Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
author = Afthon Ilman Huda
Gema sumbang suara sang orator penuh gebu itu sampai menghantam langit. Menyertai suar kembang api keributan yang meledak indah bergantian mewarnai suasana malam yang dingin hari itu. Aksi unjuk rasa yang dilakukan ribuan massa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Masyarakat Peduli Keadilan berakhir rusuh tak terhindarkan. Awalnya aksi berjalan damai, namun berubah anarkis ketika aparat kepolisian melemparkan gas air mata ke arah massa yang memilih bertahan. Massa yang melawan membalas melempar botol air mineral dan batu. Lalu disambut oleh aparat dengan letusan peluru. Akibat dari bentrokan tersebut beberapa mengalami luka-luka, dan salah seorang pengunjuk rasa diketahui tewas.
***
“Bagaimanapun kita harus menyumpal kelinci-kelinci haram itu!” Tampak seorang pria berjanggut rimbun dengan kepala plontos tak henti-hentinya memuntahkan kata, sambil bersungut-sungut kepada dua orang pria yang ada di dekatnya.
“Ah, ah, ah… Itu hanyalah sebutir perkara kecil. Saudara cukuplah tenang,” sahut pria dengan tubuh gemuk berkacamata. Terlihat bibirnya yang hitam, melingkar mengulumi sebatang rokok dalam mulut dengan penuh rasa hayat. “Saudara sudah pasti sering mendengar; zaman saat ini, tak perlulah Saudara repot menghuyungkan sebilah pedang, mengotori tangan Saudara dengan darah demi memenggal sebuah kepala. Tak perlu pedang,” pungkasnya. “Ya, cukup… uang. Hanya benda kecil itu, Saudara cukuplah tenang,” lalu tersenyum sinis sejurus, sebelum sosok rupanya saru tenggelam tertutup asap putih rokok yang mengepul pekat di antara mukanya.
“O, tentulah Saudara berkata demikian, sebab Saudara tak turut serta merasakan kerugian,” balas sang pria berkepala plontos sengit, dengan wajah merah padam. “Kalaulah Saudara lebih cekatan melobi kawan-kawan di Dewan itu, maka bolehlah aku merasakan tenang sebagaimana Saudara barusan katakan. Telingaku boleh jadi tak akan pengang dan bengkak oleh karena mendengarkan ocehan dan teriakan alat pengeras suara dari mulut wajah-wajah kusam itu setiap hari. Ah, kawan-kawan di Dewan. O, kawan? Apa pula artinya itu? Mereka-mereka juga adalah bajingan yang hanya pandai menusuk dari belakang. Cih! Lihat, ke mana munculnya mereka ketika hendak membutuhkan suntikan modal, ke mana larinya mereka menghindar ketika sudah berada di tampuk kekuasaan. Pembual. Suatu ketika sekonyong-konyong lalu mereka katakan dengan nyaring sambil muncul berpose bak pahlawan di dalam layar: ‘semua demi kepentingan, demi massa rakyat’. Sampah!”
“Nah, maka teramat bodoh Saudara di mata kawan-kawan itu jika tak menganggapnya tengah bersandiwara belaka. Sebagai halnya boneka pertunjukan dalam pentas hiburan, bukankah Saudara adalah kendali?” balas si pria gemuk tenang, seraya jari-jari tangannya yang kecil tebal berusaha merontokkan abu pada puntung rokoknya di asbak meja. “Maka, apa yang perlu dikhawatirkan? Tentu, kepentingan kita prioritas emas, sedang kepentingan massa rakyat itu masih rendah di bawah alas sepatu mengkilap mereka. Bagaimanapun, jauh di dalam mulut kawan-kawan kita yang lebar itu, kita adalah harta yang akan terus mereka gali,” sambungnya.
“Kasus kita dengan Orang-orang Rum telah mengambil atensi yang cukup tinggi di masyarakat. Jika tidak segera kita amankan, habislah!” tiba-tiba sahut suara dengan nada yang berat. Sejurus kemudian tampak sosok pria bertubuh jangkung telah berdiri kokoh di tengah ruangan. Tinggi badannya hampir membuat kepalanya membentur lampu hias yang menggantung tepat di atasnya. “Ditangkapnya otak massa mereka oleh polisi dengan tuduhan anarkisme… kemungkinan hanya akan menaruh simpati yang lebih besar lagi. Kita sudah tidak bisa lagi hati-hati dan hanya diam menunggu,” ucap si pria jangkung, tampak berdiri bersandar di salah satu dinding dalam ruangan sambil menyilangkan kaki dan membenamkan tangannya di saku.
“Kebenarannya adalah kita tengah menunggu dengan hati-hati,” jawab si pria gemuk. “Dewan masih dalam tahap merumuskan. Massa berusaha mengintervensi, itu sudah tidak berarti apa-apa lagi. Bunga perhatian itu, nanti juga akan gugur menjadi angin lalu. Terus, dan seterusnya akan begitu. Saat ini, kita biarkan uang bekerja sebagaimana mestinya. Namun, satu hal yang pasti; kita akan tetap aman, afiliasi kita dengan para ‘tuan kebijakan’ tetap berjalan, kuat… sebab dibutuhkan,” pungkasnya, sambil membetulkan letak kacamata. Tangannya yang sintal kemudian tampak meraih sebuah teko keramik di atas meja. Tak lama berlalu, di atas meja, dari tangannya sebuah cangkir yang telah kosong terlihat sudah kembali diletakkan. Tak begitu jelas apa yang dituangkan oleh si pria gemuk dari isi teko ke dalam gelas cangkir yang telah diteguknya. Tak jelas. Seperti di balik pembicaraan singkat mereka, yang tak diketahui maksudnya oleh siapa-siapa.
***
Bila hendak keluar, keperluannya hanya demi kebutuhan saja. Ketika rokok dalam kalengnya diketahui tinggal sebatang, ia melipir ke warung Bu Sumi, satu blok terpisah dari rumahnya yang berada di belakang. Begitu juga kopi, gula, beras, sayur-mayur. Maklum, di perkampungan ini, hanya warung Bu Sumi boleh dibilang yang menyediakan lengkap segala kebutuhan pokok. Lainnya hanyalah warung kelontong kecil biasa seperti warung kopi dan warung nasi senggol.
Selepas peristiwa silam yang dialaminya, hampir sudah enam bulan belakangan Sanusi mengurung diri di rumah. Dan ini tepat tahun kedua, ia dalam kesepiannya.
Sanusi lebih banyak mengisi waktunya dengan membaca. Ia melumat buku-buku yang memuat soal filsafat, budaya, dan politik, namun sastra lebih digemarinya. Ia bisa menghabiskan waktu dari pagi sampai sore hari untuk membaca dan merangkum hasil dari bacaannya dalam tulisan. Kadang hasil dari tulisan itu ia kirimkan kepada surat kabar, kadang ia tuliskan hanya sebagai renungan pengetahuannya seorang.
Bu Sumi seorang Jawa, seorang yang dermawan. Ia tak menutup usahanya diutangi warga sekitar. Pun kepada Sanusi yang pernah mengutang se-sak beras di warungnya. Suaminya yang seorang Jawa pula, seorang Kepala Perusahaan Properti di Kota. Meski status pekerjaan suaminya yang demikian itu, ia tak ingin hanya bersimpuh nasib hanya kerja menerima.
Di mata Bu Sumi, bekerja adalah pilihan, bukan kebutuhan.
“Manusia, entah ia wanita sekalipun, telah tertanam hak di dalam tubuhnya untuk berdiri di atas kaki sendiri. Bukankah hidup adalah pilihan, bukan? Meski hidup tak melulu soal bekerja, saya bekerja karena saya memilih pantang menjadi penghamba,” katanya suatu ketika.
Suaminya pun sebenarnya tak terlalu mempermasalahkan soal keinginan Bu Sumi untuk berniaga atau tidak. Urusan rumah tangga yang bertautan dengan memasak dan mencuci juga telah diserahkan kepada pembantu. Pikirnya, tak salah, lagi pula dengan keberadaan warung ini, sedikit tidak, bisa membantu warga sekitar perkampungan untuk berbelanja tanpa harus berangkat jauh ke pasar yang dua kilometer jaraknya berada di perbatasan kota. Toh, di pasar juga tak mempersilakan bon.
“Lihat, tubuhmu semakin kurus saja. Pergilah ke dokter. Sakitmu jelas tidak akan sembuh jika hanya meminum obat warung.”
“Jangan hirau, Bude. Tidak apa-apa, ini hanya ringan saja,” ucap lelaki itu lirih menenangkan. “Cukup istirahat, maka esok hari tubuh saya juga akan segar dan kokoh kembali,” sambungnya berharap.
“Yah, apalah daya nasihat saya membujukmu. Segala niat baik sudah saya kerahkan, namun kamu tepis jua. Bagaimanapun kamu sudah saya anggap anak saya sendiri, Sanusi. Di saat-saat seperti ini, cobalah untuk tak memasang kepala batu, dan telanlah nasihat yang sejatinya demi kebaikanmu sendiri,” ujar Bu Sumi pasrah, seraya menghela napas, lalu menghembuskannya dengan berat di hidungnya yang lancip menggantung di atas buah bibirnya yang merah ranum mengkerut terlapisi gincu itu. “Jika luluh hatimu untuk peduli pada dirimu sendiri,” lanjutnya, “tak beratlah kepada saya menyuruh Ani mengurusmu barang sepekan.”
Wanita yang telah berusia paruh baya itu selalu memanggil Ani untuk segala hal, kepada nama pembantunya. Entah karena seperasaan akan sepenanggungan, akan halnya derajat sebagai wanita pekerja, ia seolah tak sudi dan mengharamkan melontarkan kata dari mulutnya kepada Ani dengan sebutan babu. Demikian pembantu, cukuplah pengertian Ani di mata Sumi sebagaimana wanita seperti dirinya; seorang karib, yang sudi menolong menyelesaikan segala aktivitas rumah tangga setiap hari bersamanya selaku wanita yang telah masuk masa senja.
“Ah, entah apa yang dapat saya katakan, selain ucapan terima kasih yang besar atas keluasan ruang perhatian itu. Tapi janganlah repot hendak mengurus seorang yang muda, Bude. Ia bisa mandiri, dan juga telah dewasa,” balas Sanusi berusaha meyakinkan. “Usia saya belumlah lewat kepala tiga. Toh, Bude, justru seorang yang sejatinya renta paling membutuhkan untuk dibantu,” sambungnya, lalu tersenyum sejurus.
“Bah! Apa pula maksud dari senyum perkataanmu itu?” sergah Bu Sumi, dengan nada sedikit menekan. “Hendak meremehkankah?” pungkasnya, lalu memasang sorot mata tajam.
“Ah, maaf, Bude,” jawab Sanusi tersenyum, “tentulah tak ada setitik pun perasaan seperti itu. Sebaliknya, saya justru banyak belajar dan merasa rendah akan kedalaman hati dan keluasan pikiran Bude.” Wanita itu sontak tergelitik tertawa.
“Bah! Apa pula lagi maksud dari pujian itu? Hendak membuat saya besar kepala?”
Lelaki itu hanya senyum tergelak. Namun seketika air mukanya memudar, berubah menjadi raut keseriusan ketika wanita itu kembali berbicara.
“Ya…” terang Bu Sumi dengan berat memulai ucapannya, pandangannya menerawang entah ke mana. “Demikianlah hidup. Selayaknya misteri, ia adalah teka-teki. Apakah benar adanya ia adalah kemurnian tiada yang diadakan? Atau justru ketiadaan yang dipaksakan untuk ada?” Wanita itu menganyam diam sejurus, lalu kembali berbicara, “Entah. Nanti dan esok selalu menjadi tanda tanya. Tentulah Tuhan sejatinya yang tahu dan mengerti. Dan, kita, sebagai insan hanya mampu menjalani,” ucapnya bagai seorang yang pasrah saja menerima nasibnya. Disorotnya sejurus wajah Sanusi, lelaki itu hanya bergeming. “Ya, San, kita tak tahu apakah hidup ini sejatinya menyenangkan, atau mesti disenang-senangkan? Namun selayaknya bola api, patutlah kita menjaganya agar cahayanya tak padam tersia-siakan. Dan mestilah barak-barak api lain kita nyalakan, sebagai bekal penerang demi menjaga kita kelak di kegelapan kematian.”
Di seberang, dalam keheningan, lampu jalan bercahaya putih dengan terang. Serangga-serangga malam berkeriapan, menarik nafsu cicak-cicak keluar dari persembunyian.
“Hah…” desisnya lirih melanjutkan. “Kamu tahu? Sungguhlah sebenarnya saya mengagumi kelapangan rasa sabar dan keteguhan hatimu sepeninggalnya ia dari sisimu. Entah. Tak patut saya membayangkan jika kepada lelaki lain.”
Sanusi sejenak tercenung. Kepalanya tertunduk lesu, seolah merasakan berat. Kedua tangannya yang kurus mencekau erat lututnya yang tajam. Benang-benang kusut keunguan sejurus tersingkap di balik kulitnya yang pasi, merentang sampai ke lengan. Sedang matanya yang sayu, terpicing seolah memeram penderitaan.