Ilmu Sebelum Koper

Koper sudah ditutup, tetapi ada bekal yang belum selesai disiapkan. Sebuah esai tentang ilmu, pertanyaan yang tertunda, dan malam-malam menjelang keberangkatan.

Ibu saya menutup koper tiga hari sebelum keberangkatan, lalu membukanya lagi setiap malam. Di dalamnya ada mukena, obat, sandal, dan satu buku manasik yang halamannya sudah lepas. Ia bukan orang yang mudah lupa. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang tertinggal, termasuk hal-hal yang tidak bisa dilihat di bandara.

Saya menemani beliau membeli perlengkapan di pasar. Penjualnya ramah, hafal kebutuhan jamaah, dan menyarankan beberapa barang tambahan. “Biar tidak repot di sana,” katanya. Kami pulang dengan dua kantong plastik dan satu pertanyaan yang belum terjawab: apakah ibu sudah benar-benar paham urutan ibadah yang akan dijalani?

Buku manasik itu sudah dibaca. Tetapi membaca daftar rukun berbeda dengan membayangkan diri berdiri di depan Ka’bah, dikelilingi ribuan orang, sementara hitungan putaran mulai kabur. Saya pernah mendengar cerita jamaah yang kehilangan hitungan karena tersenggol, lalu mengulang tawaf dari awal. Cerita seperti itu tidak ada di brosur travel.

Malam berikutnya, saya mencari penjelasan yang lebih tenang. Bukan video pendek yang menakut-nakuti, bukan unggahan yang memamerkan hotel. Saya menemukan Wiki Umroh, sebuah situs yang menyusun tata cara umroh dari empat madzhab dengan halaman rujukan yang bisa diperiksa. Di sana ada penjelasan tentang tawaf yang dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad, sa’i yang dihitung tujuh kali dengan Safa ke Marwa sebagai satu hitungan, dan perbedaan pendapat yang tidak disembunyikan.

Saya membacakannya untuk ibu. Ia mendengarkan sambil melipat mukena. Ketika sampai pada bagian perbedaan madzhab, ia bertanya, “Kalau begitu, yang saya ikuti yang mana?” Saya tidak bisa menjawab dengan yakin. Buku manasiknya mengikuti satu madzhab, tetapi ia tidak pernah mencatat yang mana. Kami menandai halaman itu dan berencana menanyakannya kepada pembimbing.

Ada semacam kelegaan setelah pertanyaan itu keluar. Bukan karena jawabannya sudah ada, tetapi karena kami tahu apa yang belum diketahui. Persiapan tidak selalu berarti menambah barang. Kadang ia berarti mengurangi kebingungan.

Ibu tetap membuka koper setiap malam. Ia menambahkan satu kantong obat, lalu mengeluarkan satu baju yang dirasa terlalu banyak. Saya tidak lagi mengusulkan barang baru. Saya hanya duduk di sampingnya, membaca ulang bagian ihram dan miqat, lalu menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana.

Pada malam terakhir, koper ditutup dan tidak dibuka lagi. Buku manasik tetap di tangan ibu, dengan lipatan di halaman tabel perbandingan. Ia bilang akan membacanya di pesawat. Saya mengangguk, lalu menaruh catatan kecil di sampulnya: nama pembimbing, nomor hotel, dan satu pertanyaan tentang madzhab yang harus ditanyakan sebelum ihram.

Pesawat berangkat pagi-pagi. Di ruang tunggu, ibu tidak mencari barang lagi. Ia membaca. Saya duduk di sebelahnya, melihat halaman yang sama, dan menyadari bahwa perjalanan ini sudah dimulai jauh sebelum boarding, di malam-malam ketika kami membuka koper dan menemukan bahwa yang paling perlu disiapkan ternyata bukan isinya.