat ini. Untuk setiap orderan merias ia tempuh seorang diri jarak berpuluh-puluh kilometer dengan satu-satunya sepeda motor yang sanggup aku berikan sampai hari ini. Berangkat pagi dan pulang ketika matahari surup, entah harus dengan bagaimana aku ungkapkan keharuan yang bergejolak dari dalam tubuhku. Cinta dan kesetiaan terkadang memang sangat tak masuk akal, mungkin karena itu ia terletak di dada, bukan di kepala.

Di tengah kebingungan itu diam-diam keasingan makin menguar dalam diriku dari hari ke hari. Atas saran dokter, segala sesuatu yang memiliki potensi penularan mulai dipisahkan dari diriku. Aku tak lagi tidur satu kamar dengan istriku, peralatan makan dan minumku dibedakan, kontak dengan manusia mesti diminimalisir, dan aku diharuskan memakai masker mulut sepanjang hari bagaikan rakyat dari sebuah rezim otoriter yang mulutnya disumpal dan suaranya dilenyapkan. Sesak makin berdenyut. Dalam satu hari mesti kuminum dua puluh butir obat dengan jenis dan rasa yang berbeda-beda, satu jam setelahnya mulutku tak berhenti mengeluarkan air liur, meludah-ludah, dan batuk darah! Bakteri ini benar-benar makhluk keparat yang melemparkanku ke dalam semesta suwung. Kalau saja bisa ingin rasanya kurogoh paru-paru di dalam dadaku ini dan membuangnya ke suatu wilayah yang tak pernah tercatat dalam peta kehidupan sehingga lekas berakhir penderitaan agung ini. Dan yang lebih mengiris dari kesedihanku adalah melihat kesedihan anak-anakku terhadap kesedihanku. Seperti misalnya pada suatu hari ketika Ranum menemaniku ke rumah sakit untuk daily check up, dari bilik jendela ruang dokter aku tak sengaja melihatnya menangis sesenggukan di bangku ruang tunggu. Berkali-kali ia usapkan tisu ke arah pelupuk matanya yang bulat dan bening. Aku tahu anak keduaku itu adalah anak yang tercengeng dibanding empat anakku yang lain, hatinya kaca tipis yang mudah pecah berkeping bahkan oleh setitik tetesan air dari langit, tetapi aku juga tahu kesedihannya yang ini lebih mendalam dan punya arti khusus bagi dirinya, dan itu pula yang membuatku semakin remuk redam. Aku adalah manusia lumpuh di hadapan air mata anak-anakku.

Bahkan hingga cucu pertamaku, Jani, berusia satu tahun, aku belum pernah sekalipun menyentuh tubuhnya. Aku tak tahu bagaimana bentuk tulang wajahnya, wangi rambutnya, kenyal pipinya, dan halus kulitnya yang murni. Belum pernah kurasakan jari-jari mungilnya merambati jengkal tanganku, belum pernah kuhirup bau mulutnya, apalagi kecupan dari bibir kecilnya yang mengkilat. Betapa pilu, namun cukup bisa kumengerti ketakutan Raras, anak pertamaku. Sebagai seorang Ibu yang baru melahirkan anak pertamanya, ketakutan akan kesehatan Jani adalah hal yang amat sangat wajar. Terlebih sistem kekebalan tubuh Jani masih lemah, ia sangat rawan tertular virus jenis apapun. Maka lebih baik kukulum sendiri pilu ini daripada harus kutambah kepiluan lain dengan melihat anak dan cucuku tersiksa.

Terhitung cukup lama Raras tidak pulang ke rumah untuk menengok sanak familinya sejak ia melahirkan Jani. Ia tinggal bersama suaminya di kota tetangga. Alasannya belum akan pulang adalah kesehatan Jani. Walau sebetulnya juga Raras pernah berujar kepada Ibunya lewat telepon bahwa ia sangat ingin pulang ke rumah dan mengenalkan Jani kepada saudara-saudaranya. “Meski sesungguhnya aku punya ketakutan untuk membawa Jani pulang ke rumah, tapi aku ingin tetap pulang, Bu. Jani harus kenal kepada saudara-saudaranya. Dan terutama Bapak, aku ingin Bapak melihat cucu pertamanya,” ucap Raras kepada Ibunya dari speaker gawai. Namun Raras tak kunjung datang juga. Aku sangat bisa paham dengan hatinya, karena baginya keputusan untuk pulang itu adalah pertaruhan besar. Justru istriku yang selalu menagih-nagih kepulangannya. Berkali-kali ia menelepon Raras untuk menagih janji. Istriku sangat ngotot bahwa Raras harus segera pulang semata-mata karena ia tak ingin melihatku sedih. Maka aku katakan kepadanya, “Sudahlah, bu. Jangan menekan Raras terus. Pahamilah hatinya, Raras berada di persimpangan jalan. Ia mencintai Jani, tapi juga mencintai Bapaknya. Jalan manakah yang harus ia ambil? Raras sedang menggenggam buah simalakama, jadi berhentilah membuatnya semakin bingung. Lagi pula aku tak keberatan jika sampai kapanpun Raras tak pulang. Bagiku, pertemuan yang sesungguhnya antara aku, anakku, dan cucuku sudah terjadi di alam batin. Sebenar-benarnya pertemuan. Mereka sudah menemuiku dan aku sudah menemui mereka melalui getaran cinta dan kasih yang bertaut di antara kita.”

Tetapi tak kusangka ternyata Raras mengambil keputusan besar. Tiga hari yang lalu Raras menghubungi Ibunya dan mengatakan bahwa akan pulang ke rumah bersama suami dan Jani. Alangkah bahagianya aku mendengar kabar itu. Seakan mengupas musim kemarau di dalam dadaku. Tepat satu hari sebelum kepulangannya, kuberesi perabotan-perabotan di rumah. Kusapu sarang laba-laba yang menempel di sudut-sudut ruang. Kupoles kembali tembok-tembok yang mulai kusam dengan cat baru. Aku lakukan semuanya tanpa punya ingatan bahwa aku adalah seorang bapak sekaligus kakek yang sedang mengidap TBC. Aku hanya ingin pemandangan terbaik dari rumah ini untuk menyambut putri dan cucu pertamaku.

Hari yang dinanti pun tiba, seluruh personil rumah sudah lengkap berkumpul di ruang tengah untuk menyambut kedatangan Raras sekeluarga. Ada istriku, Ranum, Sally, Ozi, dan Rafli. Sementara aku dengarkan suara geremang dan gelak tawa mereka dari ruang tamu. Siang ini matahari lebih emas cahayanya, memapar ke sekeliling halaman rumah. Burung-burung gereja meliuki udara, menghidangkan tari-tarian bagi kedatangan cucu pertamaku. Tak berselang lama sedan merah itu muncul, menyerap seluruh orkestra pemandangan indah, kemudian berhenti tepat di halaman rumah. Dari balik kaca jendela bisa kulihat kepala pertama yang keluar dari pintu sebelah kiri, dialah Raras anakku dan bayi kecilnya. Baru setelahnya Wijaya, menantuku, keluar dari sisi pintu yang lain. Ozi dan Rafli yang masing-masing duduk di kelas lima dan dua SD langsung berlari menghambur keluar menyongsong kakaknya, memeluk dan segera menyambar tas-tas yang dibawa oleh Raras. Rombongan itu masuk ke ruang tengah. Ranum dan Sally beranjak ke dapur menyiapkan suguhan. Jani digeletakkan di kasur kecil yang tergelar di atas karpet. Wajahnya yang mungil dan polos terlihat bingung menyapu keramaian di sekitarnya. Tangan serta kakinya bergerak-gerak kecil, melepas rasa letih yang ia tabung selama perjalanan. Pipi tebalnya tak absen digilir oleh ciuman yang datang dari nenek, tante dan dua paman kecilnya. Kegembiraan memancar, menembakkan rasa bungah ke seisi rumah. Ikut kurasakan kebahagiaan itu meski hanya bisa kupandangi mereka dari ruang tamu. Kebahagiaan yang meledak dari dasar jiwaku ternyata tanpa kusadari memompa keluar lelehan air mata. Tulang rusukku bergetar menahan haru.

“Bapak kenapa menangis?”, Raras memergoki keadaanku, seketika itu juga ia berlari kecil ke arahku, dan bersimpuh.

“Tidak apa-apa, nak.”

“Bapak boleh pegang Jani, yang penting kan pakai penutup mulut dan cuci tangan. Bapak jangan bersedih, Raras tidak melarang Bapak memegang Jani kok. Bapak jangan menangis. Bapak dan Jani sama. Sama-sama hatinya Raras. Kalau Jani menangis, hati Raras linangannya. Begitu pun kalau Bapak menangis, yang menderas di pipi, adalah hujan dari awan keruh hati Raras.”

Kerongkonganku tercekat mendengar kalimat Raras. Ada yang memberat di dadaku. Tulang rusukku kembang kempis dan kembali bergetar. Ramai-ramai orang seisi rumah mengelilingiku. Membentuk semacam kehangatan yang disuntikkan ke dalam dadaku.

Hari berselang, dan sejak kudengar kalimat yang terlontar dari mulut Raras itu, kurasakan Tuhan sangat dekat hadir di dalam keterbatasan gerak hidupku. Sangat dekat hadir di hatiku. Aneh, bakteri keparat yang selama ini kukutuk seketika menjelma diri menjadi Malaikat pembuka jalan yang mengantarkanku kepada suatu titik posisi kesadaran di mana kesepian bukan lagi sebuah kesepian. Bakteri ini mengurai diri menjadi percik-percik cahaya yang menghangati sekujur tubuh. Berpendar-pendar. Kemudian menggumpal menjadi kehadiran-Nya.

Kutemukan kini hanya Tuhan. Orang-orang bisa tertular virus tetapi Tuhan tidak. Maka satu-satunya yang bisa kusentuh, kuraba, kudekap, dan kukecup dengan tanpa kekhawatiran hanyalah Tuhan. Tuhan menjadi kawan karib sekaligus kekasih di dalam nurani. Dokter bisa membatasiku untuk tidak berdekatan dengan manusia tetapi dokter tidak bisa merantai tubuhku dari pergaulan dengan Tuhan. Tembok-tembok kamar bisa menyekat langkah kaki udara yang ditunggangi bakteri, bisa memisah tubuhku dengan tubuh anak dan istriku, tetapi tembok-tembok kamar tak akan pernah bisa memisahkan Tuhan dari tidurnya para hamba yang kesepian. Aku, hamba yang kesepian itu, hanya bersetia merajut bayang-bayang Tuhan, kujadikan selimut dengan sulaman 99 bintang asma-Nya. Selimut itu membungkusku ketika malam melemparkan sunyi yang dingin, sunyi yang menusuk tulang belulang. Sunyi yang panjang. Sunyi yang merentang.

***

Batuk darah mengawali pagiku kali ini. Tiga kali  terbatuk, tiga kali darah muncrat dari mulutku ke atas permukaan lantai. Lalu kupandangi darah segar yang merah kental itu.

“Tuhan, dulu ketika di surga Kau tiup tiga bagian tubuh dari tapel Baginda Adam, beliau bersin sebanyak tiga kali. Kemudian beliau hidup, lantas dikelabuhi Kanzul Jannah alias Iblis si Bendaharawan Surga sehingga Baginda Adam dihukum keluar dari surga, terjun ke bumi. Pagi ini Kau buat aku terbatuk tiga kali juga. Adakah, telah Engkau berikan padaku nyawa yang baru? Kelahiran yang baru? Agar kelak tak bisa ditipu oleh Iblis Dunia.”

Benar-benar terasa kosong di dalam diriku. Di dalam diriku hanya tinggal air mata hamba-hamba Tuhan yang memendam perih dalam kemalangan. Wajah mereka yang bernasib kesepian mengisi ruang-ruang kosong di sela syaraf, darah, tulang, dan daging badanku. Teriakan dan pekikan para hamba Tuhan yang hidupnya dikurung oleh senyapnya dunia terdengar begitu nyaring di pusat gendang telingaku.

Sebelum kusantap sarapan pagi yang telah disediakan istriku di atas meja beserta sendok dan garpu khusus itu, kuputuskan untuk sejenak mendoakan para hamba Tuhan yang kesepian. Kumulai dengan memejamkan mata hingga gelap benar-benar merasuk. Dalam kegelapan ruang dan waktu itu, aku bertemu banyak sekali wajah-wajah penempuh sepi. Kusambangi mereka satu per satu. Aku menyelam sampai ke lubuk hatinya. Setiap satu hamba Tuhan yang kujenguk dalam kegelapan, pada teras kecil gubuk jiwanya kurapal tiga asma Tuhan yang terangkai menjadi seutas wirid “Ya Kholiq, Ya Bari’, Ya Mushowwir“. Dengan amat sabar kusambangi satu per satu para hamba Tuhan yang kutemui di dalam dimensi suwung itu. Bermacam-macam jenis nasib kesepian mereka. Ada yang kesepian karena penyakit, ada yang kesepian karena kemiskinan, ada yang kesepian karena kekayaan, ada yang kesepian karena dikucilkan, disingkirkan, dan ditindas oleh pemerintahan suatu negara. Ada yang kesepian karena jabatan, ada yang kesepian karena status sosial. Ada yang kesepian karena kebodohan, ada pula yang kesepian karena kepandaian. Ada yang kesepian karena tak mengenal Tuhannya, ada yang kesepian karena menolak sesamanya. Ada yang kesepian karena setengah mati mencari keramaian, namun ada juga yang kesepian karena sengaja memilih kesepian. Berjuta-juta jumlah mereka. Tidak! Bisa jadi lebih! Ya ampun, banyak sekali ternyata jumlah orang kesepian. Beredar-edar jiwa mereka di dalam kegelapan. Semua kuhampiri, satu per satu, sampai tandas tanpa sisa.

Ketika kulenyapkan diri dari kegelapan itu dan membuka mata, nasi beserta lauk di atas piringku telah berubah menjadi setumpuk warna oranye yang lindap. Matahari dan bumi terbujur kaku di atas meja.

Pamulang, 29 Juni 2019.

Sobrun Jamil

Sobrun Jamil

tinggal di desa Sinangoh Prendeng, Kajen, Pekalongan. Aktif melakukan kegiatan sastra bersama Komunitas Buletin Lintang. Karyanya pernah termuat di Antologi Jendela Pekalongan (2018), Antologi Narasi Baru (2018), serta di beragam media daring.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait