Untuk Mereka Yang Akan dan Telah Menikah

Posted: 15 March 2017 by William Saputra

Apa yang pagi hari berjalan dengan empat kaki, dua kaki di siang hari, dan tiga kaki di malam hari? Ini adalah teka-teki yang Sphinx berikan untuk Oedipus saat dia ingin membebaskan Theban. Begitu populer nya teka-teki ini, dan kiranya jawaban dari teka-teki ini adalah: “manusia”.

Begitulah kiranya proses biologis yang dilalui semua orang: lahir, tumbuh, lalu meninggal. Namun, bagaimana tiap-tiap individu menjalani kehidupannya tentu akan sangat bervariasi. Setiap satu dari kita tentu melakukan, mengalami, dan merasakan hal yang berbeda dari satu dengan yang lainya. Secara spesifik, variasi ini akan sangat sulit dijabarkan, akan tetapi, ada sebuah proses yang dialami oleh orang-orang pada umumnya.

Lahir dan tumbuh sebagai anak adalah hal pertama yang dialami. Setelah mulai bisa berjalan dengan dua kaki, kita bersekolah. Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan lalu Sekolah Tinggi. Untuk mereka yang kurang beruntung, mereka bisa langsung lompat; mereka tidak harus sekolah, sekolah, dan sekolah. Namun semuanya sama, setelah tidak bersekolah atau bersekolah satu, dua, maupun tiga –untuk bekerja– kemudian menikah dan melahirkan dan lalu membesarkan apa yang dilahirkan agar kemudian mereka bisa melahirkan anak-anak yang lain yang juga akan mengulangi proses ini berkali-kali. Terus berulang; lahir, sekolah, bekerja, menikah, melahirkan, membesarkan, setelah yang dilahirkan besar kemudian menikah dan ikut melahirkan dan membesarkan, yang lahir dari yang dilahirkan kemudian bersekolah, bekerja, menikah dan ikut melahirkan lagi, ad infinitum.

Pernikahan adalah poros dari apa yang seharusnya dialami manusia semasa hidupnya. Tendensi untuk tidak memilih untuk menikah akhir-akhir ini mulai populer. Adalah sebuah kecenderungan bagi segelintir individu yang menganggap bahwa setelah menikah hidup mereka selesai. Mereka  bertanya: kenapa menikah? Seks adalah proses reproduksi alami yang bisa dilakukan tanpa menikah. Prostitusi juga bisa dijadikan tempat untuk memenuhi kebutuhan seks manusia. Belum lagi risiko gagalnya pernikahan. Perselingkuhan dan perceraian adalah hal yang sangat sering kita jumpai. Bahagia dengan hanya hidup bersama satu orang saja sampai akhir hayat juga sepertinya sangat sulit sekali. Segala hal pasti akan berubah seiring waktu. Begitupun isi hati manusia, sewaktu-waktu pasti akan berubah juga.

Jika berbicara tentang pernikahan, pembahasan tentang cinta tidak boleh dilupakan. Memang jika ada sepasang manusia yang ingin saling mengikat hidup mereka satu sama lain, tidak hanya cinta yang dibutuhkan. Tapi, apakah adanya hal selain cinta, seperti surat nikah, harta, rumah, mobil, dan persetujuan orang tua, menjadi penentu adanya persatuan dua insan dalam hidup? Itu semua –harta, persetujuan, dan surat nikah– hanya means, sebuah cara untuk mencapai sebuah tujuan tertentu, bukan syarat utama. Saya jadi ingat Alm. Soebakdi Soemanto pernah berceletuk, saat sedang membahas kuliah Romeo & Juliet, bahwa jika memang mereka –Romeo dan Juliet– ingin menyatukan cinta mereka, mereka bisa meminta bulan menjadi saksi mereka.

Mengapa pertanyaan: “Kenapa kamu cinta padanya?” hanya bisa dijawab dengan ketidakpastian, atau bahkan kebisuan? Kenapa ketika kita mencoba menjelaskan apa itu cinta, definisi yang kita pahami selalu terasa kurang? Tepat saat mengetik bagian ini, saya melihat di Line sebuah kutipan dari Wallace Stevens, begini bunyinya: “Seorang penyair melihat dunia sama dengan cara seorang pria memandang perempuan.”

Mungkin kutipan di atas lebih lengkap jika pembaca memiliki situasi bahwa pria yang disebutkan di atas sedang jatuh cinta dengan perempuan yang dia pandang. Saya rasa apa yang sama dari dua fenomena itu dua-duanya merupakan hal yang bersifat estetis. Ciri utama dari segala sesuatu yang bersifat estetis adalah dia tidak bisa didefinisikan secara utuh. Hal ini disebabkan karena sesuatu yang bersifat estetis tidak pernah sama, atau synonymous, dengan apa yang ada, secara harfiah, di sekitar kita. Dengan mencoba mengasosiasikan pengalaman ini dengan ide yang telah kita ketahui –misal, dengan menyebut A baik, cantik/tampan untuk menjawab pertanyaan “kenapa saya mencintai A?”–, selalu ada perasaan bahwa ada yang kurang, bahkan ragu apakah ide yang kita gunakan benar atau tidak. Keraguan ini benar adanya karena estetika hanya bisa dirasakan lewat pengalaman subyektif, tidak pernah dengan reason. Paling maksimal, hal yang bisa dilakukan dengan reason dalam mendefinisikan pengalaman estetis adalah mencoba menjelaskan dengan menyebutkan apa yang tidak.

Karena sifatnya yang ‘tidak pernah sama’ dengan hal lainnya yang ada di dunia, sifat lain yang utama dari cinta adalah romantis, atau idealistis. Segala sesuatu yang bersifat idealistis tidak akan pernah bisa secara utuh terealisasi di dunia luar, karena eksistensi mereka terikat di dalam pikiran untuk selamanya ada sebagai ide. Adalah pernyataan yang sulit disanksikan bahwa kisah-kisah romantis yang pernah ada, hanyalah ilusi-ilusi manis bila dibandingkan dengan kenyataan.

Wilde pernah mengatakan bahwa esensi dari sebuah ke-romantis-an adalah ketidakpastian. Dan saat seseorang melamar pasanganya, di mana seseorang akan, dan kemungkinan besar, diterima, apa yang romantis akan hilang (Kecuali yang nge-lamar ngasal doanki.e. ga pake PDKT). Pernikahan menghasilkan kepastian si dia selalu bisa berada di sekitar kita. Ke-romantis-an dalam cinta bak bumbu utama dalam masakan. Setelah adanya kepastian, cinta bisa menjadi hambar, sehingga akhirnya perlahan bisa runtuh.

Aldous Huxley dalam berbagai karyanya berulang-ulang menyebutkan bahwa salah satu sumber dari segala kemalangan yang harus dialami manusia adalah keliru menggangap apa yang merupakan means sebagai ends, apa yang hanya proses sebagai tujuan akhir.

Mindset umum selalu menganggap demikian: cinta ada, atau bahkan hanya bisa ada, untuk pernikahan. Tanpa pernikahan, sepasang manusia bisa dicap zina. Akan tetapi kita semua selalu paham akan anggapan bahwa cinta adalah kondisi utama agar bisa terjalin persatuan dua insan yang bukan hanya dokumen belaka. Cinta adalah sebab dari pernikahan, tapi cinta tanpa pernikahan sangat dilarang. Lalu apa yang bisa dilakukan?

Dengan menikah, sebuah pasangan biasanya akan selalu bersama sepanjang waktu. Dengan selalu bersama, biasanya hal-hal yang buruk akan muncul ke permukaan sehingga bisa menimbulkan kebencian dalam hati pasangannya. Nietzsche pernah mengatakan bahwa pernikahan yang ideal adalah di saat pasangan suami istri tidak tinggal seatap, sehingga mereka tidak perlu tahu hal-hal buruk yang bisa menimbulkan kebencian dalam hati masing-masing pasangan. Tapi, sebagian besar dari kita memilih untuk hidup bersama pasangan kita masing-masing, bahkan menganggap bahwa hidup bersama pasangan adalah sebuah pencapaian. Maka dari itu, menanggulangi munculnya kebencian yang berasal dari bersamanya dua insan sepanjang waktu adalah hal yang harus dipikirkan.

Dalam filsafat jika berhadapan dengan masalah apa itu cinta, akan selalu diajukan pertanyaan soal apakah seseorang hanya mencintai apa atau siapa yang seseorang cintai dari pasangannya. Dalam pertanyaan ini, seseorang bisa dikatakan tulus mencintai, jika dia mencintai pasangannya seutuhnya –mencintai seseorang karena siapa dirinya sebagaimana apa adanya dia–, bukan tentang apa-nya, atau kualitas tertentu –kecantikan, kekayaan, kepintaran, dll.– yang ada pada diri orang lain. Solusi ini klise karena sudah diulang beribu-ribu kali dibanyak tempat –di televisi, di jejaring sosial, bahkan di percakapan-percakapan kita sehari-hari. Dengan menerima seseorang apa adanya kita bisa menanggulangi munculnya kebencian yang muncul dari hidup seatap.

Seperti biasa, berkata selalu lebih mudah daripada berbuat. Masalahnya adalah pada saat ‘menerima seseorang apa adanya’ dianggap sesuatu yang statis –setelah kita anggap kita berhasil melaksanakannya dalam suatu saat tertentu, lalu mengganggap di setiap saat ke depan kita akan selalu bisa berhasil. Mungkin bisa kalau yang kita coba cintai adalah sebuah meja, atau durian –i.e.: benda mati yang signifikan karena dia memiliki fungsi. Kita harus selalu ingat bahwa yang kita hadapi adalah manusia –makhluk hidup yang senantiasa berubah.

Untuk benar-benar mencintai seseorang apa adanya, kita harus menyadari bahwa yang sedang kita hadapi adalah manusia. Karena manusia pasti akan terus berubah, maka perlakuan dan persepsi kita harus menyesuaikan. Persepsi dan perlakuan kita harus selalu ikut berubah –selalu sebagai sebuah proses yang tidak pernah selesai.

Lalu apa yang akan terjadi saat seseorang berhasil menerima pasangannya sebagaimana diri adanya? Pernikahan adalah poros dari apa yang seharusnya dialami manusia semasa hidupnya. Setidaknya setelah berhasil menerima pasangannya sebagaimana dirinya, seseorang bisa memiliki keluarga yang bahagia. Setelah memiliki keluarga yang bahagia, hidup akan terasa indah dan segalanya akan mengikuti.

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

2 Comments

  • maul 16 March 2017 at 05:43

    mantab gan :v

    Reply
  • Danu Saputra 16 March 2017 at 21:43

    Kata Camelia Malik, sekarang cinta sudah direkayasa…

    Kalau cintaSudah direkayasaDengan gayaCanggih luar biasaRindu buatanRindu sungguhanSusah dibedakan

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *