
Rumah kami dulu punya satu aturan tidak tertulis: televisi harus menyala saat makan malam. Bukan karena ada acara favorit, tetapi karena Ibu tidak tahan suasana sunyi. Ia akan duduk di ujung meja, sesekali menatap layar, dan bertanya tentang apa yang sedang dibicarakan orang-orang di meja. Kami menjawab dengan suara lebih keras dari yang seharusnya. Ibu mengangguk. Kadang mengangguk saja.
Lama sekali kami mengira Ibu hanya tidak tertarik pada obrolan. Ia memang pendiam sejak Bapak meninggal. Baru setelah adik saya mengeluh, “Ibu kok kalau ditanya selalu bilang ‘iya’ tapi nanti salah,” kami mulai curiga. Ternyata selama ini Ibu menebak. Ia menangkap nada suara, melihat gerak bibir, lalu menyusun jawaban dari potongan yang tersisa. Kadang tebakannya benar. Sering juga tidak.
Yang paling menyedihkan bukan salah pahamnya. Yang paling menyedihkan adalah betapa lama kami tidak menyadarinya. Kami sibuk menganggap Ibu keras kepala, padahal ia sedang berusaha menyembunyikan bahwa dunia suaranya sudah menyusut.
Ibu mulai menghindari arisan. Katanya capek. Ia juga berhenti menelepon saudara-saudaranya, meskipun dulu bisa berjam-jam. Telepon rumah dibiarkan berdering sampai kami yang mengangkat. Kami mengira ia sedang berduka. Sebagian mungkin benar. Tetapi ada bagian lain: ia tidak lagi yakin bisa mengikuti percakapan.
Saya ingat suatu sore, Ibu duduk di teras sambil menjahit. Saya duduk di sampingnya dan bercerita tentang pekerjaan. Ia sesekali berkata, “oh, begitu,” tanpa menoleh. Setelah beberapa menit, saya sadar ia tidak menjahit apa-apa. Jarumnya berhenti di kain, dan matanya menatap ke arah jalan. Saya bertanya, “Ibu dengar saya?” Ia tersenyum dan menjawab, “Dengar, kok.” Jawaban itu terlalu cepat.
Kami membawanya ke klinik THT. Pemeriksaannya sederhana. Ibu diminta menekan tombol setiap kali mendengar bunyi. Di beberapa frekuensi, ia tidak menekan apa pun. Dokter menjelaskan bahwa bagian koklea yang menangkap bunyi tinggi sudah berkurang. Bukan karena satu peristiwa, tetapi karena usia dan bertahun-tahun terpapar suara mesin jahit serta radio yang dinyalakan keras.
Ibu pulang dengan hasil audiogram dan wajah yang sulit saya baca. Di mobil, ia berkata pelan, “Jadi selama ini Ibu memang sudah tua.” Saya tidak tahu harus menjawab apa. Yang saya tahu, kalimat itu bukan keluhan. Itu semacam pengakuan yang selama ini ia tahan.
Beberapa minggu kemudian, kami mencoba alat bantu dengar. Prosesnya tidak langsung selesai. Ada pencetakan telinga, fitting, dan kontrol ulang. Pada hari pertama, Ibu mengeluh suara kipas angin terdengar seperti mesin pesawat. Pada hari ketiga, ia bilang suara sendok terlalu keras. Pada minggu kedua, ia mulai bisa mengikuti percakapan tanpa melihat bibir kami.
Yang berubah bukan hanya volumenya. Ibu mulai menelepon lagi. Ia kembali ke arisan, meskipun masih duduk di dekat pembicara. Di meja makan, televisi kadang dimatikan. Ia bisa mendengar cucunya memanggil dari ruang tamu, dan ia menjawab tanpa kami harus mengulang.
Tetapi ada hal yang tidak kembali. Kebiasaan kami berbicara sambil lalu, tanpa menoleh, tanpa memastikan lawan bicara mengerti. Selama bertahun-tahun kami mengira komunikasi hanya soal suara. Ternyata sebagian besar soal perhatian.
Sekarang, kalau Ibu bertanya “apa?” saya tidak langsung mengulang dengan lebih keras. Saya menoleh, berhenti sebentar, lalu mengulang dengan kalimat yang lebih sederhana. Kadang saya menuliskan nama tempat atau angka di kertas. Ibu tersenyum, dan saya tahu ia benar-benar mendengar.
Bagi keluarga yang sedang berada di titik yang sama, mungkin tidak ada kata yang tepat untuk memulai. Yang bisa dilakukan adalah berhenti menebak. Periksa pendengaran, lalu bicarakan pilihan yang ada. Informasi awal bisa dilihat di pusat alat bantu dengar, tetapi keputusan tetap perlu didasarkan pada pemeriksaan.
Malam ini, televisi menyala lagi. Bukan karena Ibu butuh suara latar, tetapi karena ada pertandingan bulu tangkis yang ingin ia tonton. Ia duduk di kursi favoritnya, volume sedang, dan sesekali berkomentar tentang pemain yang menurutnya terlalu banyak membuang peluang. Kami mendengarkan. Ia tidak perlu mengulang.
