BBS #146: Tadarus Alkudus

Posted: 23 November 2017 by Studio Pertunjukan Sastra

alkudus

Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerja sama dengan Balai Bahasa DIY, menggelar agenda bulanan Bincang-bincang Sastra (BBS) yang bulan ini memasuki edisi ke 146. Acara Bincang-bincang Sastra kali ini bertajuk “Tadarus Alkudus” yang akan membahas novel Alkudus karya Asef Saeful Anwar. Hadir sebagai pembicara dalam acara ini adalah Katrin Bandel dan Sulfiza Ariska yang akan dipandu oleh Bagus Panuntun. Di dalam acara ini juga akan tampil pertunjukan sastra oleh Teater Fourta SMK Negeri 4 Yogyakarta. Acara ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 25 November 2017 pukul 20.00 di Ruang Sutan Takdir Alisjahbana, Balai Bahasa DIY.

“Novel Alkudus berbentuk ‘kitab suci’. Alkudus ditulis dengan alasan yang dasar berupa pertanyaan: apakah manusia beriman kepada Tuhan setelah membaca sebuah kitab yang dianggap suci, atau mereka mempercayai kitab suci itu setelah beriman kepada Tuhan? Kalimat-kalimat ilahiah dalam novel ini lebih banyak berupa kabar baik dan disusun dalam cerita, bukan poin-poin ajaran yang kebas, sebab sebagian besar ajaran agama dibabarkan melalui kisah. Meskipun demikian, apapun namanya yang telah tertulis ini adalah novel, bukan kitab suci,” tutur Asef Saeful Anwar.

Mustofa W. Hasyim, ketua Studio Pertunjukan Sastra menyatakan bahwa novel Alkudus ini menarik untuk ditelaah lebih mendalam. Selain karena bentuknya yang serupa kitab suci juga mengenai kisah-kisah di dalamnya yang penuh dengan pelajaran, permenungan hidup manusia sebagai manusia dan hamba Tuhan. Asef Saeful Anwar selaku penulis, pernah ngaji di Pondok Pesantren Sunan Pandan Aran sebelum memperdalam ilmu sastra di Jurusan Sastra Indonesia serta Program Pascasarjana Ilmu Sastra FIB Universitas Gadjah Mada. Jika melihat latar belakang tersebut, baik dalam ide maupun teknis teoretis penulisan karya sastra tentu saja sudah tidak diragukan lagi.

“Semoga acara ini dapat hadir sebagai pengingat bahwa manusia tidak bisa lepas dari hukum Tuhan. Novel ini ajaib. Berbeda dengan novel-novel yang pernah ada sebelumnya. Tentu saja novel ini lahir untuk kebaikan. Untuk itu, mari kita sambut novel karya anak muda berbakat asal Cirebon yang telah lama tinggal dan menetap di Yogyakarta ini!” pungkas Mustofa W. Hasyim.  

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *