Pagelaran Puisi dan Seni Tradisi Barongan “Ratna Manggali dan Bahula”

Satulana

Satulana merupakan kelompok seni pertunjukan yang lahir dari komunitas sastra alternatif bernama Ngopinyastro Yogyakarta, resmi didirikan di Yogyakarta untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Satulana adalah sebuah nama dari dua orang yang menyatukan diri dalam kelompok seni pertunjukkan berbahan dasar puisi. Ketertarikan mereka berdua terhadap sastra dan hal-hal di luar sastra membawa mereka berinisiatif mencampurkan segala multidisiplin seni menjadi sebuah pertunjukkan. Selain merawat spirit moyang dalam berkesenian, Satulana juga hadir sebagai illustrator puisi di atas panggung.

Sejauh ini Satulana sudah bergerak-merakap dari panggung satu ke panggung lainnya. Selain mengisi di berbagai acara yang mengundang, Satulana juga bergegas menciptakan panggung sendiri dengan mengangkat isu wacana yang Satulana anggap krusial untuk didialogkan. Dengan penuh kesadaran bahwa kelanggengan tak serta-merta dapat dilakukan sendiri, Satulana juga dengan segenap kerendahan hati meleburkan diri bersama komunitas lain untuk mempertemukan sastra dengan rupa, musik, dan segala yang berada di luar sastra yang mungkin untuk didampingkan –baik dalam suasana panggung maupun karya.

Maka, atas segala kepedulian lagi kebijaksanaan Satulana dalam menghidupkan tradisi sastra khususnya puisi, besar harapan Satulana mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat, pekerja seni, dan pegiat sastra untuk sejenak membuka diri dan berbenah kendati hanya melalui seni pertunjukan.

Pagelaran Puisi dan Kesenian Barongan

Puisi merupakan salah satu karya sastra tertulis –yang dalam perkembangannya, para pegiat-pegiatnya sudah mendekatkan pusi ke dalam masyarakat melalui banyak hal. Salah satunya adalah pertunjukan. Dinamika tersebut mampu menjadikan puisi tetap eksis sampai era sekarang ini. Bahkan dapat dikatakan pengemasan pertunjukan puisi telah dilakukan dengan beragam bentuk. Mulai dari musikalisasi puisi, teatrikalisasi puisi, puisi gerak, dan puisi konkret. Berangkat dari fenomena tersebut, kali ini Satulana mencoba mengilustrasikan puisi di atas panggung dengan menggandeng kesenian tradisional Barongan.

Inisiatif untuk melibatkan seni tradisional barongan dalam karya Satulana kali ini bermula dari tolehan kepala masing-masing personel di lingkungan Yogyakarta khususnya yang lekat dengan budaya dan tradisi. Selain itu, pagelaran ini juga sebagai wujud kecil apresiasi dan rasa bangga Satulana karena kesenian barongan Blora telah dinobatkan sebagai warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO. Hal tersebut tentunya juga berdampak pada barongan di daerah lainnya, mengingat penghargaan barongan yang telah mendunia, dan eksistensinya yang masih terjaga di tengah perayaan kesenian modern. Kekhawatiran akan lunturnya aspek budaya dan tradisi di zaman sekarang itulah yang menjadi salah satu misi Satulana untuk membawa budaya dan tradisi tersebut ke dalam dimensi yang lebih mudah untuk diterima oleh masyarakat kini.

Dalam konsep pertunjukan tersebut, seni tradisional Barongan tidak hanya hadir sebagai kisah yang Satulana transformasikan dalam bentuk puisi. Akan tetapi, pertunjukan ini juga mengikutsertakan pagelaran kesenian tradisional barongan secara utuh –berikut musik
gamelan dan fungsinya sebagai ritual serta hiburan. Demikian halnya dengan Satulana yang tidak hanya menghadirkan deklamasi puisi, namun juga gerak, teatrikal, dan musik modern. Penggunaan puisi sebagai media penyampaian tentu dikarenakan puisi menjadi hal yang
cukup dekat dengan Satulana dan ssasaran utama audiens pagelaran ini yaitu masyarakat milenial.

Mengenai kisah barongan sebagai wacana dasar pertunjukan, Satulana mengembangkan bagian kisah dengan memfokuskan kepada tokoh Ratna Manggali dan Bahula. Kedua tokoh tersebut memiliki cukup andil dalam kebermulaan barongan versi Calonarang. Namun keberadaan dan kompleksitas Ratna Manggali dan Bahula belum terceritakan secara independen. Selain itu, kisah yang diangkat Satulana tidak lain juga berangkat dari spirit-spirit naskah sebelumnya tentang petuah kehidupan. Salah satu petuah yang dapat diambil dari kisah barongan adalah rwa bineda. Keberadaan baik-buruk sebagai penyeimbang kehidupan tersebut kita kemas dalam kisah Ratna Manggali dan Bahula. Bahwasanya dalam kehidupan ini tak ada yang menang atau yang kalah, kebaikan dan
keburukan akan terus berjalan beriringan secara turun temurun.

Berdasarkan benang merah permasalahan di atas, maka pagelaran ini diharapkan mampu menjadi salah satu solusi yang pada nantinya bisa dikembangkan lebih lanjut.

Info mengenai pagelaran tersebut bisa dilihat di tautan berikut

Redaksi Kibul

Redaksi Kibul

Bicara sastra dan sekitarnya. Muncul pada saat diperlukan.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait