Rombongan di Malioboro

Suasana Malioboro pada malam hari
Foto: Jorge Franganillo / Wikimedia Commons (CC BY 2.0)

Bus berhenti di ujung Malioboro sekitar pukul empat sore. Pintunya terbuka, dan empat puluh orang turun satu per satu, seperti air yang akhirnya menemukan celah. Ada yang langsung menuju trotoar, ada yang masih mencari sandal di bawah kursi, ada yang berdiri di dekat pintu sambil menghitung ulang tas.

Saya berdiri di dekat lampu jalan, memegang daftar nama yang sudah lecek. Rombongan ini terdiri dari tetangga kampung, bibi-bibi yang membawa tas belanja lipat, beberapa anak yang berlarian sebelum sempat dilarang, dan satu kakek yang sejak tadi bertanya apakah Malioboro masih sama seperti tiga puluh tahun lalu.

Jawabannya tidak sederhana. Malioboro masih punya gedung-gedung lama, lampu yang menyala menjelang malam, dan pedagang yang menawarkan dagangan dengan suara khas. Tetapi trotoarnya lebih ramai, sepeda-sepeda lampu berwarna-warni menunggu penumpang, dan suara pengeras suara dari toko bergema di sepanjang jalan. Bagi kakek itu, tempat ini mungkin masih dikenali. Bagi saya, yang datang sebagai koordinator, Malioboro adalah soal lain: bagaimana menjaga empat puluh orang tetap bersama tanpa membuat mereka merasa sedang diawasi.

Kami sepakat berkumpul di depan sebuah bank besar yang mudah dilihat. Jam bebas sembilan puluh menit. Yang ingin belanja silakan masuk ke pasar; yang ingin makan silakan cari angkringan; yang ingin duduk silakan cari bangku. Saya mengingatkan satu hal: jangan berjalan terlalu jauh sendirian, dan jangan lupa waktu.

Waktu berjalan cepat di Malioboro. Bibi-bibi kembali dengan tas penuh kain dan oleh-oleh. Anak-anak kembali dengan es krim yang meleleh di tangan. Kakek kembali lebih awal, duduk di trotoar sambil memandang jalan. Ia berkata, “Dulu tidak seramai ini.” Saya tidak tahu apakah itu pujian atau keluhan. Mungkin keduanya.

Malam di Prambanan

Keesokan sore, kami bergerak ke Prambanan. Perjalanan dari kota memakan waktu, dan bus harus parkir agak jauh dari pintu masuk. Rombongan turun, berjalan pelan, lalu duduk di area terbuka sambil menunggu matahari turun. Anak-anak bermain di lapangan, bibi-bibi membuka bekal, dan kakek duduk di kursi sambil memperhatikan candi yang mulai terlihat gelap.

Sendratari Ramayana dimulai ketika langit benar-benar gelap. Lebih dari dua ratus penari dan musisi mengisi panggung, tetapi tidak ada satu pun dialog. Kisah Rama dan Sinta disampaikan melalui gerak, gamelan, dan cahaya. Kakek yang tadi mengeluh tentang Malioboro tidak berbicara selama sembilan puluh menit. Ia hanya menonton.

Di sebelah saya, seorang anak bertanya mengapa tidak ada yang berbicara. Ibunya menjelaskan pelan bahwa cerita bisa disampaikan tanpa kata-kata. Anak itu mengangguk, lalu kembali menonton. Saya tidak tahu apakah ia benar-benar paham, tetapi ia tetap duduk sampai akhir.

Pertunjukan ini sudah ada sejak 1961, dan bentuknya dipertahankan justru karena keasliannya. Pada Mei sampai Oktober, panggungnya terbuka dengan Candi Prambanan sebagai latar. Pada November sampai April, pertunjukan dipindah ke Gedung Trimurti. Malam itu, angin terasa dingin, dan beberapa orang membungkus tubuh dengan jaket yang tadi dikira tidak akan dipakai.

Ketika lampu padam dan penonton bertepuk tangan, rombongan kami berdiri. Ada yang mengantuk, ada yang masih membicarakan adegan terakhir, ada yang sibuk mencari toilet. Saya menghitung nama satu per satu di depan bus. Empat puluh orang. Lengkap.

Dalam perjalanan pulang, saya berpikir tentang alasan orang melakukan perjalanan berombongan. Bukan untuk melihat sebanyak mungkin tempat, tetapi untuk memiliki sesuatu yang bisa dikenang bersama. Malioboro memberi tawa dan lelah. Prambanan memberi hening yang tidak perlu dijelaskan.

Bagi yang ingin merencanakan malam serupa, latar belakang pertunjukan dan daya tariknya bisa dibaca di artikel tentang Sendratari Ramayana Prambanan. Sisanya tergantung pada rombongan: siapa yang duduk di sebelah siapa, dan apakah semua orang sudah makan sebelum pertunjukan dimulai.