Mengenang Masa Lalu bersama Puisi Kedung

Posted: 27 February 2018 by Muhammad S Fitriansyah

Di luar ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta beberapa orang sedang asyik bercengkrama.  Memasuki ruangan, panitia sudah bersedia menyambut peserta. Malam itu Minggu (25/2) merupakan malam istimewa bagi Kedung Darma Romansha—penyair cum novelis.

Malam tersebut adalah launching sepilahan puisi karya Kedung dalam buku berjudul Masa Lalu Terjatuh ke Dalam Senyumanmu. Launching tersebut juga turut dihadiri Joko Pinurbo atau akrab disapa Jokpin, dimoderatori oleh Asef Saeful Anwar, menghadirkan Teuku Rifnu Wikana serta Gunawan Maryanto yang tampil membacakan puisi-puisi karya Kedung dalam bukunya tersebut.

Jokpin dikenal dengan puisi-puisinya yang fenomenal berbicara banyak mengenai puisi Kedung. Ia mengungkapkan bahwa secara diam-diam mengamati puisi Kedung. Jokpin pun mengakui bahwa ia menemukan sesuatu cara berpuisi yang unik.

Kata Jokpin lagi, ia mengatakan bahwa puisi lirik Indonesia itu banyak melahirkan diksi-diksi atau gaya ucap yg nyaris generik. “Saya merasa bersyukur bahwa di dalam kumpulan puisi ini saya menemukan sejumlah diksi, sejumlah citraan yang menurut saya dapat menyegarkan suasana perpuisian Indonesia,” ungkap Jokpin.

Membaca puisi memang berbeda dengan membaca prosa. Jokpin sendiri menceritakan bahwa untuk membaca kumpulan puisi, pembaca harus menemukan pintu memasuki dunia yang terbentang dalam kumpulan puisi tersebut. Hal tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi pembaca untuk menemukan kerangka dasar dari kumpulan puisi. “Saya membolak-balik dan membaca kumpulan puisi dalam buku ini dan saya menemukan bahwa ada dua puisi yang menjadi kerangka dari kumpulan  puisi Kedung,” katanya.

Puisi pertama yang dimaksud Jokpin berjudul Kereta Terakhir. Dalam puisi Kereta Terakhir ini mengisahkan seseorang yang berangkat dari kampung ke kota. Kata Jokpin dalam perjalanan tersebut melambangkan proses perubahan budaya agraris menuju budaya urban dan budaya kosmopolit. “Yang paling unik dan paling mengesankan bagi saya adalah kalimat petugas yang melubangi rindu di karcismu,” ungkap Jokpin. Kata Jokpin itu merupakan diksi yang luar biasa karena memberi perspektif berbeda mengenai rindu, “Bayangkan ya yang dilubangi itu bukan karcis tapi rindu. Artinya apa? berarti rindu itu rindu yang sekali pakai,” lanjutnya.

Kedua adalah puisi berjudul Hujan Oktober yang menunjukan proses sebaliknya. Puisi ini menunjukan bahwa ada peradaban global yang sudah masuk merasuk memasuki kampung. Dua baris yang menurut Jokpin merupakan kekuatan dari puisi tersebut; Zaman menggelinding di desa-desa dan bermukim disetiap lipstik remaja. “Jadi sepeda motor atau alat trasnportasi modern itu mengantarkan peradaban kosmopolit atau global ini ke kampung-kampung. Sampai remaja-remaja juga keranjingan lipstik,” tuturnya.

Keunikan puisi Kedung tidak berhenti sampai disitu. Lagi-lagi Jokpin memaparkan hal yang ia anggap penting untuk diketahui dalam membaca karya Kedung ini. Puisi yang unik dari puisi-puisi Kedung, kata Jokpin  adalah menggunkan imaji-imaji basah. Imaji tersebut cukup dominan dalam puisi Kedung seperti hujan, membasahi, menetes dan meleleh.

”Kita tahu air itu mengalir dan begitulah proses pencarian proses jati diri manusia yang dinamis tidak pernah selesai,” katanya. Jokpin menambahkan bahwa uniknya hujan dalam puisi ini menurutnya memberikan sumbangan penting di puisi lirik Indonesia.

Kemudian, puisi-puisi Kedung banyak menggunkan imaji proletar untuk sesuatu yang sebenarnya sangat generik. Misalnya pada puisi berjudul Magrib Menjemputku. Kata Jokpin  ada sesuatu yang berbeda ditawarkan dan menurut Jokpin layak untuk dieksplorasi lebih lanjut yaitu diksi-diksi dan citraan proletar. Jokpin menganggap bahwa melalui kumpulan puisinya tersebut, Kedung telah membukakan jalannya sendiri. “Pada malam ini saya ingin menunjukan bahwa kumpulan puisi ini sudah membukakan jalan bagi Kedung untuk melanjutkan proses kreatifnya,” ungkap Jokpin.

Terakhir, Jokpin memaparkan pentingnya memasukan sentuhan-sentuhan kecil yang mematikan, artinya sentuhan-sentuhan kecil yang membuat akal kita terbuka. Maka dari itu diperlukan sebuah kreativitas yang tinggi karena, kata Jokpin puisi ini memiliki ruang yang sempit. “Seperti itu tadi melubangi rindu di karcis bagi saya ini sesuatu yg baru. Walaupun ribuan penyair telah menulis tentang rindu,” ungkapnya.

Tidak banyak yang diungkap Kedung malam itu. Baginya, Jokpin sudah cukup banyak untuk menginterprestasikan kumpulan puisinya tersebut. Yang jelas puisi-puisi tersebut ia tulis ketika awal berproses sebagai penyair waktu masih menjadi mahasiswa semester tiga jurusan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta sampai tahun 2017.

Kedung mengaku bahwa ia memang tipikal orang yang susah menulis puisi kalau tidak benar-benar ada momen puitik yang menampol kepalanya. ”Itu bagian dari proses kreatif dari mulai 2004 sampai 2017 yang saya rangkum,” pungkas Kedung.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: