Suara Hati, Tabuh Genderang Melalui Kesadaran

Posted: 20 September 2018 by Martina Ariel

Sebagai orang yang telah mengecap pendidikan formal, apakah benar adanya bahwa kita sungguh lebih terpelajar dari masyarakat adat?

Sebagian dari kita pernah membatinkan hal demikian. Jika tidak, setidaknya, (pernah) menganggap bahwa buku beserta tetek bengeknya adalah representasi pendidikan terbaik. Susan George dalam The Lugano Report:  On Preserving Capitalism in Twenty-first Century (1999), mengatakan, “life world” kita terkoyak antara yang cekatan dan bertahan, dengan yang kurang lincah, yang lumpuh dan tertinggal. Kita berada dalam situasi, di mana manusia saling memangsa dan solidaritas antarorang senasib tidak lagi mengikat, karena yang pertama dan utama adalah menyelamatkan diri masing-masing.

Kita tergagap.

Tidak dengan Fawaz Al Batawy. Bergabung dalam Sokola, membuatnya menjadi salah satu pelaku perubahan. Baginya, teori para perancang pembangunan tak cukup mewakili keadaan masyarakat adat saat ia bertugas dalam program Sokola Asmat. Makna infrastuktur tidak berhubungan dengan kilometer jarak dari Jew ke puskesmas, melainkan ketersediaan sumber daya manusia yang mampu memberikan pendampingan dalam arus perubahan yang terus masuk ke tempatnya bertugas.

Seperti ideologi, pendidikan juga merupakan wilayah konsistensi yang serius karena terbentuk benturan antara realitas sosial, kemajuan zaman, pakem adat, tradisi lokal, serta kebutuhan untuk diakui.

Semua Butuh Diperjuangkan

Fawaz, seorang sukarelawan guru di lembaga Sokola, lembaga yang bergerak di bidang pendidikan untuk masyarakat adat di Indonesia, memulai kegiatannya di Sokola sejak 2008. Hingga akhirnya, pada 13 Maret 2011, ia resmi menjadi sukarelawan guru. Mengawali tugasnya sebagai sukarelawan di Sokola Rimba, Jambi. Selanjutnya, ia ditugaskan di Sokola Asmat, Papua, Sokola Kajang, Sulawesi Selatan, dan saat ini dipercaya sebagai koordinator di Sokola Kaki Gunung, jember.

Ditemui di angkingan selatan Jembatan Lempuyangan, Rabu (27/2/2018), Fawaz mencoba merangkum keterlibatannya di beberapa program Sokola. Sambil sesekali membenahi posisi rambut panjangnya, dia menceritakan apa sebenarnya substansi utama program Sokola.

Sokola adalah sebuah lembaga pendidikan alternatif bagi masyarakat di pedalaman hutan Indonesia yang dinisiasi oleh Saur Marlina Manurung (Butet Manurung), sarjana Sastra Indonesia dan Antropologi Universitas Padjajaran, bersama lima kawannya.

Program Sokola pertama kali diterapkan bagi masyarakat Rimba (Suku Kubu) yang mendiami Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi. Konsep awalnya adalah memberikan manfaat pendidikan secara langsung kepada lingkungan masyarakat adat itu berada, khususnya untuk menyelesaikan masalah-masalah di daerah tersebut.

Program Sokola terbagi menjadi dua. Literasi dasar dan literasi terapan. Literasi dasar  fokusnya berbagi ilmu mengenai kemampuan membaca, menulis, berhitung, mendengarkan, berbicara, dan mengkomunikasikannya. Sedangkan literasi terapan adalah bagaimana literasi dasar tadi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat adat diharapkan bisa mencari solusi atas masalah yang terjadi dalam internal komunitas mereka, hingga masalah-masalah yang bersinggungan dengan dunia luar.

Deklarasi Praha Tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi di tengah masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO,2003). Di dalamnya disebutkan bahwa literasi terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengkomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai persoalan.

“Tentu saja kami di Sokola menerapkan itu semua dengan menjadikan tradisi lokal sebagai basis utama dan titik tolak belajar. Literasi yang kami pahami dan kami jalankan dalam program adalah bagaimana peserta program bisa membaca, menulis, dan berhitung dengan baik setelah menyelesaikan program literasi dasar,” tegas Fawaz Al Batawy, dalam bukunya Yang Menyublim di Sela Hujan, Cerita Tentang Pengalaman Belajar Mengajar di Sokola Asmat (hlm 134).

Literasi Terapan

Masyarakat adat memiliki kelengkapan dan tatanan budaya, hingga mereka bisa berdiri sendiri. Memiliki kesatuan hukum, kesatuan penguasa, kesatuan lingkungan hidup, termasuk di dalamnya hak-hak yang disepakati bersama atas wilayah yang mereka tempati.

Tidak jarang hukum adat ini berbenturan dengan hukum Negara. Contoh sederhananya ialah tentang sistem penguasaan tanah. Filosofi mendasar yang harus dipahami ketika kita bicara mengenai tanah sebagai hak ulayat masyarakat adat adalah hubungan mereka dengan tanahnya. Tanah dianggap sebagai kesatuan integral dengan kepribadian—religio magis.

UUPA diberlakukan di Papua pada 26 September 1971. Namun, pembebasan tanah hak adat dan tanah hak ulayat oleh pemerintah provinsi tidak berpedoman pada peraturan yang berlaku, yaitu Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum (dilansir Antara News, 24 Oktober 2014).

Pembangunan untuk kepentingan umum ini  kerap dilegitimasi untuk melakukan upaya penindasan dan penaklukan dalam rangka dilaksanakannya suatu proyek. Tindakan ini diklaim sebagai bagian dari penegakan stabilitas nasional. Sedangkan usaha masyarakat adat untuk mempertahankan wilayahnya, diklaim sebagai upaya yang menghambat pembangunan negara.

Sebuah tatanan budaya dalam masyarakat adat sudah selayaknya dipertahankan. Namun, transformasi budaya juga tak bisa dihindarkan. Transformasi perubahan ini terjadi sebagai proses penerapan kebiasaan atau tradisi baru yang tidak sesuai dengan apa yang dahulunya diyakini.

Bersama Sokola, Fawaz masuk ke dalam ranah tranformasi budaya ini. menjembatani arus informasi yang deras, dengan memberikan tools kepada masyarakat adat, agar mereka memiliki pegangan, bagaimana harus memecahkan masalah yang timbul dari proses transformasi tersebut, secara mandiri.

“Ilmu Pergi”

Ketentuan UU SPN Nomor 20 Tahun 2003, pada Bab VI pasal 13 ayat 1 disebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal, dan informal yang dapat saling melengkapi. Pasal 14 menyebutkan bahwa jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Pendidikan formal adalah kegiatan yang sistematis, bertingkat atau berjenjang, dimulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi dan yang setaraf dengannya; termasuk ke dalamnya ialah kegiatan studi yang berorientasi akademis dan umum, program spesialisasi, dan latihan professional, yang dilaksanakan dalam waktu yang terus menerus (Coombs, 1973).

Masyarakat Adat VS Modernitas

Literasi terapan yang dberikan oleh Sokola berbicara tentang bagaimana literasi dasar yang sudah dikuasai bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari, serta mampu dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi komunitas.

Masalah yang sering muncul di tengah masyarakat adat adalah masifnya pengaruh luar yang masuk ke lingkungan mereka. Kasus gizi buruk di Asmat misalnya. Jokowi pernah menawarkan relokasi warga Asmat yang terdampak gizi buruk dan campak. Tawaran tersebut disampaikan agar penduduk yang tinggal di daerah terpencil bisa dipantau kesehatannya. Namun, apakah rencana relokasi tersebut sudah disesuaikan dengan tatanan budaya yang berlaku di Asmat?

Tatanan budaya membawa masyarakat adat memiliki kemampuan untuk hidup dan menetap pada wilayah tertentu sebagai ciri khas kepribadiannya. Karena dari sanalah mereka berasal. Dari sanalah muncul pengetahuan, yang akhirnya membuat masyarakat adat lebih “jenius” dibandingkan makhluk lainnya. Dan dari sana juga muncul hak ulayat (wilayah) yang menentukan muasal mereka sebagai masyarakat asli.

Jika sebuah program atau bantuan didasarkan pada persepsi sepihak, maka yang terjadi adalah penaklukan, karena kita memaksakan kepada mereka untuk memakai ukuran-ukuran kita. Cara pandang demikian, sama saja kita berkata pada mereka bahwa diri kita “lebih bahagia”, “beradab”, “pintar”, “kaya”, dan lain sebagainya.

“Sebelum kita melakukan program Sokola, ada proses assessment yang berlangsung sekitar satu hingga tiga bulan. Dari proses tersebut, kita bisa tahu, apa sebenarnya kebutuhan masyarakat adat tersebut. Kalau masyarakat tidak merasa ada “masalah” terkait literasi yang harus diselesaikan, kita tidak akan masuk ke sana. Itu sama saja menganggu kehidupan  “asli” mereka,” ujar Fawaz.

Tuhan, Beri Aku Ketenangan untuk Mengubah Sesuatu yang Aku Bisa

Dalam konteks persoalan masyarakat adat yang begitu beragam, pendidikan formal itu layaknya “ilmu pergi”. Berusaha menciptakan manusia-manusia yang beranggapan bahwa kesuksesan bisa didapat di tempat-tempat, yang memang menjadi ladang upah. Manusia “dipaksa” untuk pergi dari tempatnya berasal, menuju ladang upah itu tadi.

 Inner success tidak melulu berkaitan dengan bagaimana mendapat jabatan setinggi-tingginya, upah sebanyak-banyaknya, atau pergi sejauh-jauhnya, tapi lebih kepada bagaimana komitmen kuat bisa terbentuk untuk melakukan perubahan sikap mental, moral, dan perilaku pada setiap pelakunya. Yang diberi pendidikan adalah gerak pikrian manusia.

Bagi Fawaz, menjadi sukarelawan dalam Sokola, membuatnya memiliki hubungan resiprokal dengan lembaga ini. Bekerja menjadi bagian perkembangan Sokola, sekaligus sekrup produksinya, tetapi lembaga ini juga bekerja di dalam dirinya.

Sepertinya, jalan telah dipersiapkan dengan baik.

Pendapat Anda: